Anda di halaman 1dari 35

INKOMPATIBILITAS/

KETIDAKCAMPURAN PADA
SEDIAAN PADAT

KULIAH FARMASETIKA 2
Oleh: Anita Sukmawati
Bagian Farmasetika, Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Surakarta

PROBLEM INKOMPATIBILITAS PADA SEDIAAN PADAT:

Adanya pelelehan (liquefaction).


Adanya reaksi adsorpsi.
Pembentukan senyawa kimia.

PELELEHAN PADA SEDIAAN SERBUK

Pelelehan pada sediaan serbuk dapat disebabkan oleh:


1. Penurunan titik cair terbentuk campuran eutektik
dengan titik cair yang lebih rendah.
2. Penurunan tekanan uap relatif membentuk
senyawa dengan tekanan uap relatif yang lebih
rendah dari kelembaban udara sekitar.
3. Bebasnya air hablur karena pembentukan garam
rangkap dengan kandungan air yang lebih sedikit
jumlahnya.
4. Sifat senyawa yang higroskopis sehingga menyerap
kelembaban dari udara.

SEDIAAN SERBUK
Campuran dari:
Ephedrin
Luminal
Acetyl salycilic acid
Akan mengalami pelelehan akibat
terbentuknya campuran eutektik karena
ephedrin bereaksi dengan luminal dan acetyl
salycylic acid.
Dapat dihindari dengan mengganti efedrin
dengan bentuk garamnya ephedrin HCl.

CAMPURAN EUTEKTIK:

Adalah campuran 2 atau lebih


substansi/senyawa yang menghasilkan
senyawa dengan titik leleh lebih rendah
dibandingkan substansi aslinya.
Titik leleh yang dihasilkan dari hasil
pencampuran akan tergantung dari
perbandingan komponenkomponennya.

CAMPURAN EUTEKTIK

Senyawa A (murni) memiliki


titik lebur 1380C dan
senyawa B memiliki titik
lebur 1485 C.
Jika terjadi pencampuran
20% senyawa B (garis
merah) titik leleh
campuran sekitar 1360C.
Jika 60% B (garis biru) titik
leleh sekitar 1320C
Semakin banyak komponen
B yang ditambahkan akan
semakin rendah titik leleh
campuran.

PELELEHAN PADA GARAM-GARAM ANORGANIK:

Contoh:
Kalium bromida
Natrium sulfat. 10 H2O
terjadi pelelehan
Terjadi karena titik lebur natrium sulfat (Na 2SO4. 10
H2O) yang seharusnya 32.5 C diturunkan dengan
adanya penambahan kalium bromida (KBr).
Peristiwa ini juga terjadi jika Na2SO4 dicampur dengan
natrium bromida (NaBr).
Dapat diatasi dengan mengganti dengan Na sulfat
eksikatus.

PELELEHAN PADA NATRIUM SULFAT:

Simpan
padawadahtertutuprapat

Digantidengannatriumsulfateksikatusdalamjuml
ah yang sesuai.
Contoh
Na2SO4. 10. H2O MW= 322 diperlukan 15 gram
Na2SO4eksikatus MW = 142
Makajumlahpenggantianadalah
, maka Na2SO4eksikatus yang diperlukanadalah
X = 6.6 gram.

CONTOH OBAT YANG MUNGKIN MENGALAMI


PELELEHAN:
Bahan-bahan yang mengalami pelelehan:
Acetaminophen

Lidocaine

Acetanilid

Menthol

Aminopyrine

Phenacetin
(acetophenetidin)

Aspirin

Phenol

Benzocaine

Phenylsalicylate (salol)

Betanaphtol

Prilocaine

Camphor

Resorcinol

Chloral hydrate

Thymol

PENURUNAN TEKANAN UAP RELATIF

Pencampuran antar bahan dapat


menyebabkan turunnya tekanan uap
dari bahan yang bersangkutan.
Bila tekanan uap campuran lebih
rendah dari tekanan uap sekitarnya
akan terjadi penyerapan air dari udara
sekitar sehingga serbuk menjadi basah.
Relative humidity di Indonesia: 0.80.

PENURUNAN TEKANAN UAP


RELATIVE:

Contoh:
Kalium bromida
Natrium iodida
campuran ini menghasilkan tekanan
uap relatif 0.44 serbuk menjadi
lembab karena terjadi penyerapan air
dari udara sekitar.

BEBASNYA AIR HABLUR:

Terjadi pelepasan air yang


menyebabkan serbuk menjadi lembab.
Pelepasan air kristal ini dapat merubah
jumlah zat aktif.

BEBASNYA AIR HABLUR


Bahan-bahan yang mungkin melepas air hablur
Atropine sulfat

Quinine bisulfate

Caffeine

Quinine HBr

Calcium lactat

Quinine HCl

Citric acid

Scopolamine HBr

Cocaine

Sodium acetate

codeine

Sodium cabonate. 10 H2O

Codeine phosphate

Sodium phosphate

Codein sulfate

Strychnine sulfate

Ferrous sulfate

Terpin hydrate

Morphine acetate

PENGATASAN BEBASNYA AIR


HABLUR:

Simpan di wadah tertutup rapat


Diganti dengan bentuk anhidrat/
eksikatus dalam jumlah yang setara.

SENYAWA YANG HIGROSKOPIS

Senyawa higroskopis adalah senyawa


yang mengabsorbsi kelembaban dari
udara.
Bahan-bahan yang bersifat higroskopis.
Ammonium bromide

Hyoscamine HBr

Physostigmine sulfat

Ammonium chloride

Hyoscamine sulfate

Pilocarpine alkaloid

Ammonium iodide

Ammonium citrate

Potassium acetate

Calcium bromide

Litium bromide

Potasium citrate

Calcium chloride

Pepsin

Sodium bromide

Ephedrine sulfat

Phenobarbital Na

Sodium iodide

Hydrastine HCl

Physostigmine HBr

Sodium nitrate

Hydrastine sulfat

Physostigmine HCl

Zinc chloride

CARA PENGATASAN HIGROSKOPISITAS BAHAN:

Simpan pada wadah tertutup rapat dan


kelembaban rendah.
Menambahkan bahan yang dapat
mengadsoprbsi air seperti laktosa atau
magnesium oksida.

ADSORBSI PADA SEDIAAN SERBUK/PADAT:

Terjadi penyerapan senyawa berkhasiat


oleh bahan pengadsorbsi.
Selain termasuk dalam inkompatibilitas
fisik, dapat juga dikategorikan sebagai
inkompatibilitas khemis jika diikuti reaksi
kimia, seperti reaksi pertukaran ion.
Contoh zat pengadsorbsi:
Carbo adsorben, bolus alba, kaolin,
magnesium oksida.

ADSORBSI PADA SEDIAAN SERBUK/PADAT:

Bolus alba dan kaolin memiliki


kecenderungan untuk menyerap zat-zat
yang bersifat basa seperti alkaloidaalkaloida (misal: strichnin, ekstrak
belladon, atropin sulfat).
Bolus alba selain sebagai penyerap juga
memiliki kemampuan menguraikan
alkaloida sehingga menyebabkan
alkaloida tdk berkhasiat.

PEMBENTUKAN SENYAWA KIMIA:

Pembentukan gas nitrat dioksida (NO 2)


dapat terjadi antara pencampuran
antara natrium nitrit (NaNO2) dengan
zat-zat yang bereaksi asam.
Gas nitrate dioxide menyebabkan
toksisitas pada mata, kulit, membrane
mukosa dan jaringan yang terpapar. Jika
terhirup dapat menyebabkan kerusakan
paru dan kesulitan bernafas,

PEMBENTUKAN SENYAWA KIMIA:

Contoh dalam sediaan pil:


Natrium nitrit
Ekstrak hyoscamine
Papaverin HCl
Phenobarbital
terjadi pembentukan gas NO2 (berbau tajam) akibat reaksi antara
natrium nitrit dengan ekstrak hyoscamine, papaverin HCl dan
phenobarbital
dapat diatasi dengan memisahkan natrium nitrit dengan bagian
yang asam (i.e ekstrak hyoscamine, papaverin HCl dan
phenobarbital.
atau menetralkan bagian yang asam dengan MgO
atau mengganti papaverin HCl dengan papaverin: phenobarbital
diganti phenobarbital Na.

PEMBENTUKAN SENYAWA KIMIA:


Pembentukan gas amoniak (NH3) yang
toksik dapat terjadi dalam reaksi antara
amonium chloride (NH4Cl) dengan
codein.
Reaksi:
Codein+NH4Cl
Codein-HCl +
NH3

Adanya NH3 dapat meningkatkan pH


darah, menghambat sintesis ATP dan

PEMBENTUKAN SENYAWA KIMIA:

Contoh dalam sediaan pil:


Amonium chloride
Codein
dengan keberadaan air dalam
pembuatan sediaan pil, dapat terjadi
pembebasan gas NH3.
dapat diatasi dengan mengganti
codein dengan codein HCl dalam
jumlah yang setara.

INKOMPATIBILITAS DENGAN EKSIPIEN/ BAHAN


TAMBAHAN:

Inkompatibilitas pada pencampuran sediaan


serbuk/padat dapat juga terjadi antara bahan
aktif dengan bahan tambahan/eksipien.
Inkompatibilitas fisika antara bahan aktif dan
eksipien dapat mempengaruhi kecepatan
disolusi dan keseragaman sediaan.
Inkompatibilitas kimia antara bahan aktif dan
eksipien dapat mempengaruhi degradasi
bahan aktif.

INKOMPATIBILITAS FISIK DENGAN EKSIPIEN:

Adsorpsi dapat terjadi antara bahan aktif dengan


eksipien. Adsorpsi dapat menyebabkan peningkatan
atau penurunan kecepatan disolusi.
Peningkatan kecepatan disolusi dapat terjadi jika
eksipien meng-adsorpsi bahan aktif di permukaan
eksipien luas permukaan bahan aktif yang
bersentuhan dengan pelarut meningkat kecepatan
disolusi meningkat.
Penurunan kecepatan disolusi terjadi jika eksipien
bersifat hidrophobik menghalangi pelepasan bahan
aktif kecepatan disolusi menurun. Contoh: adsorpsi
opioid oleh microcrystaline cellulose.

INKOMPATIBILITAS DENGAN BAHAN


TAMBAHAN/ EKSIPIEN

INKOMPATIBILITAS KIMIA DENGAN EKSIPIEN:


1.
2.
3.

Hydrogen donating incompatibility


Reaksi dengan laktosa
Reaksi dengan silicon dioksida

HIDROGEN DONATING
INCOMPATIBILITY

Polyvinylpyrrolidone
memiliki gugus carbonyl
yang dapat berinteraksi
dengan substansi yang
memiliki hydrogendonating group.
mengakibatkan
degradasi produk pada
senyawa yang
mengandung
hydrogen-donating
group.

Polyvinylpyrrolidone
(PVP)

SENYAWA DENGAN HIDROGEN-DONATING GROUP:

Atenolol

Famotidine

Lanzoprazol

INKOMPATIBILITAS DENGAN
LAKTOSA:

Laktosa dapat mebentuk reaksi


kompleks dengan substansi yang
mengandung amina primer atau
sekunder.
Lebih sering terjadi pada laktosa
dengan struktur amorf. Struktur amorf
pada laktosa memiliki higroskopisitas
yang tinggi, sehingga mungkin terjadi
kebasahan pada serbuk.

INKOMPATIBILITAS DENGAN
LAKTOSA:

Pencampuran
laktosa dengan
fluoxetine (anti
depresan)
menyebabkan
peruraian fluoxetine
dan pembentukan
reaksi warna.
Reaksi antara amine
sekunder dengan
gula Maillard
reaction.

Fluoxetine

MAILLARD REACTION:

REAKSI DENGAN SILICON DIOKSIDA:

Silicon dioksida dapat


bertindak sebagai asam
(substansi yang menerima
elektron) dan memacu
terjadinya reaksi dehidrasi,
hydrolisis, epimerisasi, dan
transesterifikasi.
Reaksi antara silicon
dioksida dengan
diethylstilbestrol memicu
reaksi oksidasi yang
menyebabkan peruraian
diethylstilbestrol.

Silicon dioksida

Diethylstilbestrol

INKOMPATIBILITAS DENGAN
EKSIPIEN:
GUGUS FUNGSI

INKOMPATIBLE
DENGAN

TIPE REAKSI

Amin primer (misal:


acyclovir)

Mono dan disakarida


(misal: laktosa)

Maillard reaction

Esters (misal :
moexipril)

Senyawa basa (misal:


MgOH)

Hydrolisis ester

Lactone (misal
irinonectan HCl)

Senyawa basa (misal:


MgOH)

Pembukaan cincin
lactone karena
hidrolisis.

Carboxyl

Senyawa-senyawa
basa

Pembentukan garam

Alcohol (misal:
morphine)

Oksigen

Oskidasi menjadi
aldehid dan keton.

Sulfhydryl (misal
captopril)

Oksigen

Reaksi dimerisasi

Phenol

Logam-logam

Kompleksasi

Gelatine

Surfaktan kationik

Denaturasi.

TERIMAKASIH

TUGAS: 3 APRIL 2014 KELAS B

Cari kombinasi sediaan injeksi/ sediaan


steril/ total parenteral nutrition(TPN)
yang biasa digunakan untuk
pengobatan/ terapi.
Analisis kemungkinan adanya
inkompatibilitas dalam kombinasi
sediaan tersebut.
Sumber pustaka: Handbook of
Injectable Drug atau pustaka yang lain
(jurnal, buku2 sediaan injeksi).