Anda di halaman 1dari 54

MATA MERAH VISUS

NORMAL
NOVI ALFIRAHMI
1102010209
RIZKY AISYAH

Patofisiologi Mata Merah


Melebarnya pembuluh darah
- Injeksi Konjungtiva
- Injeksi Perikornea/Siliar
- Injeksi Episklera

Pembuluh darah yang pecah


- Perdarahan subkonjungtiva

Injeksi Konjungtival

Injeksi Siliar/
Perikorneal

Injeksi episklera

Asal

A.Konjungtiva
Posterior

A.Siliar

A.Siliar Longus

Memperdarahi

Konjungtiva Bulbi

Kornea Segmen
Anterior

Intraokular

Lokalisasi

Konjungtiva

Dasar Konjungtiva

Episklera

Warna

Merah

Ungu

Merah Gelap

Arah Aliran/Lebar

Ke Perifer

Ke Sentral

Ke Sentral

Konjungtiva
Digerakkan

Ikut bergerak

Tidak bergerak

Tidak bergerak

Dengan Epinefrine
1:1000

Menciut

Tidak menciut

Tidak menciut

Penyakit

Konjungtiva

Kornea,Iris,Glaukoma

Glaukoma,Endoftalmitis,
Panoftalmitis

Sekret

Penglihatan

Normal

Menurun

Sangat Turun

Mata Merah Visus Normal

PTERIGIUM
Pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk
segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva
menuju kornea pada daerah interpalpebra.
Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan
salah satu faktor resiko terjadinya pterigium.
Umumnya pada usia 20 30 thn & di daerah
beriklim tropis

Derajat Pterigium
Derajat 1 : jika pterygium hanya terbatas
pada limbus kornea.
Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea
tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.
Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi
tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam
keadaan cahaya normal (pupil dalam
keadaan normal sekitar 3 4 mm)
Derajat 4 : pertumbuhan pterygium melewati
pupil sehingga mengganggu penglihatan

Gejala

Mata merah
Mata kering
Iritasi
Keluar air mata (berair)
Sensasi seperti ada sesuatu dimata
Penglihatan yang kabur

Penatalaksanaan
Non-bedah : edukasi utk mengurangi
iritasi atau paparan UV, air mata artifisial
Pterigium derajat 1 2 yg mengalami
inflamasi : antibiotik + steroid 3x/hari (5
7 hari)
Pterigium derajat 3 4 : bedah berupa
avulsi pterigium dengan conjunctival graft
Pasca op: antibiotik + steroid 3x/hari sampai
mata tenang (sekitar 21 hari)

Prognosis
Baik secara kosmetik maupun
penglihatan
Dapat terjadi rekuren pterygium
post-operasi pada 3 -6 bulan
pertama setelah operasi

PSEUDOPTERYGIUM
perlekatan konjungtiva dengan kornea
yang cacat
pada proses penyembuhan tukak kornea,
sehingga konjungtiva menutupi kornea
Tidak perlu pengobatan (kecuali terdapat
gangguan visus)

PINGUEKULA
Benjolan pada konjungtiva bulbi yang
merupakan degenerasi hialin jaringan
submukosa konjungtiva
Tidak berbahaya
Biasanya bilateral
Terdapat lapisan berwarna kuning-putih
(yellow-white deposits), tak berbentuk
(amorphous)
Diduga akbat rangsangan luar: panas, debu,
sinar matahari, udara kering

Pengobatan
Tidak diperlukan
Pinguekulitis: steroid lemah

HEMATOMA
SUBKONJUNGTIVA
Kebanyakan terjadi secara spontan
Bisa terjadi akibat trauma langsung dan tidak
langsung atau pembuluh darah yang rapuh
Pembuluh darah yg rapuh akibat:
-

Usia
Hipertensi
Arteriosklerosis
Konjungtivitis hemoragik
Pemakaian antikoagulan
Batuk rejan

Pengobatan
Tidak perlu pengobatan karena akan
diserap spontan dalam waktu 1 3 minggu
Dapat diberikan kompres dingin,
vasokontriktor untuk mencegah perluasan
perdarahan, dan artificial tears untuk
mengatasi iritasi.

SKLERITIS
Gangguan granulomatosa kronik yang
ditandai oleh destruksi kolagen, sebukan
sel dan kelainan vaskular yang
mengisyaratkan adanya vaskulitis
Dapat terjadi unilateral atau bilateral,
dengan onset perlahan atau mendadak,
dan dapat berlangsung sekali atau
kambuh-kambuhan

Etiologi
Diperantarai oleh proses imunologi yakni
terjadi reaksi tipe IV (hipersensitifitas tipe
lambat) dan tipe III (kompleks imun) dan
disertai penyakit sistemik.
Pada beberapa kasus, mungkin terjadi
invasi mikroba langsung, dan pada
sejumlah kasus proses imunologisnya
tampaknya dicetuskan oleh proses-proses
lokal, misalnya bedah katarak

Gejala Klinis
subyektif:
-

Nyeri hebat
Bola mata sakit bila digerakkan
Mata merah
Fotofobi
Lakrimasi

obyektif:

- pembengkakan & perubahan warna


difus di sklera

Klasifikasi
1. Episkleritis
a. Simple

- Gejala: mata merah tanpa iritasi, rasa tidak nyaman pada


mata, agak sakit, disertai berbagai derajat inflamasi dan
fotofobia
- Pelebaran pembuluh darah baik difus maupun segmental

b. Nodular

- Terlokalisir dgn satu/lebih nodul kemerahan yg tdk dpt


digerakkan
- Nodul berukuran 2 3 mm

Terapi: perbaiki KU & terapi kausal dgn steroid atau NSAID

Episkleritis simple

Episkleritis nodular

2. Skleritis Anterior
difus
Non nekrotik
nodular
Nekrotik
dengan inflamasi
tanpa inflamasi

SA non nekrotik difus:


btk plng ringan
prevalensi 40 %
Brawny scleritis
perubahan vaskuler khas & jarang berlanjut
menjadi tipe nodular.

SA non nekrotik nodular:


- nodul berwarna merah, tdk dpt digerakkan dr
dasarnya & berpindah dr episkleritis diatasnya.
- prevalensi 44 %
Penatalaksanaan:
- topikal : steroid/ NSAID
- oral
: steroid/ NSAID
28

SA nekrotik:
btk plng banyak dr skleritis
60 % mybbkan kompl. okuler & sistemik
40 % kehilangan visus & 30% dlm 5 thn ok
komplikasi vaskulitis
- tanpa th/penyebaran ke post & sekelilingnya sp
BM terlibat
SAN dgn inflamasi:
GK: - kemerahan setempat
- onset perlahan-lahan
- oklusi p.drh dlm episklera sklera tranparan
daerah inflamasi
tersebar
30

Skleritis nekrotik

SAN tanpa inflamasi:


- dis juga scleromalacia perforans
- 55% dr kasus dgn long standing Rheumatoid Arthritis
GK :
minimal, tdk nyeri
sklera nekrotik berwarna kekuning-kuningan
penipisan sklera, dasar uvea jelasprogressif
p.drh abnormal besar2 mengelilingi & menutupi
sklera yang hilang
perforasi spontan jarang

Penatalaksanaan:
1. steroid
2. immunosuppressive
3. kombinasi metal prednisolone dgn siklofosfamid IV
32

3. Skleritis Posterior

Jarang
Diag. dgn CT scan dgn kontras; MRI
curiga bila:

nyeri di mata (+)


ketajaman penglihatan
pergerakan BM terbatas
Proptosis
Ablasi retina eksudatif
Choroidal folds
Papil edema
Glaukoma sudut terbuka sekunder
Penebalan koroid
Vitritis

33

Choroidal fold

Penatalaksanaan: sama dengan SA


Diagnosa banding : Episkleritis
Komplikasi : - Keratitis (37%)
- Penipisan sclera (33%)
- Uveitis (30%)
- Glaukoma (18%)
- Katarak (7%)

35

Mata Merah Pengelihatan


Normal & Kotor/Sekret
Sekret konjungtiva bulbi pada konjungtivitis
dapat bersifat :

Air
= virus atau alergi
Purulen
= bakteri atau klamidia
Hiperpurulen
=
gonokok
atau
meningokok
Mukoid
= alergi atau vernal
Seros
= adenovirus

KONJUNGTIVITIS
Peradangan pada konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata

Bakteri

Virus

GEJALA KLINIS

Jamur

Hyperemia
Epiphora
Exudation
Pseudoptosis

Alergi

KONJUNGTIVITIS

GATAL
HIPERE
MI
LAKRIM
ASI
EKSUDA
T
(SEKRET
)
SEL-SEL

BAKTERI
Sedikit
Menyeluruh

Minimal
(serous,
mukous)

Banyak
Minimal
(mukopurulen/ (mukous)
purulen)

Minimal
(purulen)

Monosit

PMN

Negatif

Sedang

ALERGI
Hebat
Menyeluru
h
Sedang

JAMUR
Menyeluruh

VIRUS
Sedikit
Menyelur
uh
Banyak

Eosinofil

Sedikit

KONJUNGTIVITIS
BAKTERI
Gonokokus

Meningokokus

Streptococcus Pneumoniae
Konjungtivitis Bakteri
Akut

TERAPI

Staphylococcus Aureus

Hemophilus Influenza

Hiperemi konjungtiva
Edema kelopak
Kornea yang jerrnih

Antibiotik tergantung identifikasi mikrobiologik.


Antibiotik tunggal seperti neosporin, basitrasin,
gentamisin, kloramfenikol, tobramisin, eritromisin

E. Coli

Konjungtivitis Gonore
Gonokokus

Kuman yang sangat patogen


Virulen
Bersifat invasif

Oftalmia neonatorum
: Bayi berumur 1 3 hari
Konjungtivitis gonore infantum
: Bayi berumur > dari 10 hari atau pada anak-anak
konjungtivitis gonoroika adultorum : Orang dewasa

Pada orang dewasa terdapat 3 stadium :

Stadium Infiltrat

Stadium Supuratif
Stadium
Penyembuhan

Berlangsung 3 4 hari
Palpebra bengkak, hiperemi, tegang, blefarospasme, disertai
rasa sakit.
Konjungtiva bulbi terdapat injeksi konjungtiva yang
lembab, kemotik dan menebal, sekret serous
Berlangsung 2 3 minggu
Palpebra masih bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu
tegang dan masih terdapat blefarospasme.
Sekret yang kental
semua gejala sangat berkurang

Konjungtivitis Gonore
PENATALAKSANAAN
Pasien dirawat dan diberi pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan, pada bayi
diberikan 50.000 U/kgBB selama 7 hari.
Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan garam fisiologik
setiap 15 menit, kemudian diberi salep penisillin setiap 15 menit.
Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisillin G 10.000
20.000 unit/ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5
menit selama 30 menit., disusul pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.
Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok.
Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat setiap hari
menghasilkan 3 kali berturut-turut negatif.
Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat diberikan cefriaksone (Rocephin)
atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi.

Oftalmia Neonatorum

Bakteri stafilokok Neseria gonore


Klamidia

Herpes simpleks

Oftalmia neonatorum merupakan konjungtivitis purulen hiperakut yang terjadi pada bayi
dibawah usia 1 bulan, disebabkan penularan dijalan lahir

GEJALA KLINIS

Bola mata sakit dan pegal


Mata mengelurakan belek atau kotor dalam
bentuk purulen, mukoid dan mukopurulen
tergantung penyebab nya.
Konjungtiva hiperemia dan kemotik, kelopak
biasanya bengkak
Kornea dapat terkena pada herpes simplek

KONJUNGTIVITIS KATARAL

Stafilokok aureus
Pneumokokus
Diplobasil Morax Axenfeld
Basil Koch Weeks
Virus, misalnya Morbili

Injeksi konjungtiva
Hiperemi konjungtiva tarsal
Tanpa folikel, flikten dan cobblestone
Sekret serous, mukus, mukopurulen
(tergantung penyebabnya)
Dapat disertai blefaritis atau obstruksi duktus
lakrimal

TERAPI

Pada infeksi bakteri maka dapat diberikan antibiotik,


seperti : tetrasiklin, kloromisetin, dan lain-lain
Pada infeksi virus dianjurkan pemakaian sulfasetamid

Kerato-Konjungtivitis
Epidemi

Disebabkan oleh infeksi Adenovirus type 8,


19, 29 dan 37
Masa inkubasi 8-9 hari, masa infeksius 14
hari
Dapat mengenai anak-anak dan dewasa

Pada dewasa hanya terbatas dibagian luar mata tetapi


pada anak dapat disertai gejala sistemik seperti demam,
sakit tenggorokan, otitis media
Awalnya terdapat injeksi konjungtiva, mata berair,
perdarahan
subkonjungtiva,
folikel
terutama
konjungtiva bawah, kelenjar preaurikuler membesar

TERAPI

Tidak terdapat pengobatan yang


spesifik, dianjurkan pemberian obat
lokal sulfasetamid atau Zuntuk
mencegah infeksi sekunder

Mata berair
Silau
Seperti ada pasir

Demam FaringoKonjungtiva

Penyebab paling sering adalah adenovirus


tipe 3,4 dan 7
Masa inkubasi 5-12 hari, masa infeksius 12
hari
Lebih sering pada anak daripada orang
dewasa

Hiperemia konjungtiva, secret serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan


psedomembaran
Dapat terjadi keratitis epitel dengan pembesaran kelenjar limfe preurikel

Hanya bersifat suportif, diberikan kompres,


TERAPI

astringen, lubrikasi, pada kasus berat dapat


diberi antibiotik dengan steroid topical

Konjungtivitis Hemoragik Akut

Entero-virus 70, masa inkubasinya 24 48 jam


Kedua mata iritatif seperti kelilipan dan sakit periorbital
Edema kelopak, kemosis konjungtiva, sekret seromukos, fotofobia disertai
lakrimasi
Ada perdarahan subkonjungtiva
Virus ditularkan melalui kontak orang, alat optik yang terkontaminasi, dan alas
tempat tidur

TERAPI

Hanya simtomatik, pengobatan sulfasetamid dapat dipergunakan


untuk mencegah infeksi sekunder

Konjungtivitis
New Castle

Virus New Castle


Masa inkubasi 1-2 hari
Biasanya mengenai orang-orang
berhubungan dengan unggas

Gejala influenza disertai demam, sakit kepala, dan nyeri


sendi
Rasa sakit pada mata, gatal, mata berair, penglihatan
kabur dan fotofobia
Edema palpebral, sekret yang sedikit, dan folikel
terutama pada konjungtiva tarsal
Pembesaran kelenjar preaurikuler yang tidak nyeri tekan

TERAPI

yang

Seperti perasaan ada


benda asing
Berair
Silau
Rasa sakit

Tidak ada pengobatan yang efektif, tetapi dapat


diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.

Inclusion Konjungtivitis

Disebabkan oleh Klamidia okulo-genital

GEJALA KLINIS

Masa inkubasi 5 - 10 hari

Konjungtivitis follikular akut

Bersifat epidemik karena merupakan

Sekret mukopurulen

swimming pool konjungtivitis

TERAPI

Pembesaran kelenjar preurikuler

Pengobatan sistemik dengan eritromisin

KONJUNGTIVITIS ALERGI
Konjungtivitis
Vernal

Tipe Palpebra
Pertumbuhan papil yang besar (cobble stone)
yang disertai secret mucoid
Konjungtiva tarsal inferior hiperemi
Tipe Limbal
Hipertrofi papil pada limbus superior dengan
trantas dot yang merupakan degenerasi epitel
kornea atau eosinophil dibagian limbus kornea

Mengenai kedua mata dan bersifat rekuren


Kombinasi dengan antihistamin sebagai profilaksis, serta steroid topikal
TERAPI

Antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder

KONJUNGTIVITIS ALERGI

Konjungtivitis
Flikten

Disebabkan oleh karena alergi terhadap bakteri atau


antigen tertentu (hipersensitivitas tipe IV)
Gizi buruk dan sanitasi yang jelek merupakan faktor
predisposisi
Gejala berupa mata berair, iritasi dengan rasa sakit,
fotofobia, disertai silau dan blefarospasme jika
terkena kornea

Steroid Topikal
Midriatik jika terdapat penyulit pada kornea
Kacamata hitam karena adanya silau yang sakit
Antibiotik

Disebabkan oleh infeksi Streptokok


hemolitik, infeksi difteria
Serta
infeksi
pneumokokus
untuk
konjungtivitis pseudomembaran

KONJUNGTIVITIS
MEMBRAN
Ditandai dengan adanya membran/selaput
berupa masa putih pada konjungtiva tarsal
dan kadang juga menutupi konjungtiva
bulbi.
Massa ini ada dua jenis, yaitu membran dan
pseudomembran.
Terdapat sekret mukopurulen, kelopak
bengkak .

Apabila penyebabnya infeksi Streptokok B hemolitik,


diberikan antibiotik yang sensitif.
Pada infeksi difteria, diberi salep mata penisillin tiap
jam dan injeksi penisillin pada :
- Anak-anak dosis 50.000 unit/KgBB,
- Dewasa diberi 2 hari masing-masing 1.2 juta unit.
- Untuk mencegah gangguan jantung oleh toksin difteria
diberikan antitoksin difteria 20.000 unit 2 hari berturutturut.

TRACHOMA

I. Stadium Insipiens
Folikel
imatur
kecil-kecil
pada
konjungtiva tarsal superior, pada kornea di
daerah limbus superior
Kelainan kornea jika diperiksa dengan
menggunakan tes flurosein, akan terlihat
titik-titik hijau pada defek kornea

II. Stadium Akut


Terdapat folikel-folikel di konjungtiva
tarsal superior disertai pannus trakoma
(pembuluh darah pada limbus dengan
infiltrate)

Disebabkan oleh Klamidia trakoma

TRACHOMA

III. Stadium Sikatriks


Parut pada konjungtiva tarsus
Patut pada limbus kornea (cekungan Herbert)
IV. Stadium Penyembuhan
Pembentukan parut yang sempurna pada
konjungtiva
tarsus
superior
hingga
menyebabkan perubahan bentuk pada tarsus dan
menyebabkan enteropion dan trikiasis

TERAPI

Tetrasiklin 1-1,5 gr/hari peroral dalam 4 dosis selama 3-4 minggu


Pencegahan dengan higine yang baik, makanan bergizi

KONJUNTIVITIS
DRY EYES

Suatu keadaan keringnya permukaan


konjungtiva akibat berkurangnya sekresi
kelenjar lakrimal

Terjadi akibat penguapan berlebihan


karena parut kornea atau hilangnya
mikrovili kornea.
Bila
terjadi
bersama
atritis
rheumatoid dan penyakit autoimun
lain, disebut sebagai sindrom sjogren.

Gatal, mata seperti berpasir, silau, dan


kadang-kadang penglihatan kabur.
Sekresi mucus yang berlebihan, sukar
menggerakkan kelopak mata, mata tampak
kering, dan terdapat erosi kornea
Pada pemeriksaan tedapat edema konjungtiva
bulbi, hiperemis, menebal dan kusam.
Keluhan berkurang bila mata dipejamkan.

Komplikasi berupa
Ulkus kornea
Infeksi sekunder oleh bakteri
Parut kornea
Noevaskularisasi kornea.

Penatalaksanaan
Diberikan air mata buatan seumur hidup
Dapat dilakukan terapi bedah untuk
mengurangi drainase air mata melalui oklusi
pungtum dengan plug silicon atau plug
kolagen.