Anda di halaman 1dari 23

Angina Pektoris Stabil

ANGINA PECTORIS STABIL


Angina pectoris stabil adalah suatu angina yang

terjadi akibat iskemia miokard yang ditimbulkan


oleh tidak adekuatnya perfusi koroner dan biasanya
di induksi oleh meningkatnya kebutuhan oksigen
miokard

Dikatakan stabil bila angina tersebut tidak

mengalami perburukan gejala selama lebih dari


beberapa minggu.
Pada kebanyakan penderita dengan angina stabil
kronik, dapat ditemukan adanya stenosis
aterosklerosis bermakna sekurang-kurangnya 50%
dari diameter lumen atau sekitar 70% area potong
melintang pada 1 atau lebih arteri koroner.
Perlu diingat bahwa lesi yang lebih kecil kerapkali
lebih mudah mengalami ruptur, trombosis dan
oklusi dibanding lesi yang lebih luas.

Adanya faktor resiko koroner seperti hipertensi,

merokok, diabetes melitus, riwayat keluarga


menderita PJK, dislipidemia dan umur lanjut, sangat
menyokong diagnosis angina tersebut disebabkan
oleh iskemia miokard.

Gambaran utama dari angina tersebut adalah

gejalanya bersifat reversibel dan kejadian angina


dapat berulang selama berbulan-bulan sampai
tahun. Hipertensi, anemia, atau tirotoksikosis
dapat mempresipitasi terjadinya angina.

Etiologi Angina selain aterosklerosis


Kelainan kongenital : sekitar 1-2% dari populasi

umum. Biasanya terjadi anomali origo arteri koronaria


kanan atau kiri yang berasal dari sinus valsalva
kontralateral.
Bridging arteri koronaria : hampir selalu terjadi pada
bagian tengah LAD (left anterior descending artery).
Arteritis koronaria : dihubungkan penyakit vaskular
kolagen seperti SLE, poliarteritis nodosa dan
skleroderma.
Ekstasi arteri koronaria : ditandai dengan bentuk
arteri koronaria yang iregular difus, dilatasi fusiform,
yang sering disertai trombus dan lesi obstruktif.

Terapi radiasi : bisa terjadi fibrosis arterial disertai

ploriferasi intima.
Kokain : dihubungkan dengan PJK oleh karena
dapat memacu proses aterosklerosis.
Stenosis aorta : bisa menimbulkan angina akibat
iskemia subendokardial.
Kardiomiopati hipertrofik : juga menyebabkan
iskemia subendokardial, tapi bisa juga akibat
penyakit mikrovaskular.

Prinzmetals variant angina : terjadi angina waktu

istirahat disertai elevasi segmen ST. Bisa didasari


oleh adanya lesi stenosis yang tidak kritis yang
disertai spasme.
Sindroma X : angina pectoris dengan arteri
koronaria yang normal. Disebut angina
mikrovaskular akibat fungsi dilatasi endotel tidak
sempurna.

Klasifikasi angina CCS (Canadian


Cardiovascular Society)
Kelas I : angina tidak timbul pada aktivitas sehari-

hari, seperti berjalan, dan menaiki tangga. Angina


timbul pada saat latihan berat, tergesa-gesa, dan
berkepanjangan.
Kelas II : dijumpai pembatasan aktivitas sehari-hari,
seperti jalan cepat atau menaiki tangga, jalan
mendaki, aktivitas setelah makan, hawa dingin,
dalam keadaan stress emosional, atau hanya timbul
beberapa jam setelah bangun tidur.

Kelas III : adanya tanda-tanda keterbatasan aktivitas

fisik sehari-hari, angina timbul jika berjalan sekitar


100-200 meter, menaiki tangga satu tingkat pada
kecepatan dan kondisi yang normal
Kelas IV : ketidakmampuan melakukan aktivitas
fisik apapun tanpa keluhan rasa nyaman atau angina
saat istirahat.

Gambaran Klinik
lokasi nyeri dada pada daerah retrosternal yang

menyebar ke leher, bahu, lengan, rahang,


epigastrium atau belakang dada. Keluhan nyeri dada
tersebut di cetuskan oleh aktivitas fisik, stres
smosional, cuaca dingin, makan yang banyak atau
merokok. Sebagian penderita merasakan rasa tidak
nyaman di dada, rasa terbakar, rasa sesak, kadang
rasa panas atau dingin.

Lamanya berkisar 3 sampai 5 menit, dan tidak

lebih dari 10 menit, dan angina cepat berkurang


dengan pemberian nitrat baik bukkal maupun
sublingual.
Selama perlangsungan nyeri dada dapat ditemukan
adanya ronchi, S3 atau S4, atau bising sistolik akibat
regurgitasi mitral iskemik, dan dapat menghilang
setelah hilangnya nyeri dada

Tanda-tanda seperti hipertensi, arkus kornea,

xantelasma dan tanda-tanda penyakit vaskular


perifer ataupun karotis dapat ditemukan pada pasien
dengan risiko tinggi penyakit jantung koroner.

Nyeri dada
Nyeri dada tipikal memiliki tiga karakteristik yakni:
rasa tidak nyaman di daerah substernal yang sesuai
kualitas karakteristik dan durasi,
dicetuskan oleh aktivitas fisik dan stress emosional,
dan
berkurang dengan aktivitas dan/atau penggunaan
nitrogliserin.

Angina atipikal apabila hanya memenuhi dua

karakteristik tersebut.
Nyeri dada nonkardiak apabila hanya memenuhi
satu kriteria atau tidak sama sekali.

Terapi
Aspirin 75-150 mg perhari pada semua pasien tanpa

kontraindikasi spesifik (misalnya perdarahan aktif


traktus gastrointestinal, alergi, atau riwayat intoleransi
apirin sebelumnya)
Statin pada semua pasien penyakit jantung koroner
dan diberi dosis tinggi pada pasien risiko tinggi yang
terbukti menderita penyakit jantung koroner
Penghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme)
pada semua pasien dengan hipertensi, gagal jantung,
disfungsi ventrikel kiri, riwayat infark sebelumnya
dengan disfungsi ventrikel kiri atau diabetes.
Penghambat reseptor beta pada pasien dengan infark
dan gagal jantung
Clopidogrel pada pasin kontraindikasi aspirin

Revaskularisasi
Revaskularisasi bedah (CABG ; coronary artery
bypass surgery). Ada 2 indikasi utama CABG yaitu
prognostik dan simptomatik.
pembedahan (CABG) pada beberapa keadaan seperti
stenosis signifikan pada arteri koroner kiri,
stenosis signifikan pada proksimal dari 3 arteri
koroner,
stenosis yang signifikan pada 2 arteri koroner utama,
termasuk stenosis proksimal pada LAD memberikan
prognosis yang lebih baik dibanding terapi medikal.

Percutaneus coronary intervention (PCI)

Indikasi potensial revaskularisasi


Terapi medikamentosa gagal mengatasi gejala
Pemeriksaan noninvasisf menunjukkan risiko area

substansial miokard
Besar kemungkinan tindakan akan berhasil dengan
risiko morbiditas dan mortalitas yang dapat diterima
Pasien memilih intervensi dibanding
medikamentosa dan diberi penjelasan lengkap
tentang risiko sesuai individunya