Anda di halaman 1dari 19

DR.

SYAHRIL ALI, SE,


MSi., CPA., CA
Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi
Universitas Andalas
Partner
Kantor Akuntan Publik
Riza Adi Syahril & Rekan

Audit Berbasis Risiko

Tujuan auditor dalam audit berbasis


risiko,
Unsur-unsur dalam audit berbasis risiko
Pendekatan dalam melaksanakan audit
berbasis risiko

Tujuan Auditor dalam


ABR
ISA 200.11 menyatakan tujuan menyeluruh auditor dalam
mengaudit laporan keuangan adalah:
a. Memperoleh asurans yang layak mengenai apakah
laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari salah
saji material baik yang disebabkan oleh kesalahan atau
kecurangan, untuk memungkinkan auditor memberikan
opini mengenai apakah laporan keuangan dibuat dalam
semua hal yang material sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku, dan
b. Melaporkan mengenai laporan keuangan dan
mengkomunikasikan segala sesuatunya seperti yang
diwajibkan ISA, sesuai dengan temuan auditor.

Unsur-unsur dalam ABR


berkaitan dengan lima konsep
yang ada dalam audit:

Reasoanable assurance
Inherent limitions
Audit scope
Material misstatement
Assertion

Reasonable Assurance

Reasonable assurance merupakan tingkat


keyakinan yang layak auditor mengenai
laporan keuangan.
Asurans yang layak, dalam konsep ABR
adalah suatu tingkat keyakinan yang tinggi,
tetapi bukan absolut tinggi.
Asurans yang layak diperoleh dengan bukti
audit yang cukup dan tepat (sufficient
appropriate audit evidences) untuk menekan
risiko audit sampai tingkat terendah.

Inherent Limitations

Audit tidak dapat memberikan jaminan


keyakinan (asurans ) yang absolut, karena
adanya keterbatasan atau kendala bawaan
(inherent limitations) akibat sifat proses
penyusunan laporan keuangan dan proses
audit.
Inherent limitations yang ditimbulkan dari
proses penyusunan laporan keuangan dapat
dilihat dari sifat pelaporan keuangan dan
penyajian informasi yang relevan sesuai
kerangka waktunya.

Inherent limitations

Sifat penyusunan laporan keuangan


memerlukan judgement manajemen dalam
menerapkan kerangka pelaporan keuangan
yang bertujuan umum, sehingga akan
menibulkan unsur subjektif dalam memilih
kebijakan dan estimasi akuntansi, walaupun
setiap pilihan kebijakan dan estimasi yang
diambil memiliki dasar yang reasonable (layak)
sehingga dapat diterima, seperti estimasi umur
aset tetap, penurunan nilai, tingkat penyelesaian
pekerjaan pada perusahaan jasa kontruksi, dsb,

Inherent limitations

Penyajian informasi yang relevan


memerlukan penggunaan nilai wajar
sesuai dengan kerangka waktu pelaporan
keuangan. Penentuan nilai wajar
memerlukan biaya, karena itu
pertimbangan biaya dan manfaat akan
mewarnai pertimbangan dalam pelaporan
keuangan. Dengan demikian tidak lah
logis menyediakan semua informasi yang
relevan, tetapi berbiaya mahal.

Inherent limitatons
Inherent limitations dari proses audit dapat dilihat dari:
a. Pemeriksaan yang bersifat sampling, tidak mungkin menghindari
suatu kesalahan, walaupun kesalahan tersebut harus ditekan pada
tingkat minimal,
b. Tidak semua informasi dapat dikumpulkan auditor dalam waktu
terbatas, disamping kemungkinan sikap manajemen untuk tidak
menyajikan semua informasi penting kepada auditor,
c. Kecurangan yang canggih biasanya melibatkan banyak pihak,
direncanakan dengan baik, sangat tertutup dan sangat dijaga, karena
sulit bagi auditor mengungkapnya dalam audit laporan keuangan,
kecuali audit investigasi,
d. Bukti audit yang dikumpulkan dan dinilai berasal dari berbagai
sumber, sehingga kelemahan dari sumbernya sulit diatasi auditor.
e. Bukti audit hanya bersifat penguat (persuasif) bukan menyimpulkan
(konklusif) dalam menilai suatu peristiwa atau kejadian.

Audit Scope

Ruang lingkup audit atas laporan keuangan dibatasi untuk


menjawab pertanyaan: apakah laporan keuangan dibuat, dalam
semua hal yang material sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku.
Opini auditor yang WTP tidak mencerminkan bahwa
manajemen telah menjalankan perusahaan secara efisien dan
efektif. Misalnya, auditor dapat saja memberikan opini WTP
walaupun entitas rugi, sehingga tidak mencerminkan pula daya
tahan entitas mempertahankan keberlangsungan usahanya.
Oleh karena itu, perluasan tanggung jawab audit yang utama
(diluar opini laporan keuangan), seprti mungkin ditetapkan oleh
UU, maka auditor wajib melaksanakan pekerjaan tambahan dan
memodifikasi laporan auditornya sesuai dengan perluasan
tanggung jawab. Misalnya audit kepatuhan disamping audit
laporan keuangan.

Material Misstatement

ABR berfokus pada penilaian risiko atas


kemungkinan material misstatement dalam
laporan keuangan.
Material misstatement dapat terjadi:
a. Secara sendiri-sendiri atau bersama. Mis: klien
melaporkan ada pekerjaan senilai Rp 10 milyar,
pada hal pekerjaan tersebut tidak/belum
dikerjakan,
b. Uncorrected misstatement,
c. Misleading disclosures.
d. Terdapat kesalahan material.

Asersi manajemen

Asersi manajemen adalah pernyataan


(representasi) yang diberikan manajemen
baik secara eksplisit maupun implisit yang
ada didalam laporan keuangan. Asersi
eksplisit misalnya dalam laporan posisi
keuangan tersaji jumlah account receivable
sebesar Rp 10 juta, makna lain dari angka
Rp 10 juta tersebut adalah dapat ditagih,
hal ini merupakan asersi implisit.

Asersi manajemen

Asersi berkaitan dengan recognition, measurement,


presentation dan disclosure dari berbagai unsur
laporan keuangan, yakni angka-angka dari setiap
akun-akun laporan keuangan serta
pengungkapannya (disclosure).
ABR menilai asersi tersebut dari unsur recognition,
measurement, presentation dan disclosure,
sehingga penyajian unsur-unsur laporan keuangan
tidak mengandung salah saji material, dan sesuai
dengan kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku.

Risiko Audit

Risiko audit adalah risiko auditor karena


memberikan opini yang tidak tepat atas
laporan keuangan yang salah saji
material (material misstatement).
Tujuan ABR adalah menekan risiko
audit pada tingkat minimal yang dapat
diterima.
Risiko audit terdiri dari: (a) inherent risk
dan control risk, dan (b) detection risk

Risiko Audit

Untuk dapat menekan risiko pada tingkat terendah


yang dapat diterima, auditor dapat melakukan:
a. Menilai material misstatement. Risiko inherent dan
risiko kontrol berada diluar kendali auditor. Auditor
harus melakukan risk assessement untuk
menentukan besarnya risiko salah saji material
dalam laporan keuangan akibat inherent dan control
risk. Kemudian merespon risiko tersebut dengan
memuat prosedur-prosedur pengujian yang tepat.
b. Menekan detection risk. Membuat prosedurprosedur yang tepat untuk merespon risiko salah saji,
merupakan tindakan auditor menekan detection risk.

Manfaat ABR

Fleksibel dalam waktu; ABR mengutamakan


penilaian risiko, bukan pengujian rinci transaksi
dan saldo akhir. Oleh karena itu, penilaian
risiko dapat dilakukan sepanjang tahun, tidak
mesti pada akhir tahun, sehingga sebaran
waktu sangat fleksibel, dan jika dilakukan
dalam tahun berjalan, sebelum akhir tahun,
maka memungkinkan manajemen
memperbaiki kelemahan yang ada sesuai
denga hasil indentifikasi risiko yang dilakukan
auditor.

Manfaat ABR

Audit lebih efisien; dalam ABR, upaya


audit (audit efforts) yang utama lebih
terfokus ke area yang bersiko tinggi.
Prosedur audit terfokus pada area yang
berisiko. Dalam ABR auditor harus
merespon risiko material dalam bentuk
prosedur-prosedur yang tepat, sehingga
prosedur pengujian rinci untuk merespon
risiko yang umum dapat dikurangi.

Manfaat ABR

Pemahanan terhadap pengendalian


internal yang lebih mendalam atau
meningkat. Dalam ABR auditor harus
memahami secara mendalam mengenai
pengendalian internal karena berkaitan
langsung dengan penilaian risiko.
Penilaian tersebut akan memberikan
arahan kepada auditor untuk menguji
atau tidak efektivitas pengendalian
internal.

Terima kasih