Anda di halaman 1dari 132

PENGOPERASIAN PLTU

PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Fungsi
PLTU merupakan mesin konversi energi yang

merubah energi kimia dalam bahan bakar


menjadi energi listrik

Proses Konversi Energi


Uap

Bahan bakar

BOILER

Energi Kimia
menjadi
Energi Panas

TURBINE

Poros

Energi Panas menjadi


Energi Mekanik

GENERATOR

Energi Mekanik
menjadi
Energi Listrik

Listrik

Tata Letak PLTU

Air Heater

Prinsip Kerja
1.Air diisikan ke boiler hingga mengisi penuh seluruh luas

permukaan pemindah panas. Didalam boiler air


dipanaskan dengan gas hasil pembakaran bahan bakar
dan udara sehingga berubah menjadi uap.
2.Uap hasil produksi boiler diarahkan untuk memutar turbin
sehingga menghasilkan daya mekanik berupa putaran.
3.Generator yang dikopel langsung dengan turbin berputar
menghasilkan energi listrik
4.Uap bekas keluar turbin masuk ke kondensor untuk
didinginkan dengan air pendingin agar berubah kembali
menjadi air yang disebut air kondensat.
5.Air kondensat hasil kondensasi uap kemudian digunakan
lagi sebagai air pengisi boiler. Siklus ini berlangsung terus
menerus dan berulang-ulang.

Siklus Fluida Kerja

Siklus Rankine

Siklus Rankine
ab

:
Air dipompa dari tekanan P2 menjadi P1.
Langkah ini adalah
langkah kompresi isentropis. Terjadi pada pompa
air pengisi.
b-c
: Air bertekanan ini dinaikkan temperaturnya
hingga mencapai titik didih. Terjadi di LP heater, HP
heater dan
Economiser. .
c-d
: Air berubah wujud menjadi uap jenuh. Langkah
ini disebut vapourising (penguapan) dengan proses isobar
isothermis, terjadi
di boiler yaitu di wall tube (riser) dan
steam drum.
d-e
: Uap dipanaskan lebih lanjut hingga uap mencapai
temperatur kerjanya menjadi uap panas lanjut
(superheated vapour).
Terjadi
di superheater boiler
dengan proses isobar.
e-f
: Uap melakukan kerja sehingga tekanan dan

Bagian Utama PLTU


Boiler berfungsi untuk mengubah air (feed water)

menjadi uap panas lanjut (superheated steam) yang


akan digunakan untuk memutar turbin.
Turbin uap berfungsi untuk mengkonversi energi
panas yang dikandung oleh uap menjadi energi putar
(energi mekanik). Poros turbin dikopel dengan poros
generator sehingga ketika turbin berputar generator
juga ikut berputar.
Kondensor berfungsi untuk mengkondensasikan uap
bekas dari turbin (uap yang telah digunakan untuk
memutar turbin).
Generator berfungsi untuk mengubah energi putar
dari turbin menjadi energi listrik.

Peralatan Penunjang PLTU


Desalination Plant (Unit Desal)
Reverse Osmosis (RO)
Pre Treatment
Demineralizer Plant (Unit Demin)
Hidrogen Plant (Unit Hidrogen)
Plant (Unit Chlorin)
Auxiliary Boiler (Boiler Bantu)
Coal Handling (Unit Pelayanan Batubara)
Ash Handling (Unit Pelayanan Abu)

Boiler
Boiler atau ketel uap adalah suatu perangkat mesin yang

berfungsi untuk mengubah air menjadi uap.


Proses perubahan air menjadi uap terjadi dengan
memanaskan air yang berada didalam pipa-pipa dengan
memanfaatkan panas dari hasil pembakaran bahan bakar.
Pembakaran dilakukan secara kontinyu didalam ruang bakar
dengan mengalirkan bahan bakar dan udara dari luar.
Uap yang dihasilkan boiler adalah uap superheat dengan
tekanan dan temperatur yang tinggi. Jumlah produksi uap
tergantung pada luas permukaan pemindah panas, laju
aliran, dan panas pembakaran yang diberikan.
Boiler yang konstruksinya terdiri dari pipa-pipa berisi air
disebut dengan water tube boiler (boiler pipa air).

Water Tube Boiler

Tata Letak Boiler Batubara

Tata Letak Circulating Fluidized Boiler

Boiler
PLTU
Indramay
u

BOILER DRAFT
Ditinjau dari tekanan (draft) ruang bakar
boilernya , PLTU dibedakan menjadi:
PLTU dengan Pressurised Boiler
PLTU dengan Balanced Draft Boiler
PLTU dengan Vacuum Boiler

BOILER
DRAFT

Balanced Draft Boiler


BOILER

STACK

BUNKER

AH
EP
ID FAN

FD FAN

MILL

Siklus Air
Siklus air boiler merupakan suatu mata rantai

rangkaian siklus fluida kerja.


Boiler mendapat pasokan fluida kerja air dan
menghasilkan uap untuk dialirkan ke turbin.
Air sebagai fluida kerja diisikan ke boiler
menggunakan pompa air pengisi (Boiler Feed Pump)
dengan melalui economiser dan ditampung didalam
steam drum boiler.
Economiser merupakan pemanas air terakhir sebelum
masuk ke drum. Di dalam economiser air menyerap
panas gas buang yang keluar dari superheater
sebelum dibuang ke atmosfir melalui cerobong.

Economiser

Economiser

Siklus air dalam Boiler

Siklus Air
Peralatan yang dilalui dalam Siklus air di drum

adalah drum boiler, down comer, header bawah


(bottom header), dan riser.
Perpindahan panas dari api (flue gas) ke air di
dalam pipa-pipa boiler terjadi secara radiasi,
konveksi dan konduksi. Akibat pemanasan selain
temperatur naik hingga mendidih juga terjadi
sirkulasi air secara alami, yakni dari drum turun
melalui down comer ke header bawah dan naik
kembali ke drum melalui pipa-pipa riser..
Selain sirkulasi alami, juga dikenal sirkulasi
paksa (forced circulation). Untuk sirkulasi jenis
ini digunakan sebuah pompa sirkulasi
(circulation pump).

Sirkulasi Alami & Paksa

Pipa Riser dan dinding ruang bakar


boiler

Boiler Drum
Berfungsi untuk menampung dan mengontrol

kebutuhan air di boiler.


Fungsi lain yang tidak kalah pentingnya adalah
memisahkan uap dan air. Yaitu di bagian
separator
Untuk mengontrol kebutuhan air boiler, maka
level air di drum harus dijaga konstan pada level
normalnya. Level ini dapat dilihat di kontrol room
maupun di lokal.

Siklus Uap
Siklus uap dalam boiler adalah, uap dari drum

boiler dalam kondisi jenuh dialirkan ke


Superheater I (primary SH) dan ke Superheater
II (secondary SH) kemudian ke outlet header
untuk selanjutnya disalurkan ke turbin.
Apabila temperatur uap (main steam) melebihi
batas temperatur kerjanya, maka
desuperheater menyemprotkan steam bersuhu
yang lebih rendah untuk menurunkan
temperatur main steam sehingga sesuai harga
yang diinginkan. Desuperheater terletak
diantara Superheater I dan Superheater II.

Siklus UAP
SUPERHEAT

Siklus UAP
REHEAT

Reheater
Berfungsi untuk memanaskan uap dari HP

(High Pressure) turbin agar kandungan


energi panasnya meningkat lagi setelah
memutar HP turbin.
Uap ini selanjutnya dialirkan kembali ke IP
(Intermediate Pressure) turbin.
Pemanasan diperoleh dari gas buang yang
keluar superheater

Siklus uap PLTU dengan Reheater

Sistem Udara dan Gas


Siklus Udara
Udara berfungsi untuk proses pembakaran bahan

bakar sehingga disebut udara pembakaran.


Udara berasal dari atmosfer dihisap oleh FD fan dan
dialirkan ke air heater. Udara panas dari air heater
kemudian masuk kedalam wind box dan selanjutnya
didistribusikan ke tiap-tiap burner untuk proses
pembakaran.
Peralatan yang berada dalam Siklus udara adalah
Forced Draft Fan (FDF), air heater, dan wind box.
FD fan berfungsi sebagai pemasok udara
pembakaran, dimana udara ini diambil dari atmosfer

Siklus
UDARA
PEMBAKARAN

Forced Draft Fan

Siklus Gas
Gas panas hasil pembakaran (flue gas) berfungsi sebagai sumber energi

panas.
Gas panas dari ruang bakar (furnace) dialirkan ke superheater,

reheater, economiser, dan ke air heater.


Dari air heater gas masuk ke alat penangkap abu (Electrostatic

Precipitator). Dari EP gas dihisap oleh ID Fan untuk selanjutnya dibuang


ke atmosfer melalui cerobong (stack).

Air Heater, berfungsi untuk memanaskan udara pembakaran dengan

memanfaatkan panas gas buang.


Electrostatic Precipitator (EP) atau Baghouse Filter berfungsi untuk

menangkap abu dan debu yang terbawa dalam gas sebelum dibuang ke
atmosfir.
Induced draft fan (IDF) berfungsi untuk menghisap gas dan

membuang ke atmosfir melalui cerobong. IDF juga berfungsi

Siklus gas di Boiler

Electrostatic
Precipitator

Air Heater

Sistem Bahan Bakar Minyak


1. Minyak HSD
Persediaan minyak HSD ditampung dalam tangki
atau bunker. Untuk menyalurkan minyak HSD ke
alat penyala (ignitor) digunakan pompa dengan
melalui filter, katup penutup cepat, katup pengatur
dan flow meter.
Untuk kesempurnaan proses pembakaran, maka
HSD yang disemprotkan ke ruang bakar diatomisasi
(dikabutkan) dengan menggunakan uap atau udara.
Pengaturan pembakaran atau panas yang masuk
boiler dapat dilakukan dengan mengatur aliran HSD
dan dengan menambah atau mengurangi ignitor
yang operasi.

Diagram sistem BBM dari Storage ke


Day Tank

2. Minyak MFO
Persediaan minyak MFO di PLTU ditampung di tangki
persediaan (storage tank), untuk penggunaan seharihari dilayani dengan tangki harian (day tank).
Untuk mengalirkan MFO dari day tank ke burner
(pembakar) digunakan pompa dengan melalui filter,
katup penutup cepat, pemanas (oil heater), katup
pengatur dan flow meter.
Pemanas berfungsi untuk menurunkan kekentalan MFO
agar dapat disemprotkan oleh burner. Seperti pada
minyak HSD untuk kesempurnaan reaksi pembakaran,
maka pada burner minyak MFO dikabutkan dengan
menggunakan uap atau secara mekanik. Pengaturan
aliran MFO ke burner dengan menggunakan katup
pengatur aliran.

Siklus Bahan Bakar MFO

Contoh Burner MFO dengan


pengabutan uap

Sistem Bahan Bakar Batubara


Persediaan batubara ditampung di lapangan terbuka

(coal stock area)


Untuk melayani kebutuhan pembakaran di boiler,
batubara ditampung pada bunker (silo) di tiap boiler.
Pemasokan batubara dari bunker ke burner ruang
bakar dilakukan melalui coal feeder, mill (PC Boiler),
dan coal pipe. Pengaturan dan pencatatan jumlah
aliran batubara dilakukan dengan coal feeder.
Mill (pulverizer) berfungsi untuk menggerus batu bara
sehingga menjadi serbuk ( 200 mesh).
Untuk membawa serbuk batu bara ke burner,
dihembuskan udara primer ke mill. Udara primer
dihasilkan oleh Primary Air Fan (PAF) dan sebelum
masuk ke mill dipanaskan terlebih dahulu pada
pemanas udara primer (Primary Air Heater) sehingga
cukup untuk mengeringkan serbuk batu bara.

Sistem suplai bahan bakar batubara ke


burner

Penempatan burner batubara pada


ruang bakar

Pulverizer / Mill

Turbin Uap dan Alat Bantunya


Turbin uap berfungsi untuk merubah energi panas

yang terkandung dalam uap menjadi energi mekanik


dalam bentuk putaran.
Uap dengan tekanan dan temperatur tinggi mengalir
melalui nosel sehingga kecepatannya naik dan
mengarah dengan tepat untuk mendorong sudusudu turbin yang dipasang pada poros. Akibatnya
poros turbin bergerak menghasilkan putaran (energi
mekanik).
Tenaga putar yang dihasilkan digunakan untuk
memutar generator sehingga dihasilkan energi listrik
Uap yang telah melakukan kerja di turbin tekanan
dan temperatur turun hingga kondisinya menjadi
uap basah. Uap keluar turbin ini kemudian dialirkan
kedalam kondensor untuk didinginkan agar menjadi
air kondensat, sedangkan

Prinsip kerja Turbin Uap

Irisan memanjang turbin uap satu


silinder

Jenis Turbin
Menurut prinsip kerjanya terdiri dari
Turbin Impuls (aksi) atau turbin tekanan tetap,
Turbin yang ekspansi uapnya hanya terjadi pada
sudu-sudu tetap atau nosel. Ketika uap melewati
sudu tetap, maka tekanan turun dan uap
mengalami peningkatan energi kinetik. Sudusudu tetap berfungsi sebagai nosel (saluran
pancar) dan mengarahkan aliran uap ke sudusudu gerak.
Turbin reaksi

Pada turbin reaksi penurunan tekanan terjadi


pada sudu tetap dan sudu gerak.

Karakteristik Turbin impuls & Turbin


Reaksi

Konstruksi dan Bagian Utama


1. Casing
.
Merupakan bagian yang diam merupakan

rumah atau wadah dari rotor.


. Pada casing terdapat sudu-sudu diam
(disebut stator) yang dipasang melingkar
dan berjajar terdiri dari beberapa baris yang
merupakan pasangan dari sudu gerak pada
rotor.
. Sudu diam berfungsi untuk mengarahkan
aliran uap agar tepat dalam mendorong
sudu gerak pada rotor.

Bagian Utama Turbin

2. Rotor
Rotor adalah bagian yang berutar terdiri dari
poros dan sudu-sudu gerak yang terpasang
mengelilingi rotor.
Jumlah baris sudu gerak pada rotor sama
dengan jumlah baris sudu diam pada casing.
Pasangan antara sudu diam dan sudu gerak
disebut tingkat (stage).
Sudu gerak (rotor) berfungsi untuk mengubah
energi kinetik uap menjadi energi mekanik.

Stator

Rotor

3. Bantalan
Fungsi bantalan adalah untuk menopang dan
menjaga rotor turbin agar tetap pada posisi
normalnya.
Ada dua macam bantalan pada turbin, yaitu

Bantalan journal yang berfungsi untuk


menopang dan mencegah poros turbin dari
pergeseran arah radial

Bantalan aksial (thrust bearing) yang


berfungsi untuk mencegah turbin bergeser
kearah aksial.

Bantalan Jurnal

Antalan Aksial

3. Katup utama
Terdiri dari Main Stop Valve (MSV) dan Governor Valve
(GV). Pada turbin dengan kapasitas > 100 MW dilengkapi
dengan katup uap reheat, yaitu Reheat Stop Valve (RSV)
dan Interceptor Valve (ICV).

a. Main Stop Valve (MSV)


Berfungsi sebagai katup penutup cepat jika turbin trip atau
sebagai katup pengisolasi turbin terhadap uap masuk.
MSV bekerja dalam dua posisi yaitu menutup penuh atau
membuka penuh. Pada saat turbin beroperasi maka MSV
membuka penuh.
Sebagai penggerak untuk membuka MSV digunakan
tekanan minyak hidrolik. Sedangkan untuk menutupnya
digunakan kekuatan pegas.

Main Stop Valve

b. Governor Valve (GV)


Turbin harus dapat beroperasi dengan
putaran yang konstan (biasanya 3000 rpm)
pada beban yang berubah ubah. Untuk
membuat agar putaran turbin selalu tetap
digunakan governor valve yang bertugas
mengatur aliran uap masuk turbin sesuai
dengan bebannya.
Sistem governor valve yang digunakan
umumnya adalah mechanic hydraulic (MH)
atau electro hydraulic (EH).

Main Steam Flow (UBP Suralaya


Unit 5-7)

Prinsip kerja katup Governor

4.

Sistem Pelumasan

Turbin tidak boleh diputar tanpa adanya pelumasan sehingga


pelumasan bantalan sangatlah penting. Parameter utama dari
sistem pelumasan adalah tekanan. Untuk menjamin tekanan
minyak pelumas yang konstan disediakan beberapa pompa minyak
pelumas :
Main Oil Pump adalah pompa pelumas utama yang digerakan oleh

poros turbin sehingga baru berfungsi ketika putaran turbin


mencapai lebih dari 95 %.
Auxiliary Oil Pump adalah pompa yang digerakkan dengan motor

listrik AC. Pompa ini berfungsi pada start up dan shut down turbin
serta sebagai back up bila tekanan minyak pelumas dari MOP turun.
Emergency Oil Pump adalah pompa yang digerakkan dengan

motor listrik DC dan digunakan sebagai cadangan atau darurat


ketika pasok listrik AC hilang.

Sistem pelumasan (UBP Suralaya


Unit 5-7)

5. Sistem Jacking Oil

Pada turbin kapasitas besar, berat rotornya


juga besar sehingga dalam keadaan diam
rotor tersebut akan menyingkirkan lapisan
minyak pelumas dari permukaan poros dan
bantalan. Dalam keadaan seperti ini, bantalan
atau poros akan rusak bila diputar.
Jacking oil berfungsi untuk mengangkat poros
dengan minyak tekanan tinggi untuk
menghindari kerusakan akibat tiadanya
pelumasan diantara poros dan bantalan

6. Turning Gear
Rotor turbin yang berat dan panjang apabila
dibiarkan dalam keadaan diam dalam waktu yang
lama dapat melendut.
Pelendutan menjadi lebih nyata apabila dari kondisi
operasi yang panas kemudian turbin langsung
berhenti.
Untuk mencegah terjadinya pelendutan, maka rotor
harus diputar perlahan secara kontinyu atau berkala.
Alat untuk memutar rotor turbin ini disebut turning
gear atau bearing gear.
Turning gear digerakkan dengan motor listrik melalui
roda gigi dengan kecepatan putar antara 3 - 40 rpm.
Turning gear juga memberikan torsi pemutar awal
ketika turbin start.

Turning Gear

Turning Gear

7. Sistem Perapat poros


Celah diantara casing (bagian yang diam) dan
rotor (bagian yang berputar) turbin
menyebabkan terjadinya kebocoran uap keluar
atau udara masuk turbin.
Untuk mencegah kebocoran pada celah tersebut
dipasang perapat.
Sistem perapat dilakukan dengan memasang
labirin (sirip-sirip) pada casing maupun rotor
secara berderet.
Tetapi perapat yang hanya menggunakan labirin
masih memungkinkan terjadinya kebocoran.
Untuk itu pada labirin diberikan fluida uap
sebagai media perapat (gland seal steam).

Gland seal pada poros turbin

Gland seal steam dan perapat


labirin

Siklus uap perapat (Gland Seal


Steam)

KONDENSOR
Merupakan peralatan yang berfungsi untuk mengubah

uap menjadi air.


Proses perubahannya dilakukan dengan cara
mengalirkan uap ke dalam suatu ruangan yang berisi
pipa-pipa (tubes). Uap mengalir di luar pipa-pipa (shell
side) sedangkan air sebagai pendingin mengalir di
dalam pipa-pipa (tube side). Kondensor seperti ini
disebut kondensor tipe surface (permukaan).
Kebutuhan air untuk pendingin di kondensor sangat
besar sehingga dalam perencanaan biasanya sudah
diperhitungkan. Air pendingin diambil dari sumber yang
cukup persediannya, yaitu dari danau, sungai atau laut.
Posisi kondensor umumnya terletak dibawah turbin
sehingga memudahkan aliran uap keluar turbin untuk
masuk kondensor karena gravitasi.

Konstruksi Kondensor
Aliran air pendingin ada dua macam yaitu

satu lintasan (single pass atau dua lintasan


(double pass).
Untuk mengeluarkan udara yang terjebak
pada water box (sisi air pendingin), dipasang
venting pump atau priming pump.
Udara dan non condensable gas pada sisi uap
dikeluarkan dari kondensor dengan ejector
atau pompa vakum.

Kondensor tipe permukaan (Surface


Condenser)

Konstruksi Kondensor

Sistem Air Kondensat.


Sistem air kondensat merupakan sumber pasokan utama

untuk sistem air pengisi ketel yang sebagian besar berasal


dari proses kondensasi uap bekas di dalam kondensor.
Rentang sistem air kondensat adalah mulai dari hotwell
sampai ke Deaerator.
Selama berada dalam rentang sistem air kondensat, air
mengalami 3 proses utama yaitu :
1. Pemanasan, di gland steam condensor, di air ejector
dan beberapa LP heater
2. Pemurnian, dengan cara mengalirkan air kondensat
melintasi penukar ion (Condensate Polishing)
3. Deaerasi, yaitu proses pembuangan pencemar gas dari
dalam air kondensat. Terjadi di deaerator

Sistem Air Kondensat (UBP Suralaya


unit 5-7)

Pemanas
Awal Air
Pengisi

DEAERATOR

Sistem Air Pengisi


Merupakan sistem air dari deaerator sampai steam
Tekanan air pada sistem air pengisi naik hinggga lebih tinggi dari tekanan

ketel.
Fungsi sistem air pengisi :
1. Fungsi menaikkan tekanan sehingga air pengisi dapat mengalir kedalam ketel.
2. Fungsi pemanasan, dilakukan untuk dua tujuan yaitu :
o.Semakin dekat temperatur air pengisi masuk ketel dengan titik didih air pada
tekanan ketel, maka semakin sedikit bahan bakar yang diperlukan untuk
proses penguapan didalam ketel.
o.Temperatur air pengisi yang akan masuk ketel sedapat mungkin harus
mendekati temperatur metal ketel sebab perbedaaan yang besar antara
keduanya dapat menimbulkan kerusakkan komponen ketel akibat thermal
stress.
3. Fungsi pemurnian, bertujuan untuk menghilangkan zat-zat pencemar padat
dengan meninjeksikan bahan kimia guna menggumpalkan zat-zat padat yang
terlarut dalam air pengisi. Gumpalan zat-zat padat ini kemudian dapat
dibuang melalui saluran blowdown pada ketel.

Sistem Air Pengisi (UBP Suralaya unit


5-7)

DEAERATOR

Sistem Air Penambah


Sistem air penambah berfungsi untuk memenuhi

kebutuhan tambahan fluida pada hotwell


kondenser akibat adanya kebocoran-kebocoran
di sepanjang siklus air dan uap suatu PLTU.
Tahapannya :
Desalination Plant

1. Brine (air laut)

Raw water/ fresh water

Demineralizer Plant

2. Raw water

Demin water

Siklus Air Penambah

GENERATOR
Generator yang dikopel langsung dengan turbin

akan menghasilkan tegangan listrik ketika turbin


berputar.
Proses konversi energi didalam generator adalah
dengan memutar medan magnet didalam
kumparan.
Rotor generator sebagai medan magnet
menginduksi kumparan yang dipasang pada stator
sehingga timbul tegangan diantara kedua ujung
kumparan generator.
Untuk membuat rotor agar menjadi medan magnet,
maka dialirkan arus DC ke kumparan rotor.
Sistem pemberian arus DC kepada rotor agar
menjadi magnet ini disebut sistem eksitasi.

Konstruksi dan Bagian-Bagian


Generator
Generator terdiri dari bagian yang diam disebut stator

dan bagian berputar disebut rotor.


Stator terdiri dari casing yang berisi kumparan dan
rotor yang merupakan medan magnet listrik terdiri
dari inti yang berisi kumparan.
Inti (core) terbentuk dari susunan plat-plat baja silikon
yang mempunyai sifat kemagnetan yang baik. Platplat tersebut dikompres dengan rapat sekali, tetapi
diisolasi satu sama lain dengan pernis atau kertas
berisolasi (impregnated paper).
Susunan plat baja silikon yang membentuk inti ini
biasanya disebut laminasi. Laminasi-laminasi ini
membentuk saluran yang baik sekali bagi flux magnet
yang dihasilkan oleh rotor. Isolasi pada laminasi
mengurangi besarnya arus pusar (Eddy current),
sehingga mengurangi kerugian panas yang timbul.

Generator PLTU dengan Main Exciter dan Pilot


Exciter

Stator dan Rotor Generator

SISTEM EKSITASI
Eksitasi adalah sistem mengalirkan pasok listrik

DC untuk penguat medan rotor generator.


Dengan mengalirnya arus DC ke kumparan
rotor, maka rotor menjadi magnet dengan
jumlah kutub sesuai jumlah kumparannya.
Alat untuk membangkitkan arus eksitasi disebut
Exciter.
Untuk mengalirkan arus listrik ke rotor dapat
dilakukan dengan melalui slip ring dan sikat
arang (carbon brush) atau membuat exciter
dengan kumparan berputar.

Sistem Eksitasi

SISTEM PENDINGIN GENERATOR


Berfungsi menyerap panas yang timbul didalam

generator sehingga mencegah terjadinya panas


lebih yang dapat merusak isolasi. Panas ini dapat
menurunkan efisiensi generator.
Kerugian pada generator terjadi akibat :
Arus yang mengalir didalam penghantar
Inti besi yang menjadi magnet dan medan

magnet yang berubah-ubah


Gesekan angin antara rotor dengan media
pendingin
Media pendingin generator dapat menggunakan

udara, gas hidrogen, atau air (water).

Sistem Pendingin H2

Keuntungan penggunaan hidrogen sebagai


pendingin generator dibanding dengan udara adalah :
Kerapatannya rendah ( udara )
Daya hantar panas tinggi ( 7 udara )
Koefisien perpindahan panasnya tinggi
Tidak menimbulkan korosi asam
Resiko kebakaran rendah
Biaya pemeliharaan generator rendah

Resiko penggunaan hidrogen sebagai pendingin

generator dibanding dengan udara adalah :


Eksplosif, sehingga tidak boleh ada kebocoran yang
menyebabkan terjadinya reaksi antara hidrogen
dengan udara untuk menghindari terjadinya ledakan.

Sirkulasi pendingin Hidrogen di dalam


Generator

SISTEM UDARA INSTRUMENT DAN SERVIS


Dibagi menjadi dua :
1. Sistem Udara Instrumen/kontrol
Udara instrumen/kontrol berfungsi untuk memasok peralatan
instrumen/kontrol yang digerakkan dengan udara bertekanan. Udara ini
harus bersih dan kering sehingga dilengkapi dengan dryer (pengering).
Proses pengeringan ini bertujuan untuk :
Mencegah korosi alat alat instrumen.
Mencegah penyumbatan dari orifice, nosel, jarum dan alat alat
lainya yang berhubungan dengan instrumen.
2. Sistem Udara Service.
Seperti halnya pada sistem udara instrumen, tetapi tidak
menggunakan air prefilter dan refrigerant air dryer, sebab udara yang
dipakai untuk service tidak harus kering.
Tidak digunakannya udara kering untuk udara service ini karena selain
biayanya mahal, udara untuk service ini hanya dipakai untuk
membersihkan bagian-bagian peralatan dan peralatan pemeliharaan.

Sistem Udara Instrumen

Sistem Udara Service

Peralatan Penunjang
1. Desalination Plant
Fungsi desalination plant adalah mengolah air
laut menjadi air murni.
Proses desalination yang umum dilakukan
adalah dengan cara menguapkan
(evaporating) air laut. Bila air laut
dipanaskan, maka airnya akan menjadi uap
dan garam-garamnya akan tertinggal.
Selanjutnya bila uap tersebut didinginkan
akan diperoleh air kondensat yang disebut air
desal atau fresh water.

Desalination Plant

2. Demineralizer Plant

Fungsi demin plant adalah untuk mengolah air


tawar menjadi air demin (air murni yang tidak
mengandung mineral).
Proses penghilangan mineral dilakukan secara
kimia dengan menggunakan saringan /penukar
cation dan saringan/penukar anion serta saringan
campuran (mixed bed).

Diagram Demineralizer Plant

3. Chlorination Plant
Chlorination plant berfungsi untuk memproduksi
sodium hypochlorite (NaOCl) dari air laut secara
electrolisis.
Proses produksi chlorin adalah dengan mengalirkan
air laut kedalam electrolyt cell/generator yang diberi
tegangan DC sehingga menghasilkan sodium
hypochlorite (NaOCl) dan gas hidrogen.
Sodium hypochlorite yang dihasilkan oleh generator
dialirkan kedalam storage tank, bertubulensi
memisahkan gas hidrogen dan ditampung dalam
tangki hypochlorite.
Fungsi sodium hypochlorite adalah mengontrol
mikroorganisme yang ada dalam sistem air
pendingin.

Skema Chlorination Plant

4. Hydrogen Plant
H2-Plant adalah tempat dimana H 2 (Hydrogen) diproduksi.
H2 digunakan sebagai media pendingin untuk menyerap dan
mernbuang panas (disipasi) yang timbul di dalam alternator yang
sedang beroperasi.
Terjadinya panas pada alternator disebabkan karena adanya :
a. Rugi tembaga : panas yang disebabkan karena adanya arus
pembebanan yang mengalir melalui penghantar tembaga stator dan
rotor . Besaran dayanya dapat dihitung dengan persamaan I 2.R.
b. Rugi besi adalah kerugian yang diakibatkan dari panas yang
ditimbulkan dengan adanya arus pusar (Eddy current) yang terjadi
pada inti stator maupun rotor.
c. Selain panas yang diakibatkan seperti tersebut diatas, juga terjadi
panas yang diakibatkan dari gesekan dengan angin (windage).
.Panas yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan isolasi

penghantar atau terbakar, oleh sebab itu perlu adanya pendinginan.


.Kerugian-kerugian yang menyebabkan panas tersebut harus
diusahakan kecil sehingga tidak lebih dari 2% dari output alternator.

Diagram Produksi Gas H2

5. Reverse Osmosis Plant


Proses osmosis adalah proses mengalirnya molekul air dari
larutan berkadar garam rendah (dilute solution) menuju ke
larutan berkadar garam tinggi (concentrated solution).
Proses osmosis merupakan proses alamiah yang terjadi
sebagai upaya untuk menyeimbangkan konsentrasi garam
pada kedua sisi.
Proses osmosis ini akan menyebabkan ketinggian permukaan
air pada concentrated solution akan menjadi lebih tinggi
daripada permukaan pada dilute solution.
Secara alamiah air akan memberikan tekanan dari permukaan
air yang lebih tinggi ( concentrated solution ) menuju ke
permukaan air yang lebih rendah ( dilute solution ). Tekanan
yang terjadi inilah biasa kita disebut sebagai osmotic pressure.
Pada ketinggian air tertentu di concentrated solution, besarnya
osmotic pressure ini akan menyebabkan proses osmosis
berhenti.

Proses Osmosis dan Reverse


Osmosis

Proses reverse osmosis pada prinsipnya adalah

kebalikan proses osmosis yaitu dengan memberikan


tekanan pada larutan berkadar garam tinggi
(concentrated solution) supaya terjadi aliran molekul
air yang menuju larutan berkadar garam rendah
(dilute solution).
Pada proses ini molekul garam tidak dapat
menembus membrane semipermeable, sehingga
yang terjadi hanyalah aliran molekul air saja
sehingga akan didapatkan air murni yang dihasilkan
dari larutan berkadar garam tinggi. Inilah prinsip
dasar reverse osmosis.
Dalam proses reverse osmosis minimal selalu
membutuhkan dua komponen yaitu adanya tekanan
tinggi (high pressure) dan membrane semi
permeable.

Reverse Osmosis Plant

6. Auxiliary Boiler
Auxiliary Boiler merupakan boiler berbahan bakar
minyak yang biasanya digunakan saat Power Plant
Start up.
Sebuah auxiliary Boiler, biasanya memiliki kapasitas
sekitar 10 15 Ton/hr.
Auxiliary Boiler ini berperan sebagai penyedia uap
untuk kebutuhan sebagai berikut :
a. Start up heating dan pressure pegging pada low
load di deaerator
b. Desalination plant
c. Water treatment plant
d. Oil burner atomizing serta purging
e. Beberapa peralatan yang membutuhkan steam
untuk pengoperasiannya

Auxiliary Boiler

7. Coal Handling System


Coal handling system berfungsi menangani mulai dari
pembongkaran batubara dari kapal/tongkang (unloading
area), penimbunan/penyimpanan di stock area atapun
pengisian ke bunker (power plant) yang digunakan
untuk pembakaran di Boiler.
Alat transportasi yang digunakan dengan system

conveyor. Keuntungannya:
a. Menurunkan biaya dan menghemat waktu pada saat
memindahkan batubara
b. Menigkatkan efisiensi pemindahan material
c. Menghemat ruang
d. Meningkatkan kondisi lingkungan kerja (bersahabat
dengan lingkungan) : tidak berisik, menurunkan tingkat
polusi udara.

COAL HANDLING SYSTEM


SURALAYA POWER PLANT
UNITS 1 ~7

M/H. &
BF.32/33

Coal Ship
JH. H

BS.34/35

ST / RE 2

Coal Ship
BS.02

BC. 02

JH. G
&
HG36/37,
HG40/02
JH.B
&
C S. &
MS.03/04

Telescopic
Chute

Coal stock area

BS.36/37

CHCR
JH. J
&
HG. A/B
BC. 15

JH.F

COAL ANALISYS

BC. 16

RH. D
&
BF.09/10

Telescopic
Chute
JH. C
&
MCC,
BF.11/12,
MS.09/10

BC. 11
BC. 12

BC. 17

JH. E
&
Coal
Sampling
Belt
Weigher
BC. 13

Plant Distribute Hopper &


BF 501A/B, BF 601A/B, BF 701A/B
BC. 702A
BC. 702B

Hopper M

BC. 26
BC. 27

BC. 14

RH.A &
BF.03/04

Hopper K &
BF.20/21,
BF 26/27,MS.13/14

BC. 20
BC. 21

Hopper L

BC. 703A

BC. 602A

BC. 502A

SC.30

SC. 28

SC. 24

SC. 22

BC. 703B

BC. 602B

BC. 502B

SC. 31

SC. 29

SC. 25

SC. 23

Unit 2

Unit 1

Unit 7

Unit 6
COAL BUNKER

Unit 5

Unit 4

Unit 3
COAL BUNKER

8. Ash Handling System


Ash Handling Plant merupakan peralatan yang berfungsi
sebagai penampung dan penyalur abu sisa pembakaran yang
berasal dari ruang bakar (furnace).
Ash Handling Plant mempunyai 2 buah bagian / system, yaitu :
a. Fly Ash System.

Berfungsi menyalurkan abu terbang (fly ash) yang


merupakan sisa pembakaran dari ruang bakar boiler.
Sisa pembakaran yang mengandung partikel-partikel abu dialirkan ke
atmosfir melalui ruang yang telah dipasang EP (Electrostatic
Precipitator).
Partikel abu yang terdapat dalam sisa pembakaran akan ditangkap oleh
EP dan disalurkan ke pembuangan melalui Transporter atau Conveyor.

b. Bottom Ash System.

Berfungsi menangani atau menyalurkan abu sisa


pembakaran dari bagian bawah ruang bakar. Selain
menangani dan menyalurkan abu dari dalam furnace, Bottom
Ash System juga menyalurkan abu yang berasal dari Ruang
Economizer dan coal reject dari Pulverizer.

Ash Handling System


gas flow
econo
mizer

Superheater
reheater

Coal
bunker

EP

Boiler

Coal

ash
EP
hopper

Air
heater

furnace
AIR HEATER

DDCC

Transporter
ash
SDCC

PULVERIZER

ID Fan

dryer
Transfer 250 m3
udara Compressor Bin
masuk

AIR HEATER

mill reject
screen

Truck
capsole

crusher

Jumbo
Transporter

PA Fan

UNIT BISNIS SURALAYA


SURALAYA STEAM POWER PLANT #567
ASH AND DUST HANDLING PLANT #567
FLOW GAS AND ASH HANDLING PLANT
SUDIRMAN

MARET 2007

DRY
UNLOADING

TRUCK CAPSULE
DUST
CONDITIONING 2

FD Fan

ASH VALLEY

Silo
2x2500m3

DUST
CONDITIONING 1

DUM TRUCK

CONVEYOR

STACK

ASH VALLEY

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


Klasifikasi Start
Pada umumnya sebagai pedoman untuk menentukan jenis start
menggunakan parameter yang sama, yaitu temperatur metal tingkat
pertama (first stage metal temperature) turbin.
Adapun kriteria dari masing-masing jenis start adalah sebagai berikut :
a. Start dingin (Cold Start).

Apabila temperatur first stage metal turbin < 120 0C, ketika turbin telah
stop (shutdown) lebih dari 72 jam (3 hari). Memerlukan waktu start yang
paling lama untuk proses heat soak. Juga perlu diperhatikan kemungkinan
terjadinya thermal stress akibat perbedaan temperatur.
b.Start hangat (Warm Start).
Apabila temperatur first stage metal turbin antara 120 0C s.d 350 0C, ketika
turbin telah stop selama sekitar 30 jam. Waktu start menjadi lebih singkat
dibanding start dingin. Pada start hangat perlu diperhatikan pengaturan
temperatur uap keluar boiler, supaya sesuai dengan temperatur metal
turbin.
c. Start panas (Hot Start).
Membutuhkan waktu start paling cepat dibanding jenis start yang lain.
Dilakukan apabila temperatur first stage metal turbin > 350 0C, ketika
turbin baru shut down sekitar 12 jam. Hal yang perlu dipertimbangkan
pada start hangat juga berlaku untuk start panas.

Daftar perkiraan waktu untuk tiap


jenis start
Dari penyalaan
hingga start turbin

Dari turbin start


hingga paralel

Dari paralel hingga


beban penuh

Waktu total dari


penyalaan hingga
beban penuh

1. Start Dingin
(cold start)

240 menit

220 menit

190 menit

650 menit

2. Start Hangat
(warm start)

80 menit

70 menit

90 menit

240 menit

3. Start Panas
(Hot start )

40 menit

15 menit

35 menit

90 menit

4. Start sangat
panas (very
hot start)

10 menit

10 menit

30 menit

50 menit

Jenis Start

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


Persiapan Start Up Boiler
Sebelum menjalankan unit, secara umum ada beberapa aspek yang perlu
diperhatikan antara lain :
Yakinkan bahwa cadangan air penambah (make up water) tersedia dengan
cukup.
Pasokan bahan bakar cukup tersedia.
Sistem pasok daya listrik telah terdistribusikan dengan baik dan siap
memasok daya.
Semua jenis sistem penanggulangan kebakaran (Fire Protection System)
juga telah siap dan yakinkan bahwa sistem akan berfungsi pada saat
diperlukan.
Setelah hal - hal umum tersebut telah memenuhi syarat, maka PLTU dapat di
start.
Secara garis besar, prosedur menjalankan PLTU terdiri dari 3 kelompok
utama yaitu :
Menjalankan Boiler
Menjalankan Turbin
Menjalankan Generator, sinkronisasi dan pembebanan.

Start Boiler
Langkah persiapan Start Boiler meliputi :
Periksa dan yakinkan bahwa semua "Man Hole" sudah tertutup.
Periksa dan yakinkan bahwa semua katup pengaman (Safety Valve)
tidak dalam keadaan terkunci.
Periksa dan yakinkan bahwa semua instrumen indikator (level
gauge, temperature gauge, pressure gauge dan lain-lain) sudah
terpasang dan berfungsi dengan baik.
Periksa dan yakinkan bahwa semua sistem proteksi bekerja dengan
baik.
Semua saluran drain dan venting harus dalam keadaan terbuka.
Sistem air pendingin utama harus telah beroperasi normal sebelum
boiler dijalankan.
Sistem air pendingin bantu (Auxiliary Cooling Water System) harus
telah beroperasi normal.
Sistem udara kontrol dan sistem udara service harus sudah dalam
kondisi normal operasi.
Semua katup tangan untuk saluran udara perapat (seal air)
maupun pendingin (cooling air) ke boiler sudah dalam keadaan
terbuka.

Start Boiler
Tahapan Start Boiler secara umum adalah sebagai
berikut :
1) Pengisian Hotwell
2) Pengisian Tangki Deaerator
3) Pengisian Drum Boiler
4) Pembilasan Ruang Bakar (Purging)
5) Penyalaan (Firing)
6) Menaikkan Tekanan Boiler

Start Turbin
Persiapan start turbin, diantaranya :
Pastikan level minyak pelumas didalam tangki
Pastikan air pendingin telah dialirkan ke pendingin
minyak pelumas (Oil Cooler).
Pastikan bahwa semua katup drain turbin (casing
drain, main steam drain, extraction line drain
dan sebagainya) terbuka.

Start Turbin
Langkah-langkah yang harus dilakukan saat start
turbin adalah :
1) Jalankan pompa pelumas bantu (Auxiliary Oil
Pump) atau turning gear oil pump dan amati
tekanan pelumas.
2) Jalankan "Jacking oil pump" (bila dilengkapi) dan
periksa tekanan jacking oil.
3) Jalankan pemutar poros turbin (Turning
Gear/Baring Gear).
4) Mengoperasiakan Uap Perapat Poros (Gland Steam)
5) Membuat Vacum Condensor
6) Memutar Turbin.
7) Ikuti prosedur start sesuai dengan grafik start yang
dikeluarkan oleh pabrik.

Flow Chart Start Boiler & Turbin

Grafik Start Boiler

Grafik Cold Start

Shutdown Boiler
Tahapan shutdown boiler adalah sebagai berikut :
1) Turunkan beban Pulverizer ke minimum
2) Nyalakan ignitor untuk Pulverizer yang akan dimatikan
3) Suhu udara primary ke Pulverizer diturunkan ke minimum dengan cara

menutup hot air damper dan membuka cold air damper. Pertahankan
selama kurang lebih 5 menit untuk pendinginan Pulverizer
4) Matikan feeder batubara
5) Pertahankan udara primary selama 10 menit untuk membersihkan
batubara dan mendinginkan boiler
6) Lakukan proses inert Pulverizer
7) Matikan Pulverizer dan tutup Swing valve
8) Stop dan lakukan pembilasan ignitor
9) Setelah semua Pulverizer dan ignitor sudah dimatikan, lakukan
pembilasan (purging) boiler
10)
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat stop boiler adalah :
pertahankan level drum, pertahankan tekanan ruang bakar, apabila
beban sudah turun sampai 10% beban penuh maka suhu gas pebuang
(flue gas) harus dibatasi untuk melindungi pipa superheater dari suhu
yang berlebihan.

TERIMA KASIH