Anda di halaman 1dari 24

SISTEM IMUN PADA

IKAN

Prinsip Dasar Imunitas


Sistem kekebalan pada ikan terbagi atas
sistem pertahanan non spesifik dan
spesifik.
Proses pertahanan tubuh yang sederhana
ditampilkan oleh organisme sebagai
bentuk pertahanan dengan mengandalkan
struktur fisik, kerja mekanik alat
pertahanan dan pengeluaran substansi
kimiawi yang sangat sederhana.

Prinsip Dasar Imunitas


Pada ikan, fagositosis adalah bentuk
respon pertahan tubuh yang paling
sederhana, namun sangat penting, sebagai
wujud sistem petahanan non spesifik.
Ketika ikan mengalami infeksi mikroba
patogen, mekanisme kekebalan nonspesifik akan bekerja untuk menghentikan
proses infeksi tersebut.
Jika mekanisme tersebut tidakbekerja
efektif, maka infeksi akan berlanjut dan
mampu menimbulkan gejala klinis
penyakit.

Prinsip Dasar Imunitas


Pada saat itu respon kekebalan spesifik akan
mulai terjadi dan jika ikan mampu bertahan
hidup maka akan terbentuk antibodi spesifik
terhadap agen infeksi pada level titer
protektif dan terbentuk pula sel-sel memori.
Jika terjadi reinfeksi oleh agen penyakit
sejenis, maka ikan tersebut akan kebal,
mampu menahan infeksi karena respon
kekebalan sekunder akan terjadi, sebagai
efek booster.

Prinsip Dasar Imunitas


Mekanisme kekebalan non-spesifik juga dikenal sebagai
kekebalan alamiah (innate immunity), merupakan
mekanisme pertahanan inang yang responnya tidak
bergantung pada frekuensi kontak terhadap antigen
tertentu.
Berbeda dengan respon kekebalan spesifik (humoral
mediated immunity maupun cellular mediated immunity)
yang responnya sangat tergantung pada frekuensi
kontak induk semang/host dengan antigen tertentu
sebelumnya (sering pula disebut adaptive immunity).
Meskipun demikian, beberapa fungsi dari sistem
kekebalan non-spesifik juga terlibat dalam sistem
kekebalan spesifik. Sistem pertahanan pada ikan akan
terbentuk sempurna saat ikan telah dewasa. Pada benih
ikan sistem kekebalan tubuh sudah terbentuk tetapi
belum berfungsi optimal sehingga kurang efisien dalam
menahan nfeksi patogen.

Pada tahap ini, ikan rentan terhadap penyakit.


Sistem pertahanan non spesifik merupakan
pertahanan tubuh yang terdepan ketika
menghadapi paparan patogen karena
memberikan respon langsung terhadap
antigen.
Sistem pertahanan tubuh non spesifik terdiri
dari kulit dan selaput mukosa. Sistem
pertahanan tubuh spesifik adalah sistem
kekebalan tubuh khusus yang membuat
limfosit peka untuk segera menyerang
patogen tertentu.

Ikan bertulang belakang secara umum


memiliki sistem pertahanan berupa selT, sel-B dan immunoglobulin-like.
Sedangkan ikan bertulang rawan
mempunyai imunoglobulin, sel-T, sel
plasma dan IgM.
Amphibia memiliki sel-T, IgG, IgM dan
nodulus limfatikus, sedangkan reptilia
memiliki sel-T, IgG, dan IgM.

Sistem kekebalan nonspesifik


Kekebalan non-spesifik adalah suatu
sistem pertahanan tubuh yang berfungsi
untuk melawan segala jenis patogen
yang menyerang dan bersifat alami.
Kekebalan non-spesifik merupakan
imunitas bawaan (innate immunity),yaitu
respon perlawanan terhadap zat asing
yang dapat terjadi walaupun tubuh
sebelumnya tidak pernah terpapar oleh
zat tersebut.

Sistem kekebalan nonspesifik


Sistem kekebalan non-spesifik mencakup
pertahanan pertama dan pertahanan kedua.
Pertahanan pertama yaitu pertahanan fisik
meliputi, sisik, kulit, dan mukus. Mukus memiliki
kemampuan menghambat kolonisasi
mikroorganisma pada kulit, insang dan mukosa.
Mukus ikan mengandung imunoglobulin (IgM)
alami dan bukan sebagai respon dari pemaparan
antigen. Imunoglobulin merupakan antibodi yang
dapat menghancurkan patogen yang menyerang
tubuh.
Adapun sisik dan kulit berperan dalam melindungi
ikan dari kemungkinan luka dan sangat penting
peranannya dalam mengendalikan osmolaritas
tubuh. Kerusakan pada sisik atau kulit dapat
mempermudah patogen menginfeksi inang.

Sistem kekebalan nonspesifik

Sel-sel fagosit menghancurkan antigen


melalui tiga tahap, yaitu pelekatan, fagosit
dan pencernaan.
Proses fagosit sendiri dapat terjadi apabila
sel-sel fagosit berada dalam jarak dekat
dengan antigen, atau antigen tersebut
harus melekat pada permukaan sel fagosit.
Sel makrofag dan netrofil juga masih
memiliki kemampuan untuk melakukan
mekanisme pertahanan non-spesifik
melalui proses chemotaksis dan
pinocytosis.

Sistem kekebalan nonspesifik


Chemotaksis adalah proses dimana sel
fagosit dipancing oleh berbagai jenis
molekul untuk melakukan migrasi ke
lokasi terjadinya inflamasi, kerusakan
jaringan atau reaksi antigen-antibodi
(immune reactions).
Fenomena ini ditandai oleh proses
pembukaan membran sel membentuk
lubang (vakuola) kecil melalui proses
endocytosis.

Sistem kekebalan spesifik


pada ikan
Ada beberapa substansi sel dan organ
yang berperan dalam sistem pertahanan
tubuh suatu organisme. Elemen-elemen
tersebut sering disebut dengan sistem
kekebalan (immune system). Organ yang
termasuk dalam sistem kekebalan
adalah sistem Reticulo Endothelial,
limfosit, plasmosit, dan fraksi serum
protein tertentu.

Sistem kekebalan spesifik


pada ikan
Sel yang berperan dalam sistem tanggap
kebal terdiri dari dua jenis sel limfosit yaitu
limfosit-B dan limfosit-T.
Peran utama Sel T adalah dalam sitem
kekebalan seluler dan biasanya disebut
dengan imun perantara sel (cell mediated
immunity).
Sel-B berperan dalam produksi
imunoglobulin melalui rangsangan antigen
tertentu dan imunoglobulin diproduksi oleh
sel tertentu pada limfa.

Faktor-faktor yang berperan pada


sistem kekebalan pada tubuh ikan
Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi respon kekebalan
tubuh pada ikan antara lain: suhu,
kondisi stress, keseimbangan nutrisi,
pollutan, mikro-nutrien, dan unsurunsur immunomodulator.

Suhu
Ikan merupakan hewan poikilotermik.
Proses fisiologi yang terjadi dalam tubuh ikan
sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya.
Sebagian besar mekanisme pertahanan tubuh
adalah sangat bergantung pada suhu
(temperature-dependent), dan berkembang lebih
cepat pada suhu lingkungan yang optimal untuk
organsime bersangkutan.
Suhu rendah diketahui sebagai faktor pembatas
dalam proses metabolisme organisme, termasuk
proses induksi kekebalan tubuh.
Suhu yang terlalu tinggi juga dapat menekan fungsi
kekebalan tubuh. Proses reaksi antigen-antibodi
yang dimulai dengan cellular co-operation antara
sel makrofag dengan sel limfosit adalah sangat
dipengaruhi oleh suhu (temperature-sensitive).

Suhu
Fungsi normal sel limfosit ikan sangat
tergantung pada adaptasi homoviscous dari
kondisi lipid membrane sel.
Komposisi asam lemak dan suhu lingkungan
merupakan faktor yang akan sangat
berpengaruh terhadap fluidity dan
permeabilitas membran sel, dan juga
terhadap aktivitas antara membraneassociated receptors dengan enzyme.
Beberapa hasil kajian juga telah membuktikan
bahwa respon kekebalan tubuh ikan
berlangsung relatif lambat pada suhu rendah.

Kondisi stress
Stress sangat berpengaruh terhadap
status kesehatan ikan. Stress dapat
disebabkan oleh faktor biologis,
kimiawi maupun fisik.
Respon stress akan diikuti dengan
penurunan kadar limfosit dalam
darah, dan juga di dalam organorgan limfoid.

Beberapa respon (stress alarms) yang


terjadi apabila ikan mengalami tekanan:
(1). Peningkatan gula darah akibat sekresi hormon dari
kelenjar adrenalin. Persediaan gula, seperti glycogen
dalam hati dimetabolisme sebagai persediaan energi
untuk emergensi.
(2).Osmoregulasi kacau akibat perubahan metabolisme
mineral. Pada kondisi tersebut, ikan air tawar
cenderung mengabsorbsi air dari lingkungan (overhydrate). Ikan air laut cenderung kehilangan air dari
dalam tubuh (dehydrate). Kondisi ini perlu energi
ekstra untuk memelihara keseimbangan
osmoregulasi.
(3). Pernafasan meningkat, tensi darah meningkat, dan
persediaan sel darah merah direlease ke sistem
resirkulasi,
(4). Respon inflamasi ditekan oleh hormon yang
dikeluarkan
dari kelenjar adrenalin.

Polutan dan logam berat


Unsur-unsur polutan dan logam berat diketahui memiliki potensi
yang besar terhadap sistem kekebalan tubuh, dengan akibat yang
sangat variatif tergantung pada jenis (kualitas) dan kuantitas dari
polutan atau logam berat tersebut. Obat-obatan atau bahan
kimia/antibiotik juga dapat berperan sebagai unsur
immunosupressive.
Jenis bahan kimia tertentu (pestisida, insektisida, pollutan limbah
industri, limbah rumah tangga, dll.) dapat menyebabkan ikan sakit
dengan berbagai kondisi.
Kolam-kolam ikan di daerah dataran rendah, umumnya
memperoleh sumber air dari aliran sungai yang melewati daerah
pemukiman, daerah industri atau pertanian.
Sebelum masuk ke kolam budidaya, air tersebut membawa segala
limbah eksternal yang terkandung di dalamnya. Limbah tersebut
dapat berupa padatan terlarut hasil pengikisan/erosi tanah
permukaan akibat pengelolaan lahan yang kurang baik atau unsurunsur kimia yang berbahaya bagi kehidupan ikan, terutama logam
berat.

Polutan dan logam berat


Logam berat yang cukup berbahaya bagi kehidupan ikan
karena sifat toksisitasnya, berturut-turut antara lain
meliputi: Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al dan Co.
Sifat racun dari masing-masing logam berat tersebut dapat
meningkat apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari
jenis-jenis ion yang sinergetik, dan sebaliknya melemah
apabila kandungan ion-ion tersebut bersifat antagonistik.
Nilai pH air juga berpengaruh pada tingkat kelarutan ion-ion
logam, umumnya tingkat kelarutan dan aktivitas ion logam
akan meningkat pada pH air yang rendah. Sebagai
gambaran, pengaruh unsur Hg terhadap ikan dapat
meracuni sistem syaraf ikan; dan unsur Cd bersifat cytotoksikan terhadap jaringan insang ikan.
Kontaminasi ringan unsur logam berat di lingkungan
perairan akan dideposit oleh ikan-ikan induk kemudian
dikonsentrasikan dalam minyak yang tersimpan dalam
telur-telur mereka.
Kontaminasi demikian pada akhirnya akan mematikan telurtelur tersebut pada saat berkembang sebelum menjadi
larva, dan lain-lain.

Keseimbangan nutrisi
Kecukupan pakan (kualitas dan
kuantitas) sesuai dengan kebutuhan
optimal ikan sangat berpengaruh
terhadap sistem kekebalan tubuh ikan.
Kondisi ini juga sangat nyata terhadap
optimalisasi pertumbuhan serta
menjamin kualitas pangan asal ikan
bagi kebutuhan konsumsi manusia.

Mikro nutrien
Anti oksidan seperti vitamin C dan E vitamin E (atocopherol) dan unsur imunostimulan lainnya
seperti Glukan, Lipopolisakarida, dll.; dimana
materi biologis tersebut telah terbukti dapat
meningkatkan daya tahan tubuh ikan terutama
sistem pertahanan non-spesifik(cellular immunity).
Unsur-unsur imunostimulan tersebut telah terbukti
sangat potensial sebagai unsur yang memiliki
pengaruh sangat baik (immunomodulatory)
terhadap sistem kekebalan tubuh ikan apabila
diberikan pada dosis yang tepat dan
berkelanjutan.
Kandungan unsur karoten dalam diet pakan ikan
juga menunjukkan pengaruh yang baik terhadap
status kesehatan ikan, terutama ikan-ikan
berpigmen.

Immunomodulators
Seperti halnya mikro-nutrient, beberapa
unsur yang bersifat immunostimulator
seperti vitamin C dan E vitamin E (atocopherol) dan unsur imunostimulan
lainnya seperti Glukan, Lipopolisakarida,
muramil peptida, lipopolisakarida, dll.
juga telah terbukti sangat bermanfaat
sebagai unsur imunomodulator;
terutama sistem pertahanan non-spesifik

Immunoglobulin
adalah senyawa protein yang digunakan untuk melawan
kuman penyakit (virus, bakteri, racun bakteri dll.), ada di
dalam darah, orang sering menyebutnya antibodi.
Setiap immunoglobulin (disingkat Ig) akan mengenali satu
antigen (kuman penyakit) secara spesifik, artinya satu
antigen dikenali satu antibodi spesifik. Ig diproduksi oleh sel
darah putih yang disebut sel B atau lebih spesifik lagi sel
plasma. Immunoglobulin termasuk kedalam kelompok
glikoprotein yang mempunyai struktur dasar yang
sama,terdiri dari 83-96% polipeptida dan 4-18%
karbohidrat.
Adapun klasifikasi immunoglobulin dibagi menjadi dua sub
kelas yakni : Immunoglobulin sebagai rantai panjang dan
immunoglobulin sebagai rantai pendek.
Imunoglobulin sebagai rantai panjang dibagi menjadi:
Immunoglobulin A, Immunoglobulin E, Immunoglobulin M,
Immunogloblulin D, Immunoglobulin G. lin G.