Anda di halaman 1dari 30

Disusun oleh:

• Mister Candera
• Erna Zuriawati
• Rosmanita
• soleha Jambi University
Latar Belakang
Penulisan
• Garcia dan Soelistianingsih (1998) yang melakukan
studi pertumbuhan ekonomi seluruh propinsi-
propinsi yang ada di Indonesia, menemukan bahwa
telah terjadi disparitas pertumbuhan ekonomi antar
propinsi di Indonesia, dan propinsi-propinsi dengan
pertumbuhan PDRB per kapita tinggi didominasi oleh
propinsi-propinsi yang ada di wilayah Indonesia
bagian barat, khususnya propinsi yang ada di Pulau
Jawa dan Bali.
Latar Belakang
Penulisan
• Sejak tahun 2001, dengan diberlakukannya UU No.22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU No.25
Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah ( sekarang kedua UU di atas
sudah diganti dengan UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33
tahun 2004), maka pemerintah daerah di Indonesia
memiliki kewenangan yang seluas-luasnya dalam
pelaksanaan pemerintahan dan pengaturan keuangan
daerahnya masing-masing. Dengan demikian,
pertumbuhan daerah diharapkan menjadi lebih optimal dan
mampu mengurangi disparitas yang terjadi antar daerah
dan antar propinsi
Latar Belakang
Penulisan
• Berdasarkan pernyataan di atas,
penulis menarik sebuah judul yaitu
“PENDAPATAN REGIONAL”.
Tujuan Penulisan

• Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu


agar kita lebih mengetahui tentang arti
pendapatan regional yang sebenarnya dan
kita dapat merealisasikannya dalam
kehidupan yang akan datang atau sebagai
bahan acuan kita dalam melangkah
Manfaat Penulisan
•Adapun manfaat penulisan makalah
ini yaitu kita dapat mengetahui arti
pendapatan regional yang sebenarnya
dan juga dapat bahan acuan dalam
melangkah ke arah yang lebih baik.
PENGERTIAN PENDAPATAN REGIONAL

Pendapatan regional didefinisikan


sebagai nilai produksi barang-barang
dan jasa-jasa yang diciptakan dalam
suatu perekonomian di dalam suatu
wilayah selama satu tahun Sukirno,
1985
menurut Tarigan (2004),
Pendapatan regional adalah
tingkat pendapatan masyarakat
pada wilayah analisis.
Dalam membicarakan
KONSEP
pendapatan DAN
dan PENGERTIAN
pertumbuhan
regional,NILAI TAMBAH
sangat perlu
diketahui tentang /arti nilai
tambah. Salah pengertian
yang biasa terjadi adalah
apabila orang menganggap
bahwa pendapatan regional
adalah identik dengan nilai
produksi yang dihasilkan
diwilayah tersebut. Nilai
produksi tidak sama dengan
nilai tambah karena di dalam
Menghitung pendapatan produksi
sebagai pendapatan regional bisa
mengakibatkan perhitungan ganda
(double – counting)

a, seorang tukang kue menghasilkan 100 buah


hari yang dijualnya dengan harga @ Rp 300,00
a nilai penjualannya/nilai produksinya adalah
00,00. Padahal untuk menghasilkan kue terse
aksa membeli berbagai jenis input seperti tep
ula, kelapa, vanili, minyak goreng, dan bahan
ahan yang di gunakan telah dihitung disektor
Nilai tambah bruto terdiri atas:
 Upah dan gaji

Laba
 Sewa tanah
 Bunga uang

penyusutan

pajak tidak langsung net

farm gate
CONTOH PERHITUNGAN NILAI
TAMBAH
seorang petani mengolah sebidang tanah seluas 1 hektar yang

ditanami jagung. Untuk memproduksi jagung, petani tersebut
mengeluarkan biaya sebagai berikut:

o Membeli bibit 25 kg @ Rp 8.000,00 = Rp 200.000,00


o Menyewa traktor untuk lahan 1 ha = Rp 300.000,00
o Tenaga kerja yang digaji 50 hk @ Rp 8.000,00 = Rp 400.000,00
o Pupuk 250 kg @Rp 2.000,00 = Rp 500.000,00
o Pestisida 10 ltr @ Rp 10.000,00 = Rp 500.000,00
o Sewa mesin pipil = Rp 500.000,00
o Total pengeluaran = Rp 2.500.000,00
o Hasil produksi 5.000 kg @ Rp 10.000,00 = Rp 5.000.000,00
o Keuntungan = Rp 2.600.000,00
contoh di atas, biaya diantaranya adalah bibit, pupuk, dan
tisida sebesar Rp 1.200.000,00 sehingga nilai tambah dari
atan tersebut adalah Rp 5.000.000,00 – Rp 1.200.000,00
p 3.800.000,00. ini adalah bagian yang bisa diamati oleh
yarakat setempat seandainya seluruh faktor-faktor produksi
liki oleh masyarakat setempat dengan catatan dari penghas
ebut masih perlu di kurangkan biaya penyusutan dan pajak y
gkin ditagih pemerintah
BERBAGAI KONSEP DAN
DEFINISI
• Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) atas Dasar Harga
Pasar
Produk domistik regional bruto
atas dasar harga pasar adalah
jumlah nilai tambah bruto (gross
value added) yang timbul dari
seluruh sektor perekonomian di
wilayah itu
Rumus:

PDRB = (Upah/gaji + bunga + sewa tanah +


keuntungan) + penyusutan + pajak
tidak langsung neto
• Produk Domestik Regional Neto
(PDRN) atas Dasar Harga Pasar

duk domistik regional neto atas dasar harga


sar adalah produk domistik regional bruto ata
sar harga pasar di kurangi penyusutan
Rumus:

PDRB = (Upah/gaji + bunga + sewa tanah +


keuntungan) –( penyusutan) + pajak
tidak langsung neto
• Produk Domistik Regional Neto
(PDRN) atas Dasar Biaya Faktor

PDRN atas dasar harga faktor adalah


PDRN atas dasar harga pasar dikurangi
pajak tak langsung neto, dan pajak lain-
lain, kecuali pajak pandapatan dan pajak
perseroan
Rumus:

PDRB = (Upah/gaji + bunga + sewa tanah +


keuntungan) –( penyusutan + pajak
tidak langsung neto)
Pendapatan regional

Pendapatan Regional

neto adalah produk


domestik regional neto
atas dasar harga biaya
faktor dikurangi aliran
dana yng mengalir
keluar ditambah aliran
dana yang mengalir
masuk.
Rumus:

PR = (Upah/gaji + bunga + sewa tanah +


keuntungan) –( penyusutan + pajak
tidak langsung neto)
• Pendapatan Perorangan (Personal Income) DAN
Pendapatan Siap Dibelanjakan (Disposable
Income)
Apabila pendapatan regional (regional income) dikurangi pajak:
pajak pendapatan perusahaan (corporate income taxes), keuntungan
yang tidak dibagikan (undistributed profit), iuran kesejahteraan
sosial (social security contribution), ditambah transfer yang diterima
oleh rumah tangga dan pemerintah, bunga neto atas utang
pemerintah, sama dengan pendapatan perorangan (personal income).

Apabila pendapatan perorangan dikurangi pajak


pendapatan perorangan , pajak rumah tangga/PBB, dan
transfer yang dibayrkan oleh rumah tangga akan sama
dengan pendapan yang siap dibelanjakan (disposable
income)
• Pendapatan Regional atas Dasar
Harga Berlaku dan Harga Konstan
Harga konstan artinya harga produk
didasarkan atas harga pada tahun
tertentu. Tahun yang dijadikan patokan
harga disebut tahun dasar untuk
penentuan harga harga konstan. Jadi,
kenaikan pendapatan hanya
disebabkan oleh meningkatnya jumlah
fisik produksi, karena dianggap
tetap(konstan). Akan tetapi pada
sektor jasa yang tidak memiliki unit
produksi, nilai produksi dinyatakan
dalam harga jual
• Pendapatan Perkapita

Pendapatan perkapita adalah


total pendapatan suatu daerah
dibagi jumlah penduduk
didaerah tersebut untuk tahun
yang sama
CONTOH PERHITUNGAN NILAI
KONSTAN
• Misalnya di Provinsi Jambi hanya ada 3 sektor, yaitu 2 sektor produksi
dan 1 sektor jasa. Nilai tambah masing-masing sektor dalam kurun
waktu berselang waktu 5 tahun adalah sebagai berikut

Kondisi Tahun 1995

Sektor Jumlah Produksi Harga Jual Per Total Nilai


(Rp) Unit (Rp) Produksi (Rp)

Produksi 1 1.000,00 500,00 50.000,00


Produksi 2 2.000,00 800,00 1.600.000,00
Jasa 900.000,00
Jumlah 3.000.000,00
Kondisi Tahun 2000

Sektor Jumlah Produksi Harga Jual Per Total Nilai


(Rp) Unit (Rp) Produksi (Rp)

Produksi 1 1.100,00 600,00 660.000,00


Produksi 2 2.300,00 1.000,00 2.300.000,00
Jasa 1.200.000,00
Jumlah 4.160.000,00

Dari kedua tabel di atas, diketahui bahwa dalam kurun waktu


5 tahuntotal pendapatan regional dalam harga berlaku naik
dari Rp 3.000.000,00 menjadi Rp 4.160.000,00yang berarti
dalam harga berlaku terjadi kenaikan sebesar 38,67%. Akan
tetapi, hal ini tidak mneggambarkan kenaikan rill dari
kemakmuran masyarakat. Kenaikan rill kemakmuran
masyarakat harus diukur dalam nilai konstan
• Nilai produksi tahun 2000 dalam nilai konstan tahun 1995 adalah
sebagai berukut:

Sektor Jumlah Produksi Harga Jual Per Total Nilai


(Rp) Unit (Rp) Produksi (Rp)

Produksi 1 1.100,00 500,00 550.000,00


Produksi 2 2.300,00 800,00 1.840.000,00
Jasa 968.919,00
Jumlah 3.358.919,00

• Dalam harga konstan maka besarnya kenaikan pendapatan regional


dalam kurun waktu 5 tahun tersebut adalah 11,96%.
METODE PERHITUNGAN
PENDAPATAN REGIONAL

• secara langsung

• secara tidak langsung


Metode
Langsung
• Metode langsung adalah perhitungan dengan
menggunakan data daerah atau data asli yang
menggambarkan kondisi daerah dan digali dari sumber
data yang ada di daerah itu sendiri

• Metode langsung dapat dilakukan dengan


mempergunakan tiga macam cara, yaitu:
1. Pendekatan Produksi
2. Pendekatan Pendapatan
3. Pendekatan Pengeluaran
Metode Tidak
Langsung

• Metode tidak langsung adalah suatu


cara mengalokasikan produk domestik
bruto dari wilayah yang lebih luas ke
masing-masing bagian wilayah,
misalnya, mengalkasikan PDB
Indonesia ke setiap provinsi dengan
menggunakan alokator tertentu
Cand_mhs@yahoo.co