Anda di halaman 1dari 67

1

LAPORAN KASUS
MENINGOENSEFALITIS + SIRS PADA ANAK
Disusun Oleh :
REGINA
Pembimbing : dr.ARIETA R. KAWENGIAN, Sp.A
BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD dr. DORIS SYLVANUS/FK-UNPAR
PALANGKARAYA
2015

Pendahuluan
2

Penyakit yang menyerang otak merupakan


masalah yang serius
Meningitis infeksi akut pada selaput
meningen
Encephalitis peradangan jaringan otak
yang dapat mengenai selaput pembungkus
otak dan medulla spinalis.
Meningoencephalitis merupakan
peradangan pada selaput meningen dan
jaringan otak.
Japardi, Iskandar. Meningitis. Jakarta.
2002

........Pendahuluan
3

Diagnosis cepat dan terapi segera


tindakan yang dapat menyelamatkan
nyawa

Dilaporkan sebuah kasus yang terjadi


pada seorang anak laki-laki berusia 8
datang dengan gejala utama kejang dan
penurunan kesadaran.

IDENTITAS
4

Identitas Penderita
Nama
: An. B. S
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Usia
: 8 tahun
Alamat
: PT BGA. Tumbang Samba
MRS
: Tanggal 25 oktober 2015
Pukul
: 14.10 WIB

Anamnesis
5

Keluhan utama
:
Kejang
Riwayat penyakit sekarang :
Kejang 4 jam SMRS . 3x dirumah. 4x di IGD

Penurunan Kesadaran
Demam (+) 2 hari SMRS
Sakit kepala (+) 4 hari SMRS
Lemas dan Tidak Nafsu makan
Mual (-) Muntah (-) Batuk (-) pilek (-)

... Anamnesis
6

Riwayat penyakit dahulu


Tidak pernah mengeluh hal serupa
Riwayat Penyakit Keluarga
Sakit yang sama (-)

... Anamnesis
7

Riwayat Kehamilan Dan Persalinan


Persalinan Normal dan cukup bulan
Lahir segera menangis
BBL 2800 gr,
Riwayat Tumbuh Kembang
Sesuai Umur
Sekolah Dasar
Bermain aktif, berkomunikasi dan bersosialisasi
baik dengan lingkungan dan keluarga.

... Anamnesis
8

Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap
Riwayat Makanan
Makanan dan minuman dalam kualitas dan
kuantitas kurang tercukupi
Riwayat Sosial Lingkungan
Lingkungan Kurang Baik

Pemeriksaan Fisik
9

Keadaan umum : Tampak Sakit Berat, tampak lemas


Kesadaran
: Somnolen
GCS : E3/V3/M4
Tanda Vital
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 128 kali/ menit, regular, kuat angkat, isi tidak cukup
suhu : 39,1 C, suhu axilla
RR : 26 kali/menit
Berat badan : 21 Kg
Tinggi badan
: 121 cm

...Pemeriksaan Fisik
10

Kulit
Warna kulit cokelat, tidak ada sianosis,
turgor kembali cepat, kelembaban
cukup, pucat (-), petekie (-)
Kepala
Mesosefal, Palpebra tidak edema,
konjungtiva anemis (-/-), sklera tidak
ikterik, air mata cukup, diameter pupil 3
mm/ 3 mm, isokor, reflek cahaya +/+,
mata cekung (-)

...Pemeriksaan Fisik
11

Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar getah
bening, kaku kuduk (+),

...Pemeriksaan Fisik
12

Thoraks
Paru-paru

Inspeksi : bentuk pectus carinatum,


retraksi (-),
pernapasan
torakoabdominal
Palpasi
: fremitus vokal normal simetris
Perkusi
: sonor di semua lapangan paru
Auskultasi : suara nafas dasar vesikuler +/
+,
rhonki -/-, wheezing -/-.

...Pemeriksaan Fisik
13

Jantung

Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat


Palpasi
: apeks teraba di SIC V linea
midklavikula
sinistra
Perkusi
: batas kanan linea parasternalis
dekstra,
batas kiri linea
midklavikula sinistra,
batas
atas ICS III sinistra
Auskultasi : S1-S2 tunggal, reguler, murmur
(-),
gallop (-).

...Pemeriksaan Fisik
14

Abdomen

Inspeksi : datar, supel


Palpasi
: nyeri tekan (-), hati dan lien
tidak
teraba besar, massa (-).
Perkusi
: timpani (+), asites (-).
Auskultasi : bising usus (+) normal.

...Pemeriksaan Fisik
15

Ekstremitas
Ektremitas atas
: akral hangat +/+,
clubbing
fingers (-) edema -/-,
CRT < 2,
sianosis -/Ektremitas bawah : akral hangat +/+,
clubbing
fingers (-) edema -/-,
CRT < 2,
sianosis -/

...Pemeriksaan Fisik
16

Tanda rangsang meningeal:

Kaku kuduk (+)


Kernig sign + | +
Lasegue +|+
Brudzinski I sign - | Brudzinski II sign - | -

...Pemeriksaan Fisik
17

Nervus Kranialis

N. I = tidak dapat dinilai


N II = tidak dapat dinilai
N III, IV, VI = kesan parese (-)
N VII = kesan parese (-)
N VIII = tidak dapat dinilai
N IX,X = uvula ditengah, arkus faring
simetris
N XI = tidak dapat dinilai
N XII = tidak dapat dinilai

...Pemeriksaan Fisik
18

Status neurologis
Empat ekstremitas kekuatan cukup,
eutrofi, eutonus, klonus (-), Refleks
fisiologis (+), refleks patologis (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
19

Pemeriksaan

Nilai

Hb

12,6 g/dL

Ht

36,6 %

Leukosit

18.140/uL

Trombosit

355.000/uL

Eritrosit

5.07x106/uL

Ureum:

30

Creatinin:

1,32

SGOT

38

SGPT

34

GDS

116

DDR Malaria

Negatif

Elektrolit :
Na+
K+
Ca++

136 mmol/L
4,2 mmol/L
1,2 mmol/L

... PEMERIKSAAN PENUNJANG


20

Pada
pemeriksaan
foto thorak tidak
didapatkan
kelainan

Status Gizi
21

Status Gizi
berdasarkan kurva
CDC
Berat Badan : 21 Kg
Panjang Badan
: 121
cm
BB/U : p10
TB/U : p25
Kesan : Gizi kurang

Diagnosa Kerja
22

Susp Meningoensefalitis + SIRS

Diagnosa Banding
23

Penatalaksanaan
24

Oksigenasi Nasal Kanul 2 lpm


IVFD D5 % 18 tpm
Pasang NGT
Pasang Cateter
Inj. Meropenem 2 x 1gr (IV) (ST)
Inj. Dexamethasone 1 amp (IV)
selanjutnya 3x1/2 amp (iv)
Inj. Diazepam 10 mg (iv) bila kejang
Inf. Paracetamol 4x250 mg (iv) k/p

Usul pemeriksaan
25

Pemeriksaan Lumbal Fungsi


Kultur darah
CT Scan atau MRI
EEG
Konsul ke Mata

Prognosis
26

Quo ad vitam
: Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad malam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

Follow Up
27

Tinjauan Pustaka
28

Definisi
Meningoencephalitis adalah peradangan
pada selaput meningen dan jaringan
otak.

Quagliarello, VTreatment of Bacterial


Meningitis. The New England Journal of
Medicine

Epidemiologi
29

Meningitis bakterial terjadi pada kira-kira


3 per 100.000 orang setiap tahunnya .
Di Brasil, angka meningitis bakterial
lebih tinggi, yaitu 45,8 per 100,000
orang setiap tahun.

Japardi, Iskandar. Meningitis. Jakarta.


2002

Etiologi
30

Quagliarello, VTreatment of Bacterial Meningitis.


The New England Journal of Medicine.2009

Etiologi
31

Penyebab Ensefalitis :

Adenovirus:
Enterovirus
Herpesvirus
Lain-lain: HIV, Influenza viruses,
Lymphocytic choriomeningitis virus,
Measles virus (native atau vaccine), Mumps
virus (native atau vaccine), Virus rabies,
Virus rubella
Quagliarello, VTreatment of Bacterial
Meningitis. The New England Journal of
Medicine.2009

Patofisiologi
32

Quagliarello, VTreatment of Bacterial


Meningitis. The New England Journal of
Medicine.2009

Gejala Klinis
33

MANIFESTASI
KLINIS

MENINGOENSEFALITIS
MENINGITIS

ENSEFALITIS

Kesadaran

Compos Mentis
sampai Somnolen

Somnolen sampai
Koma

Demam

Hipotermia atau
Hiperpireksia

Hiperpireksia

Tanda Rangsang
Meningeal

Kaku Kuduk (+)

rangsang meningeal
(-).

Kejang

Ada, kejang umum atau fokal.

Peningkatan Tekanan
Intra Kranial (TIK)

Kejang, Muntah, diplopia, sakit kepala, ptosis,


ubun-ubun membumbung, bradikardia
dengan hipertensi, apneu, papil edema

Gejala Prodormal
(muncul beberapa
hari sebelum gejala
spesifik)

Apatis, iritabilitas,
Batuk, sakit
nyeri kepala, malaise, tenggorokan, demam,
anoreksia.
sakit kepala, dan
keluhan perut, lesu,
perubahan perilaku.
Taylor , Pediatric Neurology: Principles &

Pemeriksaan Penunjang
34

Pemeriksaan Lumbal Fungsi


Kultur darah
CT Scan atau MRI
EEG

Taylor , Pediatric Neurology: Principles &


Practice. Ed 4. Philadelphia. 2006.

......Pemeriksaan Penunjang
35

......Pemeriksaan Penunjang
36

Pungsi Lumbal
Jenis Infeksi

Hasil Pemeriksaan

Bakterial meningitis

Pleositosis neutrophilic, kadar


protein tinggi, kadar glukosa .

Viral meningitis

Pleositosis limfositik ringan


sampai sedang, kadar protein
normal atau , dan kadar glukosa
normal.

Encephalitis

Pleositosis limfositik, kadar


protein t, dan kadar glukosa
normal.

Infeksi HSV.

jumlah eritrosit dan protein

Infeksi tuberkulosis, infeksi


kriptokokus, atau carcinomatosis
meningeal.

protein dan rendahnya kadar


glukosa.

.......Pemeriksaan Penunjang
37

EEG adalah tes definitif dan


menunjukkan aktivitas gelombang
lambat, walaupun perubahan fokal
mungkin ada.
Hasil neuroimaging mungkin normal atau
dapat menunjukkan pembengkakan otak
difus parenkim atau kelainan fokal.

Taylor , Pediatric Neurology: Principles &


Practice. Ed 4. Philadelphia. 2006.

Penatalaksanaan
38

Rawat di ICU atau di ruangan biasa dengan


pengawasan/observasi ketat.
Monitoring: TTV dan cairan.
Kejang diatasi dengan :
Diazepam
Fenobarbital
Difenil hidantoin

Kenaikan tekanan intra kranial diatasi dengan :

Manitol

Pemberian Antibiotika.

Kortikosteroid

Lyall H, Hemingway C. Infectious disease.


Disease of the nervous system in

Prognosis
39

Mortalitas mencapai 35-50%.


Pasien yang pengobatannya terlambat
angka kematiannya tinggi bisa mencapai
70-80%. Penderita yang hidup 20-40%
akan mempunyai komplikasi atau gejala
sisa diantaranya:

Gangguan perilaku, psikiatrik atau kognitif.


Gangguan motorik.
Gangguan penglihatan atau pendengaran
Lyall H, Hemingway C. Infectious disease.
Disease of the nervous system in

Pembahasan
40

Pada kasus ini dilaporkan seorang anak


laki-laki berusia 8 tahun yang di rawat di
RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
Kejang
Demam
Penurunan kesadaran

41

MANIFESTASI
KLINIS

...Pembahasan
MENINGOENSEFALITIS
Diagnosa
MENINGITIS

ENSEFALITIS

Kesadaran

Compos Mentis
sampai Somnolen

Somnolen sampai
Koma

Demam

Hipotermia atau
Hiperpireksia

Hiperpireksia

Tanda Rangsang
Meningeal

Kaku Kuduk (+)

rangsang
meningeal(-)

Kejang

Ada, kejang umum atau fokal.

Peningkatan Tekanan
Intra Kranial (TIK)

Kejang, Muntah, diplopia, sakit kepala, ptosis,


ubun-ubun membumbung, bradikardia
dengan hipertensi, apneu, papil edema

Gejala Prodormal
(muncul beberapa
hari sebelum gejala
spesifik)

Apatis, iritabilitas,
Batuk, sakit
nyeri kepala, malaise, tenggorokan, demam,
anoreksia.
sakit kepala, dan
keluhan perut, lesu,
perubahan perilaku.
Taylor , Pediatric Neurology: Principles &
Practice. Ed 4. Philadelphia. 2006.

......Pembahasan
42

Memastikan penyebab
fungsi lumbal.
Fungsi lumbal adalah
upaya pengeluaran
cairan cerebrospinal
dengan memasukkan
jarum kedalam ruang
subarachnoid untuk
melihat apakah ada
kelainan di LCS.

Indikasi :

Kejang atau twitching


Paresis atau paralisis
termasuk paresis N.VI
Koma
Ubun-ubun besar
membonjol
Kaku kuduk dengan
kesadaran menurun
TBC milier
Leukemia
Mastoiditis kronik yang
dicurigai meningitis
Sepsis
Lumbal Puncture. The New
England Journal of Medicine.

......Pembahasan
43

Berdasarkan Teori
Pemeriksaan Lab
(DL,GDS,elektrolit)
Fungsi lumbal
Kultur
CT-Scan atau MRI
EEG

Yang ada pada pasien


leukositosis
(leukosit 18.140/uL)
kadar elektrolit normal,
Fungsi lumbal tidak
dilakukan
Kultur tidak dilakukan
CT-Scan atau MRI tidak
dilakukan
EEG tidak dilakukan

......Pembahasan
44

SIRS (Systemic Inflammatory Response


Syndrom)
Berdasarkan Teori

Yang ada pada


pasien

Suhu tubuh < 36C atau


Suhu tubuh >38,5C
Denyut jantung >
>38,5C
Denyut jantung > 90x/menit
90x/menit
frekuensi nafas
frekuensi nafas
(hiperventilasi) : > 20
(hiperventilasi) : > 20
x/menit
x/menit
PaCO2 < 32 mmHg
Peningkatan jumlah
Peningkatan jumlah leukosit
leukosit > 12.000 mm3
> 12.000 mm3 atau penurunan
jumlah leukosit < 4000 sel/mm3
Hitung jumlah leukosit normal,
Kumar A. Optimizing antimicrobial
dengan > 10% bentuk sel
therapy in sepsis and septic
imatur

......Pembahasan
45

Berdasarkan Teori
Oksigenasi
Panas Paracetamol
Streroid
Dexamethasone
Jika ada TIK Manitol
Kejang Diazepam
Antibiotik Ceftriaxone
atau cefotaxime +
vancomycin

Yang ada pada pasien


O2 nasal kanul 2 lpm
Inj. Meropenem 2 x 1gr
(IV) (ST)
Inj. Dexamethasone 1
amp (IV) selanjutnya
3x1/2 amp (iv)
Inj. Diazepam 10 mg (iv)
bila kejang
Inf. Paracetamol 4x250
mg (iv) k/p

......Pembahasan
46

Edukasi Keluarga edukasi


meningoensefalitis sehingga
memerlukan penanganan khusus di ICU
untuk menstabilkan keadaan anak
tersebut.

......Pembahasan
47

Prognosis pada anak ini buruk


,sehingga yang dapat bisa menyebabkan
kematian, dan apabila selamat dapat
menyebabkan gejala sisa yang berat.

Kesimpulan
48

An. B / 8 tahun / 21 kg
Kejang 15 menit
Terjadi saat pasien bangun dari tidur
Setelah kejang lemas dan mengantuk
Demam mendadak tinggi

...KESIMPULAN
49

Pasien di diagnosis
meningoensefalitis berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang
Penatalaksanaan telah
dilakukan dengan perawatan
dan medikamentosa

...KESIMPULAN
50

Prognosis pada pasien


buruk
Karena pulang atas
permintaan sendiri

Daftar Pustaka
51

Harsono.Meningitis.Kapita Selekta Neurologi. 2. Jakarta. 2003; p35-8


Japardi, Iskandar. Meningitis Meningococcus. Jakarta. 2002; p123-9
Quagliarello, Vincent J., Scheld W. Treatment of Bacterial Meningitis. The New
England Journal of Medicine. 336 : p708-16
Lyall H, Hemingway C. Infectious disease. Dalam: Aicardi J, Bax M, Gillberg. Disease
of the nervous system in childhood. Edisi ke-3. London : Mac Keith Press; 2009.
p.383-444
Tauber MG, Schaad UB. Bacterial infection of the nervous system. Swaims pediatric
neurology: principles and practice. Ed 5. Philadelphia. 2012; p1241-61.
Cambell W, DeJongs The Neurologic Examination Sixth edition, Lippincott Williams
and Wilkins, Philadelpia, 2005.19-20,37-40,97-277
Lumbantobing SM, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental, FKUI, Jakarta,
2004; 7-111
Juwono T, Pemeriksaan Klinik Neurologi dalam Praktek. EGC, Jakarta.2010. 5-53
Taylor DA, Ashwal S. Impairment of consciousness and coma. Pediatric Neurology:
Principles & Practice. Ed 4. Philadelphia. 2006. 1378-400.
Cohen BH. Andresfky JC,Altered states of consciousness. Current management ind
child neurology. Ed 3.Hamilton.2005; p551-61.

52

Prober CG. Central nervous system infections. Nelson textbook of Pediatrics. Ed 17.
Philadelphia: Saunders. 2004.p2038-2047
Abend NS, Kessler SK, Helfaer MA, Licht DJ. Evaluation Of the comatose child.. Texboox of
pediatric Intensive Care. Ed 4. Philadelphia.2008.p846-61.
Posner JB, Schiff ND, Saper CB, Plum F, Plum and Posner Diagnosis of Stupor and Coma
fourth edition, Oxford University Press, Oxford, 2007; 38-42
Kumar A. Optimizing antimicrobial therapy in sepsis and septic shock. Crit Care Journal.
2009;25(4):733-51.
Markam S, Penuntun Neurologi, Binarupa Aksara, Jakarta;2008. 18-50
Chusid JG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional Bagian Satu, Gajah Mada
University Press, Jogjakarta, 1990; 150-190
Duus Peter, Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda dan Gejala edisi II, EGC,
Jakarta. 2010; 78-127
Fitzgerald MJ, Gruener G, Mtui E, Clinical Neuroanatomy and Neuroscience Fifth edition
International edition, Saunders Elsevier, British, 2007; 225-257
Ellenby, Miles., Tegtmeyer, and Braner, Dana. 2006. Lumbal Puncture. The New
England Journal of Medicine. 12 : 12-8
Trihono P, Windiastuti Endang. Dkk. Pelayanan Kesehatan Anak Terpadu. Departement
Imu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. RSCM. 2013.p93-104.

53

THANK YOU

Marta
54

Bagaimana cara membedakan sakit kepala pada kasus ini


dan tumor otak?

Bagaimana penatalaksan awal pada kasus ini?

Jawaban:
Tumor otak: sakit kepala nya intermiten dan berdenyut2,
disertai mual dan muntah. Lokasi: bisa disemua bagian.
Kasus ini: sakit kepala di frontal dan terus menerus, ada
kaku pada leher dan ada gangguan kesadaran.
Penatalaksanaan SIRS:

Berdasarkan simptom (simptomatik)

Pada pasien: pemberian paracetamol dan antibiotik.

Rahman
55

Faktor resiko pada pasien?


Jawaban:

Pada pasien ini: adanya faktor gizi kurang,


tempat tinggal yang padat, kondisi tropis,
ekonomi rendah.

kondisi medis (kerentanan kekebalan tubuh,


lokasi tempat tinggal, sosioekonomi, kondisi
tropis)

Frans
56

Apakah tatalaksana kejang pada pasien ini sama dengan pasien


kasus lain?
Penegakan diagnosis?
Jawaban:
Fase akut: melonggarkan pakaian, jangan memasukan benda kedalam
mulut, pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi, menjaga jalan
nafas, jika ada demam berikan kompres.
Pengobatan: diazepam (0,3 -0,5 mg/kgBB) lalu evaluasi jika masih
kejang kasih lagi diazepam perrektal atau intravena Phenytoin
phenobarbital Mizolam
Kejang pada pasien kemungkinan disebabkan karena ada nya proses
inflamasi akibat demam.
Penegakan diagnosis:
Meningoensefalitis berdasarkan tanda dan gejala klinis kejang,
demam, dan penurunan kesadaran dan ditemukan adanya kaku kuduk

Karina
57

Apakah pasien ini mengalami infeksi yang mengarah ke meningitis atau


ensefalitis?

Jawaban:
Tidak dapat ditentukan, tetapi sering disebabkan karena infeksi bakteri.
Pasien ini lebih mengarah pada meningitis (infeksi di meningen)
berdasarkan temuan klinis karena ditemukan kaku kuduk.

Anna
58

Prognosis pada pasien?

Indikasi pulang?

Jawaban:

Prognosis pasien ini buruk karena tidak diberikan terapi


lebih lanjut pasien saat APK masih dalam keadaan tidak
stabil.
Kalau pulang meninggal / kecacatan

Indikasi pulang:

Dinilai dari keadaan umum, perbaikan kesadaran, tidak muncul


keluhan,

Dapat berulang karena pada pasien ini pengobatan nya belum


sesuai, dapat menyebabkan kecacatan neurologis yang dapat
menyebabkan gangguan mental dan penurunan fungsi kongnitif.

Dr. Made, Sp.A


59

Feedback:
PPT nya dibesarin tulisannya
Suara dikerasin
Lebih menghadap ke audiance
PPT jangan terlalu rapat
Teori pada makalah masih terlalu banyak
Penulisan harus diperbaiki lagi (cth: hal 20), cantumkan
keterangannya (cth: pada hal. 24 sudah baik)
Kesimpulan agak ngambang, kesimpulan berdasarkan
penegakan diagnosis, penyebab, pengobatannya,
prognosis

Dr. Made, Sp.A


60

1.
2.
3.

Pertanyaan
Penatalaksanaan secara umum orang sakit itu apa saja?
Jawaban:
Pertama non medikamentosa baru medikamentosa
Penatalaksanaan secara umum
Perawatan
Medikamentosa
Diit
Pada pasien ini terdapat gizi kurang dan ada
pemasangan NGT, pasien diberi diit bubur saring,
kebutuhan cairan tubuh 1520 kkal.

Dr. Made, Sp.A


61

Pertanyaan

Pemberian manitol dan deksametason (untuk apa)?

Prognosis pasien?
Jawaban:

Deksametasone > golongan glukokortikoid > antiinflamasi >


mengurangi gejala neurologis > edema pada otak > peningkatan
TIK > sehingga diberikan manitol.
Prognosis:
1.
berdasarkan gejala pada pasien, contoh kejang berulang (buruk)
2.
Berdasarkan penyebab: virus, bakteri
3.
Berdasarkan imunitas
4.
Berdasarkan usia: meningoensefalitis (usia semakin muda anak
maka prognosis buruk, usia <5 tahun)
5.
Berdasarkan tingkat kesadaran (semakin menurun
kesadarannya maka prognosis buruk)
6.
Berdasarkan komplikasi
7.
SIRS adalah salah satu manifestasi klinis nya

Dr. Rurin, Sp.A


62

Feedback:
Untuk ilmiah > pakai bahasa baku (cth yang salah: hal.
28, paragraf paling bawah)
Di pembahasan kalau diambil dari teori > literatur tetap
dicantumkan < kecuali berdasarkan pendapat penulis
sendiri.

Dr. Rurin, Sp.A


63

Pertanyaan:
kontraindikasi lumbal pungsi?
Jawaban:

Jika ada kejang yang berulang

Tidak dapat dilakukan pada saat pasien kejang

Kontra Indikasi jika adanya tanda peningkatan


intrakranial yang dapat menyebabkan herniasi
otak , jika dilakukan meninggal

dr. Rurin, Sp.A


64

Apa saja macam-macam dari edema otak?


Jawab :
A. Berdasarkan Patofisiologi:
- Vasogenik edema respon dari trauma, iskemik serebral,
inflamasi fokal
- cytotoksik edema otak mengalami kerusakan yang berhubungan
dengan hipoksia , abnormalitas metabolik dan sind. reye
- Interstisial edema transudat yang terjadi cairan
cerebrospinalmelalui tekanan intraventrikuler meningkat
B. Berdasarkan CT- Scan
Edema Perifokal edema terlihat karena pengurangan
radiodensitas karena adanya midline shift
- Edema Difus edema semakin luas dan semakin mendesak yang
menyebabkan midline shift

Dr. Arieta, Sp.A


65

Untuk makalah harus diperbaiki lagi

Pertanyaan Marta:

1.

2.

Penanganan SIRS bisa sambil dilakukan kultur dengan


kepekaan antibiotik, jadi bisa tau antibiotik apa yang
sensitif.
Di IGD sudah diberi dengan antibiotik spektrum yang
terlalu kuat

Dr. Arieta, Sp.A


66

1.
2.
3.

4.

harus tau penanganan kejang pada anak


Infeksi pada pasien ini dimulai dari SIRS
Prognosis tergantung usia (semakin muda
semakin buruk), jenis mikroorganisme
penyebab, kepekaan terhadap antibiotik
Pasien ini dapat menyebabkan kecacatan
dikemudian hari karena APK

Dr. Arieta, Sp.A


67

1.

Pertanyaan dr. Made, Sp.A dan dr. Rurin, Sp.A


Perawatan: pemberian infus, Medikamentosa, Diit
(diperbaiki)

2.

Peningkatan TIK, penanganan:

Mengurangi volume: deksametason, diuretik

Mempertahankan fungsi: manitol

Mengenai LP
Pada pasien ini perlu
Kalau ada peningkatan TIK dilakukan LP bisa
menyebabkan herniasi.