Anda di halaman 1dari 134

FORMULASI DAN

TEKNOLOGI SEDIAAN
SEMISOLID
TEUKU NANDA SAIFULLAH SULAIMAN
LABORATORIUM TEKNOLOGI
FORMULASI
FAKULTAS FARMASI UGM

Topical Dosage Forms


Ointments
Creams
Gels and Jellies
Pastes
Others described in text book

Definitions and Characteristics


Bentuk sediaan semi padat yang digunakan
untuk pemakaian pada kulit (kulit sehat,
sakit atau terluka) atau membran mukosa
(hidung, mata). Bahan obat harus larut atau
terdispersi homogen dalam basis.
Products which have a viscosity and rigidity
intermediate between that of a solid and a
liquid
Complex formulations composed of two
phases (dispersed phase; internal phase and
dispersing phase; external phase)

Uses of Semisolid Dosage Forms


Topical: applied to any external body
surface e.g., eye, external ear, nasal
mucosa, buccal, rectum, vagina, urethra
Majority for the effect of the therapeutic
agent
Non-medicatedPhysical Effects ?
-- protectant, emollient
-- lubricant
- etc

Components
Actif ingredient
Non actif ingredients/ekscipients
Base
Surfactan
Powders
Humectants
Thickening agents
Sequestering agents
Bufer
Penetration enhancers
Skin moisturizers
Parfum
Color

Basis
Fungsi ?

Ideal requirements of Semisolid Base


1. Non irritating
2. Non-dehydrating
3. Non greasy, non-staining
4. Compatible with medicaments
5. Stable
6. Easily removable with water
7. Able to absorb water and/or other liquids
8. Able to efficiently release medicaments (Bioavailability)
9. Do not to alter skin functions
10.Miscible with skin secretions
11.Even phase distribution (homogeneity/phase separation,
bleeding)
12.Non-gritty (Particles size)
13.Good texture: fell upon application (stiffness, greasiness,
tackiness)
14.Non microbial contamination

Semisolid
Base

Classification of Ointment
Bases

Basis
Basis
Basis
Basis
Basis

Hidrokarbon (Oleaginous)
Absorbsi (anhydrous)
Absorbsi (W/O type)
Tercuci (O/W type)
terlarut

Basis Hidrokarbon (Oleaginous)


Contoh : Vaselin, White Petrolatum/
paraffin, White Ointment, Plastibase,
Yellow Ointment (Bees Wax)
Sifat:
Emollient
Occlusive
Nonwater-washable
Hydrophobic
Greasy

Asal:
Tanaman (Vegetable): Olive olil, cotton seed
oil, sesame oil, almond oil, peanut oil dan
coconut oil umum digunakan sebagai
softening agents dan sebagai basis dalam
emulsi, lotion dan ointment bases.
Hewan (Animal fat)
Mineral :

Liquid petrolatum
White and yellow petrolatum
Paraffin wax
Ceresin (Mixture of ozokerite and paraffin wax)

Plastibase (Jelene)

These bases have following


properties:
Emollients
Retained for prolonged periods
Used as occlusive covering
Vehicles for ophthalmic ointments
Used for antibiotics which are unstable
in presence of water

Petrolatum/parafin
Parafin
adalah
campuran
hidrokarbon yang diperoleh dari
minyak mineral. Terdiri dari 2 bentuk,
yaitu bentuk padat dan bentuk cair.
Parafin padat digunakan untuk
mengeraskan salep sebab titik lebur
campuran akan naik. Parafin cair
terdiri dari 2 macam yaitu yang
viskositasnya encer dan viskositas
kental. Viskositas encer digunakan
untuk pembuatan Vanishing cream,
viskositas kental digunakan untuk

Minyak tumbuhan

Contohnya : oleum sesami, oleum


olivarum
Ditambahkan dalam dasar salep
sebagai pelumas, melunakkan dasar
salep,
untuk
mengurangi
efek
pengeringan dan untuk menurunkan
titik lebur. Minyak tumbuhan banyak
dipakai dalam sediaan kosmetik
seperti
krim
pembersih
dan
pendingin, krim untuk kulit kering
dan lotion.

ABSORPTION BASES

Basis Absorbsi (anhydrous)

Contoh : Hydrophilic
Petrolatum, Anhydrous Lanolin
(adeps lanae), Aquaphor
Sifat :
Emollient
Occlusive
Absorb water
Anhydrous
Greasy

Basis absorbsi bersifat hidrofilik,


dapat berupa bahan yang anhidrous
atau basis hidrous yang mempunyai
kemampuan untuk mengabsorbsi air
yang ditambahkan. Basis anhidrous
yang telah menyerap air dapat
membentuk emulsi tipe W/O. Kata
absorbsi hanya menunjukkan pada
kemampuan basis dalam menyerap
air.
Hidrophilic petrolatum digunakan
sebagai pengganti adeps lanae,
berbau dan dasar salep ini dapat
mengabsorbsi air.

Hidrophilic petrolatum USP


Cholesterol
30 g
Stearyl alkohol
30 g
White wax
80 g
White petrolatum
860 g
1000 g
Adanya kholesterol memungkinkan
dasar salep dapat menyerap air atau
cairan obat dalam air, hingga
terbentuk suatu emulsi tipe W/O dan
sukar dihilangkan dari kulit.

Adeps lanae
Adeps lanae merupakan lemak
bulu
domba,
mengandung
kholesterol
kadar
tinggi
dalam
bentuk ester dan alkohol, sehingga
dapat
mengabsorbsi
air.
Bila
digunakan
pada
kulit
dapat
merupakan lapisan penutup dan
melunakkan kulit. Tetapi banyak
yang alergi terhadap adeps lanae.
Disamping
itu
adeps
lanae
bertendensi menjadi tengik dan

Basis Absorbsi (W/O type)


Contoh : Lanolin, Cold Cream USP,
rose water ointment N.F., Wool alcohol
ointment B.P.
Sifat:
Emollient
Occlusive
Contain water
Some absorb additional water
Greasy

Cold Cream (W/O)


salep
yang dibuat dengan menggunakan
emulgator lipofil. Salep yang dibuat
dengan emulgator lipofil mempunyai
kemampuan menarik air, sehingga
membentuk sistem emulsi tipe W/O.
Emulgator yang biasa digunakan
dalam cold cream (W/O) adalah
adeps lanae, ester asam lemak
sorbitat,
dan
alkohol
lemak
teroksidasi rendah).

Basis Tercuci (O/W type)


Contoh : Hydrophilic Ointment
Sifat:
water washable
nongreasy
can be diluted with water
nonocclusive

Cold Cream (O/W)


salep
yang
dibuat
dengan
menggunakan emulgator hidrofil.
Emulgator yang biasa digunakan
dalam cold cream (O/W) adalah
emulgator sterat (mis. Polioksi 40
sterat), emulgator komplek (alkohol
teremulsi/Self
emulsifying
waxes/emulsifying
waxes)
mis.
Lanette N R.

Keuntungan lain dari salep dengan basis tipe


O/W :
Kemampuan penyebarannya pada kulit baik
Efek dingin, yang dihasilkan melalui
penguapan lambat dari air pada kulit
Tidak ada penghambatan fungsi rambut
secara fisiologis, terutama Respiratio
sensibilitis, karena tidak ada penutupan kedap
pada permukaan kulit dan tidak terjadi
penyumbatan dari pori kulit
Tampak putih dan bersifat lentur-lembut
(pengecualian untuk kream stearat)
Pelepasan obatnya baik

Karena kandungan air tinggi (sampai


70 %), sediaan salep tipe ini dapat
terkena suatu serangan mikrobial,
dapat
dihindari
dengan
penambahan
bahan
pengawet
(metil/propil paraben). Disamping itu
diperlukan perlindungan terhadap
kehilangan air/penguapan
Kurang cocok untuk obat yang larut
dalam air dan mudah terhidrolisa.

Basis terlarut
Contoh : Polyethylen Glycol ointment
Sifat:
usually anhydrous
water soluble and washable
nongreasy
nonocclusive
lipid free

Polietilen glikol/Makrogol/poliglikol adalah


produk polimerisasi dari etilenoksida atau
produk
kondensasi
dari
etilenglikol.
Tergantung pada pemilihan persyaratan
reaksinya diperoleh produk dengan tingkat
polimerisasi
yang
berbeda,
yang
dinyatakan melalui keterangan molekul
rata-rata.
Rumus molekulnya H(O-CH2-CH2)nOH.
Dengan
naiknya
ukuran
molekul,
konsistensinya makin meningkat. PEG
sampai
massa
molekul
600
menggambarkan cairan kental. Produk
yang sampai massa molekul 20000

Salep PEG dibuat dengan


pencampuran dan peleburan
bersama 2 jenis PEG (cair dan
padat/semi padat) dengan
perbandingan tertentu sehingga
akan diperoleh suatu konsistensi
yang dikehendaki.
Contoh :
R/ PEG 4000
40 %
PEG 400 60 %

Sifat-sifat dari salep basis PEG


PEG tidak merangsang
Memiliki kemampuan lekat dan distribusi yang
baik pada kulit
Tidak mencegah pertukaran gas dan produksi
keringat
Dapat dicuci dg air dan dapat digunakan pada
kulit yang berambut
PEG tidak dapat digunakan pada mata, karena
aktivitas osmotik memungkinkan kemampuan
hisap yang tinggi
PEG memiliki bersifat bakterisida sehingga pada
penyimpanan beberapa bulan tidak perlu
dikhawatirkan serangan bakteri
Karena PEG mempunyai daya hisap osmotik yang
tinggi, maka salep basis PEG dapat menyerap
kelembaban dari udara dan dapat menyebabkan
penguraian otooksidasi dari PEG dan akan
terbentuk hidroperoksida dan senyawa karbonil
sebagai produk sekunder (aldehida, asam).

Seleksi pembawa yang optimum dari


klasifikasi tersebut memerlukan kompromi
dalam formulasi obat.
Contoh:
Stabilitas dan aktivitas obat sangat tinggi
dalam basis hidrokarbon, tetapi basis
hidrokarbon
kurang
nyaman
karena
berlemak.
Basis
PEG
yang
larut
air
sangat
menyenangkan,
tetapi
glikol
dapat
menyebabkan iritasi pada jaringan yang
trauma.

Pemilihan dasar salep yang tepat : harus


mempertimbangkan beberapa faktor antara
lain
1. Laju pelepasan yang diinginkan bahan
obat dari basis salep
2. Peningkatan absorbsi obat perkutan
yang diinginkan
3. Kelembaban kulit yang dikehendaki
4. Stabilitas obat dalam basis (jangka
lama/pendek)
5. Pengaruh obat bila ada hambatan
kekentalan

PENGAWETAN SALEP TERHADAP


BAKTERI
Pengawet ditambahkan pada basis salep untuk
mencegah kontaminasi, pengrusakan dan
pembusukan oleh bakteri atau fungi, karena
banyak basis salep yang merupakan substrat
mikroorganisme.
Harus memperhatikan stabilitasnya terhadap
komponen bahan yang ada dan terhadap
wadah .
Beberapa bahan pengawet dapat mengiritasi
jaringan mukosa dari mata dan hidung.
Metil/propil paraben: mengiritasi hidung.
Asam borat: boleh untuk mata, tetapi untuk
hidung tidak boleh (efek toksik bila diserap)

ANTIOKSIDAN
Antioksidan ditambahkan ke dalam
salep bila diperkirakan terjadi kerusakan
basis karena terjadinya oksidasi.
Sistem anti oksidan ditentukan oleh
komponen formulasi dan pemilihannya
tergantung pada beberapa faktor :
seperti toksisitas, potensi, kompatibel,
bau, kelarutan, stabilitas, dan iritasi.
Sering digunakan 2 antioksidan untuk
mendapatkan efek sinergis
Contoh : BHT, BHA

Surfaktan (Surface active agents)


Fungsi:
1. emulsifying untuk membentuk sistem
O/W atau W/O, sebagai
2. Pensuspensi
3. Thickening
4. Cleansing
5. penambah kelarutan
6. Pembasah
7. bahan pemflokulasi.
Contoh: surfaktan nonionik (ester
polioksietilen),
kationik (contoh benzalkonium klorida)
anionik (contoh natrium dodesil sulfat).

Fungsi
Nilai HLB
Solubilizing agents
> 16
Detergents
13-16
O/W emulsifying agents
8-16
Wetting and spreading agents 7-9
W/O emulsifying agents
3-8

Ideal properties of emulsifier


includes:
a) Must reduce surface tension for
proper emulsification.
b) Prevents coalescence should quickly
absorb around the dispersed phase.
c) Ability to increase the viscosity at
low concentration.
d)Effective at low concentration.

Serbuk/powders
Fungsi: protective, lubrikan, absorben, astrigen,
dan juga untuk tujuan khusus untuk meminimalkan
iritasi
Jenis serbuk

Fungsi

Zink oksida
Talk

Protective
Protective, meminimalkan iritasi

Amilum

Protective, lubrikan dan absorben

Veegum, bentonit,
silikon dioksida

koloidaPensuspensi, gelling, emulsion


stabilizing dan viscosity agents dalam gel,
dan lotion

Humectants
Material-material seperti gliserin,
propilen glikol, polietilen glikol BM
rendah, dan sorbitol mempunyai
tendensi berikatan dengan air,
sehingga dapat mencegah hilangnya
air dari wadah, penyusutan
(shrinkage) air dari produk/sediaan.
Senyawa-senyawa ini juga dapat
berfungsi untuk memudahkan
aplikasi sediaan pada kulit,
melunakkan/melembutkan kulit

Bahan pengental/Thickening
agents
Fungsi: agar diperoleh struktur yang
lebih kental (meningkatkan
viskositas)
contoh: polimer hidrofilik, baik yang
berasal dari alam (natural polimer)
seperti agar, selulosa, tragakan,
pektin, natrium alginat; polimer
semisintetik seperti metil selulosa,
karboksi metil selulosa, hidroksi etil
selulosa, dan CMC Na; serta polimer

Stiffeners (pengeras)
Berfungsi untuk meningkatkan titik
lebur dan menambah viskositas
sediaan.
Contoh: Paraffin padat, PEG BM tinggi

Sequestering agents
Fungsi: untuk membentuk kompleks
dengan ion-ion logam (metal ions)
sehingga tidak terjadi auto-oksidasi.
Ion-ion logam dapat berfungsi
sebagai katalis untuk auto-oksidasi
Contoh sequestering agents asam
etilendiamin tetra asetat, asam
sitrat, dan asam fosfat

Bufer
Fungsi: untuk mengontrol pH sediaan
sehingga sesuai dengan pH kulit
(untuk kenyamanan dan keamanan
pada saat aplikasi). Pengontrolan pH
juga berguna dalam kaitannya
dengan kelarutan dan stabilitas
bahan obat, serta efektivitas
preservatif dan gelling agents.

Permeation Enhancers
Enhancer adalah bahan yang mampu
meningkatkan absorpsi obat perkutan.

Mekanisme
enhancer
dalam
meningkatkan absorpsi obat tergantung
pada jenis enhancernya (bahan pelarut,
bahan pembasah, emulgator, dll). Misal
melalui penurunan tegangan permukaan,
melalui pembasah yang lebih baik dari
kulit, atau melalui mekanisme solubilisasi.

1.Bahan pelarut organik :


aseton, benzen, kloroform, sikloheksan,
sikloheksanon,dimetilasetamid,
dimetilformamid, dimetilsulfoksid, etanol,
etilenglikol,
etileter,
propilenglikol,
tetrahidrofuril alkohol.

2.Lemak alkohol, esterl lemak alkohol :


ester oleil asam oleat, ester dekil asam
oleat, ester heksil asam laurinat, 2oktildodekanol, campuran ester alifatis
asam, ester propil asam miristat, ester
propil asam palmitat dan ester propil asam
adipat.

Contoh enhancer

Bahan lainnya
Bahan untuk menjaga kelembaban
kulit (skin moisturizers).
FRAGRANCES:Examples of widely use fragrances are
Lavender oil, Rose oil, Lemon oil,
Almond oil

METODE PEMBUATAN SALEP


Baik dalam ukuran kecil maupun
besar, salep dibuat dengan 2
metode umum :
1. Metode pencampuran/incorporation
2. Metode peleburan

Metode
pencampuran/incorporation
Jika bahan obat larut dalam air/minyak,
maka dapat dilarutkan dalam air/minyak.
Kemudian larutan tersebut ditambahkan
(incorporated) ke dalam bahan pembawa
(vehicle) bagian per bagian.
Jika bahan obatnya tidak larut
(kelarutannya sangat rendah), maka
partikel bahan obat harus dihaluskan, dan
kemudian disuspensikan ke dalam bahan
pembawa (vehicle).

Metode peleburan
Metode peleburan dilakukan dengan
meleburkan/memanaskan basis salep
yang padat (mis.lemak, malam) dan
kemudian obat dicampurkan ke
dalam basis sambil didinginkan dan
terus diaduk.
Basis emulsi : metode pembuatan ?

PACKAGING OF NOVEL SEMISOLIDS


Most semisolid products are manufacture by
heating and are filled into the container while
cooling still in the liquid state. It is important to
established optimum pour point, the best
temperature for filling and set or congealing
point, the temperature at which the product
become immobile in the container.
Topical dermatological products are packed in
either jar or tubes whereas ophthalmic, nasal,
vaginal and rectal semisolid products are almost
always packed in tubes.

The specific FDA regulation


pertaining to drug products state
that:
Container closures and other
component part of drug
packages, to be suitable for that
intended use must not be
reactive, additive or absorptive
to the extent that identity,
strength, quality or purity of
drug will be affected

All drug product containers and


closures must be approved by
stability testing of product in the final
container in which it is marketed.
This includes stability testing of filled
container at room temperature e.g.
20 0 C as well as under accelerated
stability testing condition e.g. 40 - 50
0
C.

Ointment jars are made up of clear or opaque glass or


plastic. Some are colored green, amber or blue.
Opaque jars are used for light sensitive products, are
porcelain white, dark green or amber.
Commercially available empty ointment jars vary in size
from about 0.5 ounce to 1 pound.
In commercial manufacture and packaging of topical
products the jars and tubes are first tested for
compatibility and stability for the intended product. This
includes stability testing of filled containers. Tubes use to
package topical pharmaceutical products are gaining in
popularity since they are they are light in weight,
relatively inexpensive, convenient for use, compatible
with most formulative component and provide protection
against external contamination

Ointment tubes are made of aluminum or


plastic. When the ointment is use for
ophthalmic, rectal, vaginal or nasal
application, they are packed with special
applicator tips.
Standard size of empty tubes has capacity of
1.5, 2, 3.5, 5, 15, 30, 45, 60 and 120 g.
Ointment, creams and gels are most
frequently packed in 5, 15 and 30 g tubes.
Ophthalmic ointments typically are packed in
small aluminum or collapsible plastic tubes
holding 3.5 g of ointment

QUALITY ASSURANCE AND


QUALITY CONTROL OF SEMISOLIDS
A PERFECT PRODUCT requires an
organized effort by the entire company to
prevent or eliminate errors at every stage
in production.
Quality must be built into a drug product
during product and process design and it is
influenced by the physical plant design,
space, ventilation, cleanliness and
sanitation during routine production.

It considers, Materials, In process control and


Product control which include specifications and
the product itself, specific stability procedures
for the product, freedom from microbial
contamination and proper storage of the
product and container, packaging and labeling
to ensure that container closer system provide
function protection of the product against such
factors as moisture, oxygen.
Parameters to be considered during evaluation
of semi-solids include raw material specification,
in process control and finished product
specifications.

RAW MATERIAL SPECIFICATION


The FDA current Good Manufacturing
Practices [CGMP] covering raw
material specification handling
procedures are found in the code of
Federal Regulations, Title 21 and
section 211.42

Raw material quality assurance


monograph

IN PROCESS CONTROL
Processing of semisolids involves mixing, milling,
heating and cooling of bulk products. Therefore,
it is essential to develop in process control.
Some important in process tests are as follows:
1. Complete solubilization (if applicable)
2. pH
3. Viscosity measurement
4. Uniformity of distribution of active ingredients
5. Physical stability
6.Measurement of density or specific gravity

FINISHED PRODUCT SPECIFICATIONS

Most semisolids are heated to high


temperature, processed and
packaged in a hot or warm liquid
state.
There is a considerable lapse time
until they achieve their final physical
state. At this point they should be
tested for conformity with final
specifications

Pathway for finished product


specification

MICROBIAL TEST
With exception of ophthalmic ointments,
topical preparations are not require being
sterile. They must meet acceptable standards
for microbial contents and preparations that
are prone to microbial growth must contain
anti-microbial preservatives.
Microbial limits are stated in USP. For
example: Betamethasone valerate ointment
USP, must meet the requirements of the tests
for absence of Staphylococcus aureus and
Pseudomonas aeruginosa

In the USP chapter titled Microbial Attributes of


Non sterile Pharmaceutical Products, emphasis
is placed on strict adherence to environmental
control and application of GMP to minimize both
type and the number of microorganisms in
unsterilised pharmaceutical product.
The USP states that dermatological products of
such type should be examined for Pseudomonas
aeruginosa and Staphylococcus aureus and
those intended for rectal or urethral or vaginal
use should be tested for yeasts and molds,
common offenders at these sites of application.

PHYSICAL TESTS

Viscosity measurement is done with


the help of Brook-field viscometer,
Cone and plate viscometer and
Penetrometer for consistency
measurement.
Texture analysis:- Stable micro
systems have launched a new Q.C.
device Texture analyzer which is
used to detect

a)Ointment flow characteristic


b)Ointment consistency
c)Gel strength
d)Flavour release
e)Sachet or Tube extrusion force
measurement

CHEMICAL TESTS
Chemical tests to be performed
include:
a.Chemical potency test
b.Content uniformity test
c.pH measurement

IN-VITRO RELEASE PROFILE


TEST

The principal in vitro technique for


studying skin penetration involves use of
some variety of a diffusion cell like Franz
cell and Flow through cell in which animal
or human skin is fastened to a holder and
the passage of compounds from the
epidermal surface to a fluid bath is
measured

Modified USP type II dissolution apparatus

Prosedur pengujian ?
Stability test ?

Gels

KLASIFIKASI GEL
POLIMER PENYUSUN
o INORGANIK GEL (Polimer anorganik,
Sistem 2 fase)
o ORGANIK (Polimer organik, Sistem 1
fase)
L

PELARUT
o HYDROGEL (pelarut air)
o ORGANOGEL (pelarut organik)

Basis untuk gel?


Karbopol (Karbomer)
Carbopol 934 NF,Carbopol 934 P NF,
dan Carbopol 71 G NF

HPMC : grade HPMC ??


Gelatin
Alginat, dll.

METHOD OF PREPARATION OF
GEL
Chemical reaction:
In the preparation of sols by precipitation
from solution, e.g., Aluminum hydroxide
sol precipitated by interaction in aqueous
solution of an aluminum salt and sodium
carbonate, increased concentrations of
reactants will produce a gel structure.
Silica gel is another example and is
produced by the interaction of sodium
silicate and acids in aqueous solution.

Temperature effect:
As lower the temperature the solubility
of most lyophilic colloids, e.g., gelatin,
agar, sodium oleate, is reduced, so that,
if cooling a concentrated hot sol will
often produce a gel. Similarly to this,
some material such as the cellulose
ethers shows their water solubility to
hydrogen bonding with the water.
Increasing the temperature of these sols
will break the hydrogen bonding and the
reduced solubility will produce gelatin.

Flocculation with salts and non-solvents:


Gelatin is a popular collagen derivative primarily used in
food, pharmaceutical, photographic and technical
products. In foods, gelatin provides a melts-in-the-mouth
function and to achieve a thermo-reversible gel property.
Gelatin is produced by adding just sufficient precipitant
to produce the gel Structure state but insufficient to bring
about complete precipitation. It is necessary to ensure
rapid mixing to avoid local high concentrations of
precipitants. Solutions of ethyl cellulose, polystyrene, etc,
in benzene can be gelled by rapid mixing with suitable
amount of a nonsolvent such as petroleum ether. The
addition of salts to hydrophobic sols brings about
coagulation and gelation is rarely observed. However, the
addition of suitable proportions of salts to moderately
hydrophilic sols such as aluminum hydroxide, ferric
hydroxide and bentonite, produces gels.

STRUCTURE OF GEL
Elastic gels: Gels of agar, pectin
and gelatin are elastic, the fibrous
molecules bring at the points of
junction but relatively weak bonds
such as hydrogen bonds and dipole
attraction.
Rigid gels: In contrast to elastic
gels, rigid gel can be formed from
macromolecules in which the
framework is linked by primary

Thixotropic gel: The term thixotropy


describes the property of fluid passing from
gel to sol state through agitation. Physical
factor to be considered for a gel modifying
effects are agitation time, storing time. The
bond between particles in these gels is very
weak and can be broken by agitation and
shaking. The resulting sol will revert back to
gel. This is termed as thixotropy. The different
possibilities of gel structure are presented
systemically in Fig. 2

Different arrangements of particles in gel


structure

INCORPORATION OF NOVEL DRUG


DELIVERY SYSTEM INTO GEL

Solid dispersion incorporated gel


Liposomal gel
In situ gel
Emulgel
Solid lipid nanoparticles
incorporated gel
Microemulsion gel
Hydrogel