Anda di halaman 1dari 34

OBAT

IMUNOSUPRESAN
DISUSUN OLEH:
Kelompok 1
ABDUL NASIR (2015001183)

APFIA SERUNI (2015001262) DIMPOS GULTOM (2015001203)

ANITA CHOERUNNISA (2015001193)

DEVI JERIYANTI (2015001272) FATHIMAH AZZAHRA (2015001282)

PENDAHULUAN

Imunosupresan

kelompok obat yang digunakan


untuk menekan respon imun seperti
pencegah penolakan transpalansi,
mengatasi penyakit autoimun dan
mencegah hemolisis rhesus dan
neonatus. Sebagain dari kelompok ini
bersifat sitotoksis dan digunakan
sebagai antikanker
Immunosupresan merupakan zat-zat
yang justru menekan aktivitas sistem
imun dengan jalan interaksi di
berbagai titik dari sistem tersebut.

IMUNITAS

IMUNITAS
NONSPESIFIK

IMUNITAS SPESIFIK

Imunitas nonspesifik.
Merupakan mekanisme pertahanan terdepan yang meliputi komponen
fisik berupa keutuhan kulit dan mukosa; komponen biokimiawi seperti
asam lambung, lisozim, komploment ; dan komponen seluler
nonspesifik seperti netrofil dan makrofag. Netrofil dan makrofag
melakukan fagositosis terhadap benda asing dan memproduksi
berbagai mediator untuk menarik sel-sel inflamasi lain di daerah
infeksi. Selanjutnya benda asing akan dihancurkan dengan
mekanisme inflamasi.

Imunitas spesifik
Memiliki karakterisasi khusus antara lain kemampuannya untuk
bereaksi secara spesifik dengan antigen tertentu; kemampuan
membedakan antigen asing dengan antigen sendiri (nonself
terhadap self) ; dan kemampuan untuk bereaksi lebih cepat dan
lebih efesien terhadap antigen yang sudah dikenal sebelumnya.
Respon imun spesifik ini terdiri dari dua sistem imun , yaitu imunitas
seluler dan imunitas humoral. Imunitas seluer melibatkan sel
limposit T, sedangkan imunitas humoral melibatkan limposit B dan
sel plasma yang berfungsi memproduksi antibodi.

PRINSIP UMUM
PENGOBATAN
a. Respon imun primer lebih mudah dikendalikan dan ditekan
dibandingkan dengan respon imun sekunder. Tahap awal respon primer
mencakup: pengolahan antigen oleh APC, sintesis limfokin, proliferasi
dan diferensiasi sel-sel imun. Tahap ini merupakan yang paling sensitif
terhadap obat imunosupresan. Sebaliknya, begitu terbentuk sel
memori, maka efektifitas obat imunosupresan akan jauh berkurang.
b. Obat imunosupresan memberikan efek yang berbeda terhadap antigen
yang berbeda. Dosis yang dibutuhkan untuk menekan respon imun
terhadap suatu antigen berbeda dengan dosis untuk antigen lain.
c. Penghambatan respon imun lebih berhasil bila obat imunosupresan
diberikan sebelum paparan terhadap antigen. Sayangnya, hampir
semua penyakit autoimun baru bisa dikenal setelah autoimuitas
berkembang, sehingga relatif sulit diatasi.

TERDAPAT EMPAT KELOMPOK OBAT IMUNOSUPRESAN YANG


DIGUNAKAN DI KLINIK :
1. KORTIKOSTEROID
Kortikosteroid (glukokortikoid) digunakan sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi dengan
imunosupresan lain untuk mencegah reaksi penolakan transplantasi dan untuk mengatasi
penyakit autoimun. Prednison dan prednisolon merupakan glukokortikoid yang paling sering
digunakan.
Mekanisme kerja : glukokortikoid dapat menurunkan jumlah limfosit secara cepat,
terutama dalam dosis besar. Efek ini, yang berlangsung beberapa jam, diduga terjadi akibat
redistribusi limfosit Studi terbaru menunjukkan bahwa kortikosteroid menghambat proliferasi
sel limfosit T, imunitas seluler, dan ekspresi gen yang menyandi berbagai sitokin (IL-1, IL-2,
IL-6, IFN- dan TNF-). Terdapat bukti bahwa berbagai gen sitokin memiliki glucocorticoid
respone element yang bila berikatan dengan kortikosteroid akan menyebabkan hambatan
transkripsi gen IL-2. Kortikosteroid juga memiliki efek antiinflamasi dan antiadhesi.
Penggunaan klinis : kortikosteroid biasanya digunakan bersama imunosupresan lain dalam
mencegah penolakan transplantasi. Diperlukan dosis besar dalam beberapa hari.
Kortikosteroid juga digunakan untuk mengurangi reaksi alergi yang bisa timbul pada
pemberian antibodi monoklonal atau antibodi antilimfosit.
Toksisitas : penggunaan kortikosteroid jangka panjang sering menimbulkan berbagai efek
samping seperti meningkatnya resiko infeksi, ulkus lambung/duodenum, hiperglikemia, dan
osteoporosis.

2. PENGHAMBAT KALSINEURIN
a.Siklosporin
Mekanisme Kerja : menghambat kalsineurin. Dalam sitoplasma limfosit T (CD4), siklosporin
berikatan dengan siklofilin. Ikatan ini selanjutnya menghambat fungsi kalsineurin. Kalsineurin
adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan memegang peranan kunci dalam defosforilasi
(aktivasi) protein regulator di sitosol Setelah mengalami defosforilasi kemudian mengalami
translokasi ke dalam nukleus untuk mengaktifkan gen yang bertanggung jawab dalam
sintesis sitokin, terutama IL-2 dan berbagai protoonkogen seperti c-myc dan reseptor IL-2.
Hambatan oleh siklosporin akan menghambat transkripsi gen-gen tersebut. Siklosporin juga
mengurangi produksi IL-2 dengan cara meningkatkan ekspresi tumor growth factor (TGF-)
yang merupakan penghambat kuat aktivasi limfosit T oleh IL-2. Meningkatnya TGF- diduga
memegang peranan penting pada efek imunosupresan.
Efek samping : efek samping utama adalah gangguan fungsi ginjal yang dapat terjadi pada
75% pasien yang mendapat siklosporin. Toksisitas lain meliputi hipertensi, hepatotoksisitas,
neurotoksisitas, hirsutisme, hiperplasia gingiva dan toksisitas gastrointestinal (mual, muntah,
diare, anoreksia dan sakit perut).

b. Takrolimus
Mekanisme Kerja : Takrolimus dan siklosporin memiliki struktur kimia berbeda, namun
bekerja dengan mekanisme yang sama, yaitu menghambat kalsineurin. Perbedaannya
dengan siklopsorin, dalam sitoplasma limfosit T (CD4) takrolimus berikatan dengan FK506binding protein (FKBP). Ikatan ini selanjutnya menghambat fungsi kalsineurin. Kalsineurin
adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan memegang peranan kunci dalam
defosforilasi (aktivasi) protein regulator di sitosol, yaitu NFATc (Nuclear factor of activated T
cell). Setelah mengalami defosforilasi, NFATc ini mengalami translokasi ke dalam nukleus
untuk mengaktifkan gen yang bertanggung jawab dalam sintesis sitokin, terutama IL-2
dan berbagai protoonkogen seperti c-myc dan reseptor IL-2. Hambatan oleh takrolimus
akan menghambat transkripsi gen-gen tersebut.
Efek samping : menunjukkan toksisitas yang mirip dengan siklosporin. Nefrotoksisitas
yang merupakan efek samping utama. Selain itu dapat terjadi efek samping SSP (sakit
kepala, tremor, insomnia), gastronintestinal (mual, diare), kardiovaskular (hipertensi), dan
metabolik (hiperkalemia, hipomagnesemia, hiperglikemia). Efek jangka panjang sama
dengan obat imunosupresan lain

3. SITOTOKSIK
a. Aztioprin

Mekanisme Kerja : azatioprin adalah metabolit golongan purin yang merupakan


prekursor 6-merkaptopurin. Azatioprin dalam tubuh diubah menjadi 6-merkaptopurin (6MP) yang merupakan metabolit aktif dan bekerja menghambat sintesis de novo purin.
Yang terbentuk adalah thio-IMP yang selanjutnya diubah menjadi thio-GMP kemudian
thio-GTP. Interkalasi thio-GTP dalam DNA akan menyebabkan kerusakan DNA.
Efek Samping : seperti imunosupresan lain, azatioprin dapat menghambat proliferasi
sel-sel yang cepat tumbuh seperti mukosa usus dan sumsum tulang dengan akibat
leukopenia dan trombositopenia. Ruam kulit, demam obat, mual, muntah, dan diare
juga dapat terjadi. Pernah dilaporkan hepatoksisitas dengan peningkatan enzim
transaminase dan kolestasis. Efek samping lain adalah peningkatan risiko infeksi dan
efek mutagenisitas dan karsinogenitas.
Interaksi : penggunaan bersama alopurinol menyebabkan hambatan xantin oksidase
yang juga merupakan enzim penting dalam metabolisme 6-merkaptopurin sehingga
kombinasi obat ini akan meningkatkan toksisitas azatioprin dan merkaptopurin.

b. Mikofenolat Mofetil

Mekanisme Kerja : mikofenolat mofetil merupaka derivat semisintetik


asam mikofenolat. Asam mikofenolat adalah penghambat kuat inosin
monofosfat dehidrogenase, enzim penting pada sintesis de novo purin.
Limfosit B dan T tergantung pada enzim ini untuk sintesis purinnya
sehingga obat ini menghambat aktivasi limfosit B dan T. Mikofenolat
menekan proliferasi limfosit dan pembentukan antibodi oleh sel B. Obat
ini juga menghambat penolakan transplantasi ginjal, memperpanjang
penerimaan transplantasi, dan mengurangi penolakan akut dan kronik.
Efek Samping : efek samping meliputi mual, muntah, diare, sakit perut,
dan mielosupresi.
Interaksi : penggunaan mikofenolat mofetil bersama antasida yang
mengandung Al OH dan magnesium akan menurunkan absorpsi.

c. Siklofosfamid
Efek Samping : pemberian dosis besar dikaitkan dengan efek samping sistitis
hemoragik, kardiotoksisitas, dan pansitopenia berat.
Mekanisme Kerja : siklofosfamid merupakan alkilator golongan mustar nitrogen
yang menyebabkan alkilasi pada DNA sehingga menghambat sintesis dan fungsi DNA.
Sel B dan T sama-sama dihambat oleh siklofosfamid.
D, Metotreksat
Mekanisme Kerja : obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim dihidrofolat
reduktase, sehingga menghambat sintesis timidilat dan purin. Obat ini bekerja spesifik
pada fase S siklus sel.
Penggunaan klinis : merupakan obat antikanker yang digunakan sebagai obat
tunggal atau kombinasi dengan siklosporin untuk mencegah penolakan transplantasi.
Digunakan untuk penyakit autoimun dan merupakan lini kedua pada pengobatan
rheumatoid athritis, dan psoriasis yang refrakter terhadap terapi standar.
Efek Samping : pada pemberian jangka panjang dosis rendah seperti pada psoriasis,
dilaporkan terjadinya sirosis dan fibrosis hati pada 30-40% pasien. Toksisitas
meningkat dengan pemberian bahan yang bersifat hepatotoksik, seperti alkohol

4. ANTIBODI
a. Antibodi poliklonal :
.ATG (Antithymocyte)

Mekanisme Kerja : Merupakan antibodi poliklonal yang dapat


berikatan pada berbagai molekul permukaan limfosit T dan molekul
kelas HLA kelas I dan II.
Efek Samping : Efek samping yang relatif sering serum sickness
dan nefritis. Efek samping lain demam, menggigil, leukopenia,
trombositopenia, dan ruam kulit.
Indikasi :
Mengobati reaksi penolakan transplantasi ginjal, jantung atau organ
lain. Juga digunakan sebagai profilaksis sebelum transplantasi.

IGIV (Imunoglobulin IV).


Mekanisme
Kerja
:
Mekanisme
kerjanya
diduga
berdasarkan pengurangan jumlah sel T helper, peningkatan
jumlah sel T supresor, dan mengurangi produksi
imunoglobulin.
Indikasi :
Pengobatan respiratory sinotitial virus, sitomegalovirus,
varicella zoster, human herpes virus 3, hepatitis B, rabies,
dan tetanus

a. Antibodi monoklonal :
.Anti CD3
Indikasi :
Digunakan pada transplantasi ginjal, hati dan jantung. Selain itu juga
digunakan untuk mengurangi jumlah sel T sebelum transplantasi
sumsum tulang.
Mekanisme kerja :
Berikatan dengan molekul CD3, yaitu komponen reseptor sel T yang
berperan pada fase pengenalan antigen.
Efek samping :
Cytokine release syndrome, yang dapat terjadi pada dosis awal dan
bervariasi mulai dari flu like syndrome sampai syok berat yang
mengancam nyawa.

Trastuzumab
Indikasi :
Digunakan pada kanker payudara metastatik pada pasien dengan
ekspresi HER-2/neu berlebihan.
Mekanisme kerja :
Berikatan dengan antigen yang terdapat pada permukaan sel tumor
atau sel kanker dan mengaktifkan sistem komplemen, sehingga
menyebabkan sitolisis. Disamping itu reseptor yang terikat pada
bagian Fc dari antibodi dapat merangsang sel sel efektor seperti
sel NK, makrofag dan granulosit untuk menangkap kompleks antigen
antibodi pada permukaan sel tumor, sehingga dapat membunuh sel
tumor melalui antibody-dependent cell-mediated cytotoxicity.

ANALISIS RESEP
Imunosupresan

RS Atmajaya
Jl. Pluit Raya No. 2
Jakarta Utara
Telp (021) 6606127

Jakarta, 1 / 3 / 2016
Alergi Obat : TIDAK / YA
YA : ...............................
Dokter : dr. Wahyudi, Sp. PD

R/ Cellcept 500 mg
No. XIV
S 2 dd 1 pc
R/ Neurobion 500 mg
No.
XIV
S 1 dd 1
R/ Methyl prednisolon 4 mg No.
XXX
S 4-4-0

Pro
: Tn. Tju Mian Li
Tgl Lahir
:
No RM
: 288684
Berat badan :

Skrining Administratif
Kelengkapan
Resep
Nama Dokter

dr. Wahyudi, Sp. PD

Kelengkapan
Resep
Alamat pasien

SIP

Umur

Alamat dokter

RS Atma Jaya (sdh


mewakili identitas
dokter)
1 Maret 2016

Berat badan

No. Rekam
Medis
Nama obat

Ada (mewakili
demografi pasien)
Ada

Aturan
pemakaian

Ada

Tanggal
penulisan resep
Tanda tangan/
paraf dokter
Nama pasien
Jenis kelamin
pasien

Keterangan

Ada
Tn. Tju Mian Li
Laki-laki

Keterangan

Pertimbangan
Klinis

Skrining
Farmasetik
Kelengkapan
Resep

Ada

Tidak

Bentuk sediaan

Dosis

Potensi

Stabilitas

Inkompatibilita
s
Cara dan lama
pemberian/
durasi

Kelengkapan
Resep

Ada

Tidak

Adanya alergi

Efek samping

Interaksi obat

Kesesuaian (dosis,
durasi, jumlah
obat)

Cellcept tab
Pabrik

Roche

Golongan

Kekuatan

500 mg

HNA/tab

Rp 21.939,06

Komposisi

Mikofenolat mofetil

Indikasi

Profilaksis rejeksi organ dan pengobatan rejeksi pada penderita


transplantasi ginjal. Diberikan bersama dengan siklosporin dan
kortikosteroid dan atau imunosupresan lainnya.

Kontra Indikasi

Hipersensitivitas

Efek Samping

Diare, leukopenia, sepsis, dan mual

Dosis

Profilaksi rejeksi sehari 2 x 1 g, diberikan per oral 72 jam setelah


transplantasi, pengobatan rejeksi sehari 2 x 1.5 g

Interaksi Obat

Antasida, Probenesid, Acyclovir, Kolisteramin, Vaksin

Pemberian Obat

Sebaiknya diberikan pada saat perut kosong.


Pada pasien penerima transplantasi ginjal yang stabil, obat dapat
diberikan bersama makanan, bila perlu.

Neurobion 5000
Pabrik

Merck
Indonesia

Golongan

Bebas terbatas

Bentuk Sediaan

Tablet

HNA/tab

Rp 2.290,92

Komposisi

Vit B1 100 mg, Vit B6 100 mg, Vit B12 5000 mcg

Indikasi

Pengobatan vitamin B1, B6, dan B12 seperti pada beri-beri dan
polineuritis, neuritis perifer, dan neuralgia. Membantu
mencegah komplikasi neuropati perifer diabetik.

Dosis

Sehari 1 tablet setelah makan

Interaksi Obat

Levodopa

Pemberian Obat

Sebaiknya diberikan bersama makanan

Methyl
Prednisolon
Pabrik

Hexpharm Jaya

Golongan

Obat Keras

Kekuatan

4 mg, 16 mg

HNA/tab

Rp 800

Komposisi

Methyl Prednisolone

Indikasi

Kelainan endokrin, peny autoimun, peny reumatik yang memberi respon terhadap
terapi kortikosteroid, peny kolagen, peny kulit, alergi, inflamasi, peny mata, peny sal
nafas, kelainan hematologi, neoplasma, edema, ggn sal pencernaan, eksaserbasi akut
dari multiple sklerosis, meningitis tuberkulosa, sindroma nefrotik

Kontra Indikasi

Infeksi jamur sistemik, herpes simpleks, DM, imunisasi, varisela, osteoporosis berat

Perhatian
Khusus

Penggunaan jangka panjang dan dosis tinggi, vaksinasi, TB, sirosis, hipotiroid, stres,
kecenderungan psikosis, insufisiensi ginjal, ulkus peptik, hamil dan menyusui

Efek Samping

Ggn elektrolit dan cairan tubuh (retensi Na dan cairan), ggn penyembuhan luka, ggn
metabolisme karbohidrat, lemah otot, ggn pencernaan, keringat berlebihan, urtikaria,
osteoporosis, peningkatan tekanan intrakranial, ggn siklus menstruasi, DM, hambatan
pertumbuhan pada anak, katarak, glaukoma, anafilaksis

Dosis

Interaksi Obat
Pemberian
Obat

Awal: Sehari 4-48 mg, kemudian diturunkan bertahap s/d dosis efektif terendah untuk
pemeliharaan
Sklerosis multiple: Sehari 160 mg selama 1 minggu, dilanjutkan sehari 64 mg selama 1
bulan
Antidiabetik, AINS, Diuretik, Rifampisin, Barbiturat, Phenytoin, Ketokonazol, Aspirin,
Cyclosporin
Sebaiknya diberikan bersama makanan

Perhitungan Dosis
Nama Obat

Mikofenolat
mofetil
(Cellcept)
Neurobion 5000
Methylprednisolon 4
mg

Dosis
Lazim
(/hari)
2x1g

Dosis
1x

Dosis 1hr

Keterangan

500 mg

1g

Dosis
subterapi

1 tab

1 tab

1 tab

Sesuai

4-48 mg

16 mg

32 mg

Sesuai

Perhitungan
Harga
Nama Item

Cellcept
(Mikofenolat
mofetil)

Jml
tab

HNA /tab

Perhitungan

Subtotal

15
tab

Rp
21.939,06

15 x 21939.06 x
1.1 x 1.25 + 1000

453493.112
~ Rp 453.500,-

Neurobion 5000

15
tab

Rp 2.290,92

15 x 2290.92 x
1.1 x 1.25 + 1000

48250.225
~ Rp 48.300,-

Methylprednisol
on 4mg

30
tab

Rp 800

30 x 800 x 1.1 x
1.25 + 1000

Rp 34.000,-

3 pcs

Rp 100

3 x 100

Rp 300,-

1 pc

Rp 200

1 x 200

Rp 200,-

Plastik klip
Plastik putih
logo

Total

Rp 536.300,-

PENYIAPAN
RESEP

Penyiapan Resep
Ambil obat sejumlah resep yang dibutuhkan:
Cellcept 500 mg tab
: 15 tab
Neurobion 5000 tab
: 15 tab
Methyl Prednisolon 4 mg tab: 30 tab
Masukkan masing-masing obat ke dalam
plastik klip beretiket
Tandai etiket dengan informasi yang sesuai

Pemberian
Etiket
APOTEK FARMASI PANCASILA
Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa
Telp. 786 4727
No: 01
Tgl: 30/05/2016
Tn. Tju Mian Li
Cellcept 500
mg
ed: Mar 18

2 x sehari 1 tab
Sebelum makan

APOTEK FARMASI PANCASILA


Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa
Telp. 786 4727
No: 01
Tgl: 30/05/2016

APOTEK FARMASI PANCASILA


Jl. Srengseng Sawah, Jagakarsa
Telp. 786 4727
No: 01
Tgl: 30/05/2016

Tn. Tju Mian Li

Tn. Tju Mian Li

2 x sehari 4 tab (pagi-siang)


15 menit sebelum makan

Methyl Prednisolon
4mg
ed: Jan 19

1 x sehari 1 tab
15 menit sebelum makan

Neurobion
5000
ed: Jun 18

Penyerahan dan Pemberian

Cellcept : Obat ini merupakan obat untuk mencegah penolakan


Informasi
organ yang akan ditransplantasi. Diminum 2x sehari 1 tablet
sebelum makan. Usahakan minum pagi dan malam berselang 12
jam, misalnya jam 8 pagi dan jam 8 malam.
Neurobion 5000 : Merupakan suplemen berisi vitamin. Diminum
1x sehari 1 tablet 15 menit sebelum makan. Sebaiknya diminum
pagi hari, agar badan terasa segar sebelum beraktifitas.
Methyl Prednisolon 4 mg : Obat yang membantu Cellcept agar
organ yang lama dapat lebih mudah menerima organ yang akan
ditransplantasi. Diminum 2 x sehari 15 menit sebelum makan
pagi dan makan siang. Diminum sekaligus 4 tablet.
Bila perlu gunakan pengingat atau pasang alarm di handphone
agar tidak terlupa minum obat
Istirahat cukup dan banyak minum agar tidak kekurangan cairan.

DRUG RELATED
PROBLEM
RESEP IMUNOSUPRESAN

Masalah
Pengobatan
Klasifikasi

Keterangan

Efek pengobatan kurang optimal


Cellcept diberikan dalam dosis subterapi
Efektifitas
Terapi

Indikasi tidak terobati


Obat imunosupresan pada umumnya menimbulkan efek samping mual, tetapi pada
resep tidak diberikan obat antimual, seperti domperidon, dimenhidrinat, atau
ondansentron.

ROTD

Terjadi reaksi obat tidak diinginkan (non alergi)


Pasien menggunakan Methylprednisolon dalam jumlah banyak. Meskipun durasi
pemakaian hanya 4 hr, tetapi efek sampingnya sangat banyak. Salah satunya
gangguan elektrolit sehingga pasien membutuhkan tambahan asupan vitamin dari
Neurobion 5000

Biaya
Pengobatan

Biaya obat lebih mahal daripada yang diperlukan


Pasien sudah menanggung biaya Cellcept yang cukup tinggi, sebaiknya suplemen
jangan diambil yang terlalu mahal, misalnya Neurosanbe 5000 dg komposisi sama
dan harga Rp 865/tab

Lain lain

Masalah yang didapati belum menyeluruh, perlu klarifikasi dari pasien maupun
tenaga medis lain.
Data yang didapat hanya berdasarkan resep, tidak mengetahui kondisi pasien
sebenarnya

Penyebab
Masalah
Klasifikasi
Pemilihan Obat

Pemilihan Dosis

Durasi pengobatan

Keterangan
Tersedia obat yang lebih cost-effective
Neurobion 5000 diusulkan untuk diganti Neurosanbe 5000 agar
tidak memberatkan pasien
Dosis terlalu rendah
Dosis Cellcept yang lazimnya sehari 2 x 1 g, hanya diberikan
sehari 1 g
Durasi pengobatan terlalu singkat
Kortikosteroid yaitu methylprednisolon hanya diberikan untuk 4
hari saja, sedangkan Cellcept 7 hari. Sebaiknya kedua obat ini
diminum berdampingan, sehingga hasil terapi lebih baik

SIMPULAN
Imunosupresan adalah kelompok obat yang digunakan untuk menekan
respon imun seperti pencegah penolakan transpalansi, mengatasi penyakit
autoimun dan mencegah hemolisis rhesus dan neonatus. Imunosupresan
digunakan untuk tiga indikasi utama yaitu, transplanatasi organ, penyakit
autoimun, dan pencegahan hemolisis Rhesus pada neonatus.
Prinsip umum penggunaan imunosupresan untukmencapai hasil terapi
yang optimal adalah sebagai berikut:
1. Respon imun primer lebih mudah dikendalikan dan ditekan
dibandingkan dengan respon imun sekunder.
2. Obat imunosupresan memberikan efek yang berbeda terhadap antigen
yang berbeda.
3. Penghambatan respon imun lebih berhasil bila obat imunosupresan
diberikan sebelum paparan terhadap antigen.

Daftar pustaka
Anonim. 2000. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI), Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5.
Jakarta: Bagian Farmakologi FK UI.
Elin Y. S., dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT. ISFI.
Sweetman, S et al. 2009. Martindale 36th The Complete Drug Reference .The
Pharmaceutical Press. London.
Medscape.
2011.
Drug
Interaction
Checker.
(online)
(http://www.reference.medscape.com/drug-interactionchecker), diakses tanggal 20 Mei
2016.
ISO. 2014. ISO Indonesia Informasi Spesialite Obat. Volume 48. PT. ISFI, Jakarta