Anda di halaman 1dari 235

NANDA EARLIA

FLUOR ALBUS
Fluor albus adalah cairan kental
keputihan yang keluar dari vagina
dan rongga uterus.
Sinonim : leukorrhea

PATOFISIOLOGI
Tidak semua fluor albus bersifat patologis.
Sekret vagina normal (fisiologis) bersifat :

encer tidak kental,


tidak berwarna
tidak berbau
biasanya terdapat pada forniks posterior
dipengaruhi kadar hormon

PATOFISIOLOGI
Lingkungan vagina normal
Hubungan dinamis antara Lactobacillus
acidophilus dengan flora endogen lain,
estrogen, glikogen, pH vagina, hasil metabolit
lain
Lacobacillus menghasilkan hidrogen
peroksida
Toksik terhadap bakteri patogen
pH optimal : 3,8 4,2
4

PATOFISIOLOGI
Sekret vagina abnormal
Terjadi perubahan warna dan jumlah,
misalnya :

Keputihan disertai rasa gatal


Sekret vagina yang bertambah banyak
Rasa panas saat kencing
Sekret vagina putih dan menngumpal
Berwarna putih keabuan atau kuning dengan bau
menusuk
5

Fluor albus yang patologis


dapat disebabkan oleh :
1.

2.

3.
4.

INFEKSI

Bakteri : Chlamydia,Bakterial Vaginosis dan


Gonokokus
Jamur : Candida
Protozoa : Trichomonas vaginalis
Virus : virus Herpes dan Human Papilloma virus

IRITASI

Sperma, pelicin, kondom


Sabun cuci, pelembut pakaian
Deodoran, sabun
Cairan antiseptik untuk mandi
Pembersih vagina
Celana ketat
Tissue toilet berwawarna

TUMOR ATAU JARINGAN ABNORMAL LAIN


RADIASI
6

PENDAHULUAN
URETRITIS

URETRITIS GO

URETRITIS NON GO

URETRITIS SPESIFIK
URETRIRIS
NON SPESIFIK

Tanda uretritis
Subjektif:

Nyeri kencing ringan-berat


Keluar cairan jernih nanah
Riwayat kontak seksual

Objektif:

MUE udem, erithema


Ektropion
Tampak sekret sromukous-purulent

Laboratorium

Basah lekosit > 10 400x


Gram lekosit >4 1000x
9

10

GONORE MENYERANG
PRIA

URETRA
KEL TYSON
KEL COWPER
KEL PARAURETRA
PROSTAT
EPIDIDIMIS
TESTIS

WANITA

CERVIKS
BARTHOLIN
KEL SKEIN
SALPHINX
OVARIUM
PID

11

CONYUNCTIVA
LARINKS
PHARINKS
RECTUM

SENDI
SEPTIKEMIA
PERICARD
DISSEMINATA

12

DEFINISI
Semua penyakit disebabkan Neisseria gonorrhoeae,
suatu diplokokus gram negatif
Umumnya mengenai :
Uretra
Endoserviks
Rektum
Faring
Konjungtiva
Penyebaran hematogen :
DIG (Disseminated Gonococcal Infection)
13

EPIDEMIOLOGI
Kasus gonore rata-rata 400 ribu 1 juta per
tahun di Amerika Serikat
Insiden tersering pada laki-laki homoseksual
Prostitusi merupakan sumber infeksi utama,
terutama di negara sedang berkembang
Menyerang semua umur, ras, segala tingkat
sosio-ekonomi

14

FAKTOR RESIKO
Hubungan seksual dengan penderita tanpa
proteksi
Mempunyai banyak pasngan seksual
Pada bayi-bayi yang melewati jalan kelahiran
dariibu yang terinfeksi
Anak sexual abuse oleh penderita terinfeksi

15

ETIOLOGI
GRAM NEGATIF
INTRASELULER
DIPLOKOKUS

16

STRAIN RESISTENSI.
NGPP (Neisseria Gonorhoeae penghasil
penisilinase)
TRNG
QRNG
ARNG

17

PATOGENESIS
PERLEKATAN (pili dan
protein permukaan)
SEL EPITEL MENEMBUS
JARINGAN.
PMNL
MIKRO ABSES
PENYEBARAN

18

KLINIS
inkubasi
Pria
: 2-7 hari
Wanita : sering asimtomatik

19

GEJALA KLINIK
INFEKSI PADA PRIA
MASA INKUBASI 1-10 hari (sering 1-5
HARI)
URETRA PARS ANTERIOR
KELUHAN DISURI, URETRAL
DISCHARGE
LENDIR KEKERUHAN SAMPAI NANAH

PEMERIKSAAN.
MUE : UDEMA, ERITEMA,
ECTROPION, DISCHARGE
PURULEN

20

INFEKSI PADA WANITA.


60-80% ASIMPTOMATIS.
KELUHAN :
VAGINALDISCHARGE
DISURI
INTERMENSTRUAL

BLEEDING

MENORRHAGIA
NYERI

PUNGGUNG

21

Uretritis : duh tubuh mukopurulen, nyeri, panas, disuri,


polakisuri
OUE merah, edema,

Cervisitis : Asimtomatik >>


Serviks merah, erosi, sekret mukopurulen
Proktitis : Eritema, sekret/duh tubuh, pruritus (tenesmus,
perdarahan rektum)
Faringitis : Eritema, eksudat purulen, limfadenopati servikal
Konjungtivitis (gonoblenore) :
Sekret / mukopurulen, eritema

DIAGNOSIS
Anamnesis, klinis, laboratoris
LABORATORIUM

Cat Gram duh tubuh (klinik/praktek pribadi)


Kultur : Thayer martin/modifikasi TM
Tes definitif ( tes Oksidase, Fermentase)
Tes NGPP (Beta laktamase, Yodometri, Penisilin
discdifusion,
Pyridine-2-azodimethylalanine
cephalosporin (PADAC)
Tes Thomson
Imunofluoresensi (langsung & tidak langsung)
Fiksasi Komplemen
ELISA

Pria : bahan dari duh tubuh uretra/sed.urine/sekret massage prostat


Wanita : bahan dari uretra, srviks, muara kel.bartholin, rektum
23

KOMPLIKASI
PRIA
Tisonitis
Parauretritis
Cowperitis : sakit pada perineum, disuri
Infeki uretra pars post vesica urinaria : polakisuri,
hematuri
Prostatitis : nyeri hebat pd perineum, nyeri saat BAB, febris
Vesikulitis
unikulitis
Epididimitis : febris, edema, kulit skrotum anda radang (+)
Infertilitas

24

KOMPLIKASI
WANITA
Bartholinitis : edema labium mayus (tu. 1/3
bagian bawah), tanda radang akut
PRP jaringan parut, tuba infertilitas
Salpingitis
Diseminata : Arthritis, myocarditis,
endocarditis, pericarditis, Meningitis dan
dermatitis
25

TERAPI
Pertimbangkan, efektivitas, dosis
tunggal, efek samping, tempat infeksi,
resistensi, kemungkinan infeksi C.
trachomatis bersamaan

26

TERAPI
Infeksi Anogenital, komplikasi (-)
ANJURAN
Sefiksim
Tiamfenikol*
Ofloksasin*
Kanamisin
Spektinomisin

400mg /oral dosis tunggal


3,5g /oral dosis tunggal
400mg /oral dosis tunggal
2g intramuskuler dosis tunggal
2g intra muskuler dosis tungga

PILIHAN
Siprofloksasin* 500mg/oral dosis tunggal
Seftriakson
250mg intramuskuler dosis tunggal
*) tak dianjurkan pada anak/remaja
27

TERAPI
Infeksi Anogenital, komplikasi (+)
Regimen dosis ganda, oral 5 hari, Injeksi 3 hari
ANJURAN
Sefiksim
Tiamfenikol
Ofloksasin
Kanamisin
Spektinomisin

400mg /oral 1kali/hari


3,5g /oral 1kali/hari
400mg /oral 1kali/hari
2g intramuskuler 1kali/hari
2g intra muskuler 1kali/hari

PILIHAN
Siprofloksasin 500mg/oral 1kali/hari
Seftriakson
250mg intramuskuler 1kali/hari
Sefiksim
400mg /oral 1kali/hari
Miningitis, endocarditis dosis sama, 4 minggu

28

TERAPI
Konjungtivitis GO pada Dewasa
ANJURAN
Seftriakson
Spektinomisin
Siprofloksasin
Ofloksasin

250mg intramuskuler dosis tunggal


2g intra muskuler dosis tunggal
500mg/oral dosis tunggal
400mg /oral dosis tunggal

29

TERAPI
Konjungtivitis GO pada Neonatus
ANJURAN
Seftriakson

50-100mg/KgBB, intramuskuler s/d max. 125mg

PILIHAN
Kanamisin
25mg/KgBB intramuskuler s/d max. 75mg
Spektinomisin 25mg/KgBB intramuskuler s/d max. 75mg
Pantau dalam 48 jam
PENCEGAHAN :
Sesudah lahir mata dibersihkan tetesi Nitras argensi
1% atau salep tetrasiklin 1%
Ibu Go (+) bayi beri Seftriakson 50mg/KgBB,
intramuskuler s/d max. 125mg
Pilihan : Kanamisin
Spektromisin
30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

URETRITIS NON GONOKOKAL


NON GONOKOKAL GENITAL
INFEKSI
TANDA KLINIS URETRITIS
URETRAL DISCHARGE
DISURI
GATAL PADA UJUNG URETRA
TANDA PATOGNOMONIK DITEMUKANNYA
PMNL5 ATAU LEBIH PADA PRIA
PMNL 15 ATAU LEBIH PADA WANITA.

46

PENYEBAB:

SPESIFIK
Chlamydia trachomatis.
Ureaplasma urealyticum
Trichomonas vaginalis
Jamur
Herpes Simplex
Adenovirus
Haemophilus sp
Bacteriodes urealyticum
NON SPESIFIK

47

48

PENDAHULUAN
Chlamydia trachomatis terdiri dari 15 serovars :
A, B, Ba, C : penyebab trachoma
D, E, F, G, H, I, J, K : penyebab infeksi saluran
genital,conjungtivitis, pneumonia infantile
L1, L2, L3, penyebab LGV (Limfogranuloma
venereum)

49

EPIDEMIOLOGI
Th. 1997 : > 500.000 kasus (200/100.000
penduduk)
Amerika Serikat : 3-4 juta kasus/tahun
WHO: 90 juta kasus

50

PENYEBAB
Chlamydia trachomatis serovar D,E,F,G,H,I,J
Mempunyai dinding sel dan membran sel
Sitoplasma mengandung DNA & RNA
Metabolisme khas
Multiplikasi hanya pada sel (intraseluler obligat)
Membentuk inklusi dalam sitoplasma
Antigen : MOMP (mayor outer membrane protein),
lipopolisakarida, HSP (heat shock protein)
Menyebabkan respon imun : pembentukan antibodi dan
imunitas seluler

51

CHLAMYDIA TRACHOMATIS.

Proses masuk kedsalam sel :


1.
2.
3.
4.
5.

Elementari Bodi melekat dalam sel


Masuk kedalam sel
Berfubah menjadi retikulate bodi (bertumbuh dan berkembang biak)
Berubah menjadi Elementari bodi
Dilepaskan untuk menginfeksi.

52

INFEKSI CHLAMYDIA
PADA PRIA
Simptomatik : 75% kasus
Gejala :

discharge uretra
Dysuria
Epididymitis
prostatitis.

Bisa menyebabkan infertilitas


Menyerupai uretritis GO tetapi gejala lebih ringan dan
timbulnya lebih lama
Inkubasi :7-21 hari

53

INFEKSI CHLAMYDIA
PADA PRIA
Pria dg NSU (non spesific uretriris) : 30-50% karena
Chlamydia
Sering ko-infeksi dengan Gonorrhoe (15-35%)
80% menjadi Reiters syndrome

Uretritis
Arthritis / atralgia
Lesi mukokutaneus
Conjungtivitis
+/- gx sistemik : panas, myalgia, anoreksia, BB turun

54

55

56

BENTUK KLINIK LAIN

EPIDIDYMITIS
PROSTATITIS
PROCTITIS
REITER SYNDROM

57

INFEKSI CHLAMYDIA PADA


SAL GENITAL WANITA
Sering asimptomatik : 70%
Gejala :

vaginal discharge purulent


servicitis mukopurulen
nyeri perut bawah
post coital/intermenstrual bleeding
Dysuria
pelvic inflammatory disease (PID)

Bisa menyebabkan kehamilan ekstra uterine (KET),


infertilitas, cervical celluler atypia

58

CERVICITIS

Menyerang epitel silindris serviks


Sulit dibedakan dengan proses inflammasi lain pada serviks
Asimptomatis: 50-50%
Gejala :

discharge mukopurulent
hypertrophic ectopia
postcoital bleeding
spotting

Kriteria dugaan cervicitis :

C. trachomatis serotype G bisa berkembang menjadi squamous cell


carcinoma (SCC)

hapusan serviks PMN > 30 plp


swab test +
eritema, edema, mudah bleeding

59

INFEKSI
CHLAMYDIA TRACHOMATIS
GENITALIA WANITA

60

BENTUK KLINIK LAIN

BARTHOLINITIS
ENDOMETRITIS
SALPINGITIS
PERIHEPATITIS

61

PELVIC INFLAMMATORY
DISEASE (PID)
Merupakan komplikasi yang berat dari infeksi saluran genital
bagian bawah.
Klinis bervariasi :

endometritis subklinis
Salpingitis
peritonitis pelvis
Periapendisitis
perihepatitis

Diagnosis dengan :
laparoskopi (gold standart)
biopsi endometrium

62

PELVIC INFLAMMATORY
DISEASE (PID)
Kriteria minimum diagnosis PID :
Lower abdomen tenderness
Bilateral adnexal tenderness
Cervical motion tenderness
No evidence of competeting dx (pregnancy,
acute appendicitis)

63

PERIHEPATITIS (FITZ-HUGHCURTIS SYNDROME)


Chlamydia dari serviks melalui endometrium dan
tuba falopi bisa mencapai diafragma kanan
Menyebabkan perihepatitis, tidak mengenai jaringan
hepar
Gejala klinis : piercing pain dibawah pinggir tulang
costa kanan
Sulit dibedakan dengan gejala cholecystitis dan
pleuritis

64

INFEKSI CHLAMYDIA PADA


BAYI BARU LAHIR
(PNEUMONIA INFANTILE)
Infeksi didapatkan dari ibu
Ada 2 macam :
A. Chlamydial pneumonia

Biasanya tidak panas


Batuk seperti pertusis, sputum +
X-ray : infiltrat interrtitial simetris
Laboratorum : eosinophilia, hypergamaglobulinemia, IgM
Jika mungkin dilakukan : aspirasi trakea , biopsi paru

B. Inclusion-particle conjunctivitis

Dapat diisolasi dari bayi yg menderita blennorrhea : 15-20%


Konjungtivitis tampak 5-15 hari, sering unilateral
Kelopak mata edema dan mengalami peradangan disetai sekret supurative

65

PEMERIKSAAN
LABORATORIUM INFEKSI
CHLAMYDIA
DETEKSI CHLAMYDIA :
Kultur sel
DFA (Direct Fluorescent Antibody Assays)
EIA (Enzyme Immunoassays)
RNA-DNA hybridzation (PCR dan LCR)
SEROLOGI :
Menggunakan microimmunofluorescence (MIF)
ELISA (Enzyme-lnked Immunosorbent assay)
IgM, IgA, IgG

66

67

PENATALAKSANAAN
Azitromisin 1 gr dosis tunggal atau
Eritromisin 4 x 500 mg, 7 hari atau
Doksisiklin 2 x 100 mg, 7 hari

68

69

70

Bakterial Vaginosis (BV)


DEFINISI :

BAKTERIAL VAGINOSIS MERUPAKAN


KEADAAN KLINIK DENGAN KELUHAN
PENINGKATAN SEKRESI VAGINA DAN
BAU YANG TIDAK ENAK.

71

PENYEBAB
4 bakteri vagina :

Gardnerella vaginalis
Bacteroides sp.
Mobiluncus sp.
Mycoplasma hominis

72

PATOGENESA

TERJADI PERGANTIAN NORMAL FLORA (LACTO BACILUS SPP)


TERGANGGUNYA EKOSISTEM.
H2O MENGHILANG SUSANA ANEROB.
PERUBAHAN PH MENJADI ALKALI.
PRODUKSI AMINE
WHIFF TEST (KOH 10 %)

73

Masa inkubasi : beberapa hari s/d 4 minggu


KELUHAN DAN GEJALA
tanda-tanda peradangan sedikit sekali
50% wanita asimtomatik
didapatkan duh tubuh vagina yang homogen,
tipis, cair dan berbau amis seperti bau ikan
bau bertambah setelah melakukan hubungan
seksual
duh tubuh vagina melekat pada dinding vagina
dan vestibulum

74

75

Laboratorium :
Sekret vagina berbau amis jika diteteskan KOH 10%
(whiff test / tes amin positif)
pH duh tubuh vagina > 4,5 (4,7-5,7)
Mikroskopis :
sediaan apus dengan pewarnaan gram atau
sediaan basah dengan NaCl 0,9% : clue cells
jumlah clue cells meningkat 20% dari jumlah
sel epitel
leukosit normal < 30/lp.
76

77

Diagnosis
Didapatkan 3 dari 4 tanda-tanda berikut (Amsel, 1983) :
Cairan vagina homogen,putih / keabu-abuan
pH duh tubuh vagina > 4,5
Duh tubuh vagina berbau seperti ikan sebelum atau
sesudah penembahan KOH 10% (Whiff test +)
Clue cells

78

Komplikasi
WANITA HAMIL :
Ketuban pecah dini
Lahir prematur
Bayi berat lahir rendah

79

Penatalaksanaan

Metronidazol 400 atau 500 mg 2 x 1 (7hari)


Metronidazol 2 gram po dosis tunggal
Klindamisin 300 mg po 2 x 1 (7hari)
Metronidazol gel 0,75% - 1 aplikator (5 gr) intravaginal
(2 kali sehari selama 5 hari)
Klindamisin krim 2% - 1 aplikator (5 gr) intravaginal
(sebelum tidur selama 7 hari)

80

81

TRICHOMONIASIS
DEFINISI
INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH TRICOMONAS
VAGINALIS.
Trichomonas vaginalis
Berbentuk ovoid
ukuran 10-20 mmikron
,
mempunyai 4 flagella dengah pergerakannya
Melakukan perlekatan pada selaput lendir
Bersifat anaerobik.

82

PATOGENESIS

INFEKSI YANG PALING BANYAK PADA SALURAN GENITO URINARI.


WANITA TERBANYAK PADA VAGINA.
BISA PADA URETRA DAN KEL SKENE.
ISOLASI PADA KANDUNG KENCING
PRIA BANYAK DI-URETRA.
GEJALA BISA ASIMPTOMATIS, GEJALA RINGAN, SAMPAI AKUT DAN
PERADANGAN HEBAT.
SEKRESI BANYAK MENGANDUNG PMNL
BAU KHAS SEPERTI IKAN AMIS.

83

Wanita > Pria (asimptomatis)


Penularan Sexual.
Transmisi non venereal pada bayi

84

Pada WANITA
Masa inkubasi : 3 28 hari
Keluhan dan Gejala
sering asimtomatik (10% 50%).
keluhan dan gejala :

sekret vagina
sedikit sampai banyak
encer
kuning / kehijauan berbusa (10% - 30%) klasik
berbau.
Vulvitis dan vaginitis.
bila jumlah kuman banyak sekali strawberry cervix (2%)
rasa tidak enak di perut bagian bawah.

85

Pada PRIA
Masa inkubasi : 10 hari
Keluhan dan Gejala :
sering asimtomatik (15% 50%).
sebagai pasangan seksual wanita yang terinfeksi
keluhan dan gejala :
+ duh tubuh uretra (50% - 60%) :
jarang purulen
jumlah sedikit atau sedang
Uretritis (disuria, iritasi uretra, sering miksi)
Prostatitis
Epididimitis
Tidak ada gejala sama sekali / gambaran klinis ringan

86

87

88

Strawberry Cervix
89

Laboratorium
Pada wanita :
pH sekret vagina > 5
Tes amin / whiff test dapat positif
Mikroskopis (sediaan basah) :
tampak Trichomonas vaginalis dengan
pergerakan flagela yang khas
peningkatan jumlah leukosit
Dapat ditemukan clue cells karena biasa
didapatkan bersamaan dengan BV

Pada pria :
Sedimen urin sewaktu : Trichomonas vaginalis
Scraping dinding uretra
90

91

92

Penatalaksanaan :
Metronidazol 2 x 500 mg po (7 hari)
atau
2 gram po dosis tunggal
Pasangan seksual harus diobati
Pada kehamilan :
Seluruh masa kehamilan :
Metronidazol 2g po dosis tunggal

93

Komplikasi
Wanita hamil :
Partus prematur
Bayi Berat Lahir Rendah

94

95

Kandidiasis vulvovaginalis
(Kandidosis vulvovaginitis) KVV
PENYEBAB :
Candida albicans (terutama)
C. glabrata (kadang-kadang)
Lain - lain :
C. tropicalis
C. stellatoidea
C. pseudotropicalis
C. krusei
96

KVV :
Infeksi oportunistik
>>> penderita immunocompromise
>>> mulut, kolon, kuku, vagina, anorektal
Faktor predisposisi / faktor risiko :
Hormonal
kadar karbohidrat (DM)
Pemakaian antibiotika jangka panjang
suhu dan kelembaban
Imunosupresi
Iritasi / trauma
97

Keluhan dan Gejala :

Gatal / panas / iritasi pada vulva (vulva lecet)


Eritema
Edema
Maserasi
Pseudomembran
Dapat timbul fisura
Terdapat lesi satelit papulopustuler
Tidak berbau
Sekret vagina :
seperti kepala susu / krim (banyak)
seperti susu pecah (bila sedikit dan cair)
pada dinding vagina biasa dijumpai gumpalan
seperti keju (cottage cheese).
tidak berbau / berbau asam
98

99

Balanitis
100

101

102

103

Laboratorium
PH duh tubuh vagina 4,5
Tes amin / Whiff test : negatif
Mikroskopis (pengecatan gram dan KOH 10%) :
bentuk ragi : blastospora bentuk lonjong
pseudohifa seperti sosis panjang bersambung
hifa asli bersepta (kadang-kadang)

104

105

106

Penatalaksanaan
Medikamentosa :

Mikonazol atau Klotrimazol 200 mg intravaginal, setiap


hari selama 3 hari
Atau
Klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal
Atau
Flukonazol 150 mg po dosis tunggal
Atau
Itrakonazol 200 mg po 2 kali sehari selama 1 hari
Atau
Nistatin 100.000 IU intravaginal setiap hari selama 14 hari
107

Penatalaksanaan

Non medikamentosa :
Hindari bahan iritan lokal
(misal : produk berparfum)
Hindari pakaian ketat atau dari bahan sintetis
Hilangkan faktor predisposisi

108

109

DEFINISI
Ulkus mole : penyakit infeksi genital akut,
setempat , auto-inoculable , disebabkan
Haemophilus ducreyi, dengan gejala
klinis khas ulkus pada tempat masuk,
seringkali disertai supurasi KGB regional.

110

ETIOLOGI

H. ducreyi
merupakan bakteri gram negatif,
anaerobik fakultatif,
bentuk batang pendek , ujung bulat, tidak
bergerak, tidak membentuk spora
memerlukan hemin untuk pertumbuhannya.

111

PATOGENESIS
Trauma / abrasi
Kuman menginfeksi

Penetrasi pd epidermis
Limfa Limfadenitis
Inflamasi
Supurasi
112

GAMBARAN KLINIS

Masa inkubasi 1- 5 hari.


Awal : makula atau papul pustula
pecah ulkus yang khas.
Sifat ulkus : multipel, lunak, nyeri tekan,
dasarnya kotor dan mudah berdarah, tepi
ulkus menggaung, kulit sekitar ulkus
berwarna merah

113

PREDILEKSI
pria : di daerah preputium, glans penis,
batang penis, frenulum dan anus
wanita : vulva, klitoris, serviks dan anus.
Pembesaran kelenjar limfe inguinal tidak
multipel, terjadi pada 30% kasus yang
disertai radang akut. Kelenjar melunak
pecah sinus (sangat nyeri disertai febris).

114

Variasi bentuk klinis

Giant Chancroid : ulkus hanya satu , cepat meluas,


bersifat destruktif.

Transient chancroid : ulkus kecil, sembuh sendiri


setelah 4-6 hari, disusul perlunakan kelenjar limfe
inguinal 10-20 hari kemudian.

Ulkus mole serpiginosum : terjadi inokulasi dan


penyebaran dari lesi yang konfluen pada preputium,
skrotum dan paha. Ulkus bertahan bertahun-tahun.

115

Ulkus mole gangrenosum : varian yang disebabkan super


infeksi dengan bakteri fusosprikhetosis, menimbulkan ulkus
fagedenik. Dapat menyebabkan destruksi jaringan yang cepat
dan dalam.

Ulkus mole folikularis (follicularis chancroid) : pada folikel


rambut, terdiri atas ulkus kecil multipel. Dapat terjadi di vulva
atau pada daerah genitalia yang berambut. Lesi ini sangat
superfisial.

Ulkus mole papular (ulcus molle elevatum) : papul


berulserasi dan granulomatosa. DD/ : donovanosis atau
kondiloma lata sifilis stadium II.

116

LABORATORIUM

Pemeriksaan langsung bahan ulkus


pewarnaan gram. Positif jika ditemukan kelompok
basil yang tersusun seperti barisan ikan.

Kultur pada media agar coklat, agar Muller Hinton


atau media yang mengandung serum dengan
vancomysin. Positif bila kuman tumbuh dalam
waktu 2-4 hari (dapat sampai 7 hari).

117

Tes serologi Ito-Reenstierna ( 0,1 ml antigen


disuntikan intradermal pd kulit lengan bawah ) Positif
bila setelah 24 jam atau lebih timbul indurasi yang
berdiameter 5 mm.

Tes ELISA dengan menggunakan whole lysed H.


ducreyi.

Tes lain yang dapat digunkan adalah tes fiksasi


komplemen, presipitin dan aglutinin.

118

DIAGNOSA
Anamnesa
Gejala klinik yang khas
Pemeriksaan langsung bahan ulkus
yang diberi pewarnaan gram.

119

DIAGNOSA BANDING

Sifilis I

Pedikulosis pubis

Ulkus mikstum

Tuberkulosis kutis

Herpes genitalis

Amobeasis kutis

Aphthae

Dermatitis

Skabies

EEM

Piodermi

Epidermoid Ca
120

PENYULIT
Adenitis inguinal
Fimosis atau Parafimosis
Fistel uretra
Fistel rektovagina

121

PENATALAKSANAAN

Pengobatan sistemik
Azithromycin 1 gr, oral, single dose
Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi intra muscular
Siprofloksasin 2 x 500 mg selama 3 hari
Eritromisin 4 x 500 mg selama 7 hari
Amoksisilin + asam klavunat 3 x 125 mg selama 7 hari
Streptomisin 1gr sehari selama 10 hari
Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 7 hari

122

PENATALAKSANAAN
Pengobatan lokal
Kompres dengan larutan normal salin ,
2 kali sehari selama 15 menit
Aspirasi abses transkutaneus untuk bubo
berukuran 5 cm dengan fluktuasi ditengahnya

123

SIFILIS

DIFINISI
DIFINISI
SIFILIS adalah :

Penyakit menular seksual


Penyebab Treponema pallidum
Menjangkit seluruh organ tubuh
Menembus plasenta
Perjalanan klinisnya melewati beberapa
stadium

ETIOLOGI
ETIOLOGI

Treponema pallidum (Spirocheta pallida)


Bentuk spiral,6-12 u,5-20 lekukan
Bergerak lincah
Tidak dapat dibiakkan (media artifisial)
Identifikasi :
Mikroskop lapangan gelap
Percobaan hewan

ETIOLOGI
ETIOLOGI

T. endemicum : bejel
T. pertenue
: frambosia
T. carateum : pinta
Saprofit :
T.balanitidis, T.macrodentium
T.microdentium.

KLASIFIKASI
KLASIFIKASI
I. Sifilis didapat ( acquired syphilis)
1. Sifilis dini
- Sifilis primer
- Sifilis sekunder
- Sifilis laten dini
2. Sifilis kasep
- Sifilis laten kasep
- Sifilis tersier
3. Sifilis kardiovaskuler
4. Sifilis saraf (neuro sifilis)

SIFILIS PRIMER
Waktu inkubasi = 3-5 minggu
Klinis :
- Ulkus durum
afek primer
- Ulkus durum
+ pemb. kel. limfa reg.
primer komplek
Lokalisasi :
Genetalia eksterna : wanita , pria
Ekstra genital : areola mama, jari-jari,sekitar dagu

SIFILIS SEKUNDER

6-8 minggu setelah afek primer


Bersifat sistemik gejala umum
Sangat infeksious
Efloresensi : Kulit, mukosa, kel. Limfa,
organ tubuh lain
Kulit
: bentuk makuler, papuler, pustuler
Mukosa : bercak mukous, rhagaden,
papul, nodul
Limfoma generalisata

SIFILIS LATEN DINI


Beberapa minggu beberapa bulan setelah
sifilis sekunder
Tidak ada gejala klinis
TSS (STS) positif
Dapat terjadi relaps stadium rekuren

SIFILIS KASEP
Sifilis tersier 3-10 tahun setelah afek primer
Bentuk lesi : gumma : noduler, ulsera
Lokalisasi :
Mulut, palatum, laring, faring,
septum nasi dapat terjadi perforasi

DIAGNOSE
DIAGNOSE
1. Pemeriksaan klinis
Anamnesa :
koitus suspektus, partner seksual
pengobatan sebelumnya dll
gejala klinis
2. Pemeriksaan laboratorium
Sifilis dini
3. Pemeriksaan histologi
tambahan untuk s.
4. Pemeriksaan radiologi
kasep, s. k.vas, s.
5. Pemeriksaan cairan otak
saraf

SIFILIS
SIFILIS KARDIOVASKULER
KARDIOVASKULER
10 % dari kasus sifilis tak diobati
10-20 tahun setelah periode laten
Insufisiensi koroner dan aneurisma

SIFILIS
SIFILIS SARAF
SARAF
10 % dari kasus sifilis tak diobati
10-30 tahun setelah periode laten
Klinis :
Asymptomatic neuro syphilis :
tak ada gejala, klinis kelainan cairan otak, TSS
positif darah dan cairan otak
Meningo-vascular syphilis :
gejala meningitis pada umumnya
Parenchymatous neuro syphilis = dementia
paralytica dan tabes dorsales

SIFILIS
SIFILIS KONGENITAL
KONGENITAL
Penularan terjadi pada kehamilan > 4bulan
Abortus < 4 bulan tidak pernah,mati dalam
kandungan, partus imaturus / prematusus lahir
dengan sifilis kongenital dini
Lahir normal sifilis kongenital kasep
Lahir sehat

KLASIFIKASI
KLASIFIKASI

II. Sifilis kongenital (congenital syphilis)


1. Sifilis kongenital dini
2. Sifilis kongenital kasep
3. Stigmata

SIFILIS
SIFILIS KONGENITAL
KONGENITAL DINI
DINI
GEJALA KLINIS
Sukar minum, BB menurun, seperti orang
tua,menangis khas,pembesaran hati dan limpa
ikterus, pembesaran kel. Limfa (kelainan pada kulit
dan mukosa ( bula telapak tangan dan kaki
Lesi tulang nyeri :
parallysis Parrot

Syphilityic pseudo

SIFILIS
SIFILIS KONGENITAL
KONGENITAL KASEP
KASEP
Usia diatas 2 th, gejala aktif atau stigmata
Triad hutchinson :
- gigi hutchinson
- keratitis interstisial
- tuli (kerusakan N. VIII)
Sadle nose
Ragaden sekitar mulut, hidung, anus
Kelainan saraf pusat hidrosefalus, konfulsi,
retardasi mental

PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN

LABORATORIUM
LABORATORIUM

Pem. Mikroskop lapangan gelap


Pem. TSS (Tes Serologis Sifilis) darah
dan cairan otak
Tes antigen non treponema :
VDRL, Khan, Waserman, RPR
Tes Treponema :
TPHA, TPI, FTA, FTA Abs.

PENGOBATAN
PENGOBATAN
Obat pilihan : Penisilin
Alergi penisilin : Tetrasiklin,
Eritromisin doksisiklin

PEMERIKSAAN ULANG (Follow up)

P 1BL1bl.1 bl.

3bl.

6bl.

12bl.

Pengobatan
SIFILIS DINI (Primer, sekunder, Laten < 1 tahun)

Benzidin penisilin G 2,4 juta/im dosis tunggal


Pendapat lain
Benzidin penisilin G 2,4 juta/im 1x/mgg 3mgg

Alternatif

Prokain penisilin G 600.000 ui/hari/im 10 hari


Tetrasiklin 500 mg/oral 4x/hari 15hari
Doksisiklin 100 mg/oral 2x/hari 15hari

SIFILIS LATEN KASEP

Benzidin penisilin G 2,4 juta/im 1x/mgg 3mgg


Prokain penisilin G 600.000 ui/hari/im 20 hari

SIFILIS KARDIOVASKULAR

Prokain penisilin G 600.000 ui/hari/im 10 hari

Alternatif

Tetrasiklin 500 mg/oral 4x/hari 30hari


Doksisiklin 100 mg/oral 2x/hari 30hari

NEUROSIFILIS

Benzidin penisilin kristal in aqua


12-14 jt UI/iv dalam sehari, kemudian 2-4 jtUI tiap 4jam 14hari

Alternatif

Tetrasiklin 500 mg/oral 4x/hari 30hari


Doksisiklin 100 mg/oral 2x/hari 30hari
Sefalosporin generasi ke III

SIFILIS PADA WANITA HAMIL


Tx dengan penisilin, kecuali alergi
Sifilis Dini

Eritromisin 500mg/oral 4x/hari 15 hari

Sifilis lanjut

Eritromisin 500mg/oral 4x/hari 30 hari

Kondiloma
Akuminata

167

Difinisi
Kelaina kulit berupa vegetasi bertangkai
dengan permukaan berjonjot yang
disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma
Virus)
Bersifat jinak ,superfisial terutama didaerah
genital.

168

Etiologi
HPV gol Papova Virus virus DNA
Telah dikenal 80 tipe. Tipe yang menyebabkan
kondiloma: 6,11,16,18,30,31,33,35,39,41,42,44,51,52
dan 56
Tipe 16 dan 18 erat hubungannya dengan Ca servik
Penularan: secara langsunghub. Seks
tidak langsung: kolam renang

169

Epidemiologi
Penyebaran bersifat kosmopolit higiene
memegang peranan
Lingkungan lembab dan basah mempermudah
timbulnya penyakit ini.
Biasanya diikuti infeksi penyakit lain: trikomoniasis,
kandidiasis, dan infeksi genetal non spesifik.
Laki-laki= Wanita (insiden tinggi pada seksual aktif,
usia 17-33 th)

170

Patogenesis
HPV replikasinya tergantung pada adanya
diferensiasi epitel skuamosa virus pada lapisan
terbawah, protein kapsid dan virus infeksius pada
lapisan superfisial sel yangberdiferensiasi.
Lap. Basalis tempat yang diinvasi mikroabrasi
mukosa
Fase laten: tanpa gejala sebulan setahun
Inkubasi: 3 minggu- 8 bulan

171

Predileksi
Terutama didaerah lipatan
Laki-laki: perineum dan sekitar anus, sulcul
coronarius, glan penis, muara urethra
eksterna,korpus dan pangkal penis.
Wanita : vulva dan sekitarnya, introitus
vagina, kadang porsio uteri.

172

Gambaran Klinis
Awal : papul jarum pentul papilomatosa
seperti bunga kol
Jika mendapat tekanal bilateral pipih seperti
jengger ayam.
Disertai Fluor albus
Hamil estrogen tinggi kelembaban tinggi dan
vaskularisasi meningkat pertumbuhan cepat
Kadang disertai: panas, gatal, nyeri dan mudah
berdarah
173

Pemeriksaan
Penunjang
Tes Asam Asetat
(acetowhite)sensitifitasnya tinggi
terutama untuk C.acuminata dan infeksi HPV
subklinis. Cara: As. Asetat 3-5% dioleskan
pada lesi dengan lidi kapas tunggu 5-10
menit perubahan warna putih.
Pemeriksaan Histopatologi

174

Diagnosis Banding
Veruka vulgaris: vegetasi tidak bertangkai,
kering berwarna abu-abu atau sama dengan
kulit.
Kondiloma lata: sifilis std II plakat erosif,
banyak spirochaeta pallidum permukaan
lebih halus, bentuk lebih bulat.
Karsinoma sel skuamosa: vegetasi seperti
kembang kol, mudah berdarah dan berbau.
175

Penatalaksanaan
Penatalaksaan Umum:
Jaga kebersihan , berhubungan seks dengan
memakai kondom
Penatalaksanaan khusus
Kemoterapi: podofilin 25%, TCA 50%, %Fluorourasil 1-5%
Imunoterapi: Interferon, Imiquimod krim 5%.
Pembedahan: bedah scalpel, bedah beku, Bedah
laser.
176

Komplikasi
Perubahan displasia terhadap daerah
sekitarnya
Transformasi kearah malignansi
genitourinaria
Penularan ke janin atau pasangan seksual

177

Prognosis
Sering residif tapi prognosisnya baik
Pada wanita dengan sistem imun yang
kurang persisten kondiloma, dapat juga
menjadi displasia vulva, vagina, atau serviks.

178

179

180

181

LGV

186

Sinonim
LGV dikenal juga sebagai:
1. Limfogranuloma inguinale
2. Limfogranuloma tropikum
3. Limfopatia venereum
4. Tropical bubo
5. Climatic bubo
6. Strumous bubo
7. Paradenitis inguinalis
8. Durand Nicolas Favre disease
187

EPIDEMIOLOGI
Bersifat sporadis tropik dan sub-tropik
Sering dijumpai didaerah rural sosial
ekonomi rendah
Dijumpai di usia 20-40 th
Laki-laki : Wanita = 5:1
Lesi primer laki-laki penis kel. Limfe
inguinal
Wanita : intravaginal/servikal intrapelvik,
anus atau rektal.
188

GEJALA
GEJALA KLINIS
KLINIS

GEJALA KLINIS
Ada 2 stadium yaitu :
1. Stadium dini
lesi primer di genital
sindrom inguinal

2. Stadium lanjut
Sindroma anorektal
Esthiomen (elefantiasis genetal)

189

Lesi primer
Setelah masa inkubasi 3-12 hari, tidak khas (erosi,
papul, ulkus dangkal tdk sakit sembuh sendiri,
tanpa jaringan parut)
Lokasi (pria): sulcus coronarius
frenulumpreputiumbatang penis
uretrascrotum, dapat disertai limfangitis dan absesabses kecil bag dorsal penis bubonuli
Lokasi (wanita): dindind post vaginaporsio post
servik vulva
Lesi ekstragenital terjadi pada mulut, jari, anus dan
rektum.

190

Sindrom inguinale
Timbul beberapa hari sampai beberapa minggu setelah lesi
primer menghilang.
Kelenjar limfe inguinal membesar, padat dan nyeri
berlekatan dengan sekitarnya(bentukan paket
memanjang).
Pembesaran kelenjar diatas dan dibawah lig inguinal pauparti
celahsign of groove.
Pembesaran kelenjar femoral, inguinal superfisial dan
profundus menyebabkan bentuk seperti tangga ettage
bubo.
Laki-laki > sering, pada wanita lesi primer umumnya terletak
lebih dalam drainase kearah kelenjar limfe di daerah
pelvis.
Menyebabkan terjadinya fistel di inguinal sembuh parut
191

Pemeriksaan
penunjang
Pengecatan Giemsa badan inklusi
Chlamydia
Tes Serologi :
CFT (Complement Fixation Test)
RIP (Radio Isotop Presipitation)

Kultur jaringan yolk sac embrio ayam

192

193

194

195

196

HERPES
GENITALIS

197

Definisi
Infeksi pada genital dan sekitarnya
Herpes simplex virus (HSV)
Vesikel / erosi / ulkus dangkal berkelompok
diatas dasar eritematosa
Sering kambuh

198

Herpes simplex virus


HSV 1:

Kontak non seksual


50-100% populasi dewasa
80% infeksi orolabial, 20% genital
Awal kehidupan

HSV 2:

Kontak seksual
5-95% populasi dewasa
80% genital, 20% orolabial
Periode seksual aktif
199

Patogenesis
Terpajan HSV dapat terjadi infeksi:

Episode I infeksi primer (inisial)


Episode I non infeksi primer
Infeksi rekuren
Asimtomatik
Tidak terjadi infeksi

200

Episode I infeksi primer


Virus ->tubuh hospes
Terjadi penggabungan dengan DNA hospes
Mengadakan multiplikasi/replikasi -> kelainan di
kulit
Antibodi spesifik belum ada
Lesi luas, gejala konstitusi berat
Virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke
ganglion sakralis, berdiam serta bersifat laten

201

Infeksi rekuren
Faktor pencetus +
Virus mengalami reaktivasi dan multiplikasi
kembali -> infeksi rekuren
Antibodi spesifik +
Kelainan tidak berat

202

Faktor pencetus

Trauma
Koitus berlebihan
Demam
Gangguan pencernaan
Stres emosi
Kelelahan
Makanan yang merangsang
Alkohol
Obat-obatan ( imunosupresif, kortikosteroid)
203

Infeksi rekuren
Pendapat terjadinya :

Faktor pencetus -> reaktivasi virus dalam


ganglion. Virus turun melalui akson saraf perifer
ke sel epitel kulit yang disarafinya, mengalami
replikasi, multiplikasi-> lesi
Virus terus menerus dilepaskan ke sel-sel epitel.
Pencetus + ->kelemahan setempat -> lesi rekuren

204

Gejala klinis
Masa inkubasi berkisar 3-7 hari , lebih lama.
Manifestasi klinis dipengaruhi :

Faktor hospes
Pajanan terdahulu dengan HSV
Episode terdahulu
Tipe virus

Gejala dapat berat dapat asimtomatik, penelitian


retrospektif 70% infeksi HSV 2 asimtomatik

205

Gejala klinis
Rasa terbakar, gatal daerah lesi (beberapa jam
sebelum lesi +)
Setelah lesi timbul, gejala konstitusi (malaise,
demam, nyeri otot)
Vesikel berkelompok, mudah pecah -> erosi
multipel, dasar eritem
Infeksi sekunder - -> sembuh 5-7 hari, jaringan
parut -

206

Gejala klinis
Infeksi inisial
Lebih berat, lebih lama
Kelenjar limfe regional membesar,nyeri
Penyembuhan lama -> 2-4 minggu, serangan
berikut lebih cepat
Dapat terjadi disuria ( lesi di daerah uretra,
periuretra), dapat retensi urin
Infeksi di servix -> perubahan difus, ulkus multipel,
ulkus besar dan nekrotik. Dapat tanpa gejala.

207

Gejala klinis
Infeksi rekuren

Dapat terjadi cepat atau lambat


Gejala lebih ringan
Nyeri, gatal +, gejala prodromal +
Lesi bersifat lokal
Penyembuhan lebih cepat
Antibodi spesifik +

208

Gejala klinis
Infeksi inisial dan rekuren dapat tanpa gejala
Bukti dengan adanya antibodi HSV 2 + pada
orang tanpa riwayat penyakit herpes genitalis
Antibodi HSV 1 + -> infeksi HSV 2 lebih
ringan -> infeksi inisial HSV 2 asimtomatik
( penderita infeksi HSV 1 +)

209

Gejala klinis
Tempat predileksi:
Pria :

Preputium, glans penis,batang penis, uretra, daerah


anal.
Daerah skrotum jarang

Wanita:

Labia mayor/minor, klitoris, introitus vagina, servix


Perianal, bokong, mons pubis jarang

210

Gejala klinis
Herpes genitalis atipikal
Wanita:
Manifestasi yang tidak khas, bentuk fisura, furunkel,
ekskoriasi, eritema vulva nonspesifik
Rasa gatal, nyeri +

Pria:
Fisura liniar pada preputium, bercak merah di glans
penis

Lesi ektragenital : paha, bokong, sela paha


sering pada wanita daripada pria.
211

Gejala klinis
Reaktivasi subklinis/asimtomatik

Sebagian besar episode transmisi seksual dan vertikal


terjadi pada keadaan ini
HSV ditemukan pada kultur saluran genitourin bawah
wanita dan pria tanpa ada ulkus genital dan lesi lain
Wanita, pelepasan virus asimtomatik di serviks, vulva,
anus, uretra
Pria, di kulit penis, perianal, uretra.
Reaktivasi HSV subklinis paling tinggi terjadi dalam 6
bulan setelah infeksi

212

Herpes genitalis pada


kehamilan
Hamil , timbul herpes genitalis -> perlu perhatian
Virus -> plasenta sampai sirkulasi fetal ->
kerusakan, kematian janin
Infeksi neonatal , angka mortalitas 60%.
Separo yang hidup cacat neurologis, atau kelainan
mata
Ensefalitis, mikrosefali, hidrosefali, koroidoretinitis,
keratokonjunctivitis, hepatitis, lesi kulit
Transmisi trimester I -> abortus, trimester 2 ->
prematur, transmisi intrapartum
213

Herpes genitalis pada


imunodefisiensi
Kelainan cukup progresif -> ulkus dalam
didaerah anogenital
Lesi lebih luas
Imunodefisiensi tidak berat -> rekurensi lebih
sering, kesembuhan lama

214

Komplikasi
Paling ditakuti -> pada bayi baru lahir

Awal kehamilan -> abortus / malformasi kongenital


(mikrosefali)
Bayi lahir, ibu herpes genitalis -> hepatitis, infeksi berat,
ensefalitis, keratokonjuntivitis, erupsi kulit, lahir mati

Meningitis herpetika -> HSV 2


Ensefalitis -> HSV1
Perluasan lokal, penyebaran virus ektragenital

215

Diagnosis
Klinis :

Kelompok vesikel multipel, riwayat lesi yang


sama sebelumnya
Nyeri

Diagnosis banding:

Ulkus karena Treponema pallidum,


Ulkus karena Haemophylus ducrey
Penyebab non infeksi

216

Diagnosis
Laboratorium:
Harus dilakukan pada pasien dengan lesi/ klinis
meragukan
Penting untuk menjelaskan potensi infeksi
selama episode lesi
Identifikasi individu menularkan secara subklinis
Seleksi wanita beresiko menularkan pada
bayinya
Memastikan diagnosis
217

Lab.
Lab. diagnostiK
diagnostiK HSV
HSV
Kultur:

Gold standard

Tidak dapat
membedakan
HSV1- HSV2

Deteksi antigen:

Tes imunofluoresensi
langsung

Deteksi partikel
virus:

Tes imunoperoksidase
ELISA
PCR
Mikroskop elektron

Dapat
membedakan
HSV1- HSV2

Deteksi antibodi:

Tes serologi

Tidak dapat
membedakan

Cito dan patologi:

HP/cytology

Tidak dapat
membedakan
218

Diagnosis
Paling sederhana, tes tzank, cat giemsa -> sel
raksasa inti banyak
Mikroskop elektron -> kelompok virus herpes tak
dapat dibedakan
Kultur jaringan -> cara paling baik. Titer virus tinggi,
hasil positif dalam 24-48 jam. Lama dan mahal
Tes mendeteksi antigen HSV -> lebih cepat
Secara imunologik: imunofluoresen, imunoperoksidase,
ELISA

219

Diagnosis
Pemeriksaan ELISA, menentukan adanya antigen
HSV. Sensitivitas 95%, sangat spesifik. Waktu 4,5
jam. Dapat untuk deteksi antibodi terhadap HSV
dalam serum
Imunoperoksidase tak langsung, imunofluoresensi
langsung memakai antibodi poliklonal ->hasil positif
dan negatif palsu. Antibodi monoklonal pada
imunofluoresensi -> menentukan tipe virus
Imunoflouresensi tak langsung kerokan lesi,
sensitivitas 78-88%
220

Penatalaksanaan
Tujuan:

Mencegah infeksi ( terapi profilaksis)


Memperpendek masa sakit dan kekerapan komplikasi
infeksi primer
Mencegah terjadi latensi dan rekurensi klinis setelah
episode pertama
Mencegah rekurensi pada yang asimtomatik
Mengurangi transmisi penyakit
Eradikasi infeksi laten

Saat ini beberapa tujuan saja yang bisa dipenuhi

221

Pengobatan profilaksis
Penerangan sifat penyakit, dapat menular
bila sedang serangan -> abstinensia
Proteksi individual, digunakan alat perintang
dengan busa spermisidal dan kondom .
Menghindari faktor pencetus
Konsultasi psikiatrik , stres -> serangan

222

Pengobatan non
spesifik
Nyeri dan gejala lain dengan analgetika,
antipiretik dan antipruritus
Zat pengering antiseptik, yodium povidon
mengeringkan lesi, mencegah infeksi,
mempercepat penyembuhan
Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder

223

Pengobatan spesifik
Infeksi inisial / episode pertama:

Asiklovir 200 mg per oral, 5 kali sehari, selama 7


hari
Atau Valasiklovir, 500 mg per oral, 2 kali sehari
selama 7 hari
Mengurangi pembentukan lesi baru, mengurangi
lama nyeri, mengurangi waktu penututupan luka,
perkembang biakan virus.
Tidak mempengaruhi perjalanan penyakit

224

Pengobatan
Infeksi rekuren
Asiklovir, 200 mg per oral, 5 kali sehari, selama 5
hari
Atau Valasiklovir, 500 mg per oral, 2 kali sehari,
selama 5 hari
Atau keadaan ringan, krim asiklovir.
Pengobatan dilakukan sejak masa prodromal
atau dalam 1 hari setelah timbul lesi.
Pengobatan memperpendek waktu lesi genital
225

Pengobatan
Supresif:
Asiklovir, 400 mg per oral, 2 kali sehari, secara
terus menerus.
Atau valasiklovir, 500 mg per oral, sekali dalam
sehari
Pengobatan akan menurunkan frekuensi
kambuhan.
Pengobatan ini mengurangi tetapi tidak
menghentikan perkembang biakan virus yang
asimtomatik
226

Pengobatan
Penyakit dengan gejala berat:

Asiklovir, 5-10 mg per kg BB, intravenus berikan


setiap 8 jam, selama 5-7 hari atau sampai
tercapai perbaikan klinis

227

Pengobatan
Ko- infeksi HIV:

Dapat terjadi ulserasi kulit dan mukosa persisten


dan atau berat -> area luas
Lesi sangat nyeri, atipis
Respon dengan asiklovir +, dosis dinaikkan
periode lebih lama
Asiklovir 400 mg per oral 3-5 kali perhari sampai
resolusi +

228

229

230

231

232

233

234

235