Anda di halaman 1dari 34

DEMOKRASI

Pendidikan Kewarganegaraan
STPP Yogyakarta

Beberapa acuan
Para ahli hanya dapat memberikan batasan-batasan
atau kriteria-kriteria mengenai demokrasi, misalnya
Robert A. Dahl (1998) yang memberikan 6 kriteria:
Pejabat-pejabat yang dipilih oleh rakyat
Pemilu yang bebas, adil dan berkesinambungan
Kebebasan berekspresi
Akses informasi yang terbuka luas
Kebebasan berasosiasi
Kewarganegaraan yang inklusif
Sumber ; Wood, 2004

Beberapa acuan

Pandangan Henry B. Mayo (Budiardjo, 2003):


Penyelesaian perselisihan dengan damai dan
melembaga
Menjamin terselenggaranya perubahan secara
damai di tengah masyarakat yang terus berubah
Pergantian pimpinan/pejabat secara teratur
Membatasi penggunaan kekerasan
Mengakui dan menganggap wajar
keanekaragaman
Menjamin tegaknya keadilan

Beberapa acuan

Menurut Morlino (2004):


Demokrasi yang baik paling tidak harus memenuhi 3 kualitas:
1. Kualitas hasil
Pemerintahan yang memiliki legitimasi yang dapat memuaskan warga
negaranya.
2. Kualitas isi/substansi
Warga negara memiliki kebebasan dan kesetaraan
3. Kualitas prosedur
Warga negara memiliki kebebasan untuk memeriksa dan
mengevaluasi bagaimana pemerintahnya mencapai tujuan-tujuan
kebebasan dan kesetaraan sesuai dengan hukum yang berlaku

Momentum-momentum

Runtuhnya tembok Berlin


Hancurnya komunisme, kecuali Cina
Kegagalan diktatoral di Amerika Latin
Berakhirnya apartheid

Mendorong perkembangan demokrasi secara global.


(Weale, 2007)

Mengapa demokrasi?
Membuka kesempatan partisipasi publik secara luas.
Menentukan tujuan
Memilih pemimpin
Mengawasi pemerintahan
Meminta pertanggungjawaban
Jadi secara tidak langsung masyarakat ikut serta di
dalam proses pemerintahan melalui serangkaian
kegiatan-kegiatan.

PENGERTIAN
DEMOKRASI

DEMOKRASI

Istilah demokrasi berasal


dari
Bahasa
Yunani
demos,
yang
berarti
rakyat dan kratein berarti
pemerintahan.
Dengan
demikian
demokrasi
berarti sistem kekuasaan
yang berada di tangan
rakyat.
Menurut
Abraham
Lincoln
demokrasi
adalah pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat.

MACAMMACAM DEMOKRASI
1. Atas Dasar Penyaluran Kehendak Rakyat
Menurut cara penyaluran kehendak rakyat demokrasi dibedakan
atas:
a) Demokrasi Langsung
Demokrasi langsung adalah paham demokrasi yang
mengikut
sertakan setiap warga negara dalam
permusyawaratan untuk menentukan
kebijaksanaan umum
negara.
b) Demokrasi Tidak Langsung
Demokrasi tidak langsung adalah demokrasi yang
dilaksanakan melalui sistem perwakilan. Penerapan demokrasi ini
berkaitan dengan kenyataan suatu
negara yang jumlah
penduduknya
banyak,
wilayahnya
luas,
dan
permasalahan yang dihadapinya semakin rumit dan kompleks.

2. Atas Dasar Prinsip Ideologi


Berdasarkan paham ini terdapat dua bentuk demokrasi,
yakni:
1) Demokrasi Konstitusional
Demokrasi konstitusional adalah demokrasi yang didasarkan
pada kebebasan atau individualisme. Ciri khas demokrasi
konstitusional adalah kekuasaan pemerintahnya terbatas dan
tidak diperkenankan banyak campur tangan dan bertindak
sewenang- wenang terhadap warganya. Kekuasaan
pemerintah dibatasi oleh konstitusi.

2) Demokrasi Rakyat
Demokrasi rakyat disebut juga demokrasi proletar yang
berhaluan Marxisme-Komunisme. Demokrasi rakyat mencitacitakan kehidupan yang tidak mengenal kelas sosial. Manusia
dibebaskan dari keterikatannya kepada pemilikan pribadi tanpa
ada penindasan atau paksaan. Akan tetapi, untuk mencapai
masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan cara paksa atau
kekerasan.

3. Atas dasar yang menjadi titik perhatiannya


Dilihat dari titik berat Yang Menjadi Perhatiannya, demokrasi
dapat dibedakan:
a) Demokrasi Formal (negara-negara liberal)
adalah demokrasi yang menjunjung tinggi persamaan dalam
bidang
politik tanpa disertai upaya untuk
mengurangi/menghilangkan kesenjangan dalam
bidang
ekonomi.

b)

Demokrasi Material (negara-negara komunis)

adalah demokrasi yang menitik beratkan pada upaya-upaya


menghilangkan perbedaan dalam bidang ekonomi,
sedangkan persamaan bidang politik kurang diperhatikan
dan
bahkan kadang-kadang dihilangkan.

c)

Demokrasi Gabungan (negara-negara nonblok)

adalah demokrasi yang mengambil kebaikan serta


membuang keburukan dari demokrasi formal dan demokrasi
material.

Menurut Sklar bentuk demokrasi terbagi atas 5 (lima) macam, yaitu:


a) Demokrasi Liberal
yaitu pemerintahan dibatasi oleh undang-undang dan pemilihan
umum diselenggarakan dalam waktu yang ajeg.
b) Demokrasi Terpimpin
para pemimpin percaya bahwa tindakan mereka dipercayai rakyat,
tetapi menolak persaingan dalam pemilihan umum untuk
menduduki kekuasaan.
c) Demokrasi Sosial
menaruh kepedulian pada keadaan sosial dan egalitarianisme bagi
persyaratan untuk memperoleh kepercayaan politik.
d. Demokrasi Partisipasi
menekankan hubungan timbal balik antara penguasa dan yang
dikuasai.
e. Demokrasi Konstitusional
menekankan pada proteksi khusus bagi kelompok-kelompok
budaya dan menekankan kerja sama yang erat diantara elite yang
mewakili bagian budaya masyarakat utama.

BUDAYA DEMOKRASI

MAKNA DEMOKRSI

MASYARAKAT
MADANI ( CIVIL SOCIATY

BENTUK BENTUK
PEMERINTAHAN

PRINSIP-PRINSIP
DEMOKRASI DAN
DEMOKRASI
PANCASILA

DEMOKRASI
SEBAGAI SIS
TEM POLITIK

PRINSIP DEMOKRASI
DALAM PELAKSANAAN
PEMILU

DEMOKRASI
SEBAGAI PAN
DANGAN HIDUP

NILAI DAN BUDAYA


DEMOKRASI

PRINSIP DEMOKRASI
DALAM PELAK
SANAAN
PEMILU

PELAKSANAAN DEMOK
RASI DI INDONESIA

PRINSIP DEMOKRASI
DAN NON DEMOKRASI

PELAKSANAAN DEMOK
RASI MASA REVOLUSI

PELAKSANAAN DEMOK
RASI MASA ORDE BARU

NILAI DEMOKRASI
PRINSIP PEMERINTA
HAN DEMOKRASI

PELAKSANAAN DEMOK
RASI MASA TRANSISI

BUDAYA DEMOKRASI
PRINSIP PEMERIN
TAHAN OTORITER
PENGERTIAN
DEMOKRASI

PELAKSANAAN DEMOK
RASI MASA REFORMASI
PELAKSANAAN DEMOK
RASI MASA ORDE LAMA

PRILAKU YANG MENDU


KUNG TEGAKNYA
PRINSIP PRINSIP
DEMOKRASI

PENERAPAN BUDAYA
DEMOKRASI DI
LINMGKUINGAN

[PENERAPAN BUDAYA
DEMOKRASI DI
KEHIDUPAN BER
NEGARA

MAKNA DEMOKRASI
DEMOS
YUNANI
KRATOS

DEMOK
RASI

RAKYAT
KEKUA
SAAN

KEKUASAAN
DARI
RAKYAT

DEMOKRASI ADALAH BENTUK


PEMERINTAHAN YANG BERASAL DARI
RAKYAT, DILAKUKAN OLEH RAKYAT DAN DIPERGUNAKAN
UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT

DEMOCRACY IS THE GOVERNMENT OF THE


PEOPLE, BY THE PEOPLE
FOR THE PEOPLE

DEMOKRASI SEBAGAI SISTEM POLITIK


MONARKI: BERSIPAT KERAJAAN
BENTUK
PEMERINTA
HAN

REPUBLIK: DIPIMPIN SEORANG


PRESIDEN ATAU PERDANA
MENTERI

RAJA
KAISAR
SULTAN
PENUN
JUKAN/
PEMILIHAN

POLITIK DEMOKRASI:
1.MEMULIHKAN HAK AZASI MANUSIA
2.MENGANGKAT HARKAT DAN DERAZAT MANUSIA
3. MEMBERIKAN KEKUASAAN PADA RAKYAT
4.MEMBERIKAN KEDAULATAN PENUH
PADA RAKYAT

KETU
RUNAN/
PEWA
RISAN

DEMOKRASI SEBAGAI
PANDANGAN HIDUP

DEMOKRASI : BENTUK KEHIDUPAN


BERMASYARAKAT/BERBANGSA/BERNEG
ARA
DEMOKRASI SEBAGAI SIKAP HIDUP
BERISI NILAI DEMOKRASI DAPAT
DIMILIKI, DIHAYATI,DIAMALKAN
MENURUD JOHN DEWEY: IDE POKOK
DEMOKRASI PANDANGAN HIDUP YANG
DICERMINKAN DENGAN PARTISIPASI
SETIAP WARGA NEGARA

NILAI DAN B UDAYA DEMOKRASI

MENURUT
HENRY B.MAYO
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

PENYELESAIAN PERTIKAIAN
SECARA DAMAI / SUKA RELA
MENJAMIN PERUBAHAN
SECARA DAMAI
PERGANTIAN PENGUASA
SECARA TERATUR
PEMAKSAAN YANG SEDIKIT
PENGAKUAN DAN
PENGHORMATAN TERHADAP
KEANEKA RAGAMAN
PENEGAKAN KEADILAN
MEMAJUIKAN
PENGETAHUAN
PENGAKUAN/PENGHORMATA
N KEBEBASAN

MENURUT
RUSLI KARIM
PERLUNYA KEPRIBADIAN
YANG DEMOKRATIS :
1.
INISIATIF
2.
DISPOSISI
3.
TOLERANSI
4.
KECINTAAN
TERHADAP
KETERBUKAAN
5.
KOMITMEN
6.
TANGGUNG JAWAB
7.
KERJA SAMA

MENURUT
ZAMRONI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

TOLERANSI
KEBEBASAN
BERPENDAPAT
MEMAHAMI/MENGAKU
I KEANEKA RAGAMAN
BEBAS
BERKOMUNIKAS
MENJUNGJUNG NILAI
DAN MARTABAT
BERDIRI SENDIRI
SALING MENGHARGAI
MAMPU MENAHAN
DIRI
KEBERSAMAAN/KESEI
MBANGAN

MASYARAKAT MADANI

Konsep Masyarakat madani; merupakan terjemahan


dari konsep civil society yang pertama kali digulirkan
oleh Dato Seri Anwar Ibrahim dalam ceramahnya
pada Simposium Nasional dalam rangka Forum
Ilmiah pada acara Festifal Istiqlal, 26 September 1995
di Jakarta.
Menurut Anwar Ibrahim yang dimaksud dengan
masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur
yang diasaskan pada prinsip moral yang menjamin
keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan
kestabilan masyarakat.

Paradigma masyarakat madani dilatarbelakangi oleh konsep


kata ilahi, kota peradaban atau masyarakat kota.
Disisi lain, pemaknaan Masyarakat Madani dilandasi oleh
konsep Al-Mujtama Al-Madani yang diperkenalkan oleh Prof.
Naquib al-Attas, seorang ahli Sejarah Peradaban Islam dari
Malaysia dan pendiri dari Institutefor Islamic Though and
Civilization (ISTAC), yang secara defenitif memandang
Masyarakat Madani merupakan konsep masyarakat ideal yang
mengandung dua komponen besar yakni masyarakat kota dan
masyarakat yang beradab.
Masyarakat Madani adalah sebuah tatanan komunitas
masyarakat yang mengedepankan toleransi, demokrasi dan
berkeadaban
serta
menghargai
adanya
pluralisme
(kemajemukkan).

KARAKTERISTIK MASYARAKAT
MADANI
a. Free Public Sphere
adalah adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana dalam
mengemukakan pendapat.. Menurut Arendt dan Habermas yang dimaksud
dengan ruang publik adalah wilayah dimana masyarakat sebagai warga
negara memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik. Warga
negara berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan
pendapat, berserikat, berkumpul serta mempublikasikan informasi kepada
publik.

b. Demokratis
Demokratis merupakan satu identitas yang menjadi penegak wacana
masyarakat madani, dimana dalam menjalani kehidupan, warga negara
memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya,
termasuk berinteraksi dengan lingkungannya. Demokratis berarti
masyarakat dapat berlaku santun dalam pola hubungan interaksi dengan
masyarakat sekitarnya dengan tidak mempertimbangkan suku, ras dan
agama.

c. Toleran
Toleran adalah suatu sikap yang dikembangkan dalam masyarakat madani
untuk menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas
yang dilakukan oleh orang lain. Toleransi memungkinkan adanya
kesadaran masing-masing individu untuk menghargai dan menghormati
pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lain
yang berbeda.

Pluralisme
Sebagai sebuah prasyarat penegakan masyarakat madani, maka
pluralisme harus dipahami secara mengakar dengan menciptakan
sebuah tatanan kehidupan yang menghargai dan menerima
kemajemukan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pluralisme
tidak bisa dipahami hanya dengan sikap mengakui dan menerima
kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi harus disertai dengan
sikap yang tulus untuk menerima kenyataan pluralisme sebagai
bernilai positif, merupakan rahmat Tuhan.
e. Keadilan Sosial (Social Justice)
Keadilan dimaksudkan untuk menyebutkan keseimbangan dan
pembagian yang proposional terhadap hak dan kewajiban setiap
warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Hal ini
memungkinkan tidak adanya monopoli dan pemusatan salah satu
aspek kehidupan pada suatu kelompok masyarakat.
d.

PRINSIP DEMOKRASI
Pengakuan hak asasi manusia.
Pemisahaan atau pembagian kekuasaan (trias politika).
Pemerintahan menurut hukum.
Jaminan hak individu secara konstitusional, termasuk
prosedurnya.
Badan kehakiman yang bebas dan tidak memilih.
Pemilihan umum yang bebas dan kebersamaan politik.
Kebebasan mengemukakan pendapat
Kebebasan berserikat dan berposisi.
Pendidikan politik/kewarganegaraan (civil education).

DEMOKRASI PANCASILA
Notonegoro Demokrasi Pancasila adalah kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan yang ber-Ketuhanan
Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan yang adil
dan beradab, yang mempersatukan Indonesia, dan
yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dardji Darmidihardjo Demokrasi Pancasila adalah
paham demokrasi yang bersumber pada kepribadian
dan falsafah hidup Bangsa Indonesia, yang
perwujudannya dalam Pembukaan UUD 1945.

PRINSIP DEMOKRASI PANCASILA


Persamaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri
dan orang lain.
Mewujudkan rasa keadilan sosial.
Pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat.
Mengutamakan
persatuan
dan
nasional
dan
kekeluargaan.
Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional.

ASPEK DEMOKRASI PANCASILA


Aspek formal
mempersoalkan proses dan caranya rakyat menunjuk wakil-wakilnya dalam
badan-badan perwakilan dan pemerintahan dan bagaimana mengatur
permusyawaratan wakil-wakil rakyat secara bebas, terbuka, dan jujur untuk
mencapai konsensus bersama.

Aspek material
mengemukakan gambaran manusia, dan mengakui harkat dan martabat
manusia dan menjamin terwujudnya masyarakat manusia Indonesia sesuai
dengan gambaran, harkat dan martabat tersebut

Aspek normatif (kaidah)


mengungkapkan seperangkat norma atau kaidah yang membimbing dan
menjadi kriteria pencapaian tujuan.

Aspek optatif
mengetengahkan tujuan dan keinginan yang hendak dicapai.

Aspek organisasi
mempersoalkan organisasi sebagai wadah pelaksanaan Demokrasi Pancasila
dimana wadah tersebut harus cocok dengan tujuan yang hendak dicapai.

Aspek kejiwaan
menjadi semangat para penyelenggara negara dan semangat para pemimpin
pemerintahan.

PEMILIHAN UMUM

Pemilihan umum adalah suatu cara memilih wakil-wakil


rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat serta salah
satu pelayanan hak asasi warga negara bidang politik.
Pada dasarnyap pemilihan umum dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu:
1. Cara Langsung berarti rakyat secara langsung
memilih
wakil-wakilnya yang akan duduk
dibadan
perwakilan
rakyat,
contonya:
pemilu
di
Indonesia, untuk memilih
anggota DPRD
II, DPRD I,
DPD dan DPR.
2. Cara Bertingkat berarti rakyat memilih dulu wakilnya
(senat), kemudian wakilnya itulah yang akan memilih
wakil
rakyat yang akan
duduk
dibadan
perwakilan rakyat.

SISTEM PEMILIHAN UMUM


SISTEM DISTRIK
Sistem Distrik merupakan sistem pemilu yang paling
tua dan didasarkan kepada kesatuan goegrafis,
dimana satu kesatuan geografis mempunyai satu
wakil di parlemen.
Sistem distrk sering dipakai dalam negara yang
mempunyai sistem dwi partai, seperti Inggris serta
bekas jajahannya (India dan Malaysia) dan Amerika.
Namun, sistem distrik juga dapat dilaksanakan pada
satu negara yang menganut sistem multi partai

KELEBIHAN SISTEM DISTRIK


Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh
penduduk distrik itu, hubungannya dengan penduduk distrik lebih
erat. wakil tersebut lebih condong untuk memperjuangkan
kepentingan distrik.
Sistem ini lebih cenderung kearah koalisi partai-partai, karena kursi
yang diperebutkan dalam satu daerah (distrik) hanya satu sehingga
mendorong partai menonjolkan kerjasama dari pada perbedaan,
setidak-tidaknya menjelang pemilu, melalui stembus record.
Fragmentasi partai atau kecendrungan untuk membentuk partai
baru dapat terbendung, malah dapat melakukan penyederhanaan
partai secara alamiah tanpa paksa. Di Inggris dan Amerika Serikat
sistem ini menunjang bertahannya sistem dwi partai.
Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan
mayoritas dalam parlemen, tidak perlu diadakan koalisi partai lain,
sehingga mendukung stabilitas nasional.
Sistem ini sederhana serta mudah untuk dillaksanakannya.

KEKURANGAN SISTEM DISTRIK


Kurang memperhatikan adanya partai kecil dan golongan
minoritas, apabila golongan tersebut terpencar dalam beberapa
distrik.
Kurang representatif, dimana partai yang kalah dalam suatu
distrik kehilangan suara yang telah mendukungnya. Dengan
demikian, suara tersebut tidak diperhitungkan lagi. Kalau
sejumlah partai ikut dalam setiap distrik akan banyak jumlah
suara yang hilang, sehingga dianggap kurang adil oleh partai
atau golongan yang dirugikan.
Ada kecendrungan si wakil lebih mementingkan kepentingan
daerah pemilihannya dari pada kepentingan nasional.
Umumnya kurang efektif bagi suatu masyarakat heterogen.

SISTEM PROPORSIONAL
Sistem Proporsional adalah prosentasi kursi di DPR
dibagi kepada tiap-tiap partai politik, sesuai dengan
jumlah suara yang diperolehnya dalam pemilihan
umum.
Untuk keperluan itu ditentukan satu pertimbangan,
misalnya 1 (satu) orang wakil: 400.000 penduduk.
Sistem proporsional pada prakteknya sering
dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain,
seperti sistem daftar (list system), dimana partai
mengajukan daftar calon dan sipemilih memilih satu
partai dengan semua calon yang diajukan oleh
partai untuk bermacam-macam kursi yang sedang
diperebutkan.

KELEBIHAN SISTEM PROPORSIONAL

Sistem Proporsional dianggap lebih demokratis,


dalam arti lebih egalitarian, karena asas one
man one vote dilaksanakan secara penuh tanpa
ada suara yang hilang.
Sistem ini dianggap representatif, karena jumlah
kursi partai dalam parlemen sesuai dengan
jumlah suara yang diperolehnya dari masyarakat
dalam pemilu.

KEKURANGAN SISTEM
PROPORSIONAL

Mempermudah fragmentasi (pembentukan partai baru). Jika terjadi


konflik intern partai, anggota yang kecewa cendrung membentuk
partai baru, sehingga peluang untuk bersatu kurang.
Sistem ini lebih memperbesar perbedaan yang ada dibandingkan
dengan kerjasama sehingga ada kecendrungan untuk memperbanyak
jumlah partai, seperti di Indonesia setelah reformasi 1998.
Sistem ini memberikan peranan atau kekkuasaan yang sangat kuat
kepada pemimpin partai, karena kepemimpinan menentukan orang
yang akan dicalonkan menjadi wakil rakyat. Bahkan ada
kecendrungan wakil rakyat lebih menjaga kepentingan dewan
pimpinan partainya dari padakepentingan rakyat.
Wakil yang dipilih renggang ikatannya dengan warga yang telah
memilihnya, karena saat pemilihan umum yang lebih menonjol adalah
partainya. Peranan partai lebih menonjol dari pada kepribadian sang
wakil. Di Indonesia sistem ini dianalogikan dengan sebutan memilih
kucing dalam karung,
Karena banyaknya partai bersaing, sulit bagi suatu partai untuk
meraih mayoritas (50% +1) di parlemen.

SISTEM GABUNGAN

Sistem
gabungan
merupakan
sistem
yang
menggabungkan sistem distrik dengan proporsional.
Sistem ini membagi wilayah negara dalam beberapa
daerah pemilihan.
Sisa suara pemilih tidak hilang, melainkan
diperhitungkan dengan jumlah kursi yang belum
dibagi.
Sistem gabungan diterapkan di Indonesia sejak
pemilu tahun 1977 dalam memilih anggota DPR,
DPRD I, dan DPRD II. Sistem ini disebut juga Sistem
Proporsional berdasarkan stelsel daftar.

PERILAKU BUDAYA DEMOKRASI


WARGA NEGARA
Melaksanakan hak pilih aktif dalam proses pemilu.
Berpartisipasi aktif dalam proses pemilihan Kepala Desa, Ketua RW,
RT dan sebagainya.
Tidak melakukan tindakan anarki apabila calon yang dipilih tidak
memperoleh kemenangan.
Musyawarah mufakat dalam menyelesaiukan setiap permasalahan
yang terjadi di masyarakat.
Penyampaian aspirasi melalui saluran politik resmi, seperti melalui
partai politik, ormas atau pemerintah.
Dalam menyalurkan aspirasi melalui demonstrasi dilakukan dengan
santun, tidak mengganggu ketertiban umum.
Melakukan kontrol dan pengawasan terhadap kebijakan yang dibuat
pemerintah atau DPR.
Melakukan komunikasi politik dengan para pemimpin politik atau
politikus
Tidak melakukan konfrontasi, mogok dalam menyalurkan aspirasi
politiknya.