Anda di halaman 1dari 95

Demam Typhoid dan

Anemia
Viane Michelle
112014225

Identitas Pasien
Nama lengkap : Ny. D
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat/tanggal lahir: Jakarta/
5 Januari 1971
Suku bangsa : Indonesia
Usia : 45 tahun
Agama : Islam
Pendidikan: SMA
Pekerjaan: Guru SD

Anamnesis
OS datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 4 hari
SMRS. Demam dirasakan terutama sore hingga malam
hari. OS juga mengeluhkan mual, muntah satu kali berisi
makanan, pusing, dan BAB berwarna kehitaman satu kali
dengan bau yang seperti biasa, konsistensi keras, tidak ada
darah dan lendir. OS mengaku tidak rutin BAB (3-4 hari
sekali) karena OS tidak suka mengkonsumsi buah maupun
sayur. OS tidak pernah mengkonsumsi jamu-jamuan
maupun obat-obatan lain (misalkan obat nyeri sendi). OS
baru saja selesai menstruasi pada hari ketiga SMRS.
Menstruasi biasanya berlangsung selama 5 hari, dan dalam
sehari OS mengganti pembalut sebanyak 2-3 kali. BAK
dalam batas normal. Mimisan dan gusi berdarah disangkal.

Anamnesis
OS sudah berobat ke Puskesmas 4 hari SMRS dan
diberikan paracetamol dan amoksisilin. OS memiliki
riwayat sakit maag. OS mengaku beberapa minggu
ini sering membeli minuman dingin di pinggir jalan.
Riwayat diabetes melitus dan hipertensi disangkal.
Dilingkungan sekitar rumah OS tidak ada yang
mengalami keluhan serupa. Kakak OS dirawat di RS
dengan keluhan sering mimisan sejak 4 tahun lalu,
dicurigai karena hidungnya pernah ditonjok
temannya saat latihan karate. Ibu OS pernah
masuk RS dengan keluhan muntah darah akibat
minum obat-obatan nyeri sendi.

Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu
OS mengatakan ia pernah keguguran karena anemia,
menurut pengakuannya, kadar Hbnya kurang lebih 6
sehingga ia menjalani transfusi darah.
Riwayat Penyakit Keluarga
Di dalam keluarga, kakak laki-laki OS mengalami
riwayat penyakit serupa. Riwayat penyakit orangtua
yang serupa tidak jelas. Riwayat asma (-), hipertensi
(-), diabetes mellitus (-), kelainan congenital (-) dan
alergi (-).

Family Tree

Pemeriksaan Fisik
Tanggal pemeriksaan : 4-01-2016 Pukul
15.00 WIB
Keadaan umum : Tampak sakit ringan.
Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
Tanda-tanda vital:
Tekanan darah : 130/80
Denyut nadi : 107 x/ menit (kuat)
Suhu : 39,2C (axilla)
Laju nafas : 18 x/menit, reguler
Saturasi : 99%

Pemeriksaan Fisik
Kepala : Normocephalic; deformitas (-); rambut warna
hitam; tidak mudah rontok; kulit kepala lembab
Mata : Perdarahan subkonjungtiva -/-, Konjungtiva
anemis +/+ ,Sklera ikterik -/-; membuka spontan, pupil
isokor.
Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, sekret
tidak ada
Hidung : Bentuk normal, deviasi septum tidak ada,
epistaksis (-)
Mulut : Bentuk normal, lidah tidak kotor dan tidak
membesar, bibir kering, Gusi berdarah (-), Sianosis (+),
atrofi papil lidah (-)
Leher : KGB tidak teraba membesar, retraksi
suprasternal (-)

Thorax
Paru-paru :
Inspeksi : tampak simetris, retraksi ICS (-)
Palpasi : sela iga normal, tidak melebar maupun
mengecil, tidak teraba massa
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/Jantung :
Inspeksi : pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : teraba ictus cordis pada garis midklavikula sela
iga IV
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : datar, tidak tampak benjolan
Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium(+)
Hepar : tidak teraba membesar
Lien : tidak teraba membesar
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal

Anus dan Rektum : Anus (+) normal. Tidak


terdapat luka / tanda-tanda inflamasi.
Genitalia : Perempuan, hasil RT tidak
ditemukan darah, lendir, maupun kotoran.
Kulit : Ptekie (-), ikterik (-), turgor kulit perut
normal, tekstur kulit halus dan kering.

Ekstremitas (akral hangat)


Tonus : Normotonus
Massa : Normotrofi
Sendi : Normal
5

Kekuatan5

Edema

Sensori
Sianosis

Pemeriksaan Penunjang
Hasil

Satuan

Nilai Normal

7,8

g/dL

11,7-15,5

2.700

ribu

3600-11.000

Hematokrit

26

35-47%

Trombosit

156.000

Ribu

150-440.000

Hemoglobin
Leukosit

Widal

Typhi O

Typhi H

1/160

Paratyphi AO

Paratyphi AH

Paratyphi BO

Paratyphi BH

Resume

OS datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 4


hari SMRS. Demam dirasakan terutama sore hingga
malam hari. OS juga mengeluhkan mual, muntah satu
kali berisi makanan, pusing, dan BAB berwarna
kehitaman satu kali dengan bau yang seperti biasa,
konsistensi keras, tidak ada darah dan lendir. OS
mengaku tidak rutin BAB (3-4 hari sekali) karena OS
tidak suka mengkonsumsi buah maupun sayur. OS
tidak pernah mengkonsumsi jamu-jamuan maupun
obat-obatan lain (misalkan obat nyeri sendi). OS baru
saja selesai menstruasi pada hari ketiga SMRS.
Lamanya menstruasi dan jumlahnya dbn. Mimisan dan
gusi berdarah disangkal.

Resume
OS sudah berobat, diberikan paracetamol dan amoksisilin.
OS memiliki riwayat sakit maag. OS mengaku beberapa
minggu ini sering membeli minuman dingin di pinggir
jalan. Riwayat diabetes melitus dan hipertensi disangkal.
Dilingkungan sekitar rumah OS tidak ada yang mengalami
keluhan serupa. OS mengatakan ia pernah keguguran
karena anemia, menurut pengakuannya, kadar Hbnya
kurang lebih 6 sehingga ia menjalani transfusi darah. Di
dalam keluarga, kakak laki-laki OS juga dirawat karena
anemia akibat sering mimisan sejak 5 tahun terakhir.
Riwayat penyakit orangtua yang serupa tidak jelas. OS
tidak memiliki obat rutin yang diminum dan tidak
menjalani terapi apapun.

Resume
Pada hasil pemeriksaan TTV, OS kompos mentis,
frekueensi nadi agak sedikit meningkat
(107x/menit), suhu febris (39,2C), tekanan darah
dan frekuensi napas dalam batas normal. Pada
pemeriksaan fisik, ditemukan konjungtiva dan
mukosa bibir yang anemis, tidak ada atrofi papil
lidah, nyeri tekan epigastrium, tanpa
splenomegali maupun hepatomegali. Pada hasil
pemeriksaan penunjang Hb turun (7,8g/dL),
leukopeni (2.700), hematokrit turun (26%),
trombosit sedikit menurun (156.000), Tes Widal
+Paratyphi AO 1/160

Diagnosis

DIAGNOSIS KERJA
Typhoid abdominalis dengan anemia
DIAGNOSIS BANDING
DD typhoid abdominalis: DHF
DD anemia:
Anemia defisiensi besi
Anemia akibat penyakit kronik
Thalasemia Beta
Anemia sideroblastik

Saran Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan darah rutin setiap pagi
Mengulang pemeriksaan widal 3 hari
lagi
Pemeriksaan feses rutin dan darah
samar

Saran Pemeriksaan
Penunjang
Hapus darah tepi
Darah tepi
Eritrosit
Hipokrom mikrositer anisopoikilositosis (ovalosit, tear drop cell, cigar
shape).
Leukosit
Tidak ada kelainan bentuk sel.
Trombosit
Tersebar, kesan jumlah trombosit menurun, tidak ada kelainan bentuk
sel.
Kesan
Anemia mikrositik hipokrom dengan trombositopenia
Pemeriksaan fungsi ginjal
Pemeriksaan indeks eritrosit
Pemeriksaan serum iron, TIBC, dan feritin serum
Elektroforesis Hb
Pemeriksaan besi dan biopsi sumsum tulang belakang

Tatalaksana
Non-Medika mentosa:
Tirah baring
Memakan makanan yang mengandung banyak kadar zat
besi
Menghindari makanan yang pedas, asam, dan
merangsang lambung
Kontrol poliklinik penyakit dalam
Medikamentosa
1. Infus RL 28 tpm
2. Periksa widal 3 hari lagi
3. Ceftriaxon 4 gr/hari selama 3 hari
4. Paracetamol 500 mg 3x1
5. Ondansentron 4 gr tab 3x1

Prognosis
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia

Demam Typhoid
Terjadi pada usus kecil
Disebabkan oleh kuman Salmonella
typhi.
Di Indonesia penderita demam tifoid
diperkirakan 800 /100.000 penduduk
per tahun dan tersebar di manamana. Ditemukan hampir sepanjang
tahun.

Anamnesis
Keluhan utama :
Demam berlangsung sepanjang hari dan
memburuk pada sore-malam hari.
Keluhan tambahan :
nyeri kepala, nyeri ulu ati, mual, dan
muntah
Konstipasi atau diare

Pemeriksaan Fisik
Sifat demam : meningkat perlahanlahan dan terutama pada sore dan
malam hari.

Pemeriksaan Fisik (tingkat


kesadaran)
Apatis : keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan
dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
Delirium : gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu),
memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang
berhayal.
Somnolen (Obtundasi, Letargi) : kesadaran menurun, respon
psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran
dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh
tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
Stupor (soporo koma) : keadaan seperti tertidur lelap, tetapi
ada respon terhadap nyeri.
Coma (comatose) : tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon
terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea
maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil
terhadap cahaya).

Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer : leukopenia-normal
- hitung jenis leukosit : aneosinofilia walaupun
limfopenia. LED pada demam tifoid dapat
meningkat.
Widal
menentukan adanya aglutinin dalam serum
penderita tersangka demam tifoid : aglutinin
O (tubuh kuman), aglutinin H (flagel) dan
aglutinin Vi (simpai).
Aglutinin O-H untuk typhoid

Pemeriksaan Penunjang
TUBEX
- Infeksi tidak secara spesifik
menunjuk pada S. typhi.
- Infeksi oleh S. paratyphi akan
memberikan hasil (-).
- Deteksi IgM dan tidak dapat
mendeteksi IgG (tidak memberi
riwayat typhoid masa lampau)

Pemeriksaan Penunjang
Typhidot,
Deteksi antibodi IgM dan IgG yang
terdapat pada protein membran luar
Salmonella typhii.
Dipstik
menggunakan strip yang
mengandung antigen lipopolisakarida
(LPS) S. Typhoid dan anti IgM
(sebagai kontrol),

Pemeriksaan Penunjang
Kultur darah
Hasil biakan darah yang (+)
memastikan demam tifoid, akan tetapi
hasil (-) tidak menyingkirkan demam
tifoid.
ELISA (lebih sensitif dan cepat)
lgM (+) : infeksi akut ;
lgG (+) : pernah kontak/ pernah
terinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik.

Pemeriksaan Penunjang
Kultur empedu (gold standard)
- Hasil (+) maka diagnosis pasti untuk
Demam Tifoid/ Paratifoid.
- Sebalikanya jika hasil negatif, belum
tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid

Diagnosis
Diagnosis Utama
- Tes widal dalam kasus menunjukan
angka titer 1/320 (angka normal 1/200)
- Leukosit normal (5000-10.000)
- Hb dan hematokrit normal
- Demam cenderung naik turun tidak
teratur, tinggi terutama malam hari
- Gangguan pencernaan, sembelit, nyeri
tekan.

Diagnosis Banding
Pembeda

Typhoid

DBD

Leptospiro
sis

Hepatitis A

Demam

Suhu tidak
terlalu
tinggi,
seminggu /
lebih,
demam
sepanjang
hari
terutama
malam hari

Suhu tinggi,
3-5 hari,
bifasik,
setelah
diberi
penurun
demam
akan turun
sebentar
lalu naik lagi

Suhu tinggi,
seminggu /
lebih,
demam
sepanjang
hari

Suhu tidak
terlalu
tinggi

Nyeri

Nyeri tekan
pada regio
epigastrium

Sendi

Kepala
(bagian
frontal),
paha, dan
betis

Bagian
kanan atas
abdomen
(hepar)

Patog

Masalah

Mudah

Ikteri pada

Ikteri pada

Gejala Klinis
Minggu pertama
- Demam sepanjang hari, turun pada pagi
hari, naik pada malam hari
- Diare dan sembelit bergantian
- Radang tenggorokan
- Lidah putih pada bagian tengah, pinggir
lidah merah dan tremor
- Roseola pada hari ke 7 selama 3-5 hari di
kulit perut, lengan atas atau dada bagian
bawah, kelihatan memucat bila ditekan

Gejala Klinis
Minggu kedua
- Demam terus
menerus turun
sedikit pada pagi hari
- Bradikardi relatif
- Lidah merah
mengkilap dan kering
- Pembesaran hati dan
lien
- Gangguan kesadaran

Minggu ketiga
a. Sembuh
Demam turun, tidak
nyeri perut
B. Bertambah parah
- Takikardi + peritonitis :
perforasi usus
-. Bradikardi, keringat
dingin, gelisah, sukar
bernapas : perdarahan
. Minggu keempat
. Relaps

Etiologi
Feses / urine
penderita
carier

Peredaran
darah

Mengkontamin
asi makanan,
minuman,
tangan

Ductus
Thoracicus

Jaringan
limfoid usus
halus

Kelenjar Getah
Bening
Mesenterium

Patofisiologi
Kuman lolos
dari lambung

Respon IgA
tidak memadai

Kuman
menempul
epitel dan
menuju lamina
propria

Kuman hidup
dalam
makrofag

Kuman dibawa
ke plak peyeri
ileum distal

KGB
mesenterium

Sirkulasi darah
organ RES
(hati)

Kandung
Empedu
(berkembang
biak)

Sirkulasi darah

Penatalaksanaan
Medikamentosa
- Kloramfenikol (DOC)
ES: meninggalkan rasa nyeri ditempat suntikan
- Tiamfenikol
Jarang digunakan
- Ko-trimoksazol
- Ampisilin dan amoksisilin
- Sefalosporin generasi 3
- Fluorokinolon
- Azitromisin

Penatalaksanaan
Nonmedika mentosa
- Istirahat (tirah baring)
- Makan makanan bergizi dan lunak,
tidak tinggi serat dan tidak
menimbulkan banyak gas

Prognosis
Kloramfenikol menurunkan angka
kematian
Perforasi atau perdarahan
meningkatkan resiko kematian
Kekambuhan dapat terjadi berulang
ulang pada orang yang sama
Karier thypoid dapat merupakan
orang yang pernah mengidap
demam typhoid dan menderita
infeksi kronis kandung empedu

Pencegahan
Menjaga kebersihan diri (cuci tangan)
Sanitasi yang baik
Menjaga kebersihan binatang
peliharaan

Epidemiologi
300-500 kasus baru infeksi
typhoiddilaporkan terjadi setiap
tahun di Amerika Serikat.
S.typhii mampu bertahan hidup
dalam makanan dalam jangka waktu
yang cukup lama pada suhu yang
tidak terlalu panas.
Penyebaran juga terjadi di seluruh
negara bagian AS dan di negara
negara berkembang (akibat sanitasi)

Komplikasi
Pada minggu keempat terutama
Dapat terjadi perforasi atau
perdarahan

Gangguan Eritrosit
Anemia

www.themegallery.com

Company Logo

ANEMIA
Definisi Anemia:
Sindroma klinis yang disebabkan penurunan massa
eritrosit total dalam tubuh.
Keadaan dimana massa eritrosit dan atau massa
hemoglobin tidak dapat memenuhi fungsinya untuk
menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh
Penurunan di bawah normal kadar Hb, hitung eritrosit,
dan hematokrit

www.themegallery.com

Company Logo

ANEMIA
Penurunan Hb dan Hct :
< batas bawah 95% interval referens
dari kelompok usia, jenis kelamin
dan lokasi geografis (ketinggian)
Hb12-14 g/dl ; (Hct 36-41%),
Hb7g/dl symptom (+)
Akut: hipovolumia (pucat,
ggn penglihatan, syncope, tachycardia) ;
Kronis: tissue hypoxia (fatique, dyspnea,
Headache, angina)

www.themegallery.com

Company Logo

Anemia

ANEMIA symptoms / syndrome

Hb
PCV
RBC

Hypoxia Otak , Otot

Kompensasi :
- heart rate tachycardia flow rate
cardiomegaly heart failure
- blood flow priority (pallor)
- RBC 2,3-DPG content O2 dissoc.curve
shift to the right O2 release to the
tissues .
45

Klasifikasi Anemia
Berdasarkan patofisiologi:
I. Kegagalan produksi sel darah merah:
A. Gangguan sel induk hematopoesis
Anemia Aplastik
B. Gangguan sintesis DNA
Anemia Megaloblastik
C. Gangguan sintesis Hemoglobin (Hb)
Anemia Defisiensi Besi, Thalasemia
D. Gangguan sintesis eritropoetin
Anemia karena GGK

www.themegallery.com

Company Logo

Lanjutan..anemia berdasarkan patofisiologi


E. Gangguan karena mekanisme lain:
Anemia karena penyakit kronis,
anemia sideroblastik
Anemia karena infiltrasi sumsum tulang
II. Peningkatan destruksi sel darah merah:
Anemia Hemolitik
III. Kehilangan darah (Blood Loss)
Anemia karena perdarahan akut

www.themegallery.com

Company Logo

Anemia
Anemia berdasarkan morfologi
Anemia sec. morfologi eritrosit, dilihat dari:
- ukuran dan warna di bawah mikroskop
atau
- indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC)
- Kriteria Ukuran (size): Normositik, Mikrositik,
Makrositik
- Kriteria Warna (pucat): Normokromik,
Hipokromik
www.themegallery.com

Company Logo

Perhatikan Warna sel eritrosit

- Bandingkan diameter central pallor(CP)


dengan diameter sel eritrosit tersebut .
- Normal, bentuk sel eritrosit adalah seperti cakram
bikonkaf (biconcave disk)
pada hapusan darah tepi terlihat bulat, 7-8
dengan area central pallor di bagian tengah
CP 1/3 Eri = normokromik
CP> Eri = hipokromik

49

Eritrosit dengan central palor (CP)


Bandingkan diameter CP dengan diameter sel eritrosit

50

- Warna, dapat diketahui juga dari MCH (Mean Cell Hb)


MCH= Hb/RBC x 10 (pg)
Dewasa: MCH=27-32 pg, Anak-anak: MCH=23-31 pg
(1pg=10-12g=1g)
MCH normal normokromik
MCH < normal hipokromik
- MCHC (Mean Cell Hb Concentration) :
MCHC=Hb/PCV x 100 (g/dL)
Normal: MCHC = 32-36 g/dL

51

Klasifikasi Anemia secara


morfologi
1.

Anemia Hipokromik-Mikrositik.

2.

Anemia NormokromikNormositik

3.

www.themegallery.com

Anemia Makrositik

Company Logo

Anemia
hipokromikmikrositik

Anemia
normokromiknormositik

Anemia
makrositik

Contoh:
- Anemia
defisiensi Fe
- Thalasemia
- Anemia akibat
Penyakit Kronik
- Anemia
sideroblastik

Contoh:
- Anemia pasca
perdarahan akut
- Anemia aplastik
- Anemia hemolitik
- Anemia akibat
penyakit kronik
- Anemia pada GGK
- Anemia pada
mielofibrosis
- dll

A. Megaloblastik,
contoh:
- Anemia defisiensi
Folat,
- Anemia defisiensi
vitamin B12
B. Nonmegaloblastik
contoh:
- Anemia pd peny.
Hati kronis
- Anemia pd
hipotiroid, dll

MCV 80 -95 fl
MCH 27-34 pg

MCV > 95 fl

MCV <80 fl;


MCH <27 pg

www.themegallery.com

Company Logo

Hipokromik-Mikrositik

54

Normokroniknormositik

55

Makrositik
makrosit-oval
(Anemia megaloblastik ditandai oleh makrosit oval ini)

56

Pendekatan diagnostik Anemia:


Anamnesis:

onset /bleeding tendency / routine medicinal /


occupation / hobby / travel history / family / diet /
GI symptoms / menstruation cycle / history of
previous pregnancy-delivery / alcohol
consumption , etc

Pemeriksaan fisik :

conjunctiva & lips (pallor) / mouth (cheilosis) /


tongue (glossitis) / gum / nails (koilonychia) , hair
(signa de bandera, alopecia) , jaundice ,
petechiae , liver & spleen , lymphenodes ,rectal /
vaginal toucher , feet (ulcer,arthritis)

57

Pemeriksaan Laboratorium
- CBC (complete blood count ) to confirm
anemia (Hb, PCV, RBC) & the type of anemia
(MCV; MCH; MCHC), RDW

- Reticulocyte count reflects marrows responses .


- PBS : to look for the RBCs shape and any abnormalities of
RBCs besides the other blood cell lines

- Iron status ( Serum Iron ,TIBC, % Transferrin


saturation , Iron storage )

- Blood chemistry ( direct/total bilirubin,LDH


and stool examination for occult blood test , etc) .
PBS: Pheripheral blood smear
58

Lanjutan. Pendekatan Doagnostik


- Radiological examinations ( Chest X-ray,
USG , MRI )
- Cardiological examinations (EKG,Treadmill,
Echocardiography)

Notes ! :
- First confirm Anemia ( Hb , PCV , RBC )
- Classify the anemia (MCV, MCH, MCHC)
- Causes of anemia
59

Anemia Hipokromik-Mikrositik

- Setiap kondisi yang menimbulkan gangguan


sintesis Hb gambaran hipokromik mikrositik
- Anemia Defisiensi Besi penyebab tersering
dari anemia Hipokromik-Mikrositik
- Perhatikan penyebab lain (DD=diff diagnosis)
sebelum mendiagnosis Anemia def. besi, spt:
- anemia akibat penyakit kronis
- Thalasemia
- anemia Sideroblastik, dll

60

ANEMIA DEFISIENSI BESI


Definisi:
Anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh
besi utk eritropoeisis pembentukan Hb
Anemia def. Fe, ditandai dgn:
- anemia hipokromik mikrositik
- besi serum
- TIBC (Total Iron Binding Capacity)
- Saturasi transferin
- Feritin serum
- Pengecatan Besi sumsum tulang negatif
- Respon terhadap pengobatan dengan preparat Fe

www.themegallery.com

Company Logo

Faktor Penyebab (Etiologi)


I. Keseimbangan negatif Fe (Negative Iron
balance):
- Asupan Fe
(inadequate diet , impaired absorption)
- Fe loss
(GI bleeding, excessive menstrual flow,
bleeding diathesis)

- demands
(infancy, pregnancy, lactation)

62

Status besi tubuh:

Serum Iron = SI
Total Iron Binding Capacity (TIBC)
% Transferrin Saturation = SI/TIBCx100%
Simpanan besi (Iron storage):
- Hemosiderin produk degradasi feritin yang tidak
larut dalam air mayoritas tdd aggregat kristal ferric
oxyhydroxide, FeOOH (di Hepar danSutul dideteksi
dengan biopsi/aspirasi dan pengecatan besi (prosedur
invasif)
- Ferritin kompleks garam Fe3+dan apoferitin yang
larut dalam air, dengan jumlah yang sangat kecil di
serum.
(dideteksi dengan metode imunoasai)

63

Pendekatan Diagnostik Anemia Defisiensi Fe

1. Anamnesis pola menstruasi, kehamilan /


persalinan, tendensi perdarahan,
penyakit kronis, diet, pekerjaan,
riwayat bepergian
2. Pemeriksaan fisik sistematik dari seluruh
permukaan tubuh sampai ke organ dalam ( hati,
limpa, kelenjar getah bening (lymphnodes)

64

3. Laboratorium- Hema (DL, LED, Hapusan


darah tepi, Retikulosit)
- Serum (SI,TIBC,Ferritin, Bilirubin)
- BMA (Bone Marrow Aspiration)
- Pemeriksaan Urine dan tinja
4. Penunjang - Radiology (EKG, USG)
- Endoscopy

65

Pemeriksaan Lab. Anemia def. Fe


1. CBC confirm Anemia & find hypochromic
microcytic picture from BSE and Red
Cells Indices ( Hb, PCV ,MCV , MCH ,
MCHC)
2. SI

Fe2+ released from Transferrin + ferrozine


(chromagen) measured colored
complex
TIBC serum + excess FeCl2 to fill all Transferrinbinding sites the excess Fe is fixed by Mgcarbonate Fe-saturated Transferrin is
measured with Ferrozine (= TIBC)

66

% Saturasi Transferrin = SI/TIBC X 100%


Erythropoeisis impaired when % Tf.Sat < 15%
3. Ferritin Serum :
Serum Ferritin level ~ Fe-storage
Ferritin <15 ug/L Definitive Fe-Deficient
N/ Ferritin in IDA , if :
- impaired liver function ( damaged
hepatocyte),
hemolysis, inflammation / infection /
malignancy ( Ferritin = acute-phase
protein )

67

4. Transferrin Serum :
measured by immunodiffusion methode
Normal value : 2-4 g/L
5. Bone Marrows Aspirate evaluation :
( using Perls or Prussian Blue stain )

68

Diagnosis Anemia akibat penyakit kronis:

lab hematologi:
- Anemia hipokromik mikrositik
- SI , TIBC /N , Ferritin N/
( jika Ferritin , An. Def.Fe )
- Inflamasi / infeksi (+) :
CRP and LED

69

Anemia Sideroblastik
Defek pada sintesis Heme akumulasi
Fe di mitochondria degenerasi Fe
granula Fe di sekitar inti normoblast,
membentuk struktur spt cincin {paling
jelas terlihat dengan pengecatan Perl
(Perls stain) } Ringed Sideroblast
(karakteristik anemia Sideroblastik)
Sideroblast bisa dijumpai secara normal di
sutul
70

Sideroblast and Ringed Sideroblast ( in Sideroblastic Anemia )

71

72

Classification of Sideroblastic
Anemia
1. Hereditary : X-linked, defect in hemesynthesis enzyme pathway
Fe absorption % of Transferrin
saturation and Ferritin level

73

- Secondary;
Abnormal metabolism of Vit.B6
(alcoholism, malabsorption) , impairment
of heme synthesis ( Pb intoxication) ,
Rhematoid Arthritis , or An.megaloblastik .
Usually related to myeloproliferative
diseases ( AML, Myelofibrosis,
Polycythemia or another types of MDS )
74

Macrocytic Anemia
- Non-Megaloblastic Macrocytic Anemia :
Reticulocytosis
Liver disease / Alcoholism
Myelodysplastic Syndrome
Erythroleukemia (FAB-M6)
- Megaloblastic Macrocytic Anemia
75

Megaloblast = bigger than normal


normoblast .
Megaloblastic changes = increased size of
hemopoietic precursor cells in bone
marrow ( not only in normoblast !)
Primary defect : Defect of DNA synthesis
( altered almost all active cells / organs i.e
: hemopoietic tissue, epithelial cells ,
mucous cells, etc )
76

VITAMIN B12

ASAM FOLAT

-Food from animal products


-Heat stabile
-Storage : enough for 3 yrs
-Relatively low needs (only
1% of folate requirements)

-Limited sources (vegetable ,

CAUSE OF DEFICIENCY
-Vegetarian (seldom)
-Impaired Intrinsic Factor
(pernicious anemia)
-Gastrectomy
-Atropic Gastritis
-Anticonvulsant, alcoholism

fruits)
-Heat labile
-Storage enough only for 3
mths
-Higher folate needs
CAUSE OF DEFICIENCY
-Nutrition (alcoholism, goats
milk diet)
-Prematurity
-Hemodyalisis
-Bowel resection
-Pregnancy
-Anticonvulsant , MTX
77

Megaloblastic Anemia
find oval-Macrocyte cell and hypersegmenteneutrophil .

78

Diagnosis of Megaloblastic Anemia

Screening :
- CBC , Neutrophils lobe count
- Serum Indirect Bilirubin , LDH (lactate
dehydrogenase)
Spesific tests :
- Bone Marrow Aspiration: megaloblastosis & megaloblastic
changes, erythropoietic activitiy ( ineffective erythropoiesis)

- Folate & Vit.B12 assay


- Gastric juice analysis
- Schilling Tests
- Antibody Assay

79

Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik: anemia yang disebabkan


oleh proses hemolitik.
Hemolisis: pemecahan eritrosit sebelum
waktunya (sebelum masa hidup rerata eritrosit,
yaitu 120 hari).
(Proses pemecahan eri karena sdh waktunya
senescence=penuaan)
Hemolisis dapat terjadi di dalam pembuluh
darah (hemolisis intravaskular) dan di luar
pembuluh darah (hemolisis ekstravaskular).
www.themegallery.com

Company Logo

Definition of Hemolytic Anemia :


anemia caused by shortened red cells
survival as a result of excessive
uncompensated destruction of red cells .
Hemolytic process = every process of
red cells destruction with still / without
compensated by bone marrow anemia
is not always present .
81

- Compensation ability of bone marrow :

Ability to red cells production ( 6-8 x


normal ) :
- survival shorten production 2x
- survival shorten production 4x
- survival shorten 1/6 production 6x
- survival shorten 1/8 production 8x
of production 6-8 x is maksimum .
If red cells live only 20 days anemia (+).
82

The signs of Hemolytic process :


1. Increased of red cells destruction
- Unconjug.bilirubin serum jaundice
- Urobilinogenuria
- Hb-uria sign of intravascular hemolysis
- Abdom.pain splenomegaly, spleen infarction
- Legs Ulcer intrinsic defect of erythrocyte
- Haptoglobin serum /neg intravascular
hemolisys .

83

2.Destruksi eritrosit :
-

Microspherocyte, Fragmentocyte, Poikilocyte


Erythrocyte Osmotic Fragility
Positive Autohemolysis test
Shortened of red cells survival

3. Tanda Peningkatan Eritropoisis:


- Reticulocytosis
- Normoblastosis
- Erythropoietic Hyperplasia in bone marrow
84

85

86

87

88

Klasifikasi Anemia Hemolitik


Dibagi atas 2 golongan besar, yaitu:
1. Anemia hemolitik karena faktor di dalam
eritrosit sendiri (gangguan intra
korpuskuler)
2. Anemia hemolitik karena faktor di luar
eritrosit (gangguan ekstra korpuskular)

www.themegallery.com

Company Logo

lanjutan.Klasifikasi anemia hemolitik :


1. Gangguan intra korpuskular (Hereditary
Hemolytic Anemia )
- Membrane abnormality (hereditary
spherocytosis , hereditary ovalocytosis )
- defect of globin chain (Thalassemia, Hbpathia)
- enzyme defect ( G-6PD deficiency , PKdeficiency)

90

Hereditary Spherocytosis :

91

Hereditary Ovalocytosis :

92

Lanjutanklasifikasi anemia
hemolitik
2. Gangguan ekstrakorpuskular
(Acquired Hemolytic Anemia):

- physical / chemical substances


- infections (bacteria, parasites, viruses,
fungi)
- mechanical trauma (prostetic heart valves)
- Immune mechanism (Alloimmune /
Autoimmune / Drug-Induced HA)

93

Thalassemia :
Defect of 1 or more globin-chain synthesis (the amount
= quantitatively) :
- deficiency of globin-chain -thalassemia
- deficiency of globin-chain -thalassemia
- deficiency of globin-chain -thalassemia
the primary defects in Hb-pathia is in the globin amino
acids structure (qualitatively)

94

Laboratory Diagnosis in Thalassemia


1. CBC, Peripheral Blood Smear
2. Hb-Electrophoresis : in Celulose-Acetat
(pH 8.4) for thalassemia and Hb-pathia
screening
Using hemolysate formed bands of
different types of Hb ( normal : bands A,
F, and A2 , measured densitometrically)
95