Anda di halaman 1dari 21

INKONTINENSIA URIN

PADA MANULA

SKENARIO 12
Perempuan 70 tahun diantar berobat ke
Poliklinik dengan keluhan tidak dapat
menahan kencing sehingga sering
mengompol sebelum sampai ke WC sejak 3
minggu yang lalu

entifikasi Istilah yang Tidak diketah


Tidak ada

Rumusan Masalah

Perempuan 70 th datang dengan keluhan


tidak dapat menahan kencing sejak 3
minggu lalu

Analisis Masalah
Proses
Penuaan

Osteoart
hritis

Rumusan
Masalah

Gangguan
pada Pasien
Geriati

Inkontine
nsia Urin
Depresi

ANAMNESIS
Identitas
Nama
: Tidak diketahui namanya
Umur
: 70 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Keluhan Utama
: Tidak dapat menahan
kencing sejak 3 minggu yang lalu (ngompol
saat tertawa dan batuk)
Keluhan tambahan : Jalan harus pelan,
terasa nyeri lutut saat jalan

PemeriksaanFisik
Pemeriksaan Tanda Vital : Suhu,
Tekanan Darah, dan Nadi
o Pemeriksaan status mental : Compos
mentis, Apatis,
Somnolen, dan Sopor
o Pemeriksaan abdomen : kandung
kemih yang penuh, rasa nyeri, atau
riwayat pembedahan
o Kondisi kulit
o Pemeriksaan pelvis
o

Pemeriksaan Penunjang
Uji Urodinamik Sederhana :
mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih
Urinalisis :
mengetahui faktor yang berperan terhadap terjadinya
inkontinesia urin (hematuri, poliuri,dll)
1. Tes tekanan urethra --> mengukur tekanan di dalam
urethra saat istirahat dan dinamis.
2. Imaging --> tes terhadap saluran perkemihan
Laboratorium
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum
dikaji untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang
menyebabkan poliuria.

Diagnosis Kerja
Inkontinensia Stress
Hilangnya kemampuan
menahan urin ketika
terjadi tekanan pada
kandung kemih

Ciri : batuk, bersin, dan


tertawa keluar urin

Inkontinesia Urgensi
Saraf yang rusak dalam
mengirim sinyal ke
kandung kemih untuk
berkontraksi
penyebab : infeksi
saluran urin, dan iritasi
kandung kemih
Ciri : nokturia ( normal :
2x pada malam hari)

Diagnosis
Banding

Inkontinensia Urin
Overflow

Inkontinensia Urin
Fungsional

Definisi

Tidak mampu
mengkosongkan
kandung kemih,
akibat obstruksi
(tersumbat)

Kebocoran urin akibat


penurunan
fisik/mental

Gejala

Berkemih sedikit tapi


sering

Tidak dapat membuka


kancing dengan cepat

Inkontinensia urin akut

ETIOLOGI

disebabkan:
Sembelit
Infeksi saluran kemih
Konsumsi alkohol berlebih
Minum terlalu banyak atau
minum cairan yang dapat
mengiritasi kandung kemih

Inkontinensia urin kronis

Mengonsumsi obat

Otot kandung kemih yang terlalu aktif

disebabkan:
Terdapat obstruksi pada saluran kemih
Otot dasar panggul lemah
Multiple sklerosis (penyakit kronis pada
sistem saraf pusat)
Penyakit atau cedera yang
mempengaruhi sistem saraf dan otot
(diabetes)

kandung
kemih terisi
Rangsang saraf
pelvis + medulla
spinalis

Saraf
subkortikal
Saraf
kortikal
Ketika terjadi
desakan
berkemih

PATOFISIOLOGI
Ganglia basal dan Serebelum :
Menyebabkan kandung kemih
berelaksasi sehingga dapat
menyebabkan desakan untuk
berkemih
Pengisian kandung kemih
berlanjut

PUSA
T

Lobus Frontal : menghambat


pengeluaran urin

Rangsang
saraf korteks
Pengosongan
kandung
kemih

Medula spinalis
dan saraf
pelevis

KONTRAKSI

Otot
detrusor

Terapi non medikamentosa


Latihan menahan kemih :
Menahan keinginan untuk berkemih bila belum
waktunya >> mula tiap jam >>
2-3 jam >> dan seterusnya
Promted voiding :
Memberitahukan petugas atau pengasuh bila
ingin berkemih
Latihan dasar otot panggul (penyembuhan
inkontinensia urin stress) :
Dapat memperkuat otot-otot yang lemah
disekitar kandung kemih.

Terapi medikamentosa
Obat Yang Digunakan Untuk Inkontinensia Urin

Obat
Hyoscamin

Tolterodin
Imipramin

Dosis

Tipe

Inkontinensia
3 x 0,125 Urgensi atau

Mulut kering, mata kabur,

mg

glaukoma, derilium,

campuran

2 x 4 mg
Urgensi
3 x 25-50 Urgensi

mg
Pseudoephe 3 x 30-60 Stress
drin
Topikal

Efek Samping

mg
Urgensi

estrogen
Doxazosin
Tamsulosin

4 x 1-4 mg
1 x 0,4-0,8

Terazosin

mg
4 x 1-5 mg

Stress
Urgensi

konstipasi
Mulut kering, konstipasi
Derilium,
hipotensi
ortostatik
Sakit
kepala,
hipertensi
dan Iritasi lokal
Hipotensi postural

Hipotensi postural

takikardi,

Terapi medikamentosa
1. Fenilpropanolamin (PPA)
peningkatan resiko
stroke
2. Pseudoefedrin insomnia,
sakit kepala dan
gugup/gelisah

1. Teori pembedahan :
inkontinensia overflow
>> menghilangkan
retensi urin.
2. Pampers
3. Kateter

KARAKTER
PASIEN
Usia > 60 tahun
GERIATRI

Multipatologi
Polifarmasi
Fungsi organ
menurun
Polifarmasi
Fungsi organ
menurun
Gangguan status
fungsional

PENUAAN
TEORI BIOLOGIS
Teori genetika
Immunology slow theory

TEORI
PSIKOSOSILOGIS
Teori Kepribadian (introvert dan
ekstrovert
Teori tugas perkembangan

Teori radikal bebas

Teori disengagement
( penarikan diri )

Teori stress (hilangnya sel


tubuh yang biasa digunakan)

Teori aktivitas ( kebalikan


disengagement >> tetap aktif)

Teori rantai silang (kurang


elastic, kekuan, dan hilangnya
fungsi)

Teori kontinuitas (penysesuain


diri terhadapan perubahan>>
penuaan)

DEPRESI
Paling sering terjadi pada pasien >60 tahun
Gejala : Perubahan mood, perasaan tidak berguna,
hilangnya minat,dll
Terapi psikologik :
1. Psikoterapik : antara pasien dan terapis >> Pasien mampu
menyelesaikan masalahnya sendiri
2. Kognitif : Mengubah pola pikir yang selalu negatif >> ke arah
yang positif
3. Keluarga : perbaikan sikap / struktur keluarga pasien yang
menghambat penyembuhan pasien
4. Penanganan ansietas : terapi relaksasi menggunakan tape
recorder

Osteoartritis
Penyakit sendi yang
berkaitan dengan
kerusakan kartilago
(tulang rawan) sendi
Pernah mengalami
trauma, infeksi
Hambatan gerak,
pembengkakan sendi,
perubanahn gaya
berjalan
Radiografi sendi

Epidemiologi
1. INKONTINENSIA
Usia lanjut usia >65 tahun
Perempuan lebih banyak menderita inkontinesia
urin daripada laki-laki dengan perbandingan 1,5:1
25%-30% >> inkontinensianya bertambah
berat pada usia 65-74 tahun
2. Osteoarthritis
15,5 % pada pria dan 12,7% pada wanita
60-70 % pada usia >65 tahun

KESIMPULAN
Pada skenario ini perempuan tersebut mengalami
inkontinesia stress yang ditandai perempuan
tersebut tidak dapat menahan urin saat tertawa
dan bersin. Serta perempuan tersebut juga
mengalami osteoarthritis yang ditandai dengan
rasa sakit atau nyeri pada sendi biasanya akan
muncul ketika sendi digerakkan dan sensasi kaku
akan terasa setelah sendi tidak digerakkan untuk
beberapa waktu dan menimbulkan depresi.