Anda di halaman 1dari 20

POWER POINT EKOLOGI

HUTAN

NAMA : MAKSIMILIAN S. KOLBE WAJA


NIM

: 142385033

PRODI : MSDH
JURUSAN : MPLK

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar belakang

Analisis vegetasi merupakan sebuah cara untuk mempelajari komposisi jenis dan struktur vegetasi atau kelompok tumbuhan dalam eklogi
hutan satuan yang di selidiki adalah suatu tegakan yang merupakan

asosiasi konkrit. Analisis vegetasi dapat di gunakan untuk

mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya dan mempelajari tegakan tumbuhan-tumbuhan bawah, yaitu suatu
jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan, padang rumput/ alang- alang dan vegatasi semak belukar.
Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisis vegetasi dapat dilakukan dengan sampling ,bagian dari metodelogi statistika
yang berhubungan dengan pengambilan sebagian populasi . Dalam sampling ini ada tiga hal yang yang perlu di perhatikan yaitu jumlah
petak, cara perletakan petak, dan teknik analisis vegetasi yang di gunakan. Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus berukuran
sedang tidak besar dan tidak kecil agar dpat memudahkan kita melakukan analisis vegetasi terletak pada komposisi jenis jika tidak bisa
menentukan luas petak maka dapat menggunakan teknik kurva spesies area (KSA) dengan menggunakan kurva ini dapat di tetapkan
1.

Luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan di ukur

2.

Jumlah minimal petakukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode
jalur

B. Tujuan
1.

Untuk mampu mendesain dan menerapkan prinsip dalam pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari

2.

Untu mampu menganalisa vegetasi dengan metode jalur dengan benar dan baik.

BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA

Analisi vegetasi adalah suatu cara yang pelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk ( struktur) vegetasi dari masyarakat tumbutumbuhan unsur-unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan sratifikasi dan penutupan tajuk untuk keperluan analisa vegetasi di
permukaan data-data jenis diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilaipeenting dari penyusunan komunitas hutan tersebut dengan
analisa vegetasi dapat di peroleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. (great-smith, 1986)
Analisa vegetasi diperlukan untuk mempelajari di tingkat subsensi evaluasi hasil pengendalian gulma, perubahan flora ( shiffing)sebagai akibat
metode metode pengendalian tertentudan avaluasi herbisida ( trial)untuk menentukan aktifitas herbisida terdapat jenis gulma di lakukankonsep
dan metode analisis vegetasi. Vegetasi sangat berpengaruh variasi tergantung keaadaan vegetasi dan tujuan analisi. Metode dan digunakan
harus sesuai dengan sturktur dan komposisi vegetasi. Metode garis ( line intercept) biasanya di gunakan untuk daerah yang luas dengan
vegetasi sangat rendh. Metode titik ( pointintercept) biasanya di gunakan untuk pengamatan sebuah petak. ( Michael, 1995)
Frekuensi kerapatan dan kerimbunan ini merupakan data hasil analisa kuantitatif yang merupakan data yang penting dalam menentukan
peranan atau spesies atau jenis dalam vegetasinya.selain data dalam analisis atau hasil analisis kuantitatif di perlukan juga data lain yaitu hasil
analisi kuantitatif yang memberikan sifat khusus dari spesies atau jenis terhadap vegetasi.karena dari hasil analisis kuantitatif ini terutama akan
memberikan gambaran dari setiap jenis yang ada pada waktu- waktu yang akan dating ( khardjanto, 2001)

A.
.

Waktu dan tempat

BAB III
METODE
PELAKSANAAN

Waktu

Hari /tanggal : kamis/ 29/ 01/ 2016


Pukul

: 13.00 s/d 15.30

Tempat

pratikum ini di laksanakan di taman wisata alam camplong


B. Alat dan Bahan
Alat
Kompas
Pita ukur

Bahan
Hutan camplong

C. Prosedur kerja
1. Sebelum melakukan pratikum terlebih dahulu mempersiapkan talisirt atau tabel pengamatan
2. Melakukan penghitungan jarak pengukuran dengan langkah kaki
3. Melakukan pengukuran derajat dengan menggunakan kompas setiap kelompok 30
4. Melakukan pengamatan dan pengukuran terhadap jenis spesies yang ada mulai dari tingkat semai,
sampai dengan pohon
5. Melakukan pengukuran tinggi dan keliling
6. Mencatat hasil pengukuran
7. Melakukan pengelolaan data yang telah di peroleh
8. Menyusun laporan dari hasil peratikum tersebut dalam bentuk power point

BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
SEMAI
A.

Hasil

Lanjutan semai

TINGKAT PANCANG

TINKAT TIANG

Sambungan pohon

PENYELESAIAN INP

3.KOPI HUTAN ( 23 )
F =23/5=4,6
K =23/5 ha =4,6
FR =23/5 * 100 %=46 %
KR =4,6/5 *100%=92 %
D = 0,36/5=0,072
DR = 0072/5*100 %=36%
INP =46+92 +36=174


4. KENANGA ( 48 )
F =48/5=9,6
K=48/5=9,6
FR=48/5 *100%=96 %
KR=9,6/5*100%=192%
D=0,13/5=0,026
DR=0,026/5*100=52 %
INP =96+192+52=340

5.KETAPANG( 11 )
F=11/5=2,2
K=11/5=2,2
FR=11/5*100%=22%
KR=2,2/5*100%=44%
D=0,14/5=0,028
DR=0,028/5*100%=0,56%
INP=220+44+0,56=264,56

6, SIBLELE (5)
F=5/5=1
K=5/5=1
FR=2/5*100%=4%
KR=1/5*100*=2 %
D=0,09/5=0,018
DR=0,018/5*100%=0,36%
INP=4+2+0,36=6,36
7.PASINE( 16 )
F=16/5=3,2
K=16/5=3,2
FR=16/5*100%=32%
KR=3,2/5*100%=64%
D=0,232/5=0,0464
DR=0,0464/5*100%=0,928%
INP=32+64+0,928=96,928

PEMBAHASAN

Hutan Camplong merupakan hutan alam yang secara umum termasuk dalam
kawasan hutan Sisimeni Sanam, hutan ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka
dan kemudian pada tanggal 25 Mei 2010, hutan ini mendapat legalitas dari
pemerintah (Mentri Kehutanan).
Hutan camplong ini memiliki luas 696,6 ha dengan pal batas 50-150m. Hutan
dengan tipe hutan sedang ini berada di ketinggian 200 mdpl yang diapit oleh 5
Desa dan 1 Desa Enklaf yaitu: Desa OE BOLA DALAM. Didalam hutan Camplong ini
terdapat 15 titik sumber mata air, 70 spesies pohon dan 40 spesies binatang.
Pada praktek Ekologi Hutan mengenai analisis tegakan dibuat petak ukur dengan
luasan seluruhnya yaitu 500m X 100m dan didalam luasan 5 ha ini di buat lagi
petak ukur 50m X 20m untuk penganalisisan tingkatan pohon, 10m x 10m untuk
tingkatan tiang, 5m x5m untuk tingkatan pancang dan 1m x 1m untuk tingkatan
semai. Dalam penganalisisisan tegakan ini terdapat beberapa spesies pohon yang
berada dalam area 5ha yang diukur diantaranya: 1) Manggis, 2) Ketapang, 3) kopi
hutan, 4) kenanga, 5) taduk dan 6) siblele.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan.

Melalui praktek analisis tegakan yang dilaksanakan Di Hutan Camplong dapat Saya simpulkan bahwa di dalam
hutan yang tumbuh secara alami memiliki keragaman yang tinggi, terdapat spesies spesies pohon yang berbeda
dengan tinggi, diameter dan volume yang tidak sama.
B. Saran.
Agar praktikum selanjutnya lebih lancar dan tepat waktu, sebaiknya semua yang akan diperlukandapat
dipersiapkan pada hari hari sebelum praktikum di laksanakan.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.
Dwidjoseputro, 1994. Ekologi manusia dengan lingkungannya. Penerbit erlangga, jakarta.
Hardi. 2009. Ekologi Tumbuhan. http://hardibio.blogspot.com/. [22 september
2010]
Hardjosuwarn, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi UGM.

GAMBAR KEGIATAN

TERIMAKASIH