Anda di halaman 1dari 35

Mini cast report

Luka/ Vulnus
Andi Ferdy Saputra
Ruchiyyih Diah Palupi
Dokter pembimbing: dr. Darmo S, Sp.B

Definisi
Cedera injuri atau trauma yang terjadi pada setiap
jaringan tubuh yang berakibat terputusnya suatu
jaringan tersebut/ discontinuity.

Klasifikasi
1. Berdasarkan
tingkat
kontaminasi
2. Berdasarkan kedalaman dan
luasnya luka
3. Berdasarkan
ada
tidaknya
hubungan dengan dunia luar
4. Berdasarkan
waktu
penyembuhan

Berdasarkan tingkat kontaminasi


a.Clean Wounds (Luka bersih)
.Disebut luka bersih jika pada
prosedur operasi tidak ada kuman
yang masuk kedalam rongga tubuh.
.Contohnya operasi hernia inguinalis
elektif
.Resiko terjadi SSI sangat minimal

b.

Clean-contamined Wounds (Luka


bersih terkontaminasi)
Terdapat koloni kuman yang masuk
kedalam rongga tubuh tapi dalam
keadaan elektif dan terkontrol.
Kontaminan yang paling sering adalah
bakteri endogen dari dalam tubuh pasien
Contohnya luka akibat kolektomi sigmoid
umumnya
mengandung
E.coli
dan
Bacteriodes fragilis sebagai kontaminan
mikroba.
Tingkat infeksinya 4% - 10%

c.
Contamined
Wounds
(Luka
terkontaminasi)
Terjadi ketika jumlah kontaminan
yang masuk kedalam tubuh dalam
jumlah besar.
Luka akibat kecelakaan, operasi
dengan
kerusakan
besar
(laparatomi untuk cedera penetrasi
dengan tumpahan usus) atau
kontaminasi dari saluran cerna.
Kemungkinan infeksi luka 10% 17%.

d. Dirty or Infected Wounds (Luka

kotor atau
infeksi)
Telah terjadi infeksi aktif
Contohnya pada eksplorasi perut
untuk abses peritonitis

Berdasarkan Kedalaman dan luas luka


Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching
Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan
epidermis kulit.
Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya
lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas
dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya
tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang
dangkal.
Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya
kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis
jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah
tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan
fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara
klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau
tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai
lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya

Berdasarkan ada tidaknya


hubungan dengan dunia luar

1.Luka tertutup
2.Luka terbuka

Jenis luka
Mekanik

Vulnus eksoriatum/ luka lecet/ gores cedera


pada permukaan epidermis akibat bersentuhan
dengan permukaan kasar.
Vulnus scissum/ luka sayat tepi luka berupa
garis lurus dan beraturan.
Vulnus laseratum/ luka robek luka dengan
tepi yang tidak beraturan, biasanya karena
tarikan/ goresan benda tumpul.
Vulnus punctum/ luka tusuk akibat tusukan
benda runcing. Kedalaman luka > lebar luka.
Vulnus morsum karena gigitan binatang.
Vulnus combutio luka terbakar api/ cairan
panas maupun sengatan arus listrik.

Gambaran Klinis
Vulnus eksoriatum

...Gambaran Klinis
Vulnus scissum

...Gambaran Klinis
Vulnus laseratum

...Gambaran Klinis
Vulnus punctum

...Gambaran Klinis
Vulnus morsum

...Gambaran Klinis
Vulnus combutio

Vulnus Contussum
(Luka Memar)
Kulit tidak apa-apa
Pembuluh darah subkutan dapat rusak
hematom.
Bila hematom kecil, maka akan diserap oleh
jaringan sekitarnya.
Bila hematom besar, maka penyembuhan
berjalan lambat.

Vulnus Sclopetorum
(Luka Tembak)
Terjadi karena tembakan, granat, dan
sebagainya.
Tepi luka tidak teratur.
Corpus alienum dapat dijumpai dalam
luka, misalnya pecahan granat, anak
peluru, sobekan baju yang mengikuti
peluru
ke
dalam
tubuh,
dan
sebagainya.
Kemungkinan infeksi lebih besar.

Berdasarkan waktu
penyembuhan
1. Luka akut
. luka trauma yang biasanya segera mendapat penanganan dan
biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi
komplikasi.
. Kriteria luka akut adalah luka baru, mendadak dan
penyembuhannya sesuai dengan waktu yang diperkirakan
. Contoh : Luka sayat, luka bakar, luka tusuk, crush injury.
2. Luka kronis
. luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali
(rekuren) dimana terjadi gangguan pada proses penyembuhan
. Luka gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak
berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk
timbul kembali.
. luka yang tidak sembuh dalm waktu 3 bulan
. Contoh : Ulkus dekubitus, ulkus diabetik, ulkus venous, luka
bakar dll.

Penyembuhan
Luka
1.Fase inflamatori
2.Fase proliferatif
3.Fase maturasi

A. Proses Inflamatori
Dua proses utama :hemostasis dan pagositosis.
Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase
konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka,
retraksi
pembuluh
darah,
endapan
fibrin
(menghubungkan
jaringan)
dan
pembentukan
bekuan darah di daerah luka.
Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang
menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka
bagi pengambilan sel. Scab (keropeng) juga
dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan
mati, scab membantu hemostasis dan mencegah
kontaminasi luka oleh mikroorganisme. Dibawah
scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi.
Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh
dengan lingkungan dan mencegah masuknya

Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah


dan respon seluler digunakan untuk mengangkat
benda-benda asing dan jaringan mati.
Suplai darah yang meningkat ke jaringan
membawa
bahan-bahan
dan
nutrisi
yang
diperlukan pada proses penyembuhan. Pada
akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit
bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama
neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat
ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari
monosit selama lebih kurang 24 jam setelah
cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme
dan sel debris melalui proses yang disebut
pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor
angiogenesis
(AGF)
yang
merangsang
pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh
darah.
Makrofag
dan
AGF
bersama-sama

2. Proses Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari
ke-21 setelah pembedahan.
Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) yang berpindah
ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan.
Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar
yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka.
Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan
permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat
menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil
kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan
penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kapilarisasi
tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang
memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi
penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke
luka membawa fibrin.
Seiring
perkembangan
kapilarisasi
jaringan
perlahan
berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang
lunak dan mudah pecah.

3. Proses Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21
dan berakhir 1-2 tahun setelah
pembedahan.
Fibroblast
terus
mensintesis
kolagen.
Kolagen
menjalin
dirinya , menyatukan dalam
struktur yang lebih kuat. Bekas
luka menjadi kecil, kehilangan
elastisitas
dan
meninggalkan
garis putih

Faktor-faktor yg mempengaruhi
penyembuhan luka
usia, status nutrisi dan hidrasi,
oksigenasi danperfusi
INTRINSI jaringan, status imunologi, dan
K
penyakit penyerta
pengobatan, radiasi,stres
psikologis, infeksi, iskemia dan
EKSTRIN trauma jaringan
SIK

Komplikasi
1.Infeksi
2.Perdarahan
3.Dehiscence dan
Eviscerasi

Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat
trauma, selama pembedahan atau setelah
pembedahan.
Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 7 hari
setelah pembedahan.
Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya
purulent,
peningkatan
drainase,
nyeri,
kemerahan dan bengkak di sekeliling luka,
peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel
darah putih.

Perdarahan
Perdarahan pelepasan jahitan, sulit
membeku pada garis jahitan, infeksi,
atau erosi dari pembuluh darah oleh
benda asing (seperti drain).

3. Dehiscence dan
Eviserasi
Dehiscence terbukanya lapisan luka partial
atau total.
Eviscerasi keluarnya pembuluh melalui
daerah irisan.
Dehiscence luka dapat terjadi 4 5 hari setelah
operasi sebelum kollagen meluas di daerah
luka.
Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka
harus segera ditutup dengan balutan steril
yang lebar, kompres dengan normal saline.

Penyembuhan luka
1.Penyembuhan Primer ( Sanatio per
Primum Intentionum/Primary Healing)
2.Penyembuhan Sekunder (Sanatio per
Secundum Intentionum/Secondary
Healing)
3.Penyembuhan Tertier (Sanatio per
Tertium Intentionum/Tertiary Healing)

Penyembuhan Primer ( Sanatio


per Primum Intentionum/Primary
Healing)
Luka-luka yang bersih
Penyembuhannya
tanpa
komplikasi, berjalan cepat dan
hasilnya secara kosmetis baik.

Penyembuhan Sekunder (Sanatio per


Secundum Intentionum/Secondary
Healing)
Penyembuhan pada luka terbuka
adalah melalui jaringan granulasi
dan sel epitel yang bermigrasi.
Luka-luka yang lebar dan terinfeksi,
luka yang tak dijahit, luka bakar,
Setelah luka sembuh akan timbul
jaringan parut.

Penyembuhan Tertier (Sanatio


per Tertium Intentionum/ Tertiary
Healing)
Disebut pula delayed primary closure.
Terjadi pada luka yang dibiarkan
terbuka
karena
kontaminasi,
kemudian setelah tidak ada tandatanda infeksi dan granulasi telah baik,
baru dilakukan jahitan sekunder, yang
dilakukan setelah hari keempat, bila
tanda-tanda infeksi telah menghilang