Anda di halaman 1dari 20

Proteksi BPJS /

Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN)
KELOMPOK B-13

KELOMPOK B-13
MUHAMMAD HANAFI QUSYAIRI
1102010181
YOGIE NAHARA SAPUTRA
1102010297

RIZKI GUMELAR

1102012254

SERA FAJARINA

1102012271

SERLIA MARTHASARI

1102012272
1102012273

MUHAMMAD FAISAL

1102012171

SHAFIRA APHRODITA

NIDAUL HASANAH

1102012192

SHEILA PRILIA ANDINI


1102012274

NURUL HIKMAH
1102012207
RATNA KURNIANINGSIH
1102012228
RIZKI FITRIANTO
1102012251

SHOFA MUMINAH

1102012275

Badan Penyelenggara Jaminan


Sosial
badan hukum yang
dibentuk untuk
menyelenggarakan
program jaminan
kesehatan

Sejarah Singkat BPJS


1968- Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan
yang secara jelas mengatur pemeliharaan kesehatan bagi
Pegawai Negeri dan Penerima Pensiun (PNS dan ABRI)
beserta anggota keluarganya berdasarkan Keputusan
Presiden Nomor 230 Tahun 1968. Menteri Kesehatan
membentuk Badan Khusus di lingkungan Departemen
Kesehatan RI yaitu Badan Penyelenggara Dana
Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK), dimana oleh Menteri
Kesehatan RI pada waktu itu (Prof. Dr. G.A. Siwabessy)
dinyatakan sebagai cikal-bakal Asuransi Kesehatan
Nasional.

1984- Untuk lebih meningkatkan program jaminan


pemeliharaan kesehatan bagi peserta dan agar dapat
dikelola secara profesional, Pemerintah menerbitkan
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984 tentang
Pemeliharaan
Kesehatan
bagi
Pegawai
Negeri
Sipil,Penerima Pensiun (PNS, ABRI dan Pejabat Negara)
beserta anggota keluarganya. Dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984, status badan
penyelenggara diubah menjadi Perusahaan Umum
Husada Bhakti.

1991- Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69


Tahun
1991,
kepesertaan
program
jaminan
pemeliharaan kesehatan yang dikelola Perum Husada
Bhakti ditambah dengan Veteran dan Perintis
Kemerdekaan beserta anggota keluarganya. Disamping
itu, perusahaan diijinkan memperluas jangkauan
kepesertaannya ke badan usaha dan badan lainnya
sebagai peserta sukarela

1992- Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun

1992 status Perum diubah menjadi Perusahaan Perseroan


(PT Persero) dengan pertimbangan fleksibilitas
pengelolaan keuangan, kontribusi kepada Pemerintah
dapat dinegosiasi untuk kepentingan pelayanan kepada
peserta dan manajemen lebih mandiri.

2005- PT. Askes (Persero) diberi tugas oleh Pemerintah melalui


Departemen Kesehatan RI, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan
RI Nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004 dan Nomor
56/MENKES/SK/I/2005, sebagai Penyelenggara Program Jaminan
Kesehatan Masyarakat Miskin (PJKMM/ASKESKIN).
Dasar Penyelenggaraan:
UUD 1945
UU No. 23/1992 tentang Kesehatan
UU No.40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004
dan Nomor 56/MENKES/SK/I/2005,

Prinsip Penyelenggaraan mengacu pada:


Diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia
dengan azas gotong royong sehingga terjadi subsidi
silang.
Mengacu pada prinsip asuransi kesehatan sosial.
Pelayanan kesehatan dengan prinsip managed care
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Program diselenggarakan dengan prinsip nirlaba.
Menjamin adanya protabilitas dan ekuitas dalam
pelayanan kepada peserta.
Adanya akuntabilitas dan transparansi yang terjamin
dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian, efisiensi
dan efektifitas.
2014- Mulai tanggal 1 Januari 2014, PT Askes Indonesia
(Persero) berubah nama menjadi BPJS Kesehatan sesuai
dengan Undang-Undang no. 24 tahun 2011 tentang BPJS.

Proses Transfomasi
Kementerian Sosial mengklaim Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Kesehatan yang berlaku pada awal 2014 akan menjadi program
jaminan sosial terbaik dan terbesar di Asia.[14]
Namun pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional oleh BPJS pada
2014 diperkirakan terkendala persiapan dan infrastruktur. Misalnya,
jumlah kamar rumah sakit kelas III yang masih kurang 123 ribu unit.
Jumlah kamar rumah sakit kelas III saat ini tidak bisa menampung 29
juta orang miskin. Kalangan DPR menilai BPJS Kesehatan belum siap
beroperasi pada 2014 mendatang

Dasar Hukum
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional, Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 52

Kepesertaan Wajib
Setiap warga negara Indonesia dan warga asing yang
sudah berdiam di Indonesia selama minimal enam
bulan wajib menjadi anggota BPJS. Ini sesuai pasal 14
UU BPJS.
Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya
sebagai anggota BPJS. Sedangkan orang atau keluarga
yang
tidak
bekerja
pada
perusahaan
wajib
mendaftarkan diri dan anggota keluarganya pada BPJS.
Setiap peserta BPJS akan ditarik iuran yang besarnya
ditentukan kemudian. Sedangkan bagi warga miskin,
iuran BPJS ditanggung pemerintah melalui program
Bantuan Iuran.

Kepesertaan Wajib
Menjadi peserta BPJS tidak hanya wajib bagi pekerja di sektor
formal, namun juga pekerja informal. Pekerja informal juga wajib
menjadi anggota BPJS Kesehatan. Para pekerja wajib
mendaftarkan dirinya dan membayar iuran sesuai dengan
tingkatan manfaat yang diinginkan.
Jaminan kesehatan secara universal diharapkan bisa dimulai
secara bertahap pada 2014 dan pada 2019, diharapkan seluruh
warga Indonesia sudah memiliki jaminan kesehatan tersebut.
Menteri KesehatanNafsiah Mboimenyatakan BPJS Kesehatan
akan diupayakan untuk menanggung segala jenis penyakit
namun dengan melakukan upaya efisiensi

Keunggulan BPJS
1. Iuran Super Murah

BPJS tidak membedakan besaran premi berdasarkanumur, jenis


kelamin serta status merokok. Ini berbeda dengan asuransi
kesehatan. Dalam asuransi kesehatan, semakin tua umur, premi
akan makin mahal. Ada pula perbedaan premi antara laki dan
perempuan serta status merokok.

Keunggulan BPJS
2. Manfaat Kesehatan yang Dijamin
Berikut manfaat yang diberikan BPJS: Rawat Inap, Rawat Jalan,
Kehamilan dan Melahirkan.Persalinan dengan operasi caesar
termasuk yang ditanggung . Optik/Kacamata.
3. Tidak Ada Pre Existing Condition
BPJS tidak mengenal pre-existing condition. Semua penyakit
ditanggung, termasuk penyakit yang sudah ada sebelum peserta
bergabung. Buktinya, tidak adanya medical check up
dalampendaftaran BPJS.

Keunggulan BPJS
4 Tanpa Medical Check-Up
Proses pendaftaran BPJS kesehatan sangat simpel dan mudah. Isi
formulir secara online, cukup dengan data pribadi semua peserta
(bapak, ibu dan anak-anak). Tidak perlu data kesehatan.
5 Tidak Ada Batasan Plafond
Dalam BPJS, merujuk pada buku panduan, tidak ada plafond atau
batasan biaya penggantian. Selama mengikuti prosedur dan
menggunakan kelas kamar yang ditentukan, semua biaya
pengobatan ditanggung oleh BPJS

Kelemahan BPJS
1. Prosesnya Lebih Panjang
Peserta harus datang dulu ke fasilitas kesehatan tingkat
pertama (faskes I), yaitu puskesmas, klinik atau dokter keluarga,
yang sudah ditunjuk oleh BPJS. Keputusan rujukan sepenuhnya
ditangan faskes tingkat I. Untuk gawat darurat, aturan ini tidak
berlaku dan peserta bisa langsung ke rumah sakit tanpa perlu
rujukan. Bahkan ke rumah sakit yang belumkerjasama dengan
BPJS bisa untuk kondisi gawat darurat.

Kelemahan BPJS
2. Bersiap dengan Antrian
Sebagai jaminan kesehatan nasional, peserta BPJS banyak. Datang
dari berbagai kalangan, baik pegawai negeri, swasta, bekerja maupun
tidak, serta anggota keluarganya. Preminya yang murah juga menjadi
daya tarik. Akibatnya, antrian di rumah sakit tidak terhindarkan.
3. Tidak Semua Rumah Sakit Kerjasama
Tidak semua rumah sakit menerima BPJS. Rumah sakit swasta banyak
yang belum kerjasama dengan BPJS. Kalau tidak kerjasama, peserta
tidak bisa menggunakan jaminan kesehatan di rumah sakit tersebut.