Anda di halaman 1dari 15

Aplastik

Dr. Huldani

Istilah Lain dari Anemia


Aplastik

anemia hipoplastik
anemia refrakter
hipositemia progresif
anemia aregeneratif
aleukia hemoragika
panmielofisis
anemia paralitik toksik

Epidemiologi
Kasus anemia aplastik ini sangat rendah
pertahunnya. Kira-kira 2 5 kasus/juta
penduduk/tahun.
diderita semua umur.
berpotensi mengancam jiwa dan biasanya
dapat menyebabkan kematian.
Pada pria lebih berat dibanding wanita
walaupun sebenarnya perbandingan
jumlah antara pria dan wanita hampir
sama.

Anemia aplastik

Tanda dan Penyebab


Pansitopenia : defisit sel darah merah, sel darah putih
dan trombosit.
Penyebab karena kurangnya sel induk pluripoten
sehingga sumsum tulang gagal membentuk sel-sel darah.
Kegagalan sumsum tulang ini disebabkan banyak faktor.
Mulai dari induksi obat, virus, sampai paparan bahan
kimia.

Gejala
Tiga gejala utama yaitu, anemia (kurang darah merah),
trombositopenia (kurang trombosit), dan leukopenia (kurang leukosit).
Ketiga gejala ini disertai dengan gejala-gejala lain yang dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Anemia biasanya ditandai dengan pucat, mudah lelah, lemah, hilang
selera makan, dan palpitasi.
Trombositopenia, misalnya: perdarahan gusi, epistaksis, petekia,
ekimosa dan lain-lain.
Leukopenia, misalnya: infeksi.
Sangat jarang terjadi : hepatosplenomegali dan limfadenopati

Penyebab
Sebagian besar kasus anemia aplastik bersifat idiopatik dimana
penyebabnya masih belum dapat dipastikan.
Faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya penyakit anemia
aplastik :
Penyakit kongenital
Anemia fanconi, dyskeratosis congenita, sindrom Pearson, sindrom
Dubowitz dan lain-lain. Diduga penyakit-penyakit ini memiliki kaitan
dengan kegagalan sumsum tulang yang mengakibatkan terjadinya
pansitopenia (defisit sel darah).
Zat-zat kimia
Benzen, arsen, insektisida, dan lain-lain. Zat-zat kimia tersebut
biasanya terhirup ataupun terkena (secara kontak kulit) pada
seseorang.

Obat seperti kloramfenikol diduga dapat


menyebabkan anemia aplastik. Misalnya
pemberian kloramfenikol pada bayi sejak berumur
2 3 bulan akan menyebabkan anemia aplastik
setelah berumur 6 tahun.
America Medical Association juga telah
membuat daftar obat-obat yang dapat
menimbulkan anemia aplastik.
Seperti : Azathioprine, Karbamazepine, Inhibitor
carbonic anhydrase, Kloramfenikol, Ethosuksimide,
Indomethasin, Imunoglobulin limfosit, Penisilamine,
Probenesid, Quinacrine, Obat-obat sulfonamide,
Sulfonilurea, Obat-obat thiazide, Trimethadione.

Radiasi
Mengakibatkan kerusakan pada sel induk ataupun
menyebabkan kerusakan pada lingkungan sel induk.
Contoh radiasi :
pajanan sinar X yang berlebihan ataupun jatuhan
radioaktif (misalnya dari ledakan bom nuklir).
Paparan oleh radiasi berenergi tinggi ataupun
sedang
yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kegagalan sumsum tulang akut dan kronis maupun
anemia aplastik.
Infeksi
Seperti infeksi virus Hepatitis C, EBV, CMV,
parvovirus, HIV, dengue dan lain-lain.

Gangguan autoimun
Gangguan autoimun, di mana sistem
kekebalan tubuh mulai menyerang sel-sel
sehat, mungkin juga mengganggu sel-sel
induk dalam sumsum tulang.
Kehamilan
Anemia aplastik yang terjadi pada kehamilan
mungkin terkait dengan masalah autoimun
atau sistem kekebalan tubuh yang menyerang
sumsum tulang selama kehamilan.

Terapi
Terapi Suportif
Transfusi sel darah merah dan trombosit sangat
bermanfaat. Hal ini dilakukan untuk
mengimbangi kekurangan sel darah merah dan
trombosit.
Faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik
Terapi dengan faktor pertumbuhan sebenarnya
tidak dapat memperbaiki kerusakan sel induk.
Namun terapi ini masih dapat dijadikan pilihan
terutama untuk pasien dengan infeksi berat.

Transplantasi Sumsum Tulang


Transplantasi sumsum tulang ini dapat dilakukan pada pasien
anemia aplastik jika memiliki donor yang cocok HLA-nya
(misalnya saudara kembar ataupun saudara kandung).
Terapi ini sangat baik pada pasien yang masih anak-anak.
Transplantasi sumsum tulang ini dapat mencapai angka
keberhasilan lebih dari 80% jika memiliki donor yang HLA-nya
cocok.
Namun angka ini dapat menurun bila pasien yang mendapat
terapi semakin tua. Artinya, semakin meningkat umur, makin
meningkat pula reaksi penolakan sumsum tulang donor.
Kondisi ini biasa disebut GVHD atau graft-versus-host disease.
Kondisi pasien akan semakin memburuk.

Terapi imunosupresif
Terapi imunosupresif dapat dijadikan pilihan bagi mereka
yang menderita anemia aplastik.
Terapi ini dilakukan dengan konsumsi obat-obatan. Obatobat yang termasuk terapi imunosupresif ini antara lain
antithymocyte globulin (ATG) atau antilymphocyte
globulin (ALG), siklosporin A (CsA) dan Oxymethalone.
Oxymethalon juga memiliki efek samping diantaranya,
retensi garam dan kerusakan hati. Orang dewasa yang
tidak mungkin lagi melakukan terapi transplantasi
sumsum tulang, dapat melakukan terapi imunosupresif
ini.

Komplikasi
Paling sering terjadi adalah perdarahan dan
rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan
karena kurangnya kadar trombosit dan
kurangnya kadar leukosit.
Terapi anemia aplastik juga dapat menyebabkan
komplikasi GVHD (Graft-Versus-HostDisease). Hal ini merupakan kegagalan dari
terapi transplantasi sumsum tulang.

Pencegahan
menghindari paparan bahan kimia berlebih sebab
bahan kimia seperti benzena juga diduga dapat
menyebabkan anemia aplastik.
hindari juga konsumsi obat-obat yang dapat
memicu anemia aplastik. Kalaupun memang harus
mengonsumsi obat-obat yang demikian, sebisa
mungkin jangan mengonsumsinya secara
berlebihan.
menjauhi radiasi seperti sinar X dan radiasi lainnya

Terimakasih