Anda di halaman 1dari 27

Case Report

P1A0 Partus Maturus dgn SC a/i CPD+Gawat Janin


Disusun oleh :
Sesvianda Fatma Yuliandari S
Pembimbing
Dr H. Rizky Safaat SpOG

ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Umur : 20 thn
Alamat : Sukawening
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: IRT
No. Medrek
: 795080
Masuk RS
: 26 Agustus 2015
Keluar RS
: 29 Agustus 2015

Nama Suami

: Tn. R

Umur

: 24 thn

Alamat

:Sukawening

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Buruh

Anamnesis
Dikirim oleh
: Bidan
Sifat
: Tanpa Surat Rujukan
Keterangan
: Tanpa Keterangan
Keluhan Utama
: Mules-Mules.
G1P0A0 merasa hamil sembilan bulan, mengeluh mules-mules
yg semakin lama semakin sering sejak 2 hari SMRS. Disertai keluar
lendir bercampur darah dari jalan lahir. Keluar cairan banyak dari jalan
lahir disangkal. Pergerakan janin masih dirasakan. Awal pergerakan
bayi dirasakan saat usia kehamilan 4 bulan.

TBBA

: 3100 gr

Laboratorium
Tanggal 26-08-2015
Darah Rutin
Hemoglobin: 10,7 g/dL
Hematocrit: 35%
Leukosit : 25.430/mm3
Trombosit : 400.000/mm3
Eritrosit : 5.05 juta/mm

Diagnosis
G1P0A0 Parturient aterm kala I Fase Aktif
Rencana Pengelolaan
-R/ Partum spontan pervaginam.
-Infus RL 500 cc, 20 gtt/menit
Advis dr ervan SpOG via telp jam 21:00 drip
oxy 20 gtt/menit

Laporan persalinan
Telah lahir satu bayi dengan section caesarea dengan
presentasi kepala pada tanggal 27 08 2015
Jam : 06:30
Jenis Kelamin
: Perempuan
Berat Badan: 3400gr
Panjang Badan: 47 cm
APGAR Skor
: 3-5
Anus : (+)
Kelainan
: (-)

Permasalahan
1. Bagaimana penegakkan diagnosis
pada kasus ini?
2. Apakah pengelolaan kasus ini sudah
tepat?
3. Bagaimanakah prognosis pada pasien
ini?

Cephalo pelvic disproportion


Cephalo pelvic disproportion adalah ketidakseimbangan
antara ukuran kepala janin dan panggul (Mochtar,1998)
Menurut Wiknjosastro Cephalo pelvic disproportion
adalah ketidakseimbangan antara besarnya kepala janin
dalam perbandingan dengan luasnya ukuran panggul
ibu.

ETIOLOGI

TATALAKSANA
Sectio caesaria dan partus
merupakan tindakan utama.

percobaan

Kadang ada indikasi untuk melakukan


simfisiotomi dan kraniotomi tetapi simfisiotomi
sangat
jarang
dilakukan
di
Indonesia.
Sedangkan kraniotomi hanya dikerjakan pada
janin mati. (wiknjosastro, 2007)

Anatomi Tulang Pelvis

Pelvis disusun oleh 4 tulang :


1.Linea inominata dextra
2.Linea inominata sinistra
Masing-masing terdiri dari os pubis
dextra&sinistra, os ilium, os ischium
3.Os sacrum
4.Os coccygis

Secara fungsional panggul terdiri dari 2


bagian yg disebut pelvis mayor dan
pelvis minor

Menurut Caldwell dan Moloy, jenis panggul dibagi menjadi


4 yaitu :

Gawat janin (fetal distress)

Etiologi

Beberapa tahapan terjadinya gawat janin pada


kehamilan post term

DIAGNOSIS

Tatalaksana
Penanganan umum
1.
Pasien dibaringkan miring ke kiri, agar sirkulasi janin dan pembawaan
oksigen dari ibu ke janin lebih lancar.
2.
Berikan oksigen sebagai antisipasi terjadinya hipoksia janin.
3.
Hentikan infuse oksitosin jika sedang diberikan infuse oksitosin
4.
Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) beri penanganan
yang sesuai.
5.
Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tetap abnormal
sepanjang paling sedikit 3 kontraksi, lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari
penyebab gawat janin:

Bebaskan setiap kompresi tali pusat

Perbaiki aliran darah uteroplasenter

Menilai apakah persalinan dapat berlangsung normal atau kelahiran


segera merupakan indikasi.
Rencana kelahiran (pervaginam atau perabdominam) didasarkan pada fakjtorfaktor etiologi, kondisi janin, riwayat obstetric pasien dan jalannya persalinan.

b.

Penatalaksanaan Khusus

1.
Posisikan ibu dalam keadaan miring
2.
Oksigen diberikan melalui masker muka 6 liter permenit sebagai usaha
untuk meningkatkan pergantian oksigen fetomaternal.
3.
Oksitosin dihentikan, karena kontraksi uterus akan mengganggu curahan
darah ke ruang intervilli.
4.
Hipotensi dikoreksi dengan infus intravena dekstrose 5 % berbanding
larutan laktat. Transfusi darah dapat di indikasikan pada syok hemoragik.
5.
Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan prolaps tali pusat dan
menentukan perjalanan persalinan.
6.
Pengisapan mekonium dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi risiko
aspirasi mekoneum. Segera setelah kepala bayi lahir, hidung dan mulut
dibersihkan dari mekoneum dengan kateter pengisap. Segera setelah
kelahiran, pita suara harus dilihat dengan laringoskopi langsung sebagai usaha
untuk menyingkirkan mekoneum dengan pipa endotrakeal.

Daftar pustaka
1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al.Obstetri
Williams. Edisi 23. Vol 1. Jakarta : EGC.2002.
2. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. Edisi ke-3 cetakan ke-2.
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2014.
3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/35143/4/Chapt
er%20II.pdf . disitasi pada tanggal 1 september 2015

THANKYOU