Anda di halaman 1dari 40

INFEKSI

NOSOKOMIAL
Dr. SUHAEMI, SpPD, FINASIM

NOSOCOMIAL INFECTIONS (NI)


"nosus" = disease
"komeion" = to take care of
Infections that occur during hospitalization
but are not present nor incubating upon
hospital admission

THE PROBLEM OF NI
USA
Urinary

tract infections: 2.4 per 100 admissions


Pneumonia: 1 case per 100 admissions
Surgical site infections: 2.8 per 100 operations
NCI; one death every 6th minutes

Norway
One

of 19 patients have a NCI

COST OF NI
England
Average cost per NCI: 3.000 pounds

Extra days:
Urinary tract infections:
Pneumonia:
12
Surgical site infections:

6
7

DEFINISI INFEKSI NOSOKOMIAL

Istilah infeksi nosokomial berasal dari kata


Greek : nosos (penyakit) dan komeion
(merawat).
Nosocomion/nosocomium : rumah sakit
Definisi: Setiap infeksi yg didapat selama
perawatan di RS, tetapi bukan timbul
ataupun pada stadium inkubasi pada saat
masuk dirawat di RS, atau merupakan infeksi
yg berhubungan dgn perawatan di RS
sebelumnya.

DEPKES RI,1993.IN
(INFEKSI NOSOKOMIAL)

1. Pada saat masuk RS tidak ada tanda


/gejala atau tidak dalam masa inkubasi
infeksi tsb.
2. Infeksi terjadi sesudah 72 jam perawatan
setelah rawat inap.
3.Infeksi pd lokasi yg sama tetapi disebabkan
oleh mikroorganisme yg berbeda dari
mikroorganisme pd saat masuk RS atau
mikroorganisme penyebab sama tetapi lokasi
infeksi berbeda.

SEJARAH IN

1847 Dr. Ignaz Semmelwis , Vienna, Austria :


Angka kematian ibu di bangsal yang dilayani
oleh mahasiswa kedokteran 3x lebih tinggi
dibanding yang dilayani Bidan.

Pengamatan : Setelah Autopsi Mayat langsung


ke ruang ibu melahirkan.

Cuci tangan dgn Klorin sebelum memeriksa


ibu : Angka kematian menurun

SEJARAH IN

1877 mendirikan RS khusus penyakit menular


Pengenalan sarung tangan lateks membantu
mengurangi penularan.
1970 US : mengisolasi semua pasien infeksi
yang menularkan
1985 masalah IN menjadi semakin tinggi
dengan munculnya HIV
1985 : UNIVERSAL PRECAUTION/Kewaspadaan
universal

EPIDEMIOLOGI

SUMBER Vehicle, Vector, PASIEN

Penularan dpt terjadi :

Cross Infection ( pasien ke pasien )


Self Infection ( pindah tempat )

Yang Terkena : Pasien Rawat, Personil RS,


Pengunjung/Penunggu RS

IN TERJADI PD PASIEN RESIKO


TINGGI

Usia Tua
Berbaring Lama
Penggunaan obat Imunosupresan, Steroid
Luka Bakar/Kombusio
Prosedur Diagnostik invasif
Infus berlama lama
Pemasangan kateter urin yg lama
Luka operasi

SUMBER/CARA PENULARAN

Melalui Tangan
Melalui Jarum Suntik
Kateter Intravena
Kateter Urin
Kain kasa/verban
Cara keliru dalam menangani luka
Terkontaminasi peralatan operasi

KUMAN PENYEBAB IN

Proteus
E.coli
S.aureus
Streptococcus faecalis
Lebih Resisten terhadap Antibiotik :
Diperlukan AB yg lebih Poten atau Kombinasi

PATOGENESIS

Infeksi oleh populasi kuman RS terhadap


pasien yg memang sudah lemah fisiknya
tdklah terhindarkan.
RS harus bersih dan sesteril mungkin.
Yang penting kembali kepada kaidah Sepsis
dan Anti Sepsis dan perbaikan sikap personil
RS.
Suprainfeksi diperkirakan terjadi karena
kuman yg sdh RESISTEN terhadap AB
( Pseudomonas aeroginosa resisten terhadap
Aminoglikosid )

BAKTERI RESISTEN (PENYEBAB)


PENGGUNAAN AB YANG TIDAK RASIONAL
A. Dosis Kurang
B. Penggunaan Singkat untuk pengobatan
C. Terlalu lama untuk Profilaksis
D. Pemilihan AB yg kurang Tepat
Pada pasien dgn daya tahan yg kurang oleh
karena penyakit kronik, usia tua,
imunosupresan
Kuman tdk Patogen PATOGEN

MANIFESTASI KLINIS (1)


IN terjadi terutama disebabkan INFEKSI dari :
A. Kateter Urin
B. Jarum Infus
C. Infeksi Saluran Nafas
D. Infeksi Kulit
E. Luka Operasi
F. Septikemia

MANIFESTASI KLINIS (2)

IN merupakan PROBLEM BESAR dan


menghabiskan biaya besar di RS.
IN bayak terjadi di Ruang Rawat Intensif pd
kasus bedah dan pemakaina infus dan kateter
yang lama.
KOMPLIKASI kanulasi Intravena:
Ekstravasasi, Penyumbatan, Flebitis,
Trombosis, Kolonisasi kanul,Septikemia,
Supurasi

MANIFESTASI KLINIS (3)

Faktor2 menyebabkan komplikasi kanula IV:

1. Kateter plastik
2. Ukuran kateter yag lebih besar
3. Pemasangan melalui Venaseksi
4. Kateter yg terpasang > 72 jam
5. Pada Tungkai Bawah
6. Tidak mengindahkan kaidah antisepsis
7. Cairan hipertonis
8. Transfusi darah ( media pertumbuhan mikroorganisma )
9. Peralatan tambahan pada tempat infus/pengaturan
tetesan obat
10. Manipulasi terlalu sering pada kanula

IN PADA KATETER INTRAVENA

Penelitian prospektif:
Hasil positif biakan dari kanula : Metal ; 8,511,5%, Plastik; 3,8-57%.
Kejadian Sepsis 2% untuk pemasangan iv 48
jam atau lebih.
Infeksi yg berhubungan dgn pemasangan iv
terjadi 5% dari semua IN.

Mikroorganisme dapat masuk pada setiap


tempat sepanjang pemasangan kateter IV
atau sebagai akibat manipulasi sesudahnya.
Kontaminasi dapat terjadi pada setiap
tempat sepanjang selang, tempat selang
bertemu dgn kanula atau tempat bertemu
antara jarum dgn botol atau kantung.
Bakteri yg paling sering berperan terjadinya
infeksi IV adalah: S aureusdan S epidermidis,
Klebsiella dan Pseudomonas aeruginase.

RAWAT KEBIDANAN PASCA


OPERASI

IN dengan Infeksi Saluran Kemih


Pemasangan kateter urin dan lamanya
dipasang sangat mempengaruhi kejadian :
1x pemasangan : infeksi 1,7%
Intermitten
: infeksi 3,5%
Dauer Kateter : infeksi 10%
2 hari
: infeksi 15%
10 hari
: infeksi 50%

UNIT BEDAH

Infeksi Luka Bakar : 79%

Peran Peralatan Bedah yg terkontaminasi


Kualitas air bersih yang terkontaminasi
Ketidak disiplinan dalam melakukan tindakan
aseptik dan antiseptik
INFEKSI NOSOKOMIAL

RUANG RAWAT INTENSIF

Lebih sering Terjadi dibanding Bangsal


ICU 5-8x lebih tinggi
Infeksi gram negatif, jamur
Pneumonia ( 37%) Alat Bantu Nafas VAP
( Ventilator Associated Pneumonia )
Kuman : Streptococ pneumoni, Staph aureus,
Hemophilus influenza, Klebsiella sp,
Pseudomonas aeroginosa, E. Coli.

BANGSAL RAWAT BAYI

IN akan mudah terjadi akibat daya tahan yg


masih rendah
IN bisa terjadi pd permukaan kulit, selaput
lendir mulut.
Diare, Sepsis, Selulitis dan Meningitis
Angka kematian akibat IN lebih tinggi pada
bayi dgn BBLR ( < 2500 gram )

CONTOH

Seorang anak dgn Leukemia Limfoblastik Akut


mempunyai resiko yg tinggi untuk terjadinya
infeksi saluran kemih akibat pemasangan
kateter urin dibandingkan dgn anak sehat
lain dgn kateter urin yg dipasang selama
waktu yang sama

MIKROORGANISME PATOGEN
YANG TERLIBAT

IN dapat disebabkan setiap mikroorganisme:


Bakteri, Virus, Fungi, Protozoa.
Sering disebabkan oleh bakteri yg berasal
dari flora endogen pasien sendiri.
Faktor2 spt pengobatan dgn AB, uji
diagnostik dan pengobatan yg invasif,
penyakit dasar
Bersama sama mengubah flora endogen
pasien selama dirawat

RESISTENSI AB

Galur Streptococcus aureus yg resisten


terhadap semua AB Beta laktam
( aminoglikosida dan) dikenal sebagai MRSA
(methicillin-resistant Strep aureus )
VANKOMISIN

VIRUS
Virus juga dpt menyebabkan IN
Yaitu Pneumonia dan ISPA bagian atas pada
bayi dan anak kecil disebabkan : RSV
( respiratory syncytial virus )
Virus Lain : influenza, herpes simpleks ( kulit ),
varisella, adenovirus, sitomegalovirus,
rotavirus( GE ), parpovirus

Pasien Rawat Inap sering mendapat flora


Endogen skunder dari RS :
Flora ini berasal dari pasien lain melalui petugas
RS.
Makanan, air minum dan sumber bakteri dari
lingkungan mempunyai peran yg lebih kecil dlm
penyebaran patogen nosokomial.
Kontak tdk langsung menyebar melalui tangan
petugas rumah sakit yg merupakan penularan
patogen RS yg paling sering.
Penularan dapat dicegah dgn cuci tangan
adekuat

CARA MENGURANGI INFEKSI PADA


PEMASANGAN KATETER INTRAVENA

Pergunakan jarum stainless drpd plastik


Pasanglah kanula secara steril, termasuk cuci
tangan, sarung tangan steril.
Lakukan desinfektans secara adekuat pd tempat
pemasangan kateter IV, dapat digunakan Iodine
tincture 1% untuk 30 detik diikuti alkohol 70%
lebih 1 menit.
Cegah cara maju mundur kateter saat
pemasangan
Pakailah kain steril diatas pemasangan kateter IV
Gantilah kateter IV setiap 48 jam

SARUNG TANGAN
Apakah kontak
dengan darah atau
cairan tubuh?

TIDAK

TANPA SARUNG TANGAN

TIDAK

S.T. RUMAH TANGGA


atau
SARUNG TANGAN BERSIH

TIDAK

SARUNG TANGAN BERSIH


atau
SARUNG TANGAN DTT

YA

Apakah kontak
dengan pasien?

YA
Apakah kontak
dengan jaringan di
bawah kulit?
YA

SARUNG TANGAN STERIL


atau
SARUNG TANGAN DTT

TYPES OF PERSONAL PROTECTIVE


EQUIPMENT( PPE) USED IN HEALTHCARE
SETTINGS

Gloves protect hands


Gowns/aprons protect skin and/or clothing

CUCI TANGAN

CT. higienis/rutin
>standar
>alternatif-> 100 ml alk 70%+ 1-2ml
gliserin 10 %
CT. aseptik
c.t.h.-> sabun / detergen diganti
antiseptik
CT.bedah

HANDWASHING
is the most
important
measure you
can use to
prevent the
spread of
infection.

MASK

Masks and respirators protect mouth/nose


Respirators

protect respiratory tract from


airborne infectious agents

GOGGLES

Goggles protect eyes

Face shields protect face,


mouth, nose, and eyes

UP DI UNIT TERTENTU
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Bedah dan anastesi


Unit kamar bersalin
RRI / ICU
Ruang perinatologi
Unit pelayanan penyakit dalam
Unit pelayanan gigi
Unit pelayanan lab
Unit pelayanan sterilisasi dan disinfeksi
Unit pelayanan binatu
Unit pelayanan gizi
Pemulasaraan jenasah
Ambulan gd, pemadam kebakaran, polisi dan sarana
umum

PAJANAN
HIV DI TEMPAT KERJA
:
TATA LAKSANA PAJANAN

Jangan panik
Bila tertusuk jarum segera bilas dg air mengalir
+sabun/antiseptik , tekan daerah luka sampai darah keluar
Bila darah mengenai kulit yg utuh tanpa luka/tusukan cuci
dg sabun+air
Bila darah mengenai mulut, ludahkan dan kumur bbrp kali
terpecik pd mata, irigasi dgn air mengalir/garam fisiologis
Jika memercik kehidung, hembuskan dan cuci dg air

Jadi yg tertusuk tdk boleh dihisap dg


mulut !!!, rujuk dalam waktu 2-4 jam U/
mendpt profilaksis ARV

KESIMPULAN

Hospital

Hospital

Pathogen

Unhappy
patients

Unhappy
director

Surveillance

Happy
Patients

Happy
director