Anda di halaman 1dari 6

Diabetes Melitus

Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit


multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduaduanya.
World Health Organization (WHO) sebelumnya
telah merumuskan bahwa DM merupakan sesuatu
yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban
yang jelas dan singkat, tetapi secara umum dapat
dikatakan sebagai suatu kumpulan problema
anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor
di mana didapat defisiensi insulin absolut atau
relatif dan gangguan fungsi insulin.

Klasifikasi dan etiologi


Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2009, klasifikasi Diabetes
Melitus adalah sbb:
Diabetes Melitus tipe 1
Karakteristik dari DM tipe 1 adalah keadaan di mana insulin yang beredar di sirkulasi
sangat rendah, kadar glukagon plasma yang meningkat, dan sel beta pankreas gagal
berespons terhadap stimulus yang semestinya meningkatkan sekresi insulin.
DM tipe 1 sekarang banyak dianggap sebagai penyakit autoimun. Pemeriksaan
histopatologi pankreas menunjukkan adanya infiltrasi leukosit dan destruksi sel
Langerhans. Pada 85% pasien ditemukan antibodi sirkulasi yang
menyerangglutamic-acid decarboxylase(GAD) di sel beta pankreas tersebut.
Prevalensi DM tipe 1 meningkat pada pasien dengan penyakit autoimun lain, seperti
penyakit Grave, tiroiditis Hashimoto atau myasthenia gravis. Sekitar 95% pasien
memilikiHuman Leukocyte Antigen(HLA) DR3 atau HLA DR4.
Kelainan autoimun ini diduga ada kaitannya dengan agen infeksius/lingkungan, di
mana sistem imun pada orang dengan kecenderungan genetik tertentu, menyerang
molekul sel beta pankreas yang menyerupai protein virus sehingga terjadi destruksi
sel beta dan defisiensi insulin.

Diabetes Melitus tipe 2


Tidak seperti pada DM tipe 1, DM tipe 2 tidak
memiliki hubungan dengan aktivitas HLA, virus atau
autoimunitas dan biasanya pasien mempunyai sel
beta yang masih berfungsi (walau terkadang
memerlukan insulin eksogen tetapi tidak bergantung
seumur hidup).
Defek yang terjadi pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya
hidup yang diabetogenik (asupan kalori yang berlebihan,
aktivitas fisik yang rendah, obesitas) ditambah
kecenderungan secara genetik. Nilai BMI yang dapat
memicu terjadinya DM tipe 2 adalah berbeda-beda untuk
setiap ras.

Diabetes Kehamilan/gestasional
Diabetes kehamilan didefinisikan
sebagai intoleransi glukosa dengan
onset pada waktu kehamilan.
Diabetes jenis ini merupakan
komplikasi pada sekitar 1-14%
kehamilan. Biasanya toleransi
glukosa akan kembali normal pada
trimester ketiga.

Diabetes Melitus tipe lain


Defek genetik fungsi sel beta
Defek genetik kerja insulin
Penyakit eksokrin pankreas
Endokrinopati
Karena obat/zat kimia
Infeksi
Imunologi
Sindroma genetik lain

Epidemiologi
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang
di seluruh dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total
populasi. Insidensnya terus meningkat dengan cepat, dan diperkirakan
pada tahun 2030, angka ini akan bertambah menjadi 366 juta atau sekitar
4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun lebih sering
(terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens
terbesar terjadi di Asia dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan
perubahan gaya hidup, seperti pola makan Western-style yang tidak
sehat.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2%
mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl
setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak
1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami
Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM maupun TGT lebih
banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada
golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Daerah
dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan
Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia penderita DM
terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%. Beberapa hal yang