Anda di halaman 1dari 38

Untuk mengetahui adanya gangguan

pendengaran pada bayi dan anak


diperlukan
pemeriksaan
fungsi
pendengaran
yang
lebih
sulit
dibandingkan dengan orang dewasa.
Proses belajar mendengar pada bayi
dan anak sangat kompleks dan
bervariasi karena menyangkut aspek
tumbuh
kembang,
perkembangan
embriologi, anatomi, fisiologi, neurologi

Gangguan pendengaran dibedakan


antara
tuli
sebagian
(hearing
impaired) dan tuli total (deaf)
Tuli sebagian (hearing imaired) adalah
keadaan
fungsi
pendengaran
berkurang
namun
masih
dapat
dimanfaatkan untuk berkomunikasi
dengan atau tanpa bantuan alat bantu
dengar, sedangkan tuli total (deaf)
adalah keadaan fungsi pendengaran
yang sedemikian terganggungnya
sehingga tidak dapat berkomunikasi
sekalipun mendapat perkerasan bunyi
(amplikasi)

TUNARUNGU
Etiologi
Penyebab gangguan pendengaran pada
anak dibedakan menjadi penyebab pada
masa prenatal, perinatal dan postnatal
1.Masa

Prenatal
1.1. Genetik Heriditer
1.2.
Non
genetik
seperti
gangguan/kelainan
pada
masa
kehamilan, kelainan struktur anatomik
dan kekurangan zat gizi (misalnya
defisiensi Jodium)

Dalam periode kehamilan masa yang


paling penting adalah pada trimester
pertama,
setiap
gangguan
atau
kelainan yang terjadi pada masa
tersebut dapat menyebabkan ketulian
pada anak. Infeksi bakterial maupun
virus yang sering kali berakibat buruk
pada bayi yang akan dilahirkan adalah
Toksoplasmosis,
Rubella,
Cytomegalovirus, Herpes dan Sifilis
(TORCHS). Selain itu infeksi virus
lainnya seperti campak dan parotitis
juga dapat menyebabkan ketulian

Beberapa jenis obat ototoksik dan


teratogenik berpotensi mengganggu
proses organogenesis dan merusak
sel sel rambut koklea seperti
salisilat,
kina,
neomisin,
dihidro
streptomisin, gentamisin, thalidomide,
barbiturat dan lain lain
Malformasi struktur anatomi telinga
yang
dikenal
sebagai
penyebab
ketulian antara lain atresia liang
telinga dan aplasia koklea.

2. Masa Perinatal

Beberapa keadaan yang dialami bayi


pada saat lahir juga merupakan
faktor resiko untuk terjadinya
gangguan
pendengaran/ketulian
seperti prematuritas, berat badan
lahir rendah (< 2.500 gr), tindakan
dengan alat pada proses kelahiran
(ekstraksi
vakum,
forsep),
hiperbilirubinemia (> 20 mg/100
ml), asfiksia (lahir tidak menagis)
dan anoksia otak (nilai Apgar < 5
dalam 5 menit pertama)

Biasanya jenis ketulian yang terjadi


akibat faktor prenatal dan perinatal ini
adalah tuli saraf dengan derajat
ketulian umumnya berat atau sangat
berat terjadi pada kedua telinga
(bilateral)
3. Masa Postnatal
Adanya infeksi bakterial/viral seperti
rubela, campak, parotis, infeksi otak
(meningitis, ensefalitis), perdarahan
pada telinga tengah, trauma temporal
dapat menyebabkan tuli saraf atau

Untuk dapat melakukan deteksi dini


pada seluruh bayi dan anak relatif
sulit, karena akan membetuhkan
waktu yang lama dan biaya yang
besar. Program skrining sebaiknya
diprioritaskan pada bayi dan anak
anak yang mempunyai resiko tinggi
terhadap gangguan pendengaran.
Untuk maksud tersebut di atas Joint
Committee on Infant Hearing (1990)
menetapkan
pedoman
registrasi
resiko
tinggi
terhadap
ketulian
sebagai berikut :

1. Riwayat keluarga dengan gangguan


pendengaran bawaan
2. Riwayat infeksi prenatal (infeksi
TPRCHS)
3. Kelainan anatomi telinga
4. Lahir prematur (< 37 Minggu)
5. Berat badan rendah ( < 1.500 gr)
6. Persalinan dengan tindakan
7. Hiperbilirubinemia
8. Asfiksia berat, nilai Apgar rendah
(0-3)

Bayi yang mempunyai 3 macam


faktor resiko tersebut di atas,
mempunyai
kecenderungan
menderita ketulian 63 kali lebih besar
dibandingkan
bayi
yang
tidak
mempunyai faktor resiko tersebut
Pada bayi baru lahir yang dirawat di
ruangan intensif (ICU) resiko untuk
mengalami ketulian 10 kali lipat
dibandingkan dengan bayi normal

PEMERIKSAAN PENDENGARAN PADA BAYI


DAN ANAK

Pada
prinsipnya
pemeriksaan
pendengaran pada bayi dapat dilakukan
pada usia sedini mungkin. Pemeriksaan
Brain Evoked Response Audiometry
(BERA) dapat memperoleh informasi
yang
obyektif
mengenai
fungsi
pendengaran bayi yang baru lahir .
Walaupun ketulian yang dialami seorang
bayi/anak ringan, dalam perkembangan
selanjutnya
akan
mempengaruhi
kemampuan berbicara dan berbahasa

Dalam keadaan normal seorang bayi


telah
memiliki
kesiapan
berkomunikasi yang efektif pada usia
18 bulan, berarti pada saat tersebut
merupakan
periode
kritis
untuk
mengetahui
adanya
gangguan
pendengaran.
Seorang anak harus sudah diperiksa
fungsi pendengarannya pada masa
pra sekolah sehingga bila terdapat tuli
ringan atau tuli unilateral dapat
diketahui sebelum bersekolah.

Pendapat lain menyatakan dalam


proses belajar berbicara masa yang
paling penting berlangsung antara 2-3
tahun. Proses habilitasi pendengaran
bagi anak tunarungu yang telah
dimulai sebelum usia 3 tahun hasilnya
lebih baik dibandingkan dengan
sesudahnya
Teknik pemeriksaan pemeriksaan
berikut ini memerlukan latihan dan
pengalaman bagi pemeriksa

FREE FIELD TEST


Pemeriksaan
ini
dilakukan
pada
ruangan yang cukup tenang (bising
lingkungan tidak lebih dari 60 dB),
idelanya pada ruang kedap suara
(sound proof room). Sebagai sumber
bunyi sederhana dapat digunakan
tepukan tangan, tambur, bola plastik
berisi pasir, remasan kertas minyak,
bel, terompet karet, mainan yang
mempunyai bunyi frekuensi tinggi
(Squaker toy) dan lain lain

Sumber
bunyi
tersebut
harus
dikalibrasi
frekuensi
dan
intensitasnya. Bila tersedia bisa
dipakai alat buatan pabrik seperti
Baby Reactometer, Neometer, Viena
Tone (frekuensi 3.000 Hz dengan
pilihan intensitas 70, 80, 90 dan 100
dB)
Dinilai
kemampuan
anak
dalam
memberikan
respons
terhadap
sumber bunyi tersebut

BEHAVIORAL OBSERVATION (0 6
Bulan)

Pada pemeriksaan ini diamati respons


terhadap
sumber
bunyi
berupa
perubahan sikap atau refleks yang
terjadi pada bayi yang sedang
diperiksa
Bila tidak ada respons terhadap
stimuli bunyi, pemeriksaan diulangi
sekali lagi. Kalau tetap tidak berhasil,
pemeriksaan ketiga dilakukan lagi 1
minggu kemudian. Seandainya tetap
tidak ada respons, harus dilakukan
pemeriksaan audiologik lanjutan yang

CONDITIONED TEST (2 4 TAHUN)


Sebelum pemeriksaan, anak dilatih
(conditioning)
melakukan
suatu
aktifitas
permainan
(misalnya
memasukkan kelereng ke dalam
kotak) tepat pada saat ia mendengar
stimuli bunyi. Setelah anak terbiasa,
dilakukan
pemeriksaan
yang
sebenarnya dengan menggunakan
sumber bunyi yang telah diketahui
frekuensi dan intensitasnya

Dapat juga dipakai audiometer nada


murni yang dihubungkan dengan
pengeras
suara
(loud
speaker)
sebagai sumber bunyi, cara ini disebut
sebagai pediatric audimetry. Selain itu
dapat digunakan pula audiometer
yang dilengkapi dengan permainan
buatan pabrik (play audimetry)

AUDIOMETRI NADA MURNI


Pemeriksaan
dengan
menggunakan
audiometer. Hasil pencatatannya disebut
sebagai audiogram. Dapat dilakukan
pada anak berusia > 4 tahun yan
koperatif.
Sebagai
sumber
suara
digunakan nada murni (pure tone) yaitu
bunyi yang mempunyai 1 frekuensi.
Pemeriksaan dilakukan pada ruang
kedap suara. Dapat dinilai hantaran
suara melalui udara (air Conduction)
melalui headphone dan hantaran suara
melalui tulang (bone conduction) dengan
memasang bone vibrator pada prosesus
mastoid

Frekuensi yang diperiksa adalah 125,


250, 500, 1.000, 2.000, 4.000 dan
8.000 Hz. Intensitas yang biasa
digunakan antara 10 100 dB (masing
masing dengan kelipatan 10). Suara
dengan intensitas terendah yang
dapat
didengar
dicatat
pada
audiogram
Berdasarkan
audiogram
yang
dihasilkan
diperoleh
informasi
tentang jenis dan derajat ketulian

B.E.R.A (Brain Evoked Response


Audiometry)
Penggunaan tes BERA dalam bidang
ilmu audiologi dan neurologi sangat
besar manfaatnya dan mempunyai
nilai obyektifitas yang tinggi bila
dibandingkan dengan pemeriksaan
audiologi
konvensionil.
Penggunaannya yang mudah, tidak
invasif dan dapat dilakukan pada
pasien koma sekalipun, menyebabkan
pemeriksaan
BERA
ini
dapat
digunakan secara luas

Tes BERA ini dapat menilai fungsi


pendengaran bayi atau anak yang tidak
koperatif, yang tidak dapat diperiksa
dengan cara konvensionil
Reaksi yang timbul sepanjang jaras
jaras saraf pendengaran dapat dideteksi
berdasarkan waktu yang dibutuhkan
(satuan milidetik) mulai dari saat
pemberian impuls sampai menimbulkan
reaksi
dalam
bentuk
gelombang.
Gelombang yang terjadi sebenarnya ada
7 buah, namun yang penting dicatat
adalah gelombang 1, III, dan V

HABILITASI
Setelah
diketahui
seorang
anak
menderita ketulian upaya habilitasi
pendengaran harus dilaksanakan sedini
mungkin. Usia kritis di mana proses
belajar mendengar dan berbicara adalah
sekitar 2 - 3 tahun
Pada anak dengan tuli saraf berat harus
segera mulai memakai alat bantu dengar
(hearing aid) yang sesuai. Juga perlu
dilakukan penilaian tingkat kecerdasan
oleh psikolog anak, kemudian dirujuk
untuk proses habilitasi di SLB-B (sekolah
Luar Biasa B Tunarungu) atau SLB-C bila
disertai retardasi mental (tuna Grahita)

Pendidikan khusus dapat dimulai pada


usia 2 tahun pada SLB-B yang
memiliki unit Taman Latihan dan
Observasi (T.L.O)
Proses habilitasi pasien tunarungu
membutuhkan
kerjasama
dari
beberapa disiplin, antara lain dokter
spesialis THT, Audiologist, Ahli terapi
wicara, psikolog anak, guru khusus
untuk
tunarungu
dan
keluarga
penderita.

IMPLAN KOHLEA
Adalah suatu perangkat elektronik
yang
mempunyai
kemampuan
memperbaiki
fungsi
pendengaran
sehingga
akan
meningkatkan
kemampuan berkomunikasi pasien tuli
saraf berat dan total bilateral
Implan
koklea
sudah
mulai
dimanfaatkan semenjak 25 tahun
yang lalu, namun penggunannya
secara luas baru sekitar 6 7 tahun
terakhir ini.

Sampai dengan saait ini telah


dipasang pada sekitar 6.000 pasien
diseluruh dunia, kira kira 1.300
diantaranya anak anak di Indonesia
saat ini baru 3 orang anak yang
menggunakan
implan
koklea,
implantasi dilakukan di Australia dan
Ameriksa Serikat
Generasi implan koklea yang paling
mutakhir saat ini mempunyai 22 buah
saluran (channel)

Indikasi
Pemasangan
Implan
Koklea
Indikasi pemasangan implan koklea ini
pada keadaan tuli saraf berat bilateral
atau tuli total bilateral (anak maupun
dewasa)
yang
tidak
mendapat
manfaat dengan alat bantu dengan
konvensional. Untuk anak dengan tuli
saraf berat sejak lahir (tuli pralingual)
implan koklea sebaiknya dipasang
pada usia 2 tahun. Namun biasanya
terjadi
kesulitan
pada
tahap

Mekanisme Kerja Implan Koklea


Pada prinsipnya perangkat implan
kohlea terdiri dari :
1.Komponen luar
2.Komponen dalam
Komponen luar terdiri dari :
1.Mikrofon
2.Speech Processor
3.Kabel penghubung mikrofon dengan
speech processor
4.transmiter

Komponen dalam meliputi :


1.Receiver
2.Multi chanel electrode
Skema Implan Koklea
Impuls suara ditangkap oleh mikrofon
dan
diteruskan
menuju
speech
processor melalui kabel penghubung.
Speech processor akan melakukan
seleksi informasi suara yang sesuai
menjadi kode suara yang akan
disampaikan ke transmiter

Kode
suara
akan
dipancarkan
menembus kulitmenuju receiver atau
stimulator, pada bagian ini kode suara
akan dirubah menjadi sinyal sinyal
listrik.
Selanjutnya
sinyal
listrik
tersebut
akan
dikirim
menuju
elektroda elektroda yang sesuai di
dalam
koklea
sehingga
terjadi
stimulasi serabut serabut saraf. Pada
speech processor terdapat sirkuit
listrik
khusus
yang
berfungsi
meredam bising lingkungan

Persiapan Implantasi Koklea


Persiapan dimulai kira kira 3 bulan
sebelum operasi pemasangan implan
koklea
1.Pertemuan pendahuluan / konseling
keluarga mendapat penjelasan
lengkap tentang prosedur implantasi
dan diminta aktif terlibat dalam tim
Dilakukan wawancara tentang riwayat
penyakit,
proses
habilitasi
yang
pernah dilakukan

2. Pemeriksaan fisik lengkap


Pemeriksaan radiologik
CT Scan telinga dengan perhatian
khusus pada koklea
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan
ENG
(Elektronistagmografi)
3. Tes Audiologi
Audiometri
BERA
(Brain
Evoked
Respons
Audiometry)

Impedens
Elektrokohleografi (ECochG)
Evaluasi penggunaan alat bantu
dengar (10 Minggu)
4. Tes kemampuan wicara dan
berbahasa
Speech perception test
Speech production test
Language assessment
Tes kemampuan menggunakan
ujaran bibir dan cara komunikasi
lainnya

Program Rehabilitasi Pasca Bedah


Langkah penting pada proses implantasi
koklea
adalah
mengikuti
program
rehabilitasi pasca bedah, berupa latihan
mendengar, terapi wicara dan lain lain
yang rata rata membutuhkan waktu 6
bulan. Program rehabilitasi dimulai
dengan mengaktifkan speech processor
4 6 minggu pasca bedah. Audiologist
akan membuat program pada speech
processor, yang merupakan komputer
mini di mana impuls bunyi akan diubah
menjadi kode kode suara, kemudian
disampaikan ke transmiter luar. Tugas
audiologist ini disebut sebagai mapping

Proses rehabilitasi dengan impian


koklea cukup rumit dan memerlukan
waktu lama, selain itu diperlukan
kerjasama tim yang terdiri dari dokter
spesialis THT, audiologist, speech
patologist, ahli terapi wicara, guru
khusus untuk tunarungu, psikolog
anak dan tenaga profesional lainnya

Sehingga
guru
harus
dilakukan
evaluasi pasca bedah, perangkat
elektronik ini harus diperiksa dan di
kalibrasi berkala (mapping). Evaluasi
pasca bedah ini dilakukan setiap 6
bulan untuk anak berusia < 6 tahun
dan setiap 12 bulan untuk anak yang
berusia > 6 tahun

Anda mungkin juga menyukai