Anda di halaman 1dari 47

MALARIA

FARMAKOTERAPI IV

Disusun Oleh:
ROBBY KURNIAWAN-1211012032
MONA ADE LISA-1211012033
AGNES SIMBOLON-1211012034
FAURIZA RIVANDRA-1211012037
Kelas-A

Defenisi
Kata "malaria" berasal dari bahasa Itali "Mal" yang artinya buruk
dan "Aria" yang artinya udara, sehingga "malaria" berarti udara
buruk (bad air). Hal ini disebabkan oleh karena malaria terjadi
secara musiman di daerah yang kotor dan banyak tumpukan air.
Malaria merupakan penyakit yang mengancam jiwa yang
disebabkan oleh parasit Protozoa genus Plasmodium dan
ditularkan pada manusia oleh gigitan nyamuk Anopheles
species betina yang bertindak sebagai vektor malaria. Nyamuk
ini terutama menggigit manusia pada malam hari mulai senja
(dusk) sampai fajar (dawn). Pada manusia dikenal ada 4
genus Plasmodium
yaitu,
Plasmodium
falciparum,
Plasmodium
vivax,
Plasmodium ovale dan Plasmodium
malariae.

Epidemiologi
Pada negara beriklim dingin sudah tidak
ditemukan lagi daerah endemik malaria. Namun
demikian, malaria masih merupakan persoalan
kesehatan yang besar di daerah tropis dan
subtropis seperti di Brazil, Asia Tenggara dan
seluruh Sub-Sahara Afrika.
Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua
wilayah. Pada tahun 1996 ditemukan kasus
malaria di Jawa-Bali dengan jumlah penderita
sebanyak 2.341.401 orang

Etiologi

Penyebab penyakit malaria adalah parasit


malaria, yang merupakan suatu protozoa darah
termasuk :
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoa
Sub kelas: Cocidiidae
Ordo : Eucoccidiidae
Sub ordo : Haemosporidiidae
Familia : Plasmodiidae
Genus : Plasmodium

Jenis-jenis plasmodium:
1. Plasmodium falciparum, yang menyebabkan malaria tropika.
Plasmodium falciparum berbeda dengan Plasmodium lain
pada manusia, hanya ditemukan bentuk-bentuk cincin dan
gametosit dalam darah tepi, kecuali pada infeksi berat, ada
bentuk yang khas pada cincin halus, seringkali dengan titik
kromatin rangkap walaupun tidak ada gametosit. Bentuk
skizon lonjong atau bulat jarang sekali ditemukan dalam
darah tepi. Skizon ini menyerupai skizon Plasmodium vivax,
tetapi tidak mengisi seluruh eritrosit. Gametosit yang muda
mempunyai bentuk lonjong sehingga memanjang dinding sel
darah merah, setelah mencapai perkembangan akhir parasit
ini menjadi bentuk pisang yang khas, yang disebut dengan
bentuk sabit. (pribadi wita,Saleha sungkar,1994)

2.Plasmodium vivax, yang menyebabkan malaria


tersiana.
Eritrosit
yang
dihinggapi Plasmodium
vivax
membesar dan menjadi pucat, karena kekurangan
hemoglobin. Tropozoit muda tampak seperti cincin
dengan inti satu sisi, bila tropozoit tumbuh maka
bentuknya menjadi tidak teratur, berpigmen halus
dan menunjukkan gerakan ameboid yang jelas.
Gametosit berbentuk lonjong, hampir mengisi seluruh
eritrosit. Mikrogametosit mempunyai inti besar yang
berwarna merah muda pucat dan sitoplasma
berwarna biru pucat. Makrogametosit mempunyai
sitoplasma yang berwarna lebih biru dengan inti
yang padat berwarna merah dan letaknya dibagian
pinggir parasit. (pribadi wita, Saleha sungkar,1994)

3. Plasmodium malaria, yang menyebabkan malaria


quartana
Plasmodium malaria mempunyai ukuran lebih
kecil
dan memerlukan
sedikit
hemoglobin
dibanding dengan Plasmodium vivax. Bentuk
cincin mirip dengan Plasmodium vivax hanya
sitoplasmanya lebih biru dan parasitnya lebih kecil,
lebih teratur dan lebih padat. Tropozoit yang
sedang tumbuh mempunyai butir-butir pigmen
yang kasar dan berwarna tengguli tua atau hitam,
Parasit ini berbentuk seperti pita yang melintang
pada
sel
darah
merah
dan pigman kasar
menggumpul dipinggir parasit. ( pribadi wita, Saleha
sungkar,1994)

4. Plasmodium ovale, penyebab malaria ovale


Semua stadium dari parasit ini dapat ditemukan di darah
tepi. Bentuk eritrosit menjadi lonjong atau oval dan agak
pucat. Bentuk tropozoit tua tidak amoeboid vokuolanya tidak
jelas dan pigmen malarianya kasar. Pada skizon matang
hampir mengisi seluruh eritrosit dan mempunyai pigmen yang
padat. (sandjaja,2007). Morfologi dari parasit malaria dengan
membuat sediaan darah tipis dan tetes darah tebal pada waktu
siklus schizogoni. Marfologi ini perlu diperhatikan pada eritrosit
yang terinfeksi dan bentuk setiap stadium dari parasitnya
sendiri. Bentuk dan ukuran eritrosit yang terinfeksi oleh
Plasmodium falciparum dan tidak mengalami perubahan,
sedangkan eritrosit yang terinfeksi oleh plasmudiun vivax akan
mengalami pembesaran, bahkan eritrosit yang diinfeksi oleh
Plasmodium ovale selain membesar juga mengalami distrosi
berupa
pemanjangan
hingga pembentukan ovale.
(sandjaja,2007)

Cara berkembangbiak Plasmodium:

Penularan Penyakit Malaria


Secara umum penyebaran penyakit malaria sangat dipengaruhi oleh tiga
faktor yang saling mendukung yaitu host, agent dan environment sesuai
teori The Traditional (Ecological) Model yang dikemukakan oleh Dr.John
Gordon (Kodim, 1999).
Faktor Host (Manusia dan Nyamuk)
Host pada penyakit malaria terbagi atas dua yaitu Host Intermediate
(manusia) dan Host Definitif (nyamuk). Manusia disebut sebagai Host
Intermediate (penjamu sementara) karena di dalam tubuhnya terjadi siklus
aseksual parasit malaria. Sedangkan nyamuk Anopheles spp disebut sebagai
Host Definitif (penjamu tetap) karena di dalam tubuh nyamuk terjadi siklus
seksual parasit malaria (Depkes, 1999).
Host intermediate
Pada dasarnya setiap orang dapat
terinfeksi oleh agent biologis
(Plasmodium), tetapi ada beberapa faktor intrinsik yang dapat
memengaruhi kerentanan host terhadap agent yaitu usia, jenis kelamin, ras,
riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi,status gizi dan
tingkat immunisasi.

Host definitif
Host definitif yang paling berperan dalam
penularan penyakit malaria dari orang yang sakit
malaria kepada orang yang sehat adalah nyamuk
Anopheles spp betina. Hanya nyamuk Anopheles
spp betina yang menghisap darah untuk
pertumbuhan telurnya. Host definitif ini sangat
dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : perilaku
nyamuk itu sendiri dan faktor-faktor lain yang
mendukung (Depkes, 1999).

Syarat-syarat nyamuk sebagai vektor :


Tingkat kepadatan Anopheles spp disekitar pemukiman manusia
yang sesuai dengan daya jangkau atau kemampuan terbang
nyamuk antara 2-3 km.
Umur nyamuk, lamanya hidup nyamuk harus cukup lama
sehingga parasit dapat menyelesaikan siklus sporogoni di dalam
tubuh nyamuk.
Adanya kontak dengan manusia, jika nyamuk yang ada
kesukaannya menghisap darah manusia (Anthropofilik).
Kerentanan nyamuk terhadap parasit, hanya spesies nyamuk
Anopheles spp tertentu yang efektif sebagai penular malaria
kepada manusia.
Adanya sumber penular, pada umumnya nyamuk yang baru
menetas tidak mengandung parasit dan baru akan menjadi vektor
bila terdapat parasit yang berasal dari objek gigitan dan menjadi
infektif setelah menyelesaikan siklus hidupnya (Depkes, 2007).

Faktor Environment (Lingkungan)


Lingkungan fisik : meliputi suhu, kelembaban, hujan, ketinggian,
angin, sinar matahari dan arus air.
Lingkungan kimia : meliputi kadar garam yang cocok untuk
berkembangbiaknya nyamuk Anopheles sundaicus.
Lingkungan biologik : adanya tumbuhan, lumut, ganggang, ikan
kepala timah, gambusia, nila sebagai predator jentik Anopheles
spp,serta adanya ternak sapi, kerbau dan babi akan mengurangi
frekuensi gigitan nyamuk pada manusia.
Lingkungan sosial budaya : meliputi kebiasaan masyarakat beradadi
luar rumah, tingkat kesadaran masyarakatterhadap bahaya penyakit
malaria dan pembukaan lahan dengan peruntukannya yang
memengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan banyak
menimbulkan breading placespotensial untuk berkembangbiaknya
nyamuk Anopheles spp (Depkes, 2003b).

Patofisiologi:
Patofisiologi pada malaria masih belum diketahui dengan pasti. Berbagai
macam teori dan hipotesis telah dikemukakan. Perubahan patofisiologi pada
malaria terutama mungkin berhubungan dengan gangguan aliran darah
setempat sebagai akibat melekatnya erotrosit yang mengandung parasit
pada endotelium kapiler. Perubahan ini cepat reversibel pada mereka yang
dapat tetap hidup (survive). Peran beberapa mediator humoral masih belum
pasti, tetapi mungkin terlibat dalam patogenesis demam dan peradangan.
Skizogoni eksoeritrositik mungkin dapat menyebabkan reaksi leukosit dan
fagosit, sedangkan sporozoit dan gametosit tidak menimbulkan perubahan
patofisiologik. Patofisiologi malaria adalah multifaktorial dan mungkin
berhubungan dengan hal-hal:
Penghancuran eritrosit
Mediator endotoksin-makrofag
Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi.

Gejala klinis

Membedakan demam biasa dengan demam


karena malaria!
Untuk membedakan demam oleh karena malaria dan demam biasa
adalah bila demam malaria umumnya ada interval yang cukup khas,
yaitu ada periode demam tinggi kemudian diselingi dengan periode
bebas demam. Tipe malaria yang sering dijumpai di Indonesia
adalah malaria falciparum dan vivax. Jenis malaria ini memberikan
tipe demam dengan interval demam setiap 2 hari. Demam pada
malaria umumnya terdiri dari fase demam tinggi, fase mengigil dan
fase berkeringat. Demam pada malaria bisa berkelanjutan karena
plasmodium yang terus berkembang biak. Sedangkan pada demam
biasa yang umumnya disebabkan oleh virus seringkali berupa
demam yang tinggi secara mendadak dan disertai nyeri sendi.
Demam akibat virus umumnya hanya berlangsung 3-4 hari.
Waspada demam berdarah karena pada saat demam turun, bisa
diikuti dengan penurunan trombosit dan penderita berada dalam
fase kritis.

Serangan demam malaria biasanya dimulai dengan gejala prodromal, yaitu lesu,
sakit kepala, tidak nafsu makan, kadang-kadang disertai dengan mual dan muntah.
Serangan demam yang khas terdiri dari beberapa stadium:
Stadium menggigil dimulai dengan perasaan dingin sekali, sehingga menggigil.
Penderita menutupi badannya dengan baju tebal dan dengan selimut. Nadinya
cepat, tetapi lemah, bibir dan jari-jari tangannya menjadi biru, kulitnya kering dan
pucat. Kadang-kadang disertai dengan muntah. Pada anak sering disertai kejangkejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.
Stadium puncak demam dimulai pada saat perasaan dingin sekali berubah menjadi
panas sekali. Muka menjadi merah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar,
sakit kepala makin hebat, biasanya ada mual dan muntah, nadi penuh dan berdenyut
keras. Perasaan haus sekali pada saat suhu naik sampai 41 0C (1060F) atau lebih.
Stadium ini berlangsung selama 2 sampai 6 jam.
Stadium berkeringat dimulai dengan penderita berkeringat banyak sehingga tempat
tidurnya basah. Suhu turun dengan cepat, kadang-kadang sampai di bawah ambang
normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak dan waktu bangun, merasa lemah
tetapi sehat. Stadium ini berlangsung 2 sampai 4 jam.
Serangan demam yang khas ini sering dimulai pada siang hari dan berlangsung 8
12 jam. Setelah itu terjadi stadium apireksia. Lamanya serangan demam ini untuk
tiap spesies malaria tidak sama.

Diagnosis
Anamnesis
Keluhan pertama yang sering muncul adalah demam lebih dari dua
hari, menggigil, berkeringat (sering disebut juga trias malaria).
Demam pada keempat jenis malaria berbeda sesuai dengan proses
skizogoninya. Demam karena P. falciparum dapat terjadi setiap
hari, pada P. vivax atau ovale demamnya berselang satu har,
sedangkan demam P. malariae menyerang berselang dua hari.
Kecurigaan adanya tersangka malaria berat dapat dilihat dari
adanya satu gejala atau lebih, yaitu gangguan kesadaran, kelemahan
atau kelumpuhan otot, kejang-kejang, kekuningan pada mata atau
kulit, adanya pendarahan hidung atau gusi, muntah darah atau
berak darah. Selain itu adalah keadaan panas yang sangat tinggi,
muntah yang terjadi terus menerus, perubahan warna air kencing
menjadi seperti teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai
tidak keluar air kencing sama sekali.

Pemeriksaan fisik
Pasien mengalami demam 37,5-40C,s erta anemia
yang dibuktikan dengan konjungtiva palpebra yang
pucat. Penderita sering disertai dengan adanya
pembesaran limpa (splenomegali) dan pembesaran
hati (hepatomegali). Bila terjadi serangan malaria
berat, gejala dapat disertai dengan syok yang ditandai
dengan menurunnya tekanan darah, nadi berjalan
cepat dan lemah, serta frekuensi nafas meningkat.
Penderita malaria berat, sering terjadi penurunan
kesadaran, dehidrasi, manifestasi pendarahan,
gangguan fungsi ginjal, pembesaran hati dan limpa,
serta bisa diikuti dengan munculnya gejala neurologis
(refleks patologis dan kaku kuduk).

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut teknis
pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr, sediaan darah)
tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya
parasit malaria melalui pemeriksaan ini dapat dilihat jenis dan
plasmodium dan stadiumnya serta keadaan parasit.
Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semikuantitatif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adalah
menghitunng parasit dalam LPB (Lapangan Pandang Besar)d engan
rincian:
(-)
: SDr negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)
(+)
: SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++)
: SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100
LPB)
(+++) : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalm 1 LPB)
(++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB)

Tes diagnostik cepat (RDT, rapid diagnostik test)


Metode ini mendeteksi adanya antigen malaria dalam
darah dengan cara imunokromatografi. Kelebihan
metode ini adalah hasil pengujian dapat diperoleh
dengan cepat, tetapi lemah dalam spesifitas dan
sensitivitasnya.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi
umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar
hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit, dan
trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah
(gula darah, SGOT,SGPT, tes fungsi ginjal), serta
pemeriksaan foto toraks, EKG, dan pemeriksaan lainnya
sesuai indikasi.

Pencegahan dan Pengobatan

Prinsip pencegahan malaria ada dua macam


yaitu mencegah infeksi melalui pencegahan
kontak dengan nyamuk dan pencegahan sakit
apabila sudah terlanjur infeksi. Mencegah
infeksi dilakukan dengan pemberantasan vektor
misalnya dengan penyemprotan rumah juga
dengan perlindungan perseorangan, misalnya
pemakaian kelambu pada saat tidur malam hari.
Pemakaian kasa rumah atau obat nyamuk bakar
atau lotion (Sarianto, 2005).

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan penyakit malaria,
diantaranya :
Berbasis masyarakat
Pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat harus selalu ditingkatkan melalui penyuluhan
kesehatan, pendidikan kesehatan, diskusi kelompok maupun melalui kampanye masal untuk
mengurangi tempat sarang nyamuk (pemberantasan sarang nyamuk, PSN (Tapan, 2004).
Menemukan dan mengobati penderita sedini mungkin akan sangat membantu mencegah penularan
(Widoyono, 2005).
Melakukan penyemprotan melalui kajian mendalam tentang bionomik
Anopheles seperti waktu kebiasaan menggigit , jarak terbang, dan resistensi terhadap insektisida (Widoyono,
2005).
Berbasis pribadi
Pencegahan gigitan nyamuk, antara lain (1) tidak keluar rumah antara senja dan malam hari, bila terpaksa
keluar, sebaiknya menggunakan kemeja dan celana panjang berwarna terang karena nyamuk lebih
menyukai warna gelap (Widoyono, 2005). (2) menggunakan repelan yang mengandung dimetiltalat atau
zat antinyamuk lainnya, (3) membuat kontruksi rumah yang tahan nyamuk dengan memasang kasa
antinyamuk pada ventilasi pintu dan jendela (Widoyono, 2005). Mereka yang tinggal di daerah endemis,
sebaiknya memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi rumah serta menggunakan kelambu saat tidur
(Prabowo, 2008 dalam Natalia, 2010). (4) menggunakan kelambu yang mengandung insektisida
(insecticide-treated mosquito net, ITN) (Widoyono, 2005). Upaya penggunaan kelambu juga merupakan
salah satu cara untuk menghindari gigitan nyamuk. Kelambu merupakan alat yang telah digunakan sejak
dahulu (Yatim, 2007 dalam Natalia 2010). (5) menyemprot kamar dengan obat nyamuk atau
menggunakan obat anti nyamuk bakar (Widoyono,2005)

Therapy based on Handbook of


Antimicrobial Therapy 17th Edition

Therapy based on Dipiro 6th Edition

Tujuan terapi
Adalah diagnosis cepat dari dari plasmodium
dengan blood smear(diulang setiap 12 jam
untuk 3 hari) sehingga untuk memulai terapi
antimalaria tepat waktu untuk membasmi
infeksi dalam waktu 48 sampai 72 jam sehingga
menghindari komplikasi seperti hipoglikemia,
edema paru, dan gagal ginjal yang bertanggung
jawab untuk peningkatan mortalitas malaria

Terapi Farmakologi
Pada orang dewasa (termasuk wanita hamil), kemoprofilaksis
yang untuk semua spesies plasmodium klorokuin fosfat 300 mg
sekali seminggu awal 1 minggu sebelum keberangkatan dan
terusselama 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemik.
Pada anak dosis klorokuin fosfat adalah 5 mg per kilogram dari
berat badan (maksimum 300 mg). Ketika mengunjungi atau
meninggalkan daerah endemik
Untuk P.vivax atau P.ovale, primakuin fosfat (Primakuin) 15 mg
setiap hari selama 14 hari mulai 2 minggu terakhir dari klorokuin
profilaksis harus ditambahkan ke rejimen. Dosis pediatrik dari
primakuin adalah 0,3 mg per kilogram berat badan per hari untuk
14 hari. Dosis pediatrik dari klorokuin dapat didasarkan dihitung
pada berat badan, dan tablet dapat ditumbuk dan ditempatkan di
gelatin kapsul. Orang tua dapat diperintahkan untuk menangguhkan
dosis dalam makanan, sederhana sirup, susu coklat, atau minuman.

Di daerah di mana P.falciparum resisten


terhadap
chloroquine wisatawan harus
menerima
mefloquine
(Lariam)
untuk
profilaksis.Dosis dewasa mefloquine adalah 250
mg sekali awal mingguan 1 minggu sebelum
keberangkatan dan terus untuk periode penuh
paparan,diikuti oleh 250 mg selama 4 minggu
setelah paparan terakhir.Dosis pada anak untuk
meflokuin untuk profilaksis adalah:

Rejimen alternatif untuk profilaksis di daerah resisten


klorokuin bagi mereka yang tidak bisa mentolerir mefloquine
adalah untuk mengambil doxycycline 100 mg setiap hari mulai
1 sampai 2 hari sebelum keberangkatan, selama periode
paparan, dan berlanjut selama 4 minggu setelah meninggalkan
daerah endemik
Anak-anak lebih tua dari usia 8 tahun harus menerima 2 mg /
kgper hari (hingga 100 mg) doksisiklin. Doxycycline
merupakan kontraindikasi pada anak-anak muda dari usia 8
tahun, pada wanita hamil,dan selama menyusui.
Rejimen alternatif lain untuk kemoprofilaksis adalah kombinasi
atovaquone dan proguanil (Malarone): 1 tablet awal sehari 1
sampai 2 hari sebelum perjalanan dan berlanjut selama tinggal
dan 1 minggu setelah meninggalkan daerah.
Primakuin 15 mg setiap hari juga telah direkomendasikan
untuk profilaksis untuk P.vivaxdan P.falciparum malaria.

Dalam sebuah serangan rumit malaria (untuk semua


plasmodium kecuali chloroquine-resistant P.falciparum), rejimen
direkomendasikan adalah klorokuin 600 mg awalnya, diikuti oleh
300 mg 6 jam kemudian, dan kemudian 300 mg setiap hari selama 2
hari. Dalam penyakit parah atau ketika terapi oral tidak ditoleransi
atau quinine parenteral tidak tersedia, quinidine glukonat 10 mg / kg
sebagai dosis muatan (maksimum 600 mg) di 250 mL normal saline
harus diberikan perlahan-lahan dari 1 hingga 2 jam, diikuti oleh infus
kontinu dari 0,02 mg / kg per menit sampai terapi oral dapat dimulai.
Pada pasien yang telah menerima baik quinine atau meflokuin, dosis
pemuatan quinidine harus dihilangkan. Quinine oral (300 mg setiap
8 jam) harus mengikuti dosis intravena quinidine untuk
menyelesaikan 3 hari untuk semua infeksi.
Dosis pediatrik dari intravena quinidine glukonat adalah sama
dengan dosis untuk orang dewasa.
Dosis pediatrik quinine adalah 25 mg / kg per hari dalam tiga dosis
terbagi selama 3 atau 7 hari.

Pada P.falciparum infeksi (chloroquine-resistant), dosis 750


mefloquine mg diikuti oleh 500 mg 12 jam kemudian dianjurkan.
Dosis pediatrik dari mefloquine adalah 15 mg / kg (<45 kg) diikuti 10
mg / kg 8 sampai 12 jam kemudian.
Intravena quinidine glukonat diikuti oleh quinine oral harus
diberikan untuk penyakit yang parah, sebagaimana telah
ditunjukkan.
Obat kedua perlu diberikan dalamchloroquine-resistant P.falciparum,
dan obat kedua ini harus mengikuti rejimen quinidine oral: baik dosis
tunggal tiga tabletpirimetamin-sulfadoksin (Fansidar) pada hari
terakhir dari quinidine intravena atau klindamisin 900 mg tiga kali
sehari selama 3 sampai5 hari.
Sebuah pengobatan oral alternatif untuk resistensi-klorokuin Infeksi
P.falciparum pada orang dewasa, terutama pada mereka dengan
riwayat kejang atau gangguan kejiwaan, adalah kombinasi
atovaquone 250 mg dan 100 mg proguanil (Malarone) (4 tablet sehari
selama 3 hari).
Rejimen Intravenaquinidine membutuhkan ddengan pemantauan
elektrokardiogram dan tanda-tanda vital lainnya (hipotensi dan
hipoglikemia)

Pilihan terapi obat baru yang resisten obat antimalaria konvensional


(Source: Journal Challenges of drug-resistant malaria Parasite 2014, 21, 61)

Tatalaksana medis terapi malaria:

Source:

Test uji darah hasilnya lama gunakan


test RDT (Rapid Diagnostic
Test(( kits) )

THANK YOU!