Anda di halaman 1dari 37

STRUKTUR

KEPRIBADIAN ISLAM

PENGERTIAN
STRUKTUR KEPRIBADIAN
Integrasi dari sifat-sifat
dan sitem-sistem yang
menyusun kepribadian.
Aspek-aspek
kepribadian yang
bersifat relatif stabil,
menetap, dan abadi
serta merupakan unsurunsur pokok
pembentukan tingkah
laku individu.

STRUKTUR KEPRIBADIAN ISLAM*

/
Merupakan struktur organisme
fisik.
Memiliki kesamaan dalam
proses penciptaan dengan
makhluk lain, memiliki unsur
material yang sama (unsur
tanah,api, udara, dan air),
namun manusia merupakan
makhluk yang terbaik
penciptaannya (QS. 95: 4)

THAQAH AL-JISMIYYAH*
(ENERGI KEHIDUPAN)

MATERI ABIOTIK
(TANAH, API, UDARA,
AIR)

VITALITAS FISIK YANG


TERGANTUNG PADA KONSTITUSI
FISIK
MANUSIA DAPAT
BERNAFAS, MERASA
SAKIT, PANAS-DINGIN,
PAHIT-MANIS, HAUSLAPAR, SEKS, DSB
*Disebut nyawa, al-hayah (Ibn Maskawaih), al-ruh jasmaniyyah
(al_Ghazali)

KARAKTER DAYA HIDUP


(NYAWA)

Menyatu pada semua organ tubuh


manusia yang pusat peredarannya
pada jantung.
Daya hidup memiliki batas, yaitu
ajal (QS. 63: 11)
Daya hidup akan terlepas dari
tubuh manusia (kematian) karena
rusak atau tidak berfungsinya
organ vital.
Kerusakan organ vital bisa
disebabkan karena hukum atau
sunnatullah, atau karena ulah
manusia (bunuh diri, kecelakaan,
dibunuh, terlalu mengeksploitasi
energi fisik, kurang menjaga
kesehatan).

SEBAB KEMATIAN
(Ikhwan al-Shafa)

1. Mati thabii, yaitu kematian yang


disebabkan sunnatullah/hukum alam
dimana jasad manusia menua, fungsi
organ dan alat indra melemah/tidak
berfungsi sama sekali.
2. Mati `ardli, yaitu kematian yang
disebabkan oleh masuknya sesuatu
yang merusak tubuh, seperti adanya
penyakit, dibunuh, atau bunuh diri.

KATEGORI KEMATIAN
(Al-Syinqithi)*

1. Mati karena lepasnya ruh secara terus-menerus


dan/atau habisnya daya hidup pada tubuh manusia.
Disebut mati hissi karena kematian jasad tersebut
menyebabkan hilangnya daya-daya indrawi
manusia.
2. Mati karena lepasnya al-ruh pada diri manusia
dalam waktu sementara, sehingga jasad manusia
tidak bernafs lagi. Disebut mati ruh atau manawi.
Dikatakan demikian sebab manusia model ini tidak
lagi memiliki hakikat kemanusiaan, sehingga seperti
benda mati. Meskipun badan kasarnya hidup,
tetapi jiwanya sesungguhnya telah mati.
*Muhammad Sadati al-Syinqithi, al-Qalb fi Al-Qur`an wa Atsaruha fi
Suluk al-Insan, 1993)

PROSES
REPRODUKSI BIOLOGIS MANUSIA
1. Dilahirkan tanpa ayah-ibu (tanpa
pertemuan sperma-ovum), yaitu
Nabi Adam a.s.
2. Dilahirkan tanpa ibu (tanpa
ovum),
yakni Siti Hawa`
3. Dilahirkan tanpa ayah (tanpa
sperma), yakni Nabi Isa a.s.
4. Dilahirkan dengan ayah dan ibu,
yakni spesies manusia pada
Penciptaan jasmani bersifat
gradual (al-tadarruj) menurut
umumnya.
proses biologis (evolusi)
walaupun tidak persisi sama
dengan teori Darwin

NATUR/KARAKTERISTIK
JASAD

1. Dari alam ciptaan (al-khalq), yang memiliki


bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak, dan
diam, serta berjasad yang terdiri dari beberapa
organ. (al-Farabi)
Dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap
dan kasar, dan tidak berbeda dengan bendabenda lain. (al-Ghazali)
Sifatnya material yang hanya dapat menangkap
satu bentuk yang konkret, tidak dapat menangkap
yang abstrak. (Ibnu Rusyd)
Naturnya inderawi, empiris.
Memiliki natur yang buruk.

KEBURUKAN JASAD
1. Penjara bagi ruh
2. Kesibukannya
mengganggu
kesibukan
ruh untuk beribadah
kepada Allah
3. Jasad semata tidak
mampu mencapai
marifat kepada Allah
(Ikhwan al-Shafa`)

Pembeda antara psikologi kepribadian


Islam dengan psikologi kepribadian lain.
Substansi yang esensial, yang
membedakan antara eksistensi manusia
dengan makhluk lain.
Merupakan substansi (jawhar) psikologis
manusia yang menjadi esensi
keberadaannya, baik di dunia maupun di
akhirat.
Hakikatnya misterius (QS. 17: 85)

NATUR RUH

1. Berasal dari alam perintah (al-amar) yang mempunyai


sifat berbeda dengan jasad. Ia dari Alah, walaupun tidak
sama dengan zat-Nya (Ibnu Sina)
2. Bersifat ghaib, sesuatu yang lathifah (sesuatu yang
halus) yang bersifat ruhani. Penggerak bagi keberadaan
jasad manusia. (Al-Ghazali)
3. Bersifat multidimensi, tidak dibatasi ruang dan waktu.
Dapat keluar masuk ke dalam tubuh manusia.
4. Ruh masuk pada tubuh manusia ketika tubuh tersebut
siap menerimanya, yaitu ketika manusia berusia empat
bulan dalam kandungan (HR. Bukhari dan Ahmad ibn
Hambal). Pada saat itulah ruh berubah sifat dan nama
menjadi al-nafs.

5. Kematian jasad bukan berarti


kematian ruh.
6. ruh ada sebelum tubuh manusia
ada (QS. 7: 172)
7. Ruh bersifat kekal, walau bukan
seperti kekalnya Penciptanya.
8. Kematian bukan pada ruh tetapi
pada nafs dan badan. Sebab
apabila ruh mati, maka manusia
tidak akan mengalami kenikmatan
dan kesengsaraan.

Istilah nafs dalam al-Qur`an memiliki banyak makna.

Nafs dapat berarti jiwa (soul), nyawa, ruh, konasi


yang berdaya syahwat dan ghadhab, kepribadian,
dan substansi psikofisik manusia.

Nafs yang dimaksud dalam pembicaraan ini adalah


substansi psikofisik manusia, yaitu merupakan
gabungan antara natur jasad dan ruh.

Nafs adalah potensi jasadi-ruhani (psikofisik)


manusia yang secara inheren telah ada sejak
manusia siap menerimanya

Semua potensi yang terdapat pada daya ini


bersifat potensial, tetapi ia dapat
mengaktual jika manusia mengupayakan.
Setiap komponen al-nafs memiliki daya
laten yang dapat menggerakkan tingkah
laku manusia.
Aktualiasasi nafs merupakan citra
kepribadian manusia, yang sangat
dipengaruhi oleh faktor internal maupun
eksternal dari diri individu.

Nafs memiliki potensi gharizah (insting,


naluri, tabiat, perangai, sifat bawaan)
yang dibawa sejak lahir, dan akan
menjadi pendorong serta penentu bagi
tingkah laku manusia, baik berupa
perbuatan, sikap, ucapan, dsb.
Para psikolog muslim berbeda pendapat
dalam menentukan definisi dari daya
gharizah ini.

No.

Substansi Ruh

Substansi Jasad

Substansi Nafs

Adanya di alam
arwah (immateri)
atau alam
perintah (amar)

Adanya di alam
dunia/jasadi
(materi) atau alam
penciptaan (khalq)

Adanya di alam
jasadi dan ruhani

Tidak memiliki
bentuk, rupa,
kadar, dan tidak
dapat disifati

Memiliki bentuk,
rupa, kadar, dan
dapat disifati

Antara berbentuk
atau tidak,
berkadar atau
tidak, dan dapat
disifati atau tidak

Naturnya halus
dan suci
(cenderung berIslam atau
bertauhid) dan
mengejar
kenikmatan
ruhaniah

Naturnya buruk
dan kasar, bahkan
mengejar
kenikmatan
syahwati

Naturnya antara
baik dan buruk,
halus-kasar,
mengejar
kenikmatan
syahwati
dan/atau ruhani

No.

Substansi Ruh

Substansi Jasad

Substansi Nafs

Memiliki energi
ruhaniah, yaitu alamanah

Memiliki energi
Memiliki energi
jasmaniah, yaitu al- ruhaniahhayah
jasmaniah

Tidak terikat
ruang dan waktu

Terikat ruang dan


waktu

Antara terikat
ruang dan waktu

Substansinya
abadi tanpa ada
kematian

Substansinnya
temporer dan
hancur setelah
kematian

Substansinya
antara abadi dan
temporer

No.

Substansi Ruh

Substansi Jasad

Substansi Nafs

Tidak dapat
Dapat dibagi-bagi
dibagi-bagi karena dengan beberapa
satu keutuhan
komponen

Antara dapat
dibagi-bagi dan
tidak

Dapat menangkap
beberapa bentuk
yang konkrit dan
abstrak

Hanya mampu
menangkap satu
bentuk kongkrit
dan tidak mampu
menangkap yang
abstrak

Dapat
menangkap
antara yang
konkrit dan
abstrak, satu
bentuk atau
beberapa bentuk

Eksistensinya
memotivasi
kehidupan dunia

Eksistensinya
menjadi wadah ruh

Eksistensinya
aktualisasi atau
realisasi diri

Tercipta secara
langsung dari
Allah tanpa
melalui proses
graduasi

Tercipta secara
bertahap atau
berproses dan
melalui perantara

Terkadang
tercipta secara
bertahap atau
berproses dan
terkadang tidak

10

DINAMIKA KEPRIBADIAN
ISLAM

DINAMIKA KEPRIBADIAN
ISLAM

Substansi nafsani manusia memiliki tiga daya, yaitu:


*Kalbu (fithrah ilahiyah) sebagai aspek supra
kesadaran manusia yang memiliki daya emosi
(rasa).
*Akal (fitrah insaniyah) sebagai aspek kesadaran
manusia yang memiliki daya kognisi (cipta)
*Nafsu (fitrah hayawaniyah) sbg aspek pra atau
bawah sadar yang memiliki daya konasi (karsa),
yang saling berinteraksi mewujudkan suatu
perilaku dan membentuk kepribadian.

SUBSTANSI NAFSANI
MANUSIA

QALBU

AQAL
NAFSU

Nafsu memiliki natur terendah, yaitu kehewanan


(hayawaniah) yang terdiri dari syahwah dan ghadhab.
Prinsip kerjanya hanya mengejar kesenangan
(pleasure principle)
Daya dan aktualisasi dorongan nafsu tergantung pada
kuat lemahnya sistem kendali kalbu dan akal.
Nafsu mempunyai daya tarik yang kuat dibanding
kalbu dan akal, karena bantuan setan dan dorongan
impulsif lain.
Natur asli nafsu mengarah pada amarah yang buruk
(suu`), namun akan menjadi daya yang positif bila
mendapat rahmat dari Allah.

PERBANDINGAN STRUKTUR KALBU, AKAL,


DAN NAFSU
No.

Kalbu

Akal

Nafsu

Berkedudukan di
jantung

Berkedudukan
di otak

Berkedudukan di perut
dan alat kelamin,
berbentuk syahwat
(menginduksi yang
menyenangkan) dan
ghadab (menghindar
dari yang merugikan)

Berdaya emosi (rasa)

Berdaya kognisi
(cipta)

Berdaya konasi (karsa)

Mengikuti natur ruh


yang bersifat ilahi

Mengikuti natur
ruh dan jasad
yang bersifat
insani

Mengikuti natur jasad


yang bersifat hewani.

No.

Kalbu

Akal

Nafsu

Potensinya bersifat
dzauqiyah (cita rasa)
dan hadsiah (intuitif)

Potensi bersifat
istidhlaliah
(argumentatif)
dan aqliah
(logis)

Potensi bersifat
hissiah (indrawi)

Berkedudukan pada
alam supra
kesadaran manusia

Berkedudukan
pada alam
kesadaran
manusia

Berkedudukan
pada alam bawah
atau pra sadar
manuisa

Apabila mendominasi
jiwa manusia maka
menimbulkan
kepribadian yang
tenang (al-nafs almuthmainnah)

Apabila
mendominasi
jiwa manusia
maka
menimbulkan
kepribadian
yang labil (alnafs allawwamah)

Apabila
mendominasi jiwa
manusia maka
menimbulkan
kepribadian yang
jahat (al-nafs alammarah)

Kepribadian adalah
integrasi sistem kalbu,
akal, dan nafsu
manusia yang
menimbulkan perilaku.

Nafs ibarat suatu kerajaan. Anggota


fisiknya ibarat cahaya (dliya`).
Syahwat ibarat menjadi gubernur
(waliy) yang memiliki sifat pendusta,
egois, dan sering mengacau.
Ghadhab ibarat oposan (syibnat)
yang sifatnya buruk, ingin perang
dan suka mencekal. Kalbu ibarat
menjadi raja (malik). Dan akal ibarat
menjadi perdana menterinya (wazir).

Apabila seorang raja (kalbu) tidak


mengendalikan kerajaannya maka kerajaan
itu akan diambil alih oleh gubernur
(syahwat) dan oposannya (ghadhab) yang
mengakibatkan kekacauan. Namun apabila
sang raja memedulikan kerajaannya dan ia
bermusyarah dengan perdana menterinya
maka gubernur dan oposannya mudah
diatasi dan berkedudukan di bawahnya.
Ketika hal ini terjadi maka mereka saling
bekerja sama untuk kemakmuran dan
kesejahteraan sebuah kerajaan yang
akhirnya mendatangkan makrifat
kehadirah ilahi (al-hadhrah al-ilahiyah) dan
mendatangkan kebahagiaan.

No.

Daya
Nafsani

Tingkatan Kepribadian
Kepribadian
Kepribadian
Mutmainnah
Amarah

Kalbu

Kepribadian
Lawwamah

55%

30%

30%

40%

15%
2

Akal
30%

Nafsu

15%
55%

30%

KEPRIBADIAN AMMARAH
(NAFS AL-AMMARAH)

Sesungguhnya nafsu itu selalu


menyerukan pada perbuatan buruk
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh
Tuhanku (QS. Yusuf: 53)

Kepribadian yang cenderung pada tabiat


jasad dan mengejar pada prinsip
kenikmatan semata. Menarik kalbu
untuk melakukan perbuatan rendah.
Tempat dan sumber kejelekan dan
perilaku yang tercela.

Kepribadian bawah sadar, mengikuti sifat-sifat binatang.


Kepribadian ini menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan
sehingga menghilangkan identitas manusia.
Ditentukan oleh:
-daya syahwat (birahi, kecintaan diri, ingin tahu dan campur
tangan urusan orang lain, dsb)
-daya ghadhab (ketamakan, serakah, mencekal, berkelahi,
ingin menguasai yang lain, keras kepala, sombong, angkuh,
dsb)

KEPRIBADIAN LAWWAMAH (NAFS


AL-LAWWAMAH)

Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali. (QS.


Al-Qiyamah: 2)

Kepribadian yang didominasi oleh komponen akal. Berada dalam


kebimbangan antara kepribadian ammarah dan kepribadian
muthmainnah.

*Lawwamah berasal dari kata al-talum yang berarti al-taraddud


(bimbang dan ragu-ragu). Kebimbangan itu seperti mengingat
lalu lupa, menerima lalu menolak, halus lalu kasar, taubat lalu
durhaka, cinta lalu benci, senang lalu sedih, taat dan takwa lalu
lacur. Dikatakan lawwamah karena sifatnya al-lawm yang berarti
celaan karena meninggalkan iman, atau celaan karena berbuat
maksiat dan meninggalkan ketaatan (Ibn Qayyim al-Jauziyah
dalam al-Ruh)

Akal tanpa percikan nur kalbu, akan


mengarahkan pada pola pikir yang sangat
rasional (dikatakan puncak
kemanusiaan/antroposentris) dan melupakan
Tuhan, dan melupakan kedudukannya sebagai
khalifah dan hamba Allah di muka bumi.
Akal yang diberi percikan nur kalbu, fungsinya
menjadi baik dan dapat dijadikan sebagai salah
satu media menuju Tuhan.
Akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak
dan menerima limpahan pengetahuan dari
Tuhan/akal mustafad (Ibnu Sina).

KEPRIBADIAN MUTHMAINNAH
(NAFS AL-MUTHMAINNAH)

Kepribadian teosentris (QS. Al-Naziat: 40-41)


Kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur
kalbu
Selalu berorientasi kepada komponen kalbu yang
thuma`ninah (QS. 13: 28) untuk mendapat kesucian
dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya
menjadi tenang (QS. Al-Fajr: 27-28)
Kepribadian supra-sadar. Kepribadian yang penuh
keyakinan dan merasa tenang dalam menerima
keyakinan fitriah. Menggunakan cita rasa (zawq) dan
mata bathin (ain al-bashirah) dalam menerima
sesuatu sehingga merasa yakin dan tenang.

Meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat yang


baik, karena kalbu selalu cenderung pada ketenangan dalam
beribadah, menyintai, bertaubat, bertawakal, dan mencari ridha
Allah swt.
Dengan kesucian daya kalbu, manusia mampu memperoleh
(pengetahuan) wahyu dan ilham dari Tuhan. Kebenaran
pengetahuan ini bersifat supra rasional, sehingga bisa jadi ia
tidak mampu diterima oleh akal.