Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

KANDIDIASIS VULVOVAGINITIS
-

OLEH :

IRMA AYUDIANA
20117300045

PEMBIMBING :

dr. H. Sofwan S. Rahman, Sp.KK


KEPANITERAAN KLINIK
STASE ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RS. R. SYAMSUDIN, SH SUKABUMI
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH JAKARTA
2016

A. DEFINIS
I

Kandidiasis (atau kandidosis, monoliasis) merupakan


berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Candida albicans dan anggota genus kandida lainnya.
Kandidiasis vulvovaginitis adalah penyakit infeksi yang
terjadi pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan
oleh adanya berbagai jenis Candida.

B. EPIDEMIOLOG
I
Sekitar 20% dari wanita diseluruh dunia menderita kandidosis
vulvovaginitis.

Di Amerika penyebab infeksi terbanyak kedua pada infeksi


vaginal
Angka kejadian kandidosis vulvavaginitis pada wanita meningkat
signifikan pada usia setelah 20 tahun dan mencapai puncaknya
pada usia 30 sampai 40 tahun, hal ini terkait dengan aktivitas
intercourse seksual.

c.ETIOLOGI
oCandida albicans 85-90%
oNon Candida albicans 10- 20% (Candida
glabarata, Candida papsilosis, Candida
tropicalis, dan Candida krusei)

D.PATOFISIOLOGI

Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi


baik endogen maupun eksogen.
Faktor endogen
Kehamilan, karena perubahan pH vagina
Diabetes Mellitus, HIV/AIDS
Pemberian antimikroba yang intensif (yang mengubah flora bakteri
normal)
Terapi progesterone, kontrasepsi
Terapi kortikosteroid
Immunodefisiensi
Faktor eksogen
Kebersihan diri
Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat
Kontak dengan penderita

E.GAMBARAN
KLINIS
o
o
o
o
o
o
o

rasa gatal pada daerah vulva


Keluarnya cairan putih atau kuning
tidak berbau
rasa terbakar pada vulva
Kemerahan daerah luar vagina
rasa kering pada liang vagina
dispareunia

F.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan mikroskopis

okerokan kulit atau usapan


mukokutan diperiksa dengan
larutan KOH 10% atau dengan
pewarnaan gram,
terlihat sel ragi, blastospora ,
atau hifa semu.

Pemeriksaan biakan
dibiakan pada media
Sabouraud Dextrose Agar. Dapat
dibubuhi antibiotik
(kloramfenikol) untuk mencegah
pertumbuhan bakteri.
Pembenihan ini disimpan pada
suhu kamar atau suhu 37o C.
Koloni tumbuh setelah 24-48 jam,
berupa yeast like colony

Pseudohifa pada tes mikroskopis

Germ tube pada tes mikroskopis

Kultur Candida albicans pada


Sabouroud Dextrose Agar

G.DIAGNOSIS
Anamnesis

DIAGNOSA BA
NDING
Kandidiasis

pH
Keputihan

Mikroskopis

Normal

Kandidiasis

Vaginosis Bakteri

Trikomoniasis

<4,5

<45

>4,5

5,0-6,0

Putih, jelas,

Seperti susu pecah

Homogen, banyak,

Berbusa, banyak,

jumlah sedikit

(curdy) atau

putih keabu-abuan

kuning kehijauan

Sel epitel

seperti keju
Budding pada

Clue cell, Gram

Sel darah putih

dengan batas

pewarnaan Gram

negatif pada

banyak, adanya

jelas,

atau kerokan KOH,

pewarnaan Gram,

motile trikomonad

lactobasilus

Pseudohifa atau

jumlah bakteri

Gram (+)

spora, sel darah

banyak

putih banyak, sel


epitel dengan batas
Gejala

Tidak ada

jelas
Rasa gatal pada

Keputihan, bau

Keputihan,

vagina, rasa panas,

amis ,dispanuria,

pruritus, bau

iritasi, keputihan,

(malodorous),

dispanurias

keputihan
berbusa,

Kandidiasis vulvovaginitis

Sekret pada bakterial vaginosis

Strawberry appearance pada trichomoniasis

TATALAKSANA

Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi

Medikamentosa
o

Sistemik
o Ketokonazol 400 mg selama 5 hari
o Itrakonazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal
o Flukonazol 150 mg dosis tunggal

Topikal
o Mikonazol 2% 7 hari
o Klotrimazol 1% 7-14 hari
o Butoonazole 2% 3 hari

PENEGAHAN
Menghindari

atau mengurangi faktor predisposisi.

menghindari pemakaian berulang antibiotika spectrum


luas

Menghindari pemakaian steroid yang berlebihan

menghentikan pemakaian kontrasepsi yang


mengandung estrogen yang tinggi,

mengendalikan diabetes mellitus.

Selan itu juga menghindari pemakaian pakaian yang


ketat

pemakaian obat pencuci vagina

Menjaga kebersihan diri

PROGNOSIS

Prognosis baik bila faktor predisposisi dapat


diminimalkan, danbergantung pada berat
ringannya factor predisposisi.

Kesimpulan
Kandidiasis vulvovaginitis adalah penyakit infeksi yang terjadi
pada daerah vulva dan vagina yang disebabkan oleh adanya
berbagai jenis Candida
Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada factor predisposisi
baik endogen maupun eksogen.
Tanda dan gejala klinis pada kandidiosis vulvaginalis meliputi
pruritus vulvovaginitis, iratasi, nyeri, dispareunia, nyeri berkemih,
keputihan, cairan yang tidak bau.
Karena gejala dan tanda-tanda kandidiasis vulvovaginitis tidak
spesifik, diagnosis tidak dapat dibuat semata-mata berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diagnosis kandidiasis
vulvovaginitis membutuhkan korelasi antara gejala klinis,
pemeriksaan mikroskopis, dan kultur vagina.

TERIMA KASIH

DAFTAR

PUSTAKA

Janik MP, Heffernan MP. Yeast infection: candidiasis and tinea (pityriasis) versicolor. In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz
SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatricks dermatology in general medicine.7th ed. New York:The
McGraw-Hill Companies,2008; p.1822-8.

Andrews J. Vulvovaginal Disease: An Evidence-Based Approach to Medical Management. JCOM. 2009. p281-293

Djuanda, Adhi et al, 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi keenam cetakan kedua. FK UI : Jakarta.

Sobel JD. Vulvovaginal candidiasis . In : Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN, Corey L, Cohen
MS, Watts DH, editors. Sexually Transmitted Disease. 4th ed. United State of America:Mc Graw Hill;2008;p 823-35
Kartowigno, Soenarto, 2011. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit. Ed:2. FK UNSRI. Palembang.
Hay RJ, Moore MK. Mycology. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths, editors. Rooks textbook of dermatology.
7th ed. Massachusets: Blackwell Publishing; 2004; p. 31.60-75.
Calderone, R.A., and Fonzi, W.A. (2001). Virulence factors of Candida albicans. Trends in Microbiology, 9(7): 327-35.
Wolf K, Johnson R.A. Genital Candidiasis. In Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology 6th ed. New
York: McGraw-Hill; 2009. p.727-30.
Schwebke, JR. Vaginitis . In :Zenilman JM, Shahmanesh M, editors. Sexually Transmitted Disease: Diagnosis,
Management and Treatment. United State of America:LLC;2012;p 65
Daill SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi keempat. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2011.
Thomas P., Md. Habif, Thomas P. Habif By Mosby, Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy 4th
edition p. 441-443
Workowshi KA, Berman SM. Sexually Transmitted Diseases Treatment guidelines 2006. US Department of Health
and Human Services. Centers For Disease Control and Prevention (CDC). Morbidity and Mortality Weekly Report;
2006. 55 : p. 54-6.
Arif A, Mirdhatillah S, dkk. 2014. Farmakologi. FK UI : Jakarta.