Anda di halaman 1dari 76

TEKNOLOGI FORMULASI

SEDIAAN LIKUID DAN


SEMISOLID

EMULSI
Oleh :
Ratih Aryani, M.Farm., Apt.
STIKes BTH TASIKMALAYA

Definisi
Emulsi

Definisi
Dalam bidang farmasi :
Campuran homogen dari 2 cairan yang
dalam keadaan normal tidak bercampur
(fase air dan fase minyak), dengan
pertolongan suatu bahan penolong yang
disebut emulgator

Emulsi secara
termodinamika
TIDAK STABIL
Diameter
tetesan 0,1100m

Dalam sistem dispersi


Fase dispers

vs
Fase intern
vs
Fase diskontiyu vs

medium dispers
fase ekstern
fase kontinyu

Fase yang berair :


Dapat terdiri dari air atau campuran sejumlah substansi
hidrofil seperti : alkohol, glikol, gula, garam mineral,
garam organik, dll.
Fase yang berminyak :
Fase organik padat/cair, dapat terdiri dari substansi
lipofil seperti : asam lemak, alkohol asam lemak, lilin, zatzat aktif liposolubel, dll

Tipe Emulsi
Tipe O/W
Tipe W/O
Tipe WOW
Tipe OWO

: Minyak / Air
: Air / Minyak
: Air / Minyak / Air
: Minyak / Air / Minyak

Emulsi :
Campuran terner : air + minyak + emulgator

Skema Emulsi O/W, W/O

Cara memprediksi tipe emulsi


Jika surfaktan (emulgator) larut dalam air, maka akan terbentuk

emulsi minyak dalam air (m/a). Begitu juga sebaliknya jika


surfaktan (emulgator) larut dalam minya, maka akan terbentuk
emulsi air dalam minyak (a/m)
Emulsi air dalam minyak (a/m) dapat terbentuk jika jumlah air <
40 % dari volumenya. Jumlah yang lebih tinggi dari 40 % akan
membentuk tipe emulsi minyak dalam air (m/a)
Walaupun airnya hanya 20 30 %, emulsi minyak dalam air
(m/a) akan tetap terbentuk jika air ditambahkan pada proses
pencampuran
Berdasarkan viskositas. Emulsi yang terbentuk didasarkan pada
viskositas setiap fase. Peningkatan viskositas akan membentuk
fase luar

Tujuan pemakaian Emulsi


Membuat sediaan obat yang larut dalam air

maupun minyak dalam satu campuran.

Emulsi berdasar penggunaannya :


Emulsi untuk pemakaian dalam (per oral) Emulsi

tipe O/W.
Emulsi untuk pemakaian luar, emulsi tipe O/W ,
W/O

Keuntungan sediaan emulsi


1.

2.
3.
4.

5.

Banyak bahan obat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak
menyenangkan dan dapat dibuat lebih enak pada pemberian oral
bila diformulasikan menjadi emulsi.
Beberapa obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat
tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi.
Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah dicuci bila
diinginkan.
Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan
kekasaran (greasiness) dari emulsi kosmetik maupun emulsi
dermal.
Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan berlemak
secara intravena akan lebih mudah jika dibuat dalam bentuk
emulsi.

Lachman, 1994

Keuntungan sediaan emulsi


Aksi emulsi dapat diperpanjang dan efek emollient
yang lebih besar daripada jika dibandingkan dengan
sediaan lain.
7. Emulsi juga memiliki keuntungan biaya yang penting
daripada preparat fase tunggal, sebagian besarlemak
dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan
untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif
memakan biaya, akibatnya pengenceran dengan suatu
pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air
sangat diinginkan dari segi ekonomis selama
kemanjuran dan penampilan tidak dirusak.
6.

Lachman, 1994

Kerugian sediaan emulsi


1.

Emulsi kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan


tehnik pemprosesan khusus. Untuk menjamin karya
tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang
berguna, emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan
dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah
yang berhubungan.

Lachman, 1994

Stabilisasi butir-butir tetesan


Dalam emulsi, butir-butir tetesan (fase dispers)
dapat distabilkan dengan mekanisme teori :
Teori penurunan tegangan permukaan
2. Teori Oriented Wedge
3. Teori Interfacial Film (Plastic Film)
4. Teori terbentuknya lapisan ganda listrik
1.

Teori Penurunan Tegangan Permukaan


(Surface Tension)

Teori Oriented Wedge


Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi
berdasarkan adanya kelarutan selektif dari bagian molekul
emulgator : ada bagian yang bersifat suka air atau mudah
larut dalam air, dan ada bagian yang suka minyak atau
mudah larut dalam minyak.

H.L.B = Hidrofilik Lipofilic Balance


Angka yang menunjukkan perbandingan antara

kelompok hidrofil dengan kelompok lipofil.

Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak

kelompok yang suka pada air sehingga emulgator


tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian
pula sebaliknya

Teori Interfacial Film (Plastic Film)

Teori Interfacial Film (Plastic Film)

Teori Interfacial Film (Plastic Film)

Teori Terbentuknya Lapisan Ganda Listrik


(Electric Double Layer)

Teori Terbentuknya Lapisan Ganda Listrik


(Electric Double Layer)

Formulasi Emulsi

EMULGATOR

EMULGATOR

Mekanisme Kerja
Emulgator
Penurunan Tegangan Permukaan
Peranan emulgator adalah sebagai pemberi batas antarmuka
masing masing cairan dan mencegah penggabungan antar partikel
partikel sehingga dapat mencegah flokulasi.
Pembentuk Lapisan Antarmuka
Pengemulsi membentuka lapisan tipis menomolekuler pada

permukaan fase terdispersi. Hal ini bedasarkan sifat amfifil (suka


minyak dan air) dan pengemulsi yang cenderung untuk
menempatkan dirinya pada tempat yang disukai. Bagian hidrofilik
mengarah keminyak sehingga dengan adanya lapisan tipis kaku ini
akan membentuk sautu penghalang meknik terhadap adhesi dan
flokulasi yang terkemas rapat, sehingga dapat dibentuk emulsi stabil.

(Lachman : 1034)

Mekanisme Kerja
Emulgator
Penolakan Elektrik
Potensial yang dihasilkan oleh lapisan rangkap tersebut
menciptakan suatu pengaruh tolak menolak antara tetesan tetasan
minyak, sehingga mencegah penggabungan
Padatan Terbagi Halus
Bagian emulgator ini membentuk lapisan khusus disekeliling tetesan

terdispersi dan menghasilkan emulsi yang meskipun berbutir kasar,


mempunyai stabilitas fisik. Hal ini dapat menyebabkan padatan
dapat bekerja sebagai emulgator

(Lachman : 1034)

Emulgator Sintetik (Surfaktan)


Gugus hidrofilik : bersifat polar (mudah bersenyawa

dengan air)
Gugus lipofilik : bersifat non polar (mudah
bersenyawa dengan minyak).
Salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya.
Gugus polar dominan : maka molekul-molekul
surfaktan tersebut akan diabsorpsi lebih kuat oleh
air dibandingkan dengan minyak. Akibatnya
tegangan permukaan air menjadi lebih rendah
sehingga mudah menyebar dan menjadi fase
kontinu.
Gugus non polarnya lebih dominan, maka
molekulmolekul surfaktan tersebut akan
diabsorpsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan
dengan air. Akibatnya tegangan permukaan

Critical Micelle Concentration


(CMC).
Penambahan surfaktan dalam larutan akan

menyebabkan turunnya tegangan permukaan


larutan.
Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan
permukaan akan konstan walaupun konsentrasi
surfaktan ditingkatkan.
Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi ini
maka surfaktan mengagregasi membentuk misel.
Konsentrasi terbentuknya misel ini disebut Critical
Micelle Concentration (CMC).
Tegangan permukaan akan menurun hingga CMC
tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan
permukaan akan konstan yang menunjukkan bahwa
antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang
berada dalam keseimbangan dinamis dengan
monomernya (Genaro, 1990)

Klasifikasi Surfaktan

1)

Surfaktan anionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya


terikat pada suatu anion. Contohnya adalah garam
alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat
asam lemak rantai panjang.

2)

Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya


terikat pada suatu kation. Contohnya garam alkil
trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium
dan garam alkil dimethil benzil ammonium.

3)

Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya


tidak bermuatan. Contohnya ester gliserin asam lemak,
ester sorbitan asam lemak, ester sukrosa asam lemak,
polietilena alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida,
mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil amina
oksida.

4)

Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya

Klasifikasi Hidrokoloid

Alat Yang digunakan dalam


Pembuatan Emulsi
Mortir dan stamfer emulsi skala kecil
Botol Penggojokan
Mixer fase dispers dihaluskan oleh pisau

mixer yang berputar dengan kecepatan tinggi.


Homogenizer fase dispers dilewatkan
dalam celah sempit sehingga partikel
mempunyai ukuran yang sama.

Metode Pembuatan Emulsi


Metode Gom Kering

METODE GOM BASAH


(METODE INGGRIS)
Emulgator ditabur di atas air

CARA PEMBUATAN

Terbentuk mucilago/mengembang

1. Pembuatan corpus emulsi

Tambahkan minyak
(sedikit demi sedikit)

4 : 2 : 1
minyak

Gerus hingga terbentuk emulsi primer


air

emulgator

2 : 1 : 1,5
minyak

METODE GOM KERING


(METODE KONTINENTAL)
Emulgator + minyak
Emulgator terbasahi
Tambahkan air sekaligus

emulgator

air
Gerus hingga terbentuk emulsi primer
seperti susu

Stabilitas Emulsi
Flokulasi dan Creaming

Flokulasi, karena kurangnya zat pengemulsi sehingga


kedua fase tidak tertutupi oleh lapisan pelindung
sehingga terbentuklah flok-flok atau sebuah agregat.
Creaming, terpisahnya emulsi menjadi dua bagian
dimana yang satu mengandung fase dispers lebih
banyak daripada lapisan lain.
adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi memekat
pada daerah permukaan dan dasar.
Creaming bersifat reversible artinya bila dikocok
perlahan-lahan akan terdispers kembali

Stabilitas Emulsi
Koalesen dan cracking (breaking)
Koalesen, yang disebabkan hilangnya lapisan film dam globul
sehingga terjadi pencampuran.
Yaitu pecahnya emulsi karema film yang meliputi partikel rusak
dan butir minyak akan koalesen (menyatu).
lapisan film mengalami pemecahan sehingga hilang karena
pengaruh suhu.
Sifatnya irreversible (tidak bisa diperbaiki)
Infersi fase
Berubahnya tipe emulsi minyak dalam air menjadi air dalam
minyak atau sebaliknya.
yang terjadi karena adanya perubahan viskositas.

Kontrol Emulsi
Penentuan Tipe Emulsi
Metode Pengenceran

Penentuan Tipe Emulsi


Uji pewarnaan

Zat warna larut air yang ditaburkan pada


permukaan emulsi akan mengindikasikan sifat dari
fasa kontinu.

Pada emulsi M/A akan berlangsung inkorporasi


warna larutan secara cepat ke dalam sistem

Pada emulsi A/M warna akan berupa kelompok


vesikel yang tampak.

Peristiwa sebaliknya akan terlihat jika digunakan


zat
warna larut minyak.

Penentuan Tipe Emulsi

Kertas kobal klorida

Kertas asaring dibacam (diimpregnasi) dengan kobal

klorida dan dikeringkan.


Warna biru akan berubah menjadi warna merah muda
(pink) jika diteteskan/ ditambahkan emulsi M/A.
Dapat mengalami kegagalan (tidak berhasil) jika emulsi
tidak stabil atau pecah dengan keberadaan elektrolit.
Fluoresensi

Fluoresensi di bawah cahaya ultraviolet.


Emulsi M/A menunjukkan pola bintik (titik), sedangkan

pada emulsi A/M, fluoresensi terlihat secara menyeluruh


(Agoes, 2012).

PERHITUNGAN HLB
HLB adalah singkatan dari Hydrophylic-

Lipophylic Balance) adalah nilai untuk


mengukur efisiensi surfaktan
Makin tinggi nilai HLB makin hidrofil suatu
surfaktan.
Makin rendah nilai HLB makin lipofil suatu
surfaktan.

PERHITUNGAN HLB
Menurut Griffin perhitungan HLB adalah:

HLB Campuran Surfaktan

Perbandingan Surfaktan Pada


suatu HLB

Contoh Latihan
Pada pembuatan 100 ml emulsi tipe o/w

diperlukan emulgator dengan harga HLB 12.


sebagai emulgator dipakai campuran Span 20
(HLB 8,6) dan Tween 20 (HLB 16, 7) sebanyak
5 gram. Berapa perbandingan antara Span 20
dan Tween 20 ?

Contoh Latihan
Tween 80 70% HLB 15
Span 80 30% HLB 4,5
Berapa HLB campuran ?

Latihan
R/ Parafin cair 30% (HLB : 12)
Emulgator 5%
Air ad 100 gram

Latihan

Jawab :
cara pertama pilih nilai HLB surfaktan yang diantara HLB parafin
cair (HLB 12), dipilih melalui data yaitu
span 80 (HLB 4,3) dan tween 80 (HLB 15) ).
Jumlah emulgator yang diperlukan = 5% x 100 = 5 gram
kemudian buat pemisalan untuk persamaan :
Tween 80 = a gram
Span 80 =(5-a) gram
Persamaan :
(a x HLB) + ((5-a) x HLB ) = (5 x HLB) :
(a x 15) + ((5-a) x 4,3) = (5 x 12)
15a + 21,5 - 4,3a = 60
10,7a = 38,5
a = 3,6 gram
Jadi tween 80 yang dibutuhkan = 3,6 gram
sedangkan span 80 yang dibutuhkan = (5-3,6 gram) = 1,4 gram

Evaluasi
Organoleptis
Pengukuran bobot jenis
Ukuran partikel
pH
Pengukuran viskositas
Sentrifugasi
Penentuan tipe emulsi
Volume Terpindahkan
Pemeriksaan keseragaman kadar
Stabilitas suhu (cycling test)