Anda di halaman 1dari 10

PENGANTAR HUKUM INDONESIA

PENGERTIAN
Tata Hukum adalah semua peraturanperaturan hukum yang diadakan /diatur oleh
negara atau bagian-bagiannya dan berlaku
pada waktu itu di seluruh masyarakat dalam
negara atau disebut juga ius constitutum.
Tujuan dibentuknya tata hukum adalah
untuk mempertahankan, memelihara dan
melaksanakan tata tertib di kalangan
anggota- anggota masyarakat dalam negara
itu dengan peraturan-peraturan yang
diadakan oleh negara atau bagianbagiannya.

TUJUAN
Tujuan mempelajari Tata Hukum
Indonesia :
agar mengetahui perbuatan atau tindakan
manakah yang menurut hukum dan yang
manakah bertentangan dengan hukum,
bagaimanakah kedudukan seseorang
dalam masyarakat, apakah kewajibankewajiban dan wewenang-wewenangnya
yang kesemuanya itu menurut hukum
Indonesia.

PERATURAN POKOK PADA


JAMAN HINDIA BELANDA

Algeimene Bepaling van Wetgeving voor Indonesia,


disingkat AB (Ketentuan-ketentuan Umum tentang
Peraturan Perundang-undangan untuk Indonesia.)
yang dikeluarkan pada tanggal 30 April 1847
Regerings Reglemens (R.R) yang dikeluarkan pada
tanggal 2 September 1854.
Indische Staatsregeling (IS) atau Peraturan
Ketatanegaraan Indonesia. Pada tanggal 23 Juni
1925 RR iubah menjadi IS yang termuat dalam Stb.
1925/415 yang mulai berlaku 1 Januari 1926. RR
dan IS ini dapat dikatakan peraturan pokok yang
merupakan : UUD Hindia Belanda dan merupakan
sumber peraturan-peraturan organic pada masa
itu.

Peraturan Organik Pada Jaman


Hindia Belanda

Ordonantie
Regerings Verordening
Locale Verordening

PERATURAN POKOK PADA


JAMAN JEPANG

Hanya ada satu yaitu Undangundang nomor 1 tahun 1942


yang menyatakan berlakunya
kembali semua perarturan
perundangan Hindia Belanda
yang tidak bertentangan
dengan kekuasaan Militer
Jepang.

DASAR HUKUM BERLAKUNYA


KEANEKARAGAMAN HUKUM DI
INDONESIA

Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945, yang berbunyi : Segala


Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung
berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini
Pasal 142 Ketentuan Peralihan UUDS 1950 : Peraturan
Undang-undang dan ketentuan-ketentuan tata usaha negara
yang sudah ada pada tanggal 17 Agustus 1950 tetap berlaku
dengan tidak burubah sebagai peraturan-peraturan RI sendiri,
selama dan sekedar peraturan-peraturan dan ketentuanketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh
Undang-undang dan ketentuan tata usaha atas kuasa UUD
ini
Pasal 192 Ketentuan Peralihan Konstitusi RIS : Peraturanperaturan dan ketentuan-ketentuan tata usaha yang sudah
ada pada saat Konstitusi ini mulai berlaku tetap berlaku
dengan tidak berubah sebagai peraturan-peraturan dan
ketentuan-ketentuan Republik Indonesia sendiri selama dan
sekedar peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan itu
tidak dicabut, ditambah atau diubah oleh Undang-undang dan
ketentuan-ketentuan tata usaha atas kuasa Konstitusi ini

Catatan :

Semua peraturan-peraturan perundangan Hindia


Belanda yang diambil alih oleh Pemerintah Militer
Jepang ditambah dengan peraturan-peraturan
yang dibuat Pemerintah Jepang sendiri, berlaku
pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia.
Semua peraturan-peraturan perundangan yang
berlaku pada masa penjajahan jepang yang
diambil alih oleh UUD 1945 (Pasal II Aturan
Peralihan) ditambah dengan peraturan-peraturan
yang dibuat berdasarkan UUD 1945 tersebut
berlaku pada masa UUD 1945 (yang pertama )
Semua peraturan-peraturan perundangan yang
berlaku pada masa UUD 1945 yang diambil alih
oleh Konstitusi RIS 1949 ( Pasal 192 Aturan
Peralihan) ditambah dengan peraturan-peraturan
yang dibuat berdasarkan Konstitusi RIS tersebut,
berlaku selama masa Konstitusi RIS.

Semua peraturan-peraturan perundangan yang berlaku


pada masa Konstitusi RIS yang diambil alih oleh UUDS
1950 ( Pasal 142 Ketentuan Peralihan), ditambah
dengan peraturan-peraturan yang dibuat berdasarkan
UUDS 1950 tersebut berlaku selama masa UUDS 1950.
Akhirnya semua peraturan-peraturan perundangan
yang berlaku selama masa berlakunya UUDS 1950
yang diambil alih oleh UUD 1945 (kedua) ditambah
dengan Peraturan-peraturan perundangan yang dibuat
berdasarkan UUD 1945 (kedua) ditambah lagi dengan
peraturan-peraturan yang dibuat berdasarkan Dekrit
Presiden tersebut sepanjang belum dicabut berlaku
pada masa sekarang ini. Alhasil dapatlah kita
mengambil kesimpulan, bahwa berdasarkan :
Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 (setelah Dekrit
Presiden juncto (berhubungan dengan )
Pasal 142 ketentuan Peralihan UUDS RI 1945 juncto
Pasal 192 ketentuan Peralihan Konstitusi RS juncto
Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 (Proklamasi)
juncto
Pasal 3 UU Balatentara Jepang Tahun 1942 No. 1

Di Indonesia peraturan perundangan yang sekarang berlaku


adalah segala peraturan perundangan yang diadakan di jaman
Hindia Belanda, Jepang dan Republik Indonesia hingga sekarang
berlaku seluruhnya sepanjang tidak bertentangan dengan UUD
1945 yang sekarang berlaku.
Kodifikasi adalah peraturan-peraturan hukum yang tertulis secara
sistematis dalam suatu buku. Dasar hukum dari Kodifikasi adalah
pasal 75 (1) RR yang kemudian diganti menjadi pasal 131 (1)
yang berbunyi :

Hukum Perdata dan dagang (begitu pula Hukum Pidana


beserta Hukum Acara Perdata dan Pidana ) harus diletakkan
dalam kitab-kitab undang-undang yang dikodifisir ( asas
kodifikasi )

Untuk golongan bangsa Eropa dianut (dicontoh) perundangundangan yang berlaku di Negeri Belanda (asas konkordasi )

Untuk golongan bangsa Indonesia Asli dan Timur asing


(tionghoa,Arab dsb ) jika ternyata kebutuhan kemasyarakatan
mereka menghendakinya, dapat menggunakan peraturan
yang berlaku bagi golongan Eropa.

Orang Indonesia asli dan Timur Asing sepanjang mereka belum


ditundukkan di bawah peraturan bersama dengan bangsa
Eropa, diperbolehkan menundukkan diri (onderwepen).

Sebelum hukum untuk bangsa Indonesia ditulis di dalam


undang-undang, bagi mereka itu akan tetap berlaku hukum
yang sekarang berlaku bagi mereka, yaitu Hukum Adat.