Anda di halaman 1dari 12

HAM

(HAK ASASI MANUSIA)

HAM
Kelompok:
1. Khairun Nasihin
(1110121001)
2. M. Fauzan H.
(1110121012)
3. Achmad Rizky
(1110121023)
4. Ahmad Hasyim A. (1110121025)
5. Nurinnuddin
(1110121028)

Pengertian HAM
Hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak
dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak
dapat diganggu gugat oleh siapapun.

Instrumen Hukum HAM


1.Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia.
2.UU No. 5 Tahun 1998 tentang pengesahan Convention Against
Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or
Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan
atau
Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan
Martabat Manusia).
UU No. 11 Tahun 2005 Konvenan InternasionalTentang Hak Ekonomi,
sosial, dan Budaya /ICESCR.
UU No. 12 Tahun 2005 Konvenan tentang Internasional tetang Hak
Sipil dan Politik/ICCPR
3.Keppres No. 181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti
Kekerasan Terhadap Perempuan.

Instrumen Hukum HAM


4.Keppres No. 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional HakHak Asasi Manusia Indonesia.
5.Inpres No, 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah
Pribumi dan Nonpribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan
Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan
Penyelenggaraan Pemenintahan.
6.UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
7.UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. 8.Amandemen kedua UUD 1945 (2000) Bab XA Pasal 28A 28J
mengatur secara eksplisit Pengakuan dan Jaminan Perlindungan
Terhadap Hak Asasi Manusia.

Hambatan Penegakan HAM


Hambatan umum dalam pelaksanaan dan penegakan HAM di Indonesia :
Faktor Kondisi Sosial-Budaya
Faktor Komunikasi dan Informasi
Keterbatasan pengetahuan masyarakat terhadap bentuk-bentuk pelanggran
HAM
Faktor Kebijakan Pemerintah
Faktor Aparat dan Penindakannya (Law Enforcement).
1. Belum optimalnya kemampuan hakim di pengadilan HAM
2. Rendahnya respon hukum dalam menanggapi laporan dari masyarakat
adanya pelanggaran HAM

Contoh Kasus Pelanggaran HAM


1. Yuyun Diperkosa 14 Pria hingga Tewas
Peristiwa naas ini terjadi 2 April 2016 lalu di Bengkulu. 14 Pria secara
bergiliran memperkosa tubuh mungil itu. Sebelum melancarkan aksinya,
para pelaku diketahui terlebih dahulu menenggak minuman beralkohol
jenis tuak. Dibawah pengaruh alkohol, mereka dengan gelap mata
melancarkan aksi bejatnya tersebut kepada Yuyun yang saat itu berjalan
sendirian pulang ke rumah sehabis bersekolah. Yuyun akhirnya tewas
karena tak kuat melayani birahi ke-14 pria tersebut.

Contoh Kasus Pelanggaran HAM


2. Pembunuhan Eno Parinah
Kasus pemerkosaan yang diakhiri denganpembunuhan kembali
terjadi, seorang karyawatipabrikyang bernama Eno Parihah(18)di
temukan tewasdi mess pabrik di daerah Jatimulya, Dadap, Kosambi,
Kabupaten Tanggerang. Dia ditemukan tewas pada Jumat pagi 13 Mei
2016 oleh dua teman sekamarnya yang baru pulang dari kerja Shift
malam, saat masuk ke dalam kamar, kedua teman Eno berteriak histeris
mendapati Eno sudah tak bernyawa terlentang di atas kasur dan
berlumuran darah dengan kondisi gagang pacul (Cangkul) menancap di
kemaluannya hingga hampir sebatang penuh.

UPAYA PENEGAKAN HAM


A. PENCEGAHAN
1. Penyusunan Perundang-Undangan HAM
2. Pembentukan Lembaga Pemantau HAM baik LSM maupun
Lembaga
Independen
3. Pembentukan Peradilan HAM
4. Pelaksanaan Pendidikan HAM
B. PENINDAKAN
1. Pendampingan bagi masyarakat yg terkena kasus HAM
2. Penerimaan Pengaduan korban pelanggaran HAM
3. Investigasi
4. Penyelesaian perkara

Surat Keputusan Pers


HAM
tentang Kebiri

http://www.komnasham.go.id/kabar-latuharhary/komnasham-perppu-tentang-penghukuman-kebiri-untuk-tidakditerbitkan
Komnas HAM menilai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
Republik Indonesia tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang juga mencantumkan tentang
penghukuman kebiri secara kimiawi (chemical castration) bagi para pelaku
kejahatan seksual terhadap anak, sebaiknya dipertimbangkan kembali dan tidak
diterbitkan, demikian disampaikan Wakil Ketua Internal Siti Noor Laila di Ruang
Pleno Utama lantai 3 Komnas HAM pada jumpa pers Senin, 15 Februari 2016.
Pemberian hukuman tambahan dengan pengebirian baik kimiawi maupun
dengan operasi medis, dapat pula dikualifikasi sebagai pelanggaran hak yaitu
pelanggaran hak atas persetujuan tindakan medis (the right to informed consent)
dan hak perlindungan atas integritas fisik dan mental seseorang (the protection of
the physical and mental integrity of the person), lanjutnya.

TANYA JAWAB ???