Anda di halaman 1dari 59

FINAL PAPER

Tb PARU DALAM DM TIPE II

IDENTITAS IDENTITAS PASIEN PASIEN

  Nama Nama

  Usia Usia

  Jenis Jenis kelamin kelamin

  Alamat Alamat

  Tanggal Tanggal masuk masuk RS RS

  Ruangan Ruangan

: Tn.M

: Tn.M

: 53 tahun

: 53 tahun

: Laki-laki

: Laki-laki

: Rawasari

: Rawasari

: 26 Desember 2013

: 26 Desember 2013

: Marwah atas

: Marwah atas

. Demam 1 minggu

. Demam 1 minggu

Batuk berdahak, sesak, berat badan menurun, lemas, panas dingin, mual, kesemutan,

rasa baal

SMRS

SMRS

KELUHAN KELUHAN UTAMA UTAMA

minggu SMRS

Demam 11 minggu SMRS

Demam

KELUHAN KELUHAN TAMBAHAN TAMBAHAN

Batuk berdahak, sesak, berat badan menurun, lemas, panas dingin,

Batuk berdahak, sesak, berat badan menurun, lemas, panas dingin,

mual, kesemutan, rasa baal

mual, kesemutan, rasa baal

Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dengan keluhan demam sejak 1 minggu SMRS, demam dirasakan mendadak dan hilang timbul. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak dan sesak, dan apabila batuk pasien mengeluh dada kanan pasien bagian bawah terasa sakit. Dahak yang di keluarkan berwarma kuning, tidak ada darah. Pasien adalah seorang perokok berat, namun karena keluhan sesak dan batuk sering datang pasien mengaku sudah berhenti merokok sejak 4 bulan terakhir ini.

Pasien memiliki riwayat TB paru dan mengkonsumsi OAT selama 6 bulan dan dinyatakan selesai pengobatan sejak 5 tahun yang lalu, pasien berhenti merokok pada saat itu. Pasien merokok lagi karena keluhan sesak dan batuk sudah jarang kambuh. Dan 4 bulan yang lalu SMRS keluhan sesak dan batuk pada pasien datang lagi, pasien tidak berobat karena keluhan sesak dan batuk masih dirasa ringan, pasien hanya berhenti merokok saja untuk menghilangkan keluhan sesak nafas dan batuknya.

Dari awal keluhan sesak dan batuk datang pasien merasa berat badannya semakin menurun, dari 52

kg saat ini menjadi 47 kg. dan bila tidur malam

pasien sering keringatan tanpa sebab yang

jelas. .

Os

juga mengeluh kadang badan terasa panas dingin, mual, tangan sering kesemutan. Os juga mengeluh pusing kadang-kadang. Os merasa cepat lapar dan haus. Os mengeluh kedua tangan dan kaki terasa baal dan ada luka dijempol kaki kanan tapi tidak tahu penyebab lukanya. Nafsu makan os menurun. Sesak dan nyeri dada disangkal, demam disangkal, BAB agak keras dari kemarin. BAK sering terutama malam hari bisa sampai 3 kali. Perut terasa tidak enak tapi tidak nyeri. Kalau makan lidah terasa pahit

RIWAYAT RIWAYAT PENYAKIT PENYAKIT DAHULU DAHULU

Riwayat TBTB 2012,

Riwayat

2012, DMDM sejak

sejak 22 tahun yang lalu (terkontrol)

tahun yang lalu (terkontrol)

RIWAYAT RIWAYAT PENYAKIT PENYAKIT KELUARGA KELUARGA

  KELUHAN YANG SAMA DISANGKAL

KELUHAN YANG SAMA DISANGKAL

  HT, ASMA , TB DISANGKAL

HT, ASMA , TB DISANGKAL

RIWAYAT RIWAYAT ALERGI ALERGI

Alergi makanan dan obat disangkal

Alergi makanan dan obat disangkal

RIWAYAT RIWAYAT PSIKOSOSIAL PSIKOSOSIAL

MAKAN TERATUR SEHARI 3x/HARI, RIWAYAT

MAKAN TERATUR SEHARI 3x/HARI, RIWAYAT

MEROKOK 1 BUNGKUS/ HARI , ALKOHOL

MEROKOK 1 BUNGKUS/ HARI , ALKOHOL

DISANGKAL

DISANGKAL

RIWAYAT RIWAYAT PENGOBATAN PENGOBATAN

  Belum pernah diobati sebelum masuk rs

Belum pernah diobati sebelum masuk rs

  Riwayat penggunaan OAT.

Riwayat penggunaan OAT.

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN FISIK FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

  Kesadaran Kesadaran

  Tanda Tanda Vital Vital

: Compos mentis

: Compos mentis

• •

Suhu Suhu : : 37,5 37,5 C C o

o

• • NadI NadI : : 98 98 X/Menit X/Menit

• • Pernafasan Pernafasan

• • TD TD

: 24 X/Menit

: 24 X/Menit

:110/80

:110/80

Pemeriksaan fisik

Kepala

: Normocephal, rambut hitam, lurus,

tidak rontok

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik

(-/-),edema palpebra(-/-) Hidung: Septum deviasi (-), epistaksis (-/-),

Mulut : Mukosa kering (-), faring hiperemis (-), tonsil T1/T1,(stomatitis)

Telinga: Normotia, otore -/-,nyeri tekan tragus(-/-)

Leher : Pembesaran KGB (-), Pembesaran thyroid (-)

THORAX THORAX
THORAX
THORAX

Paru

Jantung Punggung: normal, skoliosis (-), Punggung: normal, skoliosis (-), lordosis(-) kifosis (-) lordosis(-), kifosis (-)
Jantung
Punggung: normal, skoliosis (-),
Punggung: normal, skoliosis (-),
lordosis(-) kifosis (-)
lordosis(-), kifosis (-)

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN FISIK FISIK

Abdomen
Abdomen

Inspeksi

: Perut datar, simetris, scar(-)

Palpasi

: Nyeri tekan abdomen (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)

Perkusi

: Timpani keempat kuadran

Auskultasi : Bising usus (+)

Ekstremitas
Ekstremitas

Atas

Bawah

Akral

: Hangat (+/+)

Akral

: Hangat (+/+)

Edema

: (-/-)

Edema

: (-/-)

RCT : < 2 detik

Nadi : Teraba

RCT : < 2detik

RCT : < 2 detik Nadi : Teraba RCT : < 2detik

Januari 2012 Cek Darah Rutin hemoglobin: 12,3(11,7-15,5 ) rb/mm leukosit : 13(3,6-11.00) gr/dL Trombosit : 298

Januari 2012

Cek Darah Rutin

hemoglobin: 12,3(11,7-15,5) rb/mm 3

leukosit : 13(3,6-11.00) gr/dL

Trombosit

: 298 ribu/mm 3

Hematokrit : 37 %(35-47)

GDS

: 324 mg/dL HbA1c : 6,6(4,8 – 5,9)

Tes Fungsi Hati

SGOT : 28 µ/L

SGPT : 20 µ/L

Tes Fungsi Ginjal

Ureum

Creatinin

: 47 mg/dL

: 1,3 mg/dL(<1,4)

sputu,m BTA (+)

Interpretasi :

Terdapat kavitas pada paru kanan

Terdapat infiltrate pada kedua lapang

paru.

Corakan bronkovaskuler meningkat

• Interpretasi : • Terdapat kavitas pada paru kanan • Terdapat infiltrate pada kedua lapang paru.

Resume

Laki-laki 53 tahun febris intermitten sejak 1 minggu SMRS dispneu terus menerus dan dirasakan semakin berat sejak 3 hari SMRS. Batuk berdahak, Sputum berwarma kuning. Pasien adalah seorang perokok berat, keringatan tanpa sebab yang jelas panas dingin, mual, tangan sering kesemutan. Sering merasa polifagi, polidipsi, poliuri. Os mengeluh kedua tangan dan kaki terasa baal dan ada luka dijempol kaki kanan tapi tidak tahu penyebab lukanya. Nafsu makan menurun. BAB agak keras dari kemarin. BAK sering terutama malam hari bisa sampai 3 kali. Perut terasa tidak enak tapi tidak nyeri. Kalau makan lidah terasa pahit.

Pemeriksaan fisik :

TD : 110/80,S : 37,5°C,RR: 30x/m,Auskultasi :

ronkhi (+/+) Pemeriksaan laboratorium:

,GDS : 324 mg/dL, HbA1c : 6,6(4,8 – 5,9) Sputum (+) Rontgen thorax : Terdapat kavitas pada paru kanan Terdapat infiltrate pada kedua lapang paru. Corakan bronkovaskuler meningkat

DAFTAR DAFTAR MASALAH MASALAH

TB paru

TB paru

DM tipe II

DM tipe II

Assessment

TB Paru

Berdasarkan : demam sejak 1 minggu SMRS, dirasakan mendadak dan hilang timbul. Pasien juga mengeluhkan batuk berdahak dan sesak, Dahak yang di keluarkan berwarma kuning. Seorang perokok berat. Riwayat TB paru sejak 5 tahun yang lalu, pasien berhenti merokok pada saat itu. Berat badannya semakin menurun, dari 52 kg saat ini menjadi 47 kg. dan bila tidur malam pasien sering keringatan tanpa sebab yang jelas.

Pf : Auskultasi paru ronkhi(+) Ro thorax : bercak infiltrat di kedua lapang paru Dd : Pneumonia, PPOK Rdx: sputum, uji tuberkulin

Rth : istirahat,nutrisi, 2 RHZE /4 RH 7 RH

gula tidak terkontrol : 2 RHZ/

Assessment

DM tipe 2

Berdasarkan : badan terasa panas dingin, mual, tangan sering kesemutan, pusing kadang-kadang. Os merasa cepat lapar dan haus. kedua tangan dan kaki terasa baal dan ada luka dijempol kaki kanan tapi tidak tahu penyebab lukanya. Nafsu makan menurun.

Pemeriksaan fisik :

Lab

: gds 324 mg/dl,HbA1c 6,6

DD : Hiperglikemia Reaktif

Rdx : gds harian,mikroalbuminuria, HHTL

Rth: Modifikasi Gaya hidup,insulin

- infuse asering Metformin 2x1 Kurangi makanan yang manis

Follow up (27/12/2013)

S= Pasien masih merasa sesak nafas dan batuk, demam (-), sakit kepala (-), keringat malam (+), lemas (+),

O : rhonki (+) pada kedua lapang paru TD : Tekanan Darah : 110/80 mmHg Nadi : 72 x / menit Pernapasan : 26 x / menit Suhu : 36,2 o C A :

TB PARU DUPLEX AKTIF PPOk Pneumonia P:

R/ rencana dilakukan pemeriksaan BTA dan rencana pemberian OAT. cefotaxime inj. 3x1 oksigen semifowler

28/12/2013

S= Pasien sesak berkurang dan batuk, demam (-), sakit kepala (-), keringat malam (-), lemas (+),

O : rhonki (+) pada kedua lapang paru TD : Tekanan Darah : 110/80 mmHg

Nadi : 72 x / menit Pernapasan : 22 x / menit

Suhu : 36,2 o C

A :

TB PARU DUPLEX AKTIF PPOk Pneumonia P:

R/ rencana dilakukan pemeriksaan BTA dan rencana pemberian OAT. cefotaxime inj. 3x1

29/12/2013

S= Pasien sesak (-)an batuk berkurang, demam (-), sakit kepala (-), keringat malam (-), lemas (+),

O : rhonki (+) pada kedua lapang paru TD : Tekanan Darah : 110/80 mmHg

Nadi : 72 x / menit Pernapasan : 22 x / menit

Suhu : 36,2 o C

A :

TB PARU DUPLEX AKTIF PPOk Pneumonia P:

R/ rencana dilakukan pemeriksaan BTA dan rencana pemberian OAT. cefotaxime inj. 3x1

TUBERKULOSIS PARU

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Definisi

Tuberkulosis Tuberkulosis paru paru merupakan merupakan penyakit penyakit

infeksi paru yang menyerang jaringan

infeksi paru yang menyerang jaringan

parenkim paru, yang disebabkan oleh

parenkim paru, yang disebabkan oleh

kuman kuman tubeculosis tubeculosis (mycrobacterium (mycrobacterium

tuberkulosis). tuberkulosis).

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Epidemiologi

Tahun 2002 jumlah penderita TB di Asia Tenggara adalah 625.000 orang atau 39/100.000 penduduk (terbesar di dunia).

Indonesia berada diurutan kelima

untuk

insiden

TB pada

tahun 2009

setelah India, Cina, Afrika Selatan,

dan Nigeria

Di Indonesia TB adalah pembunuh no 1

diantara

penyakit

menular,

dan

penyebab

kematian

no

3

setelah

penyakit

jantung

dan

penyakit

pernafasan akut.

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Faktor Risiko

-Daya -Daya tahan tahan tubuh tubuh rendah rendah

-

Gizi buruk

-Gizi

buruk

- - Paparan Paparan penderita penderita TB TB

- - Higiene Higiene dan dan sirkulasi sirkulasi tempat tempat tinggal tinggal

-Pekerjaan - Pekerjaan (tenaga (tenaga medis medis dan dan APD) APD)

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Etiologi

KUMAN TUBERKULOSIS KUMAN TUBERKULOSIS -Bentuk -Bentuk batang batang -Tahan -Tahan thd thd pewarnaan pewarnaan asam asam
KUMAN TUBERKULOSIS
KUMAN TUBERKULOSIS
-Bentuk -Bentuk batang batang
-Tahan -Tahan thd thd pewarnaan pewarnaan asam asam   bta bta
-Mati -Mati pada pada sinar sinar matahari matahari langsung langsung (uv) (uv)
-Hidup -Hidup beberapa beberapa jam jam di di tempat tempat – – GELAP, GELAP,
LEMBAB
LEMBAB
- - Jaringan Jaringan Tubuh Tubuh   tertidur tertidur lama lama (dormant) (dormant)
Dalam beberapa tahun
Dalam beberapa tahun
Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Cara penularan Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Cara penularan

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Cara

Penularan

Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif.

Pada waktu batuk atau bersin, pasien

menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk

percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.

Daya penularan seorang pasien ditentukan

oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Patogenesis

Bakteri yang terhirup Bakteri yang terhirup Bakteri mencapai paru, masuk ke Bakteri mencapai paru, masuk ke
Bakteri yang terhirup
Bakteri yang terhirup
Bakteri mencapai paru, masuk ke
Bakteri mencapai paru, masuk ke
makrofag
Bakteri berkembang dalam
Bakteri berkembang dalam
Aktivasi
Aktivasi
makrofag
makrofag
makrofag
Mulai terbentuk sarang (causa
Mulai terbentuk sarang (causa
necrosis)
Dorman (tidur)
Dorman (tidur)
menyebar
menyebar
keluar lewat
keluar lewat
sputum
Imunitas
Imunitas
menurun
Reaktivasi
Reaktivasi
Menyebar ke darah, organ
Menyebar ke darah, organ
lain
lain
Kematian
Kematian

Bila kuma menetap dijaringan paru, berkembang biak dalam

sito-plasma makrofag. Disini kuman dapat terbawa masuk ke

organ tubuh lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru

akan berbentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil dan disebut

sarang primer atau (focus) ghon. Sarang primer ini dapat terjadi

disetiap bagian jaringan paru. Semua proses ini memakan waktu

PATOFISIOL

OGI Droplet Droplet Dihancurka Dihancurka n n
OGI Droplet
Droplet
Dihancurka
Dihancurka
n
n
Kuman TB Kuman TB Mati Mati Sal. Limfe Sal. Limfe
Kuman TB
Kuman TB
Mati
Mati
Sal. Limfe
Sal. Limfe

Fokus Primer

Fokus Primer Gohn Gohn
Fokus Primer
Gohn
Gohn
Limfadeniti Limfangitis Limfadeniti Limfangitis s s
Limfadeniti
Limfangitis
Limfadeniti
Limfangitis
s
s
Alveolus Alveolus Makrofag Makrofag Berkembang Berkembang biak biak
Alveolus
Alveolus
Makrofag
Makrofag
Berkembang
Berkembang
biak
biak

Komple

ks

Primer

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Gambaran klinis

A.

GEJALA RESPIRATORIK

-.

BATUK 3 MINGGU

-.

BATUK DARAH

-.

SESAK NAPAS

-.

NYERI DADA

B. GEJALA SISTEMIK

-.

DEMAM

- ANOREKSIA

-.

MALAISE

- BERAT BADAN

-.

KERINGAT MALAM

MENURUN

Tuberkulosis Paru Pada Orang

dewasa

Berikut petunjuk untuk dapat mendiagnosis tuberkulosis paru.

Hal tersebut meliputi :

Gejala

Sistem Respirasi

Umum

  

Batuk

  Penurunan berat badan

  

Sputum

  Deman dan berkeringat

 

Batuk darah

Rasa lelah/lemah

Nyeri dinding dada

Hilangnya nafsu makan

Sesak napas

Wheezing lokal

Sering influenza

(banyaknya titik menggambarkan gejala yang lebih penting)

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

klasifikasi

klasifikasi

Langkah

Diagnostik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi Terapi
Terapi
Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

klasifikasi

1.Letak tubuh yang terkena

2.Hasil pemeriksaan dahak atau bakteriologi

3.Riwayat pengobatan sebelumnya

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis
Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Langkah diagnostik

ANAMNESIS + PEMERIKSAAN FISIK + PENUNJANG

ISTC (INTERNATIONAL STANDAR FOR

TUBERCULOSIS CARE) 2009 : Standar 1 – 6

  • 1. Identifikasi pada penderita batuk

selama 2-3 minggu yang diperkirakan TB.

  • 2. Mengumpulkan spesimen sputum untuk diperiksa secara mikroskopik

dua kali atau minimal satu kali pada

sputum pagi hari.

  • 3. Pemeriksaan mikroskopik, biakan dan histologi jika pasien diduga terkena EPTB (Extrapumonary tuberccolosis)

4.

Evaluasi mikrobiologi bagi pasien

yang diduga TB setelah melihat

pemeriksaan thoraks.

  • 5. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan

bila tedapat gejala yang mengarah

pada TB, hasil thoraks positif tetapi uji

sputum negatif dan tidak merespon

pemberian antibiotik. Apabila

ditemukan positif TB pada pemeriksaan

konfirmasi maka pengobatan TB harus

segera dimulai.

  • 6. Diagnosa TB pada anak dilakukan

dengan memeriksa sputum, biakan,

temuan X- ra

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Tata Laksana

Tata Laksana

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Diagnosis

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Terapi

Terapi

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Terapi

Tujuan :

Menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup dan produktivitas Mencegah kematian karena penyakit TB aktif atau

efek lanjutan

Mencegah kekambuhan Mengurangi transmisi atau penularan kepada yang lain

• Mencegah terjadinya resistensi obat serta penularanya

Dua fase pengobatan

tuberkulosis

Fase intensif : 2-3 bulan

PADUAN OAT di Indonesia

Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.

Kategori 2 : 2(HRZE)S/

(HRZE)/5(HR)3E3.

Disamping kedua kategori ini,

disediakan

(HRZE)

paduan obat sisipan

1.

Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:

Pasien baru TB paru BTA positif.

Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif

Pasien TB ekstra paru

2.

Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)

Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA

positif yang telah diobati sebelumnya:

Pasien kambuh

Pasien gagal

Pasien dengan pengobatan setelah default

(terputus)

3. OAT Sisipan (HRZE)

untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan

selama sebulan (28 hari).

EVALUASI PENGOBATAN

1.EVALUASI KLINIS 2.EVALUASI BAKTERIOLOGIK 3.EVALUASI RADIOLOGI 4.EVALUSI PASIEN YANG TELAH SEMBUH

WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK WAKTU PEM WAKTU PEM
WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK
WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK
WAKTU PEM
WAKTU PEM
DAHAK ULANG && TINDAK LANJUT
DAHAK ULANG
TINDAK LANJUT
LANJUT LANJUT
Teruskan
Teruskan
NEG
NEG
ke fase
ke fase
lanjutan
lanjutan
Akhir
Akhir
(4RH (4RH atau atau
fase
fase
4R 3
4R H ) )
H
Tx
Tx
3
3
3
intensif
intensif
PO
PO
sisipan
sisipan
S S
1
1
bulan
bulan
(1RHZE)
(1RHZE)
H 3 )
NEG
NEG
3
3
SEMBUH
SEMBUH
keduany
keduany
Sebul
Sebul
a a
an
an
GAGAL
sebel
POS
POS
GAGAL
sebel
um
um
AP
AP
Tdk ada
Tdk ada
atau
atau
spesimen
spesimen
N LENGKAP
N LENGKAP
AP

tx

tx

PENGOBATA

PENGOBATA

KAT. I

KAT. I

(2RHZE / 4

(2RHZE / 4

RH atau

RH atau

4R 4R 3 H )

WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK WAKTU PEM WAKTU PEM
WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK
WAKTU PEM DAHAK ULANG & TINDAK
WAKTU PEM
WAKTU PEM
DAHAK ULANG && TINDAK LANJUT
DAHAK ULANG
TINDAK LANJUT
LANJUT
LANJUT
Teruskan
Teruskan
NEG
NEG
ke fase
ke fase
lanjutan
lanjutan
Akhir
Akhir
(4RHE (4RHE atau atau
fase
fase
4R 4R 3 H H 3 E E ) )
3
3
3
3
Tx
Tx
intensif
intensif
POS
POS
sisipan
sisipan
1
1
bulan
bulan
(1RHZE)
(1RHZE)
NEG
NEG
SEMBUH
SEMBUH
keduan
keduan
Sebula
Sebula
ya
ya
n n
sebelu
sebelu
POS
POS
KRONIK
KRONIK
m
m
AP
AP
atau
atau
Tdk
Tdk
AP
AP
ada
ada
LENGKAP
LENGKAP

tx

tx

PENGOBATA

PENGOBATA

KAT. II

KAT. II

(2RHZES -

(2RHZES -

1RHZE/ 4 RHE

1RHZE/ 4 RHE

atau 4R3H3E3)

atau 4R3H3E3)

EFEK SAMPING RINGAN

EFEK SAMPING

PENYEBAB

PENANGANAN

Tdk nafsu makan,

Rifampisin

Obat diminum

mual, sakit perut

malam sebelum

tidur

Nyeri sendi

pyrazinamid

Beri

aspirin/allopurinol

Kesemutan s/d rasa

INH

Beri Vit. B6

terbakar di kaki

(piridoksin) 100

mg per hari

Warna kemerahan

Rifampisin

Beri penjelasan,

pada kulit

tidak perlu diberi

apa-apa

EFEK SAMPING BERAT

EFEK

SAMPING

Gatal dan kemerahan

pada kulit

Tuli

Gangguan

keseimbangan

Ikterik

Bingung & muntah-

muntah

Gangguan

penglihatan

Purpura dan renjatan

PENYEBAB

Semua jenis OAT

Streptomisin

Streptomisin

Hampir semua OAT

Hampir semua obat

Ethambutol

Rifampisin

PENANGANAN

Beri antihistamin &

dievaluasi ketat

Streptomisin

dihentikan

Streptomisin

dihentikan

Hentikan semua OAT

sampai ikterik hilang

Hentikan semua OAT

& lakukan uji fungsi

hati

Hentikan Ethambutol

Hentikan Rifampisin

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Tata Laksana

Tata Laksana

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Prognosis

Tergantung kepada kecepatan dan

ketepatan diagnosis dan pengobatan

tuberkulosis dan kondisi imunitas

pasien serta faktor resistensi bakteri

terhadap OAT

Definisi Definisi Epidemiologi Epidemiologi Faktor Risiko Faktor Risiko Etiologi Etiologi Patogenesis Patogenesis Gambaran Klinis Gambaran Klinis

Definisi

Definisi

Epidemiologi

Epidemiologi

Faktor Risiko

Faktor Risiko

Etiologi

Etiologi

Patogenesis

Patogenesis

Gambaran Klinis

Gambaran Klinis

Langkah

Langkah

Diagnostik

Di

tik

Diagnosis

Diagnosis

Tata Laksana

Tata Laksana

Prognosis

Prognosis

Pencegahan

Pencegahan

Pencegahan

Vaksinasi BCG pada bayi / anak

Terapi pencegahan

Pengobatan TB paru BTA positif untuk

mencegah penularan

Terapi pencegahan

Kemoprofilaksis pada Penderita HIV/AIDS

INH

dosis 5 mg/ kg BB ( tdk lebih 300

mg) sehari selama minimal 6 bulan

TB paru dengan Diabetes Melitus

DM

hiperglikemi

TB paru dengan Diabetes Melitus • DM hiperglikemi gangguan fungsi neutrofil & monosit(makrofag) fagosit dan daya

gangguan fungsi

neutrofil & monosit(makrofag) fagosit dan daya bunuh menurun

TB paru dengan Diabetes Melitus • DM hiperglikemi gangguan fungsi neutrofil & monosit(makrofag) fagosit dan daya

kemotaktik

TB paru dengan Diabetes Melitus • DM hiperglikemi gangguan fungsi neutrofil & monosit(makrofag) fagosit dan daya

TB

Lobus bawah dan tengah (multiple lobus )

TB paru dengan Diabetes Melitus • DM hiperglikemi gangguan fungsi neutrofil & monosit(makrofag) fagosit dan daya

beberapa lobus

Biasanya timbul kavitas & rata – rata usia 40 tahun

Alisyahbana: 87,9% sputum +, batuk 98,9%,hemoptisis 42,5%

Pengidap DM mudah terkena tb paru(

cristie Y megan b,journal pmed 2008

Boucot : makn berat DM :makin berat

& makin mungkin tb paru aktiviti TB

dm berat 3x > dari dm biasa

Root

: pasien Dm risiko 10 x >

terkena TB

Faktor – faktor yang mempengaruhi TB

paru pada penderita DM :

1.Fisiokimia : DM

• Faktor – faktor yang mempengaruhi TB paru pada penderita DM : 1.Fisiokimia : DM hiperglikemia

hiperglikemia

,hipoglikemia,asidosis tekanan

osmosis ekstrasel meningkat

sel

dehidrasi (kemampuan fagosit

,menurun)

penetrasi kuman.

2. Kekebalan : DM

gangguan

metabolisme protein,kadar kortisol

plasma meningkat,benda

keton,asidosis fagositosis

• Faktor – faktor yang mempengaruhi TB paru pada penderita DM : 1.Fisiokimia : DM hiperglikemia

menurun.

3.Aktivitas imunitas humoral ,neuropati,

Keluhan TB paru DM

Perasaan Lemah 53 %

Batuk

14 %

Poliuria 8%

Hemoptisis 7 %

Sesak nafas 6%

Demam & polifagi 3 %

Kesemutan , bb turun masing –

masing 1 %

Pengobatan TB paru pada DM

pengobatan terhadap DM dan TB parunya. Sama dengan yang tanpa DM.

DM :

Diet:

Anti diabetes oral sebaiknya jangan diberikan. (J Med Nus. 2004; 25:45-49)

insulin.

insulin mulai dengan dosis rendah dinaikan bertahap,penggantian ke OAD jangan mendadak,insulin diturunkan perlahan OAD dinaikan perlahan .

Sulfonilurea kontraindikasi

TB

infeksi serius inrekuren ,dideaktivasi R

Biguanide tidak diberikan TB keluhan nafsu makan menurun, BB menurun , malabsorbsi glukosa.

Monitoring glukosa.

TB PARU

Paduan OAT : 2 RHZ (E-S)/4 RH dg regulasi gula yang optimal

Bila kdr gula tidak terkontrol fase lanjutan 7 bulan : 2 RHZ(E-S)/ 7 RH

Bila gula darah tidak terkontrol

pengobatan mencapai 9 bulan

Hati-hati penggunaan etambutol es

pd mata selain itu dm juga

komplikasi pada mata

Rifampisin : penurunan efektivitas

pada sulfunilurea ,dosis perlu

ditingkatkan?

Mutlak keadaan DM terkontrol :

1.Fungsi leukosit normal kembali

2.Reaksi imuniti kembali normal

3.Mikroangiopati akan berkurang

4. Kadar asam lemak

bebas.gliserol,asam amino berkurang

medio bertumbuhan kuman TB

kurang baik

5.Keadaan malnutrisi & dehidrasi

teratasi.

KESIMPULAN

DM lebih mudah terinfeksi TB

TB paru DM tak terkontrol lebih berat

dari yang tekontrol.

Perlu pemberian insulin karena TB

merupakan infeksi berat dan

inrecuren.

Perlu kerja sama multidisiplin

Selain pengobatan perlu juga gaya

hidup yang aktif(OR)disamping itu

diit pengaturan makanan.

THX U.

REFERENSI

Depkes. Buku Pedoman Nasional Penanggulangan

Tuberkulosis. Jakarta: Depkes RI Dirjen P2PL. 2006.

PDPI .Pedoman Diagnostik dan Penatalaksanaan di

Indonesia.Jakarta : PDPI 2011

Sudoyo, Aru W., dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. ed.

IV. Jilid II. Jakarta: FKUI. 2007

Jhon Crofton, Norman Horne, Fred Miller, Ahli Bahasa

Muherman Harun et al. Tuberkulosis Klinis Ed.2 Cetakan I.

Widya Medika : Jakarta. 2002

Isselbachher,dkk.Harrison Prinsip –Prinsip Ilmu Penyakit

Dalam.ed.13.vol II.tmpt:penerbit tahun

Available from Harsinen Sanusi Subbagian

Endokrinologi & Metabolik Bagian Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Pusat

Diabetes dan Lipid (PUSDILIP) Rumah Sakit Dr Wahidin

Sudirohusodo Makassar