Anda di halaman 1dari 50

7 Mei 2012

Analisa Sistem Tenaga Listrik

BAB 1 : Pengantar AST

Pengantar AST

Pembangkit

Sistem Eksitasi dan


Governor

Kurva Kapabilitas
Generator

Saluran Transmisi
Listrik

Saluran Pendek
( L < 25 km)

Saluran Menengah
( 25 < L <250 km)

Saluran Panjang
(L > 250 km)

Surge Impedance Loading


(SIL)

SIL =

karakteristik spesifik suatu Saluran Transmisi dalam


menghantarkan daya listrik tanpa rugi-rugi tegangan

SIL = kV 2 / Zc (MW)

Zc = (L/C) (Ohm)

Vr

Transformator Daya

Transformator Daya

Beban

Beban
Berdasarkan Daya terhadap Tegangan :

Constant Impedance

=> beban lampu

Constant Power

=> beban motor

Berdasarkan Daya terhadap Frekuensi :


(Load Damping)

Analisa Sistem Tenaga


Analisa Sistem Tenaga, terdiri atas :

Analisa Aliran Daya (Load Flow)


Analisa Hubung Singkat
Analisa Stabilitas Transien
Analisa Stabilitas Dinamis
Analisa Stabilitas Tegangan
Analisa Harmonisa
Analisa Motor Starting , dll

=> Batas Pembahasan :

Analisa Aliran Daya & Hubung Singkat

Analisa Sistem Tenaga


Contoh Kasus :

Penambahan unit pembangkit


Penambahan ruas transmisi
Penambahan beban trafo
Penentuan konfigurasi jaringan untuk keandalan
Penentuan level hubung singkat
Penambahan gardu induk
dll

Analisa Sistem Tenaga


Contoh Kasus :

Penambahan unit pembangkit


Penambahan ruas transmisi
Penambahan beban trafo
Penentuan konfigurasi jaringan untuk keandalan
Penentuan level hubung singkat
Penambahan gardu induk
dll

BAB 2 : Analisa Aliran Daya

Overview Analisa Aliran


Daya

Analisa Aliran Daya (Load Flow)


Analisa yang mempelajari aliran daya pada sistem yang steady
state (tunak).
Yang diperhatikan :
- Tegangan Busbar
- Daya dan Arus yang mengalir pada setiap cabang (Penghantar, Trafo)
- Rugi-rugi jaringan (loses) akibat aliran daya tersebut

Overview Analisa Aliran


Daya
Tujuan
Analisa Aliran Daya :

Untuk mengetahui komponen jaringan sistem tenaga listrik pada


umumnya.
Mengetahui besarnya tegangan pada setiap bus (rel) dari suatu sistem
tenaga listrik.
Menghitung aliran-aliran daya, baik daya nyata (V) maupun daya
reaktif (VAR) yang mengalir dalam setiap saluran, dan memeriksa
apakah semua peralatan yang ada dalam sistem cukup besar untuk
menyalurkan daya yang diinginkan.
Efek penataan kembali rangkaian-rangkaian dan penggabungan sirkitsirkit baru pada pembebanan sistem.
Kondisi-kondisi berjalan dan distribusi beban sistem yang optimum.
Kerugian-kerugian sistem yang optimum.
Rating tranformator dan tap range tranformator yang optimum.
Perbaikan dan pergantian ukuran konduktor dan tegangan sistem.

Overview Analisa Aliran


Daya
Tujuan
Analisa Aliran Daya :

Untuk mengetahui komponen jaringan sistem tenaga listrik pada


umumnya.
Mengetahui besarnya tegangan pada setiap bus (rel) dari suatu sistem
tenaga listrik.
Menghitung aliran-aliran daya, baik daya nyata maupun daya reaktif
yang mengalir dalam setiap saluran, dan memeriksa apakah semua
peralatan yang ada dalam sistem cukup besar untuk menyalurkan
daya yang diinginkan.
Efek penataan kembali rangkaian-rangkaian dan penggabungan sirkitsirkit baru pada pembebanan sistem.
Kondisi-kondisi berjalan dan distribusi beban sistem yang optimum.
Kerugian-kerugian sistem yang optimum.
Rating tranformator dan tap range tranformator yang optimum.
Perbaikan dan pergantian ukuran konduktor dan tegangan sistem.

Dasar Teori
Sistem Per-Unit (p.u)
== > Standar perhitungan yang digunakan
MVA dasar : 1 buah dalam setiap sistem tenaga listrik
kV

dasar :

sebanyak level tegangan yang ada

Z dasar : sebanyak sistem tegangan yang ada


I dasar : sebanyak sistem tegangan yang ada

Sistem p.u
Dasar perhitungan yang digunakan adalah sebagai berikut:
MVA dasar = dipilih (MVA)
KV dasar = dipilih (kV),
dari dua dasar ini dapat dibentuk dasar selanjutnya, yaitu :
Secara Umum :

Z dasar =

I dasar =
K pu =

Untuk Trafo :

( kVdasar ) 2
Ohm
MVAdasar
MVAdasar . 1000
3.

kVdasar

K
K

pu
dasar

Amp

K : V, I, Z

kV dasar-2 =

kVtrafo-2

kVdasar-1

kVtrafo-1

Z pu (baru) =

Zpu (trafo)

kVtrafo

MVAdasar

kVdasar

MVAtrafo

p.u

Sistem p.u
Contoh :
Beban Z dipasok oleh pembangkit G melalui trafo step-up T1, saluran transmisi L, dan
trafo tenaga T2 dengan parameter :
S base = 30 kVA ; kV base1 = 240 V (sisi pembangkit)
Vs = 220 / 0o Volt

Z
T2
20 kVA
460/115 V
Xeq = 0.1 pu

T1
30 kVA
240/480 V
Xeq = 0.1 pu

Zone - 1

ZLoad = 0.9 + j0.2 Ohm

XL = 2 Ohm

Zone - 2

Tentukan arus yang mengalir melalui beban (Z) tersebut (pu & Amp) !

Zone - 3

Sistem p.u
Prosedur Perhitungan :
1. Tentukan basis tegangan dan impedansi tiap level trafo
(Zone) dan basis arus sisi beban.
2. Tentukan impedansi masing-masing komponen
3. Tentukan dan gambar impedansi ekivalen
4. Tentukan arus yang mengalir di rangkaian ekivalen
5. Tentukan arus yang mengalir di sisi beban

Sistem p.u
Prosedur Perhitungan :
1. Tentukan basis tegangan tiap level trafo
- sisi pembangkit (Zone-1) : 240 V
- sisi transmisi (Zone-2) : (240V)(480V)/(240V) = 480 V.
- sisi beban (Zone-3) : (480V)(115V/460V) = 120 V.
2. Tentukan basis impedansi tiap level trafo
- sisi pembangkit (Zone-1) : (240)2/ 30000 = 1.92 ohm
- sisi transmisi (Zone-2) : (480)2/ 30000 = 7.68 ohm.
- sisi beban (Zone-3) : (120)2/ 30000 = 0.48 ohm.
- Dasar Arus (Ib) sisi beban = Vb / Zb = 120/0.48 = 250 A
3. Tentukan tegangan pembangkit :
Vs = (220)/(240) = 0.9167 /0o pu
4. Tentukan reaktansi trafo T1 :
XT1 = 0.10 pu
5. Tentukan reaktansi transmisi L :
XL = (2) / (7.68) = 0.2604 pu

Sistem p.u

6. Tentukan reaktansi trafo T2 :


XT2 = (0.10) (115/120)2 (30000/20000) = 0.1378 pu
7. Tentukan impedansi beban Z :
Z = (0.9 + j.0.2) / (0.48) = 1.875 + j0.4167 pu
8. Tentukan dan gambar reaktansi ekivalen

j 0.1 pu

0.9167 /0o pu

XL

j 0.2604
pu

XT2

j 0.1378
pu
IZ

XT1

1.875 + j 0.4167
pu

9. Tentukan arus yang mengalir di beban :


IZ =
0.9167/0o / (j(0.10 +0.2604+0.1378) + (1.875+ j0.4167))
0.4395 /-26.01o p.u
IZ = 0.4395 /-26.01o (250) = 109.9 /-26.01o Ampere
`

Sistem p.u
TUGAS :
Beban motor A dan B dipasok oleh pembangkit G melalui trafo step-up T1 dan trafo
tenaga T2 dengan parameter :
S base = 25 MVA ; kV base = 13.8 kV (sisi pembangkit)

Tentukan arus yang mengalir melalui kedua motor tersebut (dalam per unit dan Ampere) !

Dasar Teori
Metoda Perhitungan Aliran Daya

Metode iterasi Gauss dengan menggunakan matrik admitansi bus


atau matrik impedansi bus.
Metode iterasi Gauss Seidel yang merupakan pengembangan dari
metode iterasi Gauss.
Metode Newton Raphson dengan menggunakan matrik admitansi
bus.
Metode Fast Decoupled yang merupakan penyederhanaan dari
metode Newton Raphson.

Kebutuhan Data
Data Masukan :
( |V| , ) -> Generator
( P , |V| ) -> Generator
( P , Q ) -> Beban / Load

1.

Bus

Swing/ Slack
PV Control
PQ Control

2.

Branch

Saluran Udara (OHL)


Kabel (Cable)
Transformator (Transformer)
Reaktor Seri (Series Reactor)

R,
X,
Ych,
Tap

Prosedur Analisa Aliran


Daya
Prosedur
dalam pelaksanaan studi load flow di PSS/E :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Konversi data menjadi per unit (p.u)


Pemasukan data parameter jaringan.
Pemasukan data off-line serta topologi jaringan
Penentuan Skenario
Eksekusi Program
Analisis Hasil

Analisa Hasil
Hasil dari studi aliran daya :
1. Tegangan setiap Busbar ( kV , )
2. Loading/ Pembebanan setiap Branch (MW, Mvar, Ampere)
3. Loses (rugi-rugi jaringan) sistem (% MW, % Mvar)

BAB 3 : Analisa Hubung Singkat

Analisa Hubung
Singkat
Analisa Hubung Singkat
Analisa yang mempelajari kontribusi arus dari tiap cabang dan
tegangan di setiap busbar, saat terjadi gangguan hubung
singkat. Yang diperhatikan :
- Arus yang mengalir di titik gangguan
- Arus yang mengalir di setiap cabang
- Tegangan busbar di sekitar titik gangguan
Tujuan : menentukan level hubung singkat tiap busbar
(kapasitas CB) serta seting proteksi

Jenis Gangguan Hubung


Singkat

Hubung singkat 1 phasa ke tanah


Hubung singkat 2 phasa
Hubung singkat 2 phasa ke tanah
Hubung singkat 3 phasa

Analisa Hubung Singkat


Normal

A
B

Gangguan
A
B

.Vf 0

Urutan Fasa

Hubung Singkat 1 Phasa ke


Tanah

I HS1N = 3.E a+ / (Z a+ + Z a- + Z a0)

Hubung Singkat 2 Phasa

I HS2 = (3.E a+) / (Z a+ + Z a-)

Hubung Singkat 2 Phasa ke


Tanah

I HS2N =

3.E a+.(Z a0 - .Z a-)


(Z a+.Z a- + Z a+.Z a0 + Z a-.Z a0)

Hubung Singkat 3 Phasa


I a = E a+ /.Z a+
I b = 2.(E a+ /.Z
)
a+
I c = .(E a+ /.Z
)
a+

I HS3 = E a+ /.Z a+

Perhitungan Arus Hubung


Singkat

First cycle short circuit current duties :

Arus h/s simetris Isc sym = (Epu / Zpu) . Ibase


~ (Epu / Xpu) . Ibase
Arus h/s total (asimetris) maks. Isc tot = Isc sym + Idc
= k Isc sym Ibase
k : faktor pengali = 1,6 (ANSI/IEEE C37.010-1979)
= 1,55 (ANSI/IEEE C37.41-1981)

Metoda Perhitungan

Untuk gangguan hubung singkat tiga-fasa (simetris) sistem tiga-fasa


didekati dengan sirkit ekivalen fasa tunggal (fasa-netral). Dalam hal
ini perlu diperhatikan batasan berikut :

Komponen-komponen sistem simetris (didesain simetris)


Pembebanan sistem (dapat dianggap) seimbang dan simetris.

Untuk gangguan hubung singkat tak-simetris, diperlukan transforma


komponen simetris (komponen-komponen urutan positif, negatif dan
nol).

Perhitungan dilakukan dalam sistem per-unit

Menggunakan teorema Thevenin dan Superposisi

Impedansi komponen sistem


Untuk perhitungan hubung singkat

Algoritma Perhitungan Arus


Hubung Singkat

Siapkan diagram-diagram sistem


Kumpulkan dan konversikan data impedansi ke sistem pu
Hitung impedansi ekivalen (ekivalensi seri, paralel dan
transformasi Y -)
Hitung arus hubung singkat
- First cycle short circuit current duties
- Interrupting short circuit current duties
- 30 cycles minimum short circuit currents

Perhitungan Arus Hubung Singkat


(lanjutan)
Interrupting short circuit current duties
Arus h/s simetris = k (Epu / Xpu) . Ibase
Arus h/s total

= k Isc sym Ibase

k : faktor pengali
(fungsi X/R dilihat dari di titik gangguan
dan kecepatan CB)

Perhitungan Arus Hubung Singkat


(lanjutan)
30 cycles minimum short circuit currents
Arus h/s = Arus h/s simetris
= (Epu / Xpu) . Ibase

Analisa Hubung Singkat Untuk


Gangguan di Busbar
Cibadak
Gng Salak

Cianjur

1963 7776

1883

BogorBaru
70 kV

7776 84

84

GI. Bogor Baru

2376
I Hs
3ph
Amp

Ciawi

2376

1007

1007

Cianjur

2566
0

Analisa Hubung Singkat Untuk


Gangguan di Bay
Cibadak

BogorBaru
70 kV

Cianjur

Gng Salak

GI. Bogor Baru

I Hs
3ph
Amp

Ciawi

1007
Cianjur

2566
0

Sistem Pulau
PLTG
5x145 MW
PLTU
1x225 MW

2x500
MVA

CWA
NG

2x500
MVA

2x500
MVA

GND
UL

SUBSIST
EM
KEMBAN
GAN

2
SUBSIS
TEM
CILEGO
N

PLTU Krakatau
150Steel
MW

TGRNGJATAKE
Kopel
SERPONG

PLTA
33 MW (Tersebar)

SUBSIS
TEM
CAWAN
G

PLTG
6x130 MW (Priok)
1x20 MW (Priok)
PLTU
2x200 MW
(Priok)
2x50 MW (Priok)

PDKLP TAMBUN

SUBSIS
TEM
CIBATU

PLTA
6x25 MW
(Jatiluhur)
56 MW (Tersebar)
PLTP
1x30 MW
(Kamojang)
2x55 MW
(Kamojang)
1x55 MW
(Darajat)
1x85 MW
(Darajat)
1x110 MW
(Wy.Windu)

1
0
SUBSIST

GRS
IK

UNG
RN

PEDA
N
2x500
MVA

BLORA RBANG

EM
MD.RAC
AN

SUBSISTEM
TASIK -

Kopel
KBSEN
KBSENBMAYU

PLTG
2x26 MW
(Cilacap)

1
SUBSIS
1
TEM
UNGAR
AN PEDAN

PLTA
3x60 MW (Mrica)
1x22,5 MW
(Kd.Ombo)
100 MW
(Tersebar)

1x500
MVA

KED
RI

PLTGU
Gresik
Blok 2 &3
1x500
MVA

PLTG
4X20 MW
(Sunyaragi)

PLTGU
150 MW (C.
LISTRINDO)

PLTG
3x100 MW
PLTU
1x185 MW

1x500
MVA

Kopel
SRAGI

PIT
ON

1x500
MVA

2x500
MVA

GRA
TI

2x500
MVA

BDS
LN

SUBSIST
EM
CIRATA -

JTLHR KSBRU

KRIA
N

1x500
MVA

CWANG GNDUL

PLTG
3x107 MW
(M.Karang)
PLTU
3x300 MW
(M.Karang)
2x200 MW
(M.Karang)
Kopel
ANGKE
1x185
MW
(M.Karang)
PLTP
6x55 MW
(Gn.Salak)

PLTA
4x175
MW

SUBSIST
EM
BD.SELA
TAN

CNJUR CGRLG

SUBSISTEM
M.KARANG GANDUL CIBINONG PRIOK BEKASI

~G

2x500
MVA

2x500
MVA

2x500
MVA

DKSBI KMBGN

CKNDE BRAJA

PLTA
4x126 MW
4x130 MW

MDR
CN

SGLN

CBAT
U

BARU

SUBSIS
TEM
SURALA
YA

BKA
SI

2x500
MVA

MTW
AR

Kopel
MAMPANG
LAMA
Kopel MAMPANG

CLG
ON
2x500
MVA

Kopel
CLGMA

CIB
NG

CRAT
A

1
2
SUBSIS

TEM
KRIAN GRESIK
- KEDIRI

SRGEN MNSRJO

KMB
GN

~
PLTU
4x400
2x250
MW MVA
3x600
MW

SLA
YA

PLTP Dieng
60 MW

PLTG
6x100 MW
(T.Lorok)
PLTU
2x185 MW
(T.Lorok)
2x50 MW
(T.Lorok)
1x200 MW
(T.Lorok)

PLTA
3x35 MW
(Sutami)
2x27 MW
(Wlingi)
106 MW
(Tersebar)

Kopel
BANGIL

PLTU
2x400 MW
4x600 MW

2x250
MVA

1
3
SUBSIS

TEM
GRATIPAITON
BALI

PLTU
2x100 MW
(Gresik)
2x200 MW
PLTGU Grati Blok
(Gresik)
2
2X50 (Perak)
PLTG
3X20 MW
(Gresik)

PLTGU Gresik
Blok 1

MADU
RA

~
PLTG
2x18 MW (Gili
Timur)

BAL
I

PLTG
1x125 MW
(Gilimasnuk)
PLTD/PLTG
160 MW
(Pesanggaran)

Hasil Studi dengan DIGSILENT

Hasil Hubung Singkat 3 Phasa