Anda di halaman 1dari 62

Demokrasi dan Implementasi

Pembahasan tentang peranan negara


dan masyarakat tidak dapat dilepaskan
dari telaah tentang demokrasi dan hal
ini karena dua alasan.

Pertama, hampir semua negara di dunia ini


telah menjadikan demokrasi sebagai asasnya
yang
fundamental
sebagaimana
telah
ditunjukkan oleh hasil studi UNESCO pada
awal 1950-an yang mengumpulkan lebih dari
100 Sarjana Barat dan Timur, sementara di
negara-negara demokrasi itu pemberian
peranan kepada negara dan masyarakat
hidup dalam porsi yang berbeda-beda (kendati
sama-sama negara demokrasi).

Kedua, demokrasi sebagai asa kenegaraan


secara esensial telah memberikan arah bagi
peranan

masyarakat

menyelenggarakan
organisasi

negara

tertingginya

tetapi

untuk
sebagai
ternyata

demokrasi itu berjalan dalam jalur yang


berbeda-beda (Rais. 1995 : 1)

Dalam hubungannya dengan


implementasi ke dalam
sistem pemerintahan,
demokrasi juga melahirkan
sistem yang bermacammacam seperti :

SISTEM PRESIDENSIAL yang


menyejajarkan antara parlemen dan
presiden dengan memberi dua
kedudukan kepada presiden yakni
sebagai kepala negara dan kepala
pemerintahan.

SISTEM PARLEMENTER yang


meletakkan pemerintahan dipimpin oleh
perdana menteri yang hanya
berkedudukan sebagai kepala
pemerintahan dan bukan kepala negara
, sebab kepala negaranya bisa diduduki
oleh raja atau presisden yang hanya
menjadi simbol kedaulatan dan
persatuan

SISTEM REFERENDUM yang


meletakkan pemerintahan sebagai
bagian (badan pekerja) dari parlemen. Di
beberapa negara ada yang
menggunakan sistem campuran antara
presidensial dengan parlementer, yang
antara lain dapat dilihat dari sistem
ketatanegaraan di Perancis atau di
Indonesia berdasar UUD 1945.

Dengan alasan tersebut, menjadi jelas


bahwa asas demokrasi yang hampir
sepenuhnya disepakati sebagai model
terbaik bagi dasar penyelenggaraan
negara ternyata memberikan implikasi
yang

berbeda

diantara

pemakai-

pemakainya bagi peranan negara.

B. Arti dan Perkembangan Demokrasi


(KEKUASAAN DI TANGAN
RAKYAT)
Secara etimologis Istilah demokrasi
berasal dari bahasa Yunani, "demos"
berarti rakyat dan "kratos/kratein"
berarti kekuasaan. Konsep dasar
demokrasi berarti "rakyat berkuasa"
(government of rule by the people).

Ada pula definisi singkat untuk istilah


demokrasi
yang
diartikan
sebagai
pemerintahan atau kekuasaan dari rakyat
oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun
demikian penerapan demokrasi diberbagai
negara di dunia, memiliki ciri khas dan
spesifikasi masing-masing, yang lazimnya
sangat
dipengaruh oleh
ciri khas
masyarakat sebagai rakyat dalam suatu
Negara

Demokrasi mempunyai arti yang penting


bagi masyarakat yang menggunakannya,
sebab dengan demokrasi hak masyarakat
untuk menentukan sendiri jalannya
organisasi dijamin. Oleh sebab itu, hampir
semua pengertian yang diberikan untuk
istilah demokrasi ini selalu memberikan
posisi penting bagi rakyat kendati secara
operasional implikasinya di berbagai
negara tidak selalu sama.

Sekedar untuk menunjukkan betapa


rakyat diletakkan pada posisi penting
dalam asas demokrasi ini berikut
akan dikutip beberapa pengertian
demokrasi.

Demokrasi
sebagai
dasar
hidup
bernegara memberi pengertian bahwa
pada tingkat terakhir rakyat memberikan
ketentuan
dalam
masalah-masalah
pokok
mengenai
kehidupannya,
termasuk dalam menilai kebijaksanaan
negara, karena kebijaksanaan tersebut
menentukan kehidupan rakyat (Noer,
1983: 207).

Jadi, negara demokrasi adalah negara


yang
diselenggarakan
berdasarkan
kehendak dan kemauan rakyat, atau jika
ditinjau dari sudut organisasi, ia berarti
suatu berarti suatu pengorganisasian
negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri
atau asas persetujuan rakyat karena
kedaulatan atau kekuasaan berada
ditangan rakyat.

Dalam hubungan ini menurut Henry B. Mayo


bahwa sistem politik demokratis adalah
sistem yang menunjukkan bahwa
kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar
mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi
secara efektif oleh rakyat dalam pemilihanpemilihann berkala yang didasarkan atas
prinsip kesamaan politik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik (Mayo, 1960:70)

Meskipun dari berbagai pengertian itu terlihatbahwa


rakyat diletakkan pada posisi sentral "rakyat
berkuasa" (government of role by the people) tetapi
dalam praktiknya oleh UNESCO disimpulkan bahwa
ide demokrasi itu dianggap ambiguous atau
memiliki arti ganda, sekurang-kurangnya ada
ambiguity atau ketidaktentuan mengenai lembagalembaga atau cara-car yang dipakai untuk
melaksanakan ide atau mengenai keadaan kultural
serta historis yang mempengaruhi istilaj ode dan
praktik demokrasi (Budiarjo, 1982:50).

hal ini bisa dilihat betapa negara-negara


yang sama menganut asas demokrasi
ternyata mengimplementasikannya
secara tidak sama. Ketidaksamaan
tersebut bahkan bukan hanya pada
pembentukan lembaga-lembaga atau
aparatur demokrasi, tetapi juga
menyangkut perimbangan porsi yang
terbuka bagi peranan rakyat.

Memang sejak dimunculkannya kembali


asa demokrasi yaitu setelah tenggelam
beberapa abad dari permukaan Eropa
telah menimbulkan masalah tentang
siapakah sebenarnya yang lebih
berperan dalam menentukan jalannya
negara sebagai organisasi tertinggi.

Pemakaian demokrasi sebagai prinsipprinsip hidup bernegara sebenarnya


telah melahirkan fiksi-yuridis bahwa
negara adalah milik masyarakat, tetapi
pada fiksi-yuridis telah terjadi tolaktarik kepentingan, atau kontrol, tolaktarik antara negara-masyarakat,
karena kemudian negara terlihat
memiliki pertumbuhannya sendiri
sehingga lahirlah konsep tentang
negara organis (Mahasin, 1982:2)

SEJARAH MUNCULNYA DEMOKRASI


Konsep demokrasi semula lahir dari
pemikiran mengenai hubungan negara
dan hukum di Yunani Kuni dan
dipraktikkan dalam hidup bernegara
antara abad ke-4 sebelum masehi sampai
abad 6 masehi. dilihat dari
pelaksanaannya, demokrasi yang
dipraktekkan bersifat langsung (direct
democracy),

artinya hak rakyat untuk membuat


keputusan-keputusan politik
dijalankan secara langsung oleh
seluruh warga negara yang bertindak
berdasarkan prosedur mayoritas.

Sifat langsung ini dapat dilaksanakan


secara efektif karena Negara Kota (city
state) Yunani Kuno berlangsung dalam
kondisi sederhana. Ketentuan-ketentuan
demokrasi hanya berlaku untuk warga
negara yang resmi merupakan sebagian
kecil dari seluruh penduduk. Sebagian
besar yang terdiri dari budak belian,
pedagang asing, perempuan, dan anakanak tidak dapat menikmati hak
demokrasi (Budiarto, 1982:54).

Masyarakat abad pertengahan terbelenggu


oleh kekuasaan feodal dan kekuasaan
pemimpin-pemimpin agama, sehingga
tenggelam dalam apa yang disebut sebagai
masa kegelapan. Kendati begitu, ada sesuatu
yang penting berkenaan dengan demokrasi
pada abad pertengahan itu, yakni lahirnya
dokumen Magna Charta (piagam besar),

sesuatu piagam yang berisi semacam


perjanjian antara beberapa bangsawan
dan Raja Jhon di Inggris bahwa Raja
mengakui dan menjamin beberapa hak
dan previleges bahwasanya sebagai
imbalan untuk penyerahan dana bagi
keperluan perang dan lainnya.

Ranaissance adalah aliran yang


menghidupkan kembali minat pada
sastra dan budaya Yunani Kuno. Massa
renaissance adala masa ketika orang
mematahkan semua ikatan yang ada
dan menggantikan dengan kebebasan
bertindak yang seluas-luasnya
sepanjang sesuai dengan yang
dipikirkan ,

karena dasar ide ini adalah


kebebasan berpikir dan bertindak
bagi manusia tanpa boleh ada orang
lain yang menguasai atau membatasi
dengan ikatan-ikatan.

Selain renaissance, peristiwa lain yang


mendorong timbulnya kembali
"demokrasi" yang sebelumnya tenggelam
dalam abad pertengahan adalah
terjadinya Reformasi, yakni revolusi
agama. Dua kejadian (Renaissance dan
Reformasi) ini telah mempersiapkan
Eropa masuk ke dalam Aufklarung (Abad
Pemikiran) dan Rasionalisme yang
mendorong mereka untuk memerdekakan
pikiran dari batas-batas yang ditentukan,

Tampak bahwa teori hukum alam merupakan


usaha untuk mendobrak pemerintahan
absolut dan menetapkan hak-hak politik
rakyat dalam suatu asas yang disebut
demokrasi (pemerintah rakyat). Dari
pemikiran tentang hak-hak politik rakyatr dan
pemisahan kekuasaan ini terlihat munculnya
kembali ide pemerintahan rakyat
(demokrasi).

tetapi dalam kemunculannya sampai


saat ini demokrasi telah melahirkan dua
konsep demokrasi yang berkaitan
dengan peranan masyarakat, yaitu
demokrasi konstitusional abad ke-19 dan
demokrasi konstitusional abad ke-20
yang keduanya senantiasa dikaitkan
pada konsep negara hukum (Mahfud,
1999:20)

Menurut Torres demokrasi dapat dilihat


dari dua aspek :
Pertama Formal demokrasi menunjuk
pada demokrasi dalam arti system
pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dalam
berbagai pelaksanaan demokrasi di
berbagai Negara. Dalam suatu Negara
misalnya dapat diterapkan demokrasi
dengan menerapkan system presidensial
atau sistem parlementer.

Sistem Presidensial : sistem ini


menekankan pentingnya pemilihan
presiden secara langsung, sehingga
presiden terpilih mendapatkan
mandat secara langsung dari rakyat.
Dalam sistem ini kekuasaan eksekutif
(kekuasaan menjalankan
permintaan) sepenuhnya berada di
tangan presiden.

Sistem Parlementer : Sistem ini


menerpakan model hubungan yang
menyatu antara kekuasaan eksekutif
dan legeslatif. Kepala eksekutif (head
of government) adalah berada di
tangan seorang perdana menteri.
Adapun kepala Negara (head of state)
adalah berada pada seorang ratu,
misalnya di Negara Inggris atau ada
pula yang berada pada seorang
presiden misalnya di India.

Prinsip demokrasi ini didasarkan pada suatu


filsafat kenegaraan bahwa manusia adalah
sebagai makhluk individu yang bebas. Oleh
karena itu dalam sistem demokrasi ini
kebebasan individu sebagai dasar fundamental
dalam pelaksanaan demokrasi.
Menurut Held ( 2004 : 10) bahwa demokrasi
perwakilan liberal merupakan suatu
pembeharuan kelembagaan pokok untuk
mengatasi problem keseimbangan antara
kekuasaan memaksa dan kebebasan.

Rakyat harus diberikan jaminan


kekebasan secara individual baik di dalam
kehidupan politik, ekonomi,sosial,
keagamaan bahkan kebebasan anti
agama.

Konsekuensi prisip demokrasi liberal adalah


berkembangnya persaingan bebas,
kapitalisme akan menguasai kehidupan
bernegara.kekuasaan kapital yang menurut
P.L. Berger era global dewasa ini dengan
semangat pasar bebas yang dijiwai oleh
filosofi demokrasi liberal, maka kaum
kapitalislah yang berkuasa. Kapitalis
menjadi fenomena global dan dapat
mengubah masyarakat diseluruh dunia baik
dalam bidang sosial, politik maupun
kebudayaan.

Demokrasi satu partai lazimnya


dilaksanakan di negara-negara
komunis.Rusia, china dan vetnam dll.
Kebebasan formal berdasaskan
demokrasi liberal menghasilkan
kesenjangan kelas yang semakin
lebar dalam masyarakat dan akhirnya
kapitalislah yang menguasai negara.

1. Perkembangan Demokrasi di Indonesia


Masalah pokok yang dihadapi oleh
bangsa Indonesia adalah bagaimana
meningkatkan kehidupan ekonomi dan
membangun kehidupan sosial dan
politik yang demokratis dalam
masyarakat yang beraneka ragam pola
adat budayanya.

Perkembangan demokrasi di Indonesia


dapat dibagi dalam empat periode :
Periode 1945-1959, masa demokrasi
parlementer yang menonjolkan peranan
parlementer serta partai-partai.yang
dominan
Periode 1959-1965, masa demokrasi
terpimpin. Saat itu yang dominan adalah
presiden, partai politik terbatas,
perkembangan partai komunis, peran
ABRI semakin dominan, presiden sebagai
panglima.

Periode 1966-1998, masa demokrasi


Pancasila era Orde Baru yang
merupakan demokrasi konstitusional
yang menonjolkan sistem presidensial.
Periode 1999-sekarang, masa demokrasi
Pancasila era Reformasi dengan berakar
pada kekuatan multi partai yang
berusaha mengembalikan perimbangan
kekuatan antar lembaga negara, antara
legistalif, eksekutif dan yudikatif. Peran
partai kembali menojol.

a. Seminar Angkatan Darat II (Agustus 1966)


1) Dalam bidang Politik & Konstitusional.
Menurut UUD 1945, demokrasi berarti
menegakkan kembali asas-asas negara
hukum dimana kepastian hukum dirasakan
oleh segenap warga negara. Hak-hak asasi
manusia baik dalam aspek kolektif maupun
dalam aspek perorangan dijamin,

dan penyalahgunaan kekuasaan dapat


dihindarkan secara institusional.

Demokrasi berarti Kehidupan yang


layak bagi semua warga negara.
Mencakup :
a) Pengawasan oleh rakyat
terhadap penggunaan kekayaan
dan keuangan negara
b) Koperasi

c) Pengakuan atas hak milik


perorangan dan kepastian hukum
dalam penggunaannya
d) Peranan pemerintahan yang
bersifat pembinaan, penunjuk jalan
serta pelindung.

Asas negara hukum Pancasila mengandung


prinsip:
1) pengakuan dan perlindungan hak asasi yang
mengandung persamaan dalam politik , hukum,
sosial, ekonomi, kultural dan pendidikan.
2) Peradilan yang bebas dan tidak memihak,
tidak terpengaruh oleh sesuatu
kekuasaan/kekuatan lain apapun.

3) Jaminan kepastian hukum dalam semua


persoalan. Yang dimaksudkan kepastian
hukum yaitu jaminan bahwa ketentuan
hukumnya dapat dipahami, dapat
dilaksanakan dan aman dalam
melaksanakannya

Persoalan hak-hak asasi manusia


dalam kehidupan kepartaian untuk
tahun-tahun mendatang harus ditinjau
dalam rangka keharusan kita untuk
mencapai kesetimbangan yang wajar
diantara 3 hal :

1) Adanya pemerintah yang mempunyai


cukup kekuasaan dan kewibawaan,
2) Adanya kebebasan yang sebesarbesarnya
3) perlunya untuk membina suatu
"rapidlyexpandingeconomy"
(pengenmbangan ekonomi secara
cepat).

Dalam suatu negara yang menganut sistem


demokrasi harus berdasarkan pada suatu
kedaulatan rakyat. Kekuasaan pemerintahan
negara ditangan rakyat mengandung pengertian
tiga hal :
1. Pemerintah dari rakyat (government of the
people)
2. Pemerintahan oleh rakyat (government by
people)
3. Pemerintahan untuk rakyat (government for
people)

Struktur Pemerintahan Indonesia berdasarkan UUD


1945
1. Demokrasi Indonesia Sebagaimana Dijabarkan
dalam Undang-Undang Dasar 1945 Hasil
Amandemen 2002
Secara umum dalam sistem pemerintahan yang
demokratis senantiasa mengandung unsur yang
paling penting dan mendasar, yaitu:
- Keterlibatan warga negara dalam pembuatan
keputusan politik.
- Tingkat persamaan tertentu diantara warga
negara.
- Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu
yang diakui dan dipakai oleh warganegara.
- Suatu sistem perwakilan
- Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas.

Supra struktur politik ( lembaga


legislative, yudikatif dan eksekutif) di
Indonesia : MPR,.DPR,.DPD,
PRESIDEN, MA, BPK.
Infra struktur politik suatu Negara terdiri
dari lima komponen sebagai berikut :
Partai politik
Golongan ( yang tidak berdasarkan
pemilu)
Golongan penekan
alat komunikasi poitik
tokoh-tokoh politik

Berdasarkan ciri-ciri sistem demokrasi tersebut


maka penjabaran demokrasi dalam
ketatanegaraan Indonesia dapat ditemukan
dalam konsep demokrasi sebagaimana
terdapat dalam UUD 1945 sebagai
"Staatfundamentalnorm" yaitu ".. Suatu
susunan negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat.. " (ayat 2). Oleh karena
itu "rakyat" adalah merupakan paradigma
sentral kekuasaan negara. Adapun rincian
struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan
dengan demokrasi menurut UUD 1945 adalah
sebagai berikut :

a) Konsep Kekuasaan
Konsep kekuasaan negara menurut
demokrasi adalah :
1.) Kekuasaan ditangan rakyat
(a) Pembukaan UUD alinea IV
Maka disusunlah kemerdekaan
kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD
RI yang berkedaulatan rakyat
(b) Pokok pikiran dalam Pembukaan UUD
1945
Negara yang berkedaulatan rakyyat,
berdasarkan atas kerakyatan dan
permusyawaratan perrwakilan (pokok
pikiran III)

(c) UUD 1945 Pasal 1 ayat (1)


Negara Indonesia ialah Negara
Kesatuan yang berbentuk Republik
(d) UUD 1945 Pasal 1 ayat (2)
kedaulatan adalah di tangan rakyat
dan dilakukan menurut undangundang dasar
Jadi, kedaulatan tertinggi berada di
tangan rakyat dan realisasinya
diatur dalam UUD. Sebelum
dilakukan amandemen kekuasaan
tertinggi dilakukan oleh MPR.

Pembagian kekuasaan menurut demokrasi :


1. Kekuasaan Eksekutif, didelegasikan
kepada Presiden (pasal 4 ayat (1) UUD
1945)
2.
Kekuasaan Legislatif, didelegasikan
kepada Preisiden, DPR, dan DPD pasal 5
ayat (1), pasal 19 dan pasal 22 C UUD
1945.
3.
Kekuasaan Yudikatif, didelegasikan
kepada MA pasal 24 ayat (1) UUD 1945.

4.
Kekuasaan Inspektif atau
pengawasan didelegasikan kepada BPK
dan DPR. Dalam UUD 1945 pasal 20
ayat (1) DPR juga memiliki fungsi
pengawasan terhadap presiden selaku
penguasa eksekutif.
5.
Dalam UUD 1945 hasil
amandemen tidak ada kekuasaan
Konsultatif, didelegasikan kepada DPA,
pasal 16 UUD 1945. Artinya DPA
dihapuskan karena berdasarkan
kenyataan pelaksanaan kekuasaan
Negara fungsinya tidak jelas.

Pembatasan kekuasaan menurt konsep


UUD 1945, dapat dilihat melalui
mekanisme 5 tahunan kekeuasaan:
(a) Pasal 1 ayat (2) kedaulatan
ditangan rakyat
Pemilu untuk membentuk MPR dan
DPR setiap 5 tahun sekali.
(b) MPR memilki kekuasaan
melakukan perubahan UUD, melantik
Presiden dan Wapres,serta melakukan
impeachment terhadap presiden jika
melanggar konstitusi.

(c)

Pasal 20 A ayat (1),DPR

memiliki fungsi pengawasan. Yang


berarti mengawasi pemerintahan
selama jangka waktu 5 tahun.
(d)

Rakyat kembali mengadakan

Pemilu setelah membentuk MPR dan


DPR (rangkaian kegiatan 5 tahunan
sebagai periodesasi kekuasaan.

b) Konsep Pengambilan Keputusan


Pengambilan keputusan menurut UUD 1945
dirinci sebagai berikut :
(1) Penjelasan UUD 1945 tentang Pokok Pikiran
III, Oleh karena itu sistem Negara yang
terbentuk dalam UUD 1945, harus berdasar
atas kedaulatan rakyat dan berdasarkan atas
permusyawaratan/perwakilan.
(2) Putusan MPR ditetapkan dengan suara
terbanyak, misalnya pasal 7B ayat 7.
Prisip pengambilan keputusan : diusakan
semaksimal mungkin untuk musyawarah untuk
mufakat, tapi kalu tidak bisa harus pengambilan
keputusan melalui suara terbanyak ( voting.)

c) Konsep Pengawasan
Konsep Pengawasan menurut UUD
1945 ditentukan sebagai berikut :
(1) Pasal 1 ayat (2), Kedaulatan
adalah ditangan rakyat dan dilakukan
menurut UUD., kekausaan ditangan
rakyat
(2) Pasal 2 ayat (1), MPR terdiri atas
DPR dan anggota DPD
(3) DPR senantiasa mengawasi
tindakan Presiden. Secara formal
ketatanegaraan pengawasan berada di
DPR.

d) Konsep Partisipasi
Konsep partisipasi menurut UUD 1945 adalah
sebagai berikut :
(1) Pasal 27 ayat (1), Segala warganegara
bersamaan kedudukannya didalam hukum
dan pemerintahan dan wajib menjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tiada
kecualinya.
(2) Pasal 28, Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan
lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan
dengan UU.
(3) Pasal 30 ayat (1), Tiap-tiap warga Negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pembelaan Negara.

Konsep partisipasi menyangkut seluruh


aspek kehidupan kenegaraan dan
kemasyarakatan yang terbuka untuk
seluruh warga Negara Indonesia.
Demokrasi Indonesia mengandung suatu
pengertian bahwa rakyat adalah sebagai
unsur sentral, oleh karena itu pembinaan
dan pengembangannya harus ditunjang
oleh adanya orinentasi baik pada nilai-nilai
yang universal yakni rasionalisasi hukum
dan perundang-undangan juga harus
ditunjang norma-norma kemasyarakatan
yaitu tuntutan dan kehendak yang
berkembang dalam masyarakat.