Anda di halaman 1dari 47

Bayi aterm + Asfiksia ringan +Ikterus

neonatorum+hipotermi+ cephal
hematom
ABD RACHMAN USMAN

PEMBIMBING KLINIK
DR. SULDIAH, SP.A

PENDAHULUAN
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak

dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi


dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya
akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.
hipotermi pada bayi baru lahir atau neonatus adalah
Bayi dengan suhu badan di bawah normal.
Hipotermia ini biasaya menyerang bayi yang baru
saja lahir. Pada bayi neonatus suhu normalnya
adalah 36,5 37,5 derajat Celsius (suhu ketiak).

Ikterus neonatorum adalah warna kuning yang

tampak pada kulit dan mukosa oleh karena adanya


bilirubin pada jaringan tersebut akibat peningkatan
kadar bilirubin dalam darah. Ikterus neonatorum
ialah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi
baru lahir yang terbagi menjadi ikterus fisiologi dan
ikterus patologi.

Cephal hematom adalah perdarahan subperiosteal

akibat kerusakan jaringan poriesteum karena tarikan


atau tekanan jalan lahir. Dan tidak pernah
melampaui batas sutura garis tengah. Tulang
tengkorak yang sering terkena adalah tulang
temporal atau parietal ditemukan pada 0,5 2 %
dari kelahiran hidup.

KASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama
: By. N
Jenis Kelamin : perempuan
Tanggal lahir : 1/1/2015
Usia
: 1 hari
Tanggal masuk : 1/1/2015

anamnesis
Keluhan Utama
: asfiksia
Riwayat penyakit sekarang : bayi perempuan baru lahir

tanggal 1 Januari 2015 pukul 01.15 di RSUD UNDATA,lahir


spontan letak bokong. air ketuban bercampur mekonium, a/s
5/6. mec/mic +/+. berat badan lahir 3300 gr. PBL 40cm. bayi
lahir tidak langsung menangis. merintih -, sianosis +. Proses
persalinan tidak berlangsung lama (tidak ada partus lama dan
macet) serta tidak ada kelainan pada plasenta dan tali pusat.
riwayat maternal maternal G3P2A0, ANC rutin di
puskesmas.Ibu tidak mengalami demam sebelum dan selama
persalinan, dan ibu tidak mengkonsumsi obat obatan tertentu.
Ibu tidak pernah mengalami perdarahan abnormal selama masa
kehamilan.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda vital :
Denyut jantung : 152 x/menit
Suhu
: 35,30C
Pernapasan
: 36 x/menit
Capillary Refill Time : Pemeriksaan antropometrik :
Berat badan
: 330gram
Panjang badan
: 49 cm
Lingkar kepala
: 35 cm
Lingkar lengan atas : Lingkar dada
:Lingkar perut
:-

Sistem pernapasan :
Sianosis
:Merintih
:Apnea
:Retraksi dinding dada: Pergerakan dinding dada : simetris bilateral
Pernapasan cuping hidung : tidak ada
Bunyi pernapasan : bronkovesikular
Bunyi pernapasan tambahan : ronki dan
stridor tidak ada
Skor Downe :
Frekuensi Napas : 0
Merintih: 0
Sianosis: 0
Retraksi : 0
Udara Masuk: 0
Total skor : 0 (tidak ada gangguan nafas)

Kriteria WHO :

Sianosis sentral : tidak ada


Merintih saat ekpirasi : tidak ada
Retraksi dinding dada : tidak ada
Frekuensi napas : 36 x/menit
Kesimpulan : (tidak ada gangguan
nafas)
Sistem hematologi :
Pucat : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Sistem kardiovaskular :
Bunyi jantung : S1 dan S2 reguler
Murmur : tidak ada
Gallop : tidak ada

Sistem Gastrointestinal :
Kelainan dinding abdomen: tidak ada
Muntah : tidak ada
Organomegali: tidak ada
Peristaltik usus : ada (normal)
Umbilikus : kemerahan tidak ada
(tanda infeksi lokal)
Sistem Ano-Genitalia (laki-laki) :
Hipospadia : tidak ada
Hidrokel : tidak ada
Testis: desensus testisculorum
Anus : lubang ada
Pemeriksaan lain :
Ekstremitas : Akral dingin dan tidak
ada deformitas
Turgor : kembali cepat
Kelainan kongenital : tidak ada
Trauma lahir : tidak ada

Skor Ballard :

Maturitas neuromuskularMaturitas fisik


Sikap tubuh : 3
kulit
:4
Persegi jendela: 3 lanugo
:3
Rekoil lengan : 2 payudara
:3
Sudut poplitea : 2 Mata/telinga
:3
Tanda selempang : 3 genitalia
:3
Tumit ke kuping : 1
permukaan plantar : 3
Total skor: 33
Estimasi umur kehamilan : 36-38 minggu

RESUME

Bayi perempuan lahir di RSUD UNDATA Palu melalui


persalinan normal dengan letak bokong, berat badan
lahir 3300 gram, panjang badan lahir 49 cm, dan
APGAR skor 5-6. Dari hasil pemeriksaan tanda
tanda vital didapatkan hipotermi (35,3C), terdapat
JeJas di daerah parietal kiri tanpa melewati sutura.
DIAGNOSIS
bayi aterm + post asfiksia ringan + hipotermia +
cephal hematom.

Tindakan Resusitasi :
Hangatkan bayi di infant warmer
Mengatur posisi bayi dengan bahu ditaruh kain pengalas sehingga kepala bayi dalam
keadaan semi ekstensi
Mengisap lendir dari saluran pernapasan bayi menggunakan mucous extractor
Mengeringkan bayi dengan kain sambil memberikan rangsangan taktil
Memberikan O2 2 liter/menit melalui nasal kanul
Melakukan penilaian (frekuensi denyut jantung, frekuensi pernapasan, & warna
kulit)
Tindakan Post Resusitasi :
Memberikan injeksi vitamin K 1 mg di regio femoris sinistra (anterolateral)
Memberikan tetes mata gentamacin 0,3 % (gtt 1 oculi dextra et sinistra)
oksigen 1-2 liter/menit
observasi tanda vital tiap 2 Jam

FOLLOW UP
Tanggal : 2/1/2015
Subjek (S) : Objek (O) :
Tanda Vital
Denyut Nadi
: 124 kali/menit
Respirasi : 36 kali/menit
Suhu
: 37,40C
berat badan
: 3300 gr

Assesment (A) : bayi aterm + post asfiksia ringan + cephal hematom.


Plan (P) : ASI 25 cc/3 Jam

Tanggal

: 3/1/2015
Subjek (S) : kuning/ikterus
Objek (O) :
Tanda Vital
Denyut Nadi : 147 kali/menit
Respirasi : 40 kali/menit
Suhu : 36,90C
berat badan
: 3200 gr
Assesment (A) : bayi aterm + post asfiksia ringan +

ikterus neonatorum + cephal hematom.


Plan (P) : ASI 36 cc/3 Jam

DISKUSI
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan
bahwa bayi lahir melalui persalinan normal dimana
berdasarkan penilaian skor Ballard yang dilakukan
sesaat setelah bayi lahir didapatkan skor 33 sehingga
estimasi kehamilan 36 38 minggu dan dari
pengukuran

berat

badan

didapatkan yaitu 3300 gram.

sesaat

setelah

lahir

asfiksia
Berdasarkan tabel penilaian APGAR skor didapatkan
total nilai 5 pada menit pertama dan nilai 6 pada
menit ke lima sehingga dapat disimpulkan bayi
mengalami asfiksia sedang. Pada kasus ini terjadi
asfiksia sedang pada bayi dikarenakan adanya faktor
resiko penyebab asfiksia neonatus yaitu air ketuban
bercampur mekonium.

Faktor ibu
Faktor plasenta dan tali pusat
Faktor bayi

hipotermia
hipotermi pada bayi baru lahir atau neonatus adalah
Bayi dengan suhu badan di bawah normal.
Hipotermia ini biasanya menyerang bayi yang baru
saja lahir. Pada bayi neonatus suhu normalnya
adalah 36,5 37,5 derajat Celsius

Problem
Kegagalan termoregulasi
Mekanisme :
PENURUNAN PRODUKSI PANAS
PENINGKATAN PANAS YANG HILANG

(KONDUKSI,KONVENKSI,RADIASI DAN EVAPORASI)


KEGAGALAN TERMOREGULASI

THERMOREGULASI
SHIVERING THERMOREGULATION/ST
NON SHIEVERING THERMOREGULATION/NST
VASOKONSTRIKSI

tatalaksana
HIPOTERMIA BERAT

Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas yang telah dinyalakan


sebelumnya, bila mungkin. Gunakan inkubator atau ruangan hangat, bila perlu.
Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri pakaian yang hangat, pakai topi
dan selimuti dengan selimut hangat.
Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.
Bila bayi dengan gangguan napas (frekuensi napas lebih 60 atau kurang 30
kali/menit, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi), lihat bab tentang
Gangguan napas.
Pasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan pipa infus
tetap terpasang di bawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan.
Periksa kadar glukose darah, bila kadar glukose darah kurang 45 mg/dL (2.6
mmol/L), tangani hipoglikemia.
Nilai tanda bahaya setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam
sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal.

Ambil sampel darah dan beri antibiotika sesuai dengan yang disebutkan dalam penanganan
Kemungkinan besar sepsis.
Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi siap :
- Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara
pemberian minum;
- Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan beri ASI peras begitu suhu
bayi mencapai 35 C.
Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0.5 C/jam, berarti upaya
menghangatkan berhasil, kemudian lanjutkan dengan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam.
Periksa juga suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu ruangan setiap jam.
Setelah suhu tubuh bayi normal:
o Lakukan perawatan lanjutan untuk bayi;
o Pantau bayi selama 12 jam kemudian, dan ukur suhunya setiap 3 jam.

Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu bayi tetap dalam batas
normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di
Rumah Sakit, bayi dapat dipulangkan dan nasehati ibu bagaimana cara menjaga agar bayi tetap
hangat selama di rumah.

HIPOTERMIA SEDANG

Ganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangat, memakai topi dan selimuti dengan selimut hangat.
Bila ada ibu/pengganti ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit dengan kulit (perawatan
bayi lekat).
Bila ibu tidak ada:
o Hangatkan kembali bayi dengan menggunakan alat pemancar panas. Gunakan inkubator dan ruangan hangat, bila perlu;
o Periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan
sesuaikan pengatur suhu.
o Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering diubah.

Anjurkan Ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras menggunakan salah satu
alternatif cara pemberian minum.
Mintalah ibu untuk mengamati tanda bahaya (mis. gangguan napas, kejang) dan segera mencari pertolongan bila
terjadi hal tersebut.
Periksa kadar glukose darah, bila < 45 mg/dL (2.6 mmol/L), tangani hipoglikemia.
Nilai tanda bahaya, Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0.5 C/jam, berarti usaha
menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam.
Bila suhu tidak naik atau naik terlalu pelan, kurang 0.5 C/jam, cari tanda sepsis 1.
Setelah suhu tubuh normal:
o Lakukan perawatan lanjutan.
o Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu setiap 3 jam. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan
baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan, bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara menghangatkan bayi di
rumah.

Ikterus neonatorum
Adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh

pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat


akumulasi bilirubin tak terkonugasi yang berlebih.
Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bbl
bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dl

Faktor resiko
a. Faktor Maternal
Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani)
Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)
Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.
ASI
b. Faktor Perinatal
Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)
Infeksi (bakteri, virus, protozoa)
c. Faktor Neonatus
Prematuritas
Faktor genetik
Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol)
Rendahnya asupan ASI
Hipoglikemia
Hipoalbuminemia

Ikterus Fisiologi

Ikterus Fisiologi adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari ketiga
yang tidak mempunyai dasar patologik, kadarnya tidak melewati kadar yang
membahayakan, atau mempunyai potensi menjadi kern-ikterus dan tidak
menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus ini biasanya menghilang
pada akhir minggu pertama atau selambat-lambatnya 10 hari pertama.
Ikterus dikatakan Fisiologis bila :
1. Timbul pada hari kedua sampai ketiga.
2. Kadar bilirubin indirek sesudah 2 - 24 jam tidak melewati 15 mg % pada
neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada neonatus kurang bulan.
3. Kecepatan peninakatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari.
4. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
5. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik (kern
ikterus)

Ikterus Patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologik

atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut


hiperbilirubinemia. Dasar patologik ini misalnya, jenis bilirubin,
saat timbulnya dan menghilangnya ikterus dan penyebabnya.
Ikterus dikatakan Patologis bila :
1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama
2. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan
atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.
3. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
4. Ikterus menetap susudah 2 minggu pertama.
5. Kadar bilirubin direct melebihi 1 mg%.
6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.

Penatalaksanaan
Fototerapi jika terdapat indikasi menurut grafik Cockington
Fototerapi dihentikan jika kadar bilirubin tidak meningkat lagi

dan kadarnya separuh dari kadar indikasi transfusi tukar bila


kadar bilirubin sebelumnya < 13 mg/dl.
Transfusi tukar dilakukan bila bayi menunjukkan tanda bilirubin
ensefalopati ( hipotoni, kaki melengkung, retrocolis, panas, panas
tinggi); anemia dengan early jaundice dengan Hb 10-13 dan
kecepatan peningkatan 0,5 mg%/jam, bilirubin total > 25 mg/dl;
anemia progresif saat pengobatan hiperbilirubinemia.
Transfusi tukar ulang jika: bilirubin meningkat lagi > 1 mg%/jam
setelah transfusi tukar, bilirubin meningkat lagi > 25 mg%/dl.

The American Academy of Pediatrics (AAP) telah membuat parameter praktis untuk tata laksana

hiperbilirubinemia pada bayi cukup bulan yang sehat dan pedoman terapi sinar pada bayi usia
gestasi 35 minggu. Pedoman tersebut juga berlaku pada bayi cukup bulan yang sehat dengan BFJ
dan BMJ. AAP tidak menganjurkan penghentian ASI dan telah merekomendasikan pemberian ASI
terus menerus (minimal 8-10 kali dalam 24 jam). Penggantian ASI dengan pemberian air putih, air
gula atau susu formula tidak akan menurunkan kadar bilirubin pada BFJ maupun BMJ yang
terjadi pada bayi cukup bulan sehat.
Gartner dan Auerbach mempunyai pendapat lain mengenai pemberian ASI pada bayi dengan BMJ.
Pada sebagian kasus BMJ, dilakukan penghentian ASI sementara. Penghentian ASI akan memberi
kesempatan hati mengkonjungasi bilirubin indirek yang berlebihan. Apabila kadar bilirubin tidak
turun maka penghentian ASI dilanjutkan sampai 1824 jam dan dilakukan pengukuran kadar
bilirubin setiap 6 jam. Apabila kadar bilirubin tetap meningkat setelah penghentian ASI selama 24
jam, maka jelas penyebabnya bukan karena ASI, ASI boleh diberikan kembali sambil mencari
penyebab hiperbilirubinemia yang lain. Jadi penghentian ASI untuk sementara adalah untuk
menegakkan diagnosis.

Persamaannya dengan AAP yaitu bayi dengan BFJ tetap mendapatkan

ASI selama dalam proses terapi. Tata laksana yang dilakukan pada
BFJ meliputi (1) pemantauan jumlah ASI yang diberikan apakah sudah
mencukupi atau belum, (2) pemberian ASI sejak lahir dan secara
teratur minimal 8 kali sehari, (3) pemberian air putih, air gula dan
formula pengganti tidak diperlukan, (4) pemantauan kenaikan berat
badan serta frekuensi BAB dan BAK, (5) jika kadar bilirubin mencapai
15 mg/dL, perlu melakukan penambahan volume cairan dan stimulasi
produksi ASI dengan melakukan pemerasan payudara, (6) jika kadar
bilirubin mencapai kadar 20 mg/dL, perlu melakukan terapi sinar jika
terapi lain tidak berhasil, dan (7) pemeriksaan komponen ASI
dilakukan jika hiperbilirubinemia menetap lebih dari 6 hari, kadar
bilirubin meningkat melebihi 20 mg/dL, atau riwayat terjadi BFJ pada
anak sebelumnya.

Grafik Cockington

Untuk transfusi tukar

Cephal hematom
Cephal hematoma adalah perdarahan sub periosteal
akibat kerusakan jaringan poriestum karena tarikan
atau tekanan jalan lahir. Dan tidak pernah
melampaui batas sutura garis tengah. Tulang
tengkorak yang sering terkena adalah tulang
temporal atau parietal ditemukan pada 0,5-2 % dari
kelahiran hidup

etiologi
Persalinan yang lama dan sukar.
Tarikan vakum atau cunam
Kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran

melahirkan kepala bayi.

Berikut ini adalah gejala Cephal hematoma:

1.
Adanya fluktuasi
2. Adanya benjolan, biasanya baru tampak jelas
setelah 2 jam setelah bayi lahir.
3.
Adanya chepal hematoma timbul di daerah
tulang parietal
Berupa benjolan timbunan kalsium dan sisa jaringan
fibrosa yang masih teraba. Sebagian benjolan keras
sampai umur 1-2 tahun.
4. Tidak melewati sutura

Cephal hematom

Caput succadenum

Pemeriksaan
Pemeriksaan X-Ray cranium
Kadar bilirubin

tatalaksana
Menjaga kebersihan luka.
Tidak boleh melakukan massase luka/benjolan cephal

hematoma.
Pemberian vitamin K.
Bayi dengan cephal hematoma tidak boleh langsung
disusui oleh ibunya karena pergerakan dapat
mengganggu pembuluh darah yang mulai pulih.
Pemantauan bilirubinin, hematokrit, dan hemoglobin.
Aspirasi darah dengan jarum suntik tidak diperlukan.

Daftar pustaka
Lesmana. Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (E R C P)

diagnostik

dan terapeutik pada Obstruksi Biller. Http://www.kalbe.co.id.


Anonim. Ikterus. Http://ilmukedokteran.net.
Medline Plus. Bilirubin. Http://www.nlm.nih.gov.
Anonim. Gallensteine. Http://www.internisten-im-netz.de.
Campbell FC. Jaundice. Http://www.qub.ac.uk.
Medline Plus. Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP).
Http://www.nlm.nih.gov.
Sulaiman A. Pendekatan Klinis pada Pasien Ikterus. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III edisi IV. Jakarta : Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI. 2006. 422-425.
Davey P. Ikterus. Dalam : At a Glace Medicine. Jakarta : Erlangga Medical Series,
2006.
Pratt S, Kaplan MM. Jaundice. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E,
Hauser SL, Jameson JL. Harrisons Principles of Internal Medicine Vol.1.16th ed.
USA, Mc GrawHill, 2005.p.240

Terima kasih