Anda di halaman 1dari 31

Attention deficit

ATTENTION
DEFICIT
hyperactivity
disorder(ADHD)
(ADHD)
HYPERACTIVITY DISORDER

Abd. Rachman
Abd RachmanUsman
Usman,S.ked
N 111 14 044

dr. Effendy Salim, Sp.A

Pendahuluan

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)


merupakan gangguan perilaku yang paling
banyak didiagnosis pada anak-anak dan remaja.

Gejala intinya meliputi tingkat aktivitas dan


impulsivitas yang tidak sesuai perkembangan
serta kemampuan mengumpulkan perhatian
yang terganggu.

Prevalensi ADHD pada anak usia sekolah adalah 8-10%, hal


tersebut menjadikan ADHD sebagai salah satu gangguan
yang paling umum pada masa kanak-kanak

Penanganan ADHD memerlukan evaluasi jangka panjang


dan berulang untuk dapat menilai keberhasilan terapi.
Penanganan ADHD biasanya berupa terapi obat, terapi
perilaku.

Kasus
IDENTITAS PASIEN
Nama
: An. P
Jenis kelamin
: laki-laki
Tanggal Lahir
: 5 Juli 2007
Usia
: 7 tahun 4 bulan
Tanggal masuk
: 1 februari 2015

Anamnesis

Keluhan Utama : gangguan perhatian


Riwayat Penyakit Sekarang: seorang anak di
bawa ibunya datang ke poli anak RSUD undata
dengan keluhan gangguan perhatian, ibunya
mengeluhkan anaknya tidak bisa belajar karena
tidak bisa fokus pada sesuatu yang dia kerjakan,
anaknya sangat aktif bicara, bergerak(lebih
sering berlari daripada berjalan), kalau ditanya
selalu menjawab dengan cepat dan kadang
jawabannya salah. tidak ada riwayat trauma dan
penggunaan obat obatan atau alkohol selama
kehamilan ibu.

Riwayat Penyakit Sebelumnya : tidak ada


riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga
: tidak ada
riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat Persalinan
: lahir spontan
letak belakang kepala. Bayi preterm lahir di RS
dengan berat badan lahir 2000 gram.
Riwayat kemampuan anak : mulai berdiri usia 1
tahun,papamama usia 8 bulan.
Anamnesis makanan
: - ASI sampai 2
tahun, nasi usia 1 tahun sekarang
Riwayat Imunisasi
lengkap

: Imunisasi dasar

Keadaan umum : baik


Kesadaran: compos mentis
Berat Badan : 21 Kilogram
lingkar kepala : 33 cm
Panjang Badan : 125 cm
Status Gizi : Gizi baik
Tanda Vital
Denyut nadi : 82 Kali/menit
Suhu : 37 o C
Respirasi
: 24 kali/menit
Kulit : Sianosis (-), ikterus (-), pucat (-), eritema (-),
turgor kembal cepat,
Kepala
: konjungtiva anemis (-), sclerk
ikterik (+),Rhinorrhea
(-),otorrhea (-), Lidah kotor
(-), bibir kering (-),tonsil T1/T1 hiperemis (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)

Thorax
Paru-paru
Inspeksi : Simetris bilateral, retraksi (-), massa (-),
Palpasi: Vokal fremitus (+) kesan normal, massa (-), nyeri tekan (-)
Perkusi: Sonor (+) diseluruh lapang paru, batas paru dan hepar SIC
VII
Auskultasi : Bunyi bronchovesikular (+), Ronkhi (-), Wheezing (-)

Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi: Ictus Cordis teraba pada SIC V linea midclavicula sinistra
Perkusi: Batas atas jantung SIC II, batas kanan SIC V linea
parasternal dextra, batas kiri jantung SIC V linea axilla anterior
Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Bentuk cembung, massa (-), distensi (-),
Auskultasi : Peristaltik (+)
Perkusi: Timpani (+), Pekak pada daerah
hipogastrium dextra et sinistra
Palpasi : Hepatospleenomegali (-).
Genital : Tidak ditemukan adanya kelainan
Anggota gerak: Ekstremitas atas dan bawah
akral hangat, edema-.
Punggung : Skoliosis (-), Lordosis (-), Kyphosis (-)
Otot-otot : Atrofi (-), Tonus otot meningkat

Resume

seorang anak di bawa ibunya datang ke poli anak


RSUD undata dengan keluhan gangguan perhatian,
ibunya mengeluhkan anaknya tidak bisa belajar
karena tidak bisa fokus pada sesuatu yang dia
kerjakan, anaknya sangat aktif bicara,
bergerak(lebih sering berlari daripada berjalan),
kalau ditanya selalu menjawab dengan cepat dan
kadang jawabannya salah.

DIAGNOSIS : Attention deficit hyperactivity


disorder

DISKUSI

DEFINISI
Attention Deficit
Hyperactivity
Disorder(ADHD) atau
gangguan kronis pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH)Adalah gangguan
dalam mengarahkan
perhatian dan hiperaktif.

Epidemiologi

Prevalensi yang dilaporkan pada anak yang


mengalami ADHD bervariasi dari 2 sampai 18 persen,
tergantung pada kriteria diagnostik dan populasi yang
dipelajari.Prevalensi ADHD pada anak usia sekolah
adalah 8 - 10 persen, hal tersebut menjadikan ADHD
sebagai salah satu gangguan yang paling umum pada
masa kanak-kanak

Rasio ADHD pada anak laki-laki dibandingkan dengan


anak perempuan yaitu 4:1 ( untuk ADHD yang
didominasi oleh hiperaktif) dan 2:1 (untuk ADHD yang
didominasi oleh inatensi/kesulitan dalam memusatkan
perhatian)

Faktor resiko

Pengaruh genetik
Faktor ibu
Pengaruh lingkungan

neurobiologis

Dopamin pathway

Manifestasi klinis

Inatensi (gangguan pemusatan


perhatian)
Inatensi adalah bahwa sebagai
individu penyandang gangguan ini
tampak mengalami kesulitan dalam
memusatkan perhatiannya. Mereka
sangat mudah teralihkan oleh rangsangan
yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya
atau oleh perasaan yang timbul pada
saat itu. Dengan demikian mereka
hanya mampu mempertahankan suatu
aktivitas atau tugas dalam jangka waktu
yang pendek, sehingga akan
mempengaruhi proses penerimaan
informasi dari lingkungannya.

Hiperaktif (gangguan dengan


aktivitas yang berlebihan)
Hiperaktivitas adalah suatu gerakan
yang berlebihan melebihi gerakan
yang dilakukan secara umum anak
seusianya. Biasanya sejak bayi
mereka banyak bergerak dan sulit
untuk ditenangkan. Jika
dibandingkan dengan individu yang
aktif tapi produktif, perilaku
hiperaktif tampak tidak bertujuan.
Mereka tidak mampu mengontrol dan
melakukan koordinasi dalam aktivitas
motoriknya, sehingga tidak dapat
dibedakan gerakan yang penting
dan tidak penting. Gerakannya
dilakukan terus menerus tanpa lelah,
sehingga kesulitan untuk memusatkan
perhatian.

Impulsivitas (gangguan
pengendalian diri)
Impulsifitas adalah suatu
gangguan perilaku berupa
tindakan yang tidak disertai
dengan pemikiran. Mereka
sangat dikuasai oleh
perasaannya sehingga sangat
cepat bereaksi. Mereka sulit
untuk memberi prioritas
kegiatan, sulit untuk
mempertimbangkan atau
memikirkan terlebih dahulu
perilaku yang akan
ditampilkannya. Perilaku ini
biasanya menyulitkan yang
bersangkutan maupun
lingkungannya.

Kriteria
Asosiasi Psikiater Amerika (APA, 2000)
mengidentifikasi tiga jenis ADHD :

ADHD dengan ketiga ciri-ciri, yaitu inatentif,


impulsive dan hiperaktif (tipe kombinasi)
ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah
inatentif (tipe predominan inatentif)
ADHD dengan ciri-ciri paling dominan adalah
impulsif dan hiperaktif (tipe predominan
hiperaktif-impulsif)

Pemeriksaan

DSM-IV untuk Atenttion Deficit Hyperactivity Disorder


(ADHD)
Tes tiroid
MRI, ketidaknormalan pada lobus frontalis

Abreviated connors rating scale

Kriteria DSM-IV untuk Atenttion Deficit


Hyperactivity Disorder (ADHD)
A. Salah satu (1) atau (2)
1. Gangguan pemusatan perhatian (inatensi) : enam (atau lebih) gejala inatensi berikut telah
menetap seama sekurang-kurangnya 6 bulan bahkan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak
konsisten dengan tingkat perkembangan.
a. Sering gagal dalam memberikan perhatian pada hal yang detail dan tidak teliti dalam
mengerjakan tugas sekolah, pekerjaan atau aktivitas lainnya.
b. Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian terhadap tugas atau aktivitas
bermain.
c.

Sering tidak tampak mendengarkan apabila berbicara langsung

d. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelessaikan tugas sekolah, pekerjaan, atau
kewajiban di tempat kerja (bukan karena perilaku menentang atau tidak dapat mengikuti
instruksi)
e. Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas dan aktivitas
f.

Sering menghindari, membenci atau enggan untuk terlibat dalam tugas yang memiliki usaha
mental yang lama ( seperti tugas disekolah dan pekerjaan rumah)

g. Sering menghilangkan atau ketinggalan hal-hal yang perlu untuk tugas atau aktivitas (misalnya
tugas sekolah, pensil, buku ataupun peralatan)
h. Sering mudah dialihkan perhatiannya oleh stimuladir dari luar.

2. Hiperaktivitas impulsivitas : enam (atau lebih) gejala hiperkativitas-implusivitas berikut ini telah
menetap selama sekurang-kurangnya enam bulan sampai tingkat yang maladaptif dan tidak
konsisten dengan tingkat perkembangan.
a. Sering gelisah dengan tangan dan kaki atau sering menggeliat-geliat di tempat duduk
b. Sering meninggalkan tempat duduk dikelas atau di dalam situasi yang diharapkan anak tetap
duduk
c.

Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak tepat (pada remaja
mungkin terbatas pada perasaan subyektif kegelisahan)

d. Sering mengalami kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas waktu luang secara tenang
e. Sering siap-siap pergi atau seakan-akan didorong oleh sebuah gerakan
f.

Sering berbicara berlebihan Impusivitas

g. Sering menjawab pertanyaan tanpa berfikir lebih dahulu sebelum pertanyaan selesai
h. Sering sulit menunggu gilirannya
i.

Sering menyela atau mengganggu orang lain (misalnya : memotong masuk ke percakapan atau
permainan)

B. Beberapa gejala hiperaktif-impulsif atau inatentif yang menyebabkan gangguan telah ada
sebelum usia 7 tahun
C. Beberapa gangguan akibat gejala terdapat dalam 2 (dua) atau lebih situasi (misalnya disekolah
atau pekerjaan di rumah)
D. Harus terdapat bukti yang jelas adanya gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi
sosial, akademik dan fungsi pekerjaan

E. Gejala tidak semata-mata selama gangguan perkembangan pervasif,


skizofrenia atau gangguan psikotik lain dan bukan merupakan gangguan
mantal lain (gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan disosiatif
atau gangguan kepribadian)

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, tipe kombinasi : jika


memenuhi baik kriteria A1 dan A2 selama 6 bulan terakhir.

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe


inatentif : jika memenuhi kriteria A1 tetapi tidak memenuhi kriteria A2
selama 6 bulan terakhir.

Gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, predominan tipe


hiperaktif-impulsif : jika memenuhi kriteria A2 tetapi tidak
memenuhi kriteria A1 selama 6 bulan terakhir.

Catatan: untuk individu (terutama remaja dan dewasa) yg sekarang


memiliki gejala yg tidak lagi memenuhi kriteria lengkap, harus dituliskan
dalam remisi parsial.

Diagnosis banding
Perilaku yang hanya menyerupai gangguan hiperkinetik, bisa
jadi karena:
Perubahan mendadak dari hidup anak cth: saat orang tuanya
meninggal, orangtua bercerai
Penyakit tiba-tiba yang tak terdeteksi epilepsi atau stroke yang
terkena pada daerah lobus frontalis
Anxietas atau episode depresi pada anak
Gangguan perkembangan belajar
Pada anak dengan hiperkinetik juga dapat memiliki
gangguan dalam belajar, namun pada anak dengan
gangguan perkembangan belajar tidak ditemui adanya
perilaku yang hiperaktif
Autisme
Gangguan pada interaksi sosial, komunikasi, perilaku terbatas dan
berulang, sebelum usia 3 tahun.

Penatalaksanaan

Terapi
farmakologi

Terapi psikostimulan :
Amfetamin PO 5 mg sekali 2
kali sehari
Methilfenidate ADHD diberikn 5
mg /hari
Pemoline Anak diatas 6 tahun
diberikan 37,5 mg/hr PO

Antidepressan trisiklik

Terapi nonfarmakologi
Terapi tingkah laku
1. Penguatan yang positif
2. Hadiah
3. Pemusnaaan
. Pendidikan khusus

Komplikasi
Komplikasi
1Menimbulkan hambatan penyesuaian perilaku
sosial
220 40% dari anak ADHD bisa mengalami
gangguan tingkah laku bahkan menumbuhkan
perilaku antisosial
3 Menurunnya kemampuan akademik di
lingkungan rumah dan sekolah
4Mengakibatkan perkembangan anak tidak
optimal dengan timbulnya gangguan perilaku di
kemudian hari (berkembang hingga dewasa)

Prognosis
Perjalanan ADHD itu bervariasi, ada yang mengalami remisi dan
menetap.

Persisten atau menetap. Pada 40-50% kasus, gejala akan


persisten hingga masa remaja atau dewasa. Gejala akan lebih
cenderung menetap jika terdapat riwayat keluarga, peristiwa
negatif dalam hidupnya, komobiditas dengan gejala-gejala
perilaku, depresi dan gangguan cemas. Dalam beberapa kasus,
hiperaktivitasnya akan menghilang, tetapi tetap mengalami
inatensi dan kesulitan mengontrol impuls (tidak hiperaktif, tetapi
impulsif dan ceroboh). Anak ini rentan dengan penyalahgunaan
alkohol dan narkoba, kegagalan disekolah, sulit mempertahankan
pekerjaan, serta pelanggaran hukum.

Remisi. Pada 50% kasus, gejalanya akan meringan atau


menghilang pada masa remaja atau dewasa muda. Biasanya
remisi terjadi antara usia 12 hingga 20 tahun. Gejala yang
pertama kali memudar adalah hiperaktivitas dan yang paling
terakhir adalah distractibility.

Remisi total. Anak yang mengalami remisi total akan memiliki


masa remaja dan dewasa yang produktif, hubungan interpersonal
yang memuaskan, dan memiliki gejala sisa yang sedikit.

Remisi parsial. Pada masa dewasanya, anak dengan remisi


parsial mudah menjadi antisosial, mengalami gangguan mood,
sulit mempertahankan pekerjaan, mengalami kegagalan
disekolah, melanggar hukum, dan menyalahgunakan alkohol dan
narkoba.

Prognosa anak dengan ADHD tergantung dari derajat


persistensi psikopatologi, terutama gangguan perilaku,
disabilitas sosial, serta faktor-faktor keluarga. Prognosa
yang optimal dapat didukung dengan cara memperbaiki
fungsi sosial anak, mengurangi agresivitas anak, dan
memperbaiki keadaan keluarganya secepat mungkin

DAFTAR PUSTAKA

Pliszka S. 2007. AACAP Work Group on Quality Issues. Practice parameter for the
assessment and treatment of children and adolescents with
attentiondeficit/hyperactivity disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry.46:894

Wiguna T. Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH), dalam:


Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2010: 441-454

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) in children. The Australian


Psychological Society Limited: 2014

Konofal E, Lecendreux M, Deron J, Marchand M, Cortese S, Zaim M, et al. 2008.


Effects of iron supplementation on attention deficit hyperactivity disorder in
children. Pediatric Neurology. 38(1):20-6

Rusmawati D, Dewi EK. Pengaruh terapi musik dan gerak terhadap penurunan
kesulitan perilaku siswa sekolah. Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011