Anda di halaman 1dari 81

WADUK

1. Perencanaan
Waduk
2. Penentuan
Kapasitas Waduk
3. Sedimentasi dan
Cara Penanganan

PENGERTIAN BENDUNGAN
Bendungan (dam) adalah konstruksi yang
dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk,
danau, atau tempat rekreasi. Seringkali
bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air
ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Bagian-bagian bendungan

Bagian-bagian bendungan
Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :
1. Badan bendungan (body of dams)
Adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai
penghalang air. Bendungan umumnya memiliki tujuan
untuk menahan air, sedangkan struktur lain seperti pintu
air atau tanggul digunakan untuk mengelola atau
mencegah aliran air ke dalam daerah tanah yang
spesifik. Kekuatan air memberikan listrik yang disimpan
dalam pompa air dan ini dimanfaatkan untuk
menyediakan listrik bagi jutaan konsumen.

2. Pondasi (foundation)
Adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk
menjaga kokohnya bendungan.
3. Pintu air (gates)
Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup
aliran air di saluran baik yang terbuka maupun tertutup.
Bagian yang penting dari pintu air adalah ;
a. Daun pintu (gate leaf)
Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan
air dan dapat digerakkan untuk membuka,
mengatur dan menutup aliran air.
b. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)
Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang
masuk ke dalam beton yang digunakan untuk
menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai
dengan yang direncanakan.

c. Angker (anchorage)
Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton
dan digunakan untuk menahan rangka pengatur arah
gerakan agar dapat memindahkan muatan dari pintu air
ke dalam konstruksi beton.
d. Hoist Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air
agar dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.
4. Bangunan pelimpah (spill way)
Adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan
air banjir yang masuk ke dalam waduk agar tidak
membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian
penting daribangunan pelimpah.
waduk mempunyai spillway dengan puncak (crest) tetap
waduk mempunyai spillway dengan crest tidak tetap

a. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures),


digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar
kecepatan alirannya kecil tetapi debit airnya besar.
b. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute,
discharge carrier, flood way). Makin tinggi bendungan, makin
besar perbedaan antara permukaan air tertinggi di dalam
waduk dengan permukaan air sungai di sebelah hilir
bendungan. Apabila kemiringan saluran pengangkut debit air
dibuat kecil, maka ukurannya akan sangat panjang dan
berakibat bangunan menjadi mahal. Oleh karena itu,
kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya
disesuaikan dengan keadaan topografi setempat.
c. Bangunan peredam energy (energy dissipator)
Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya
mengurangi energi air agar tidak merusak tebing, jembatan,
jalan, bangunan dan instalasi lain di sebelah hilir bangunan
pelimpah.

5. Kanal (canal)
Digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah
hujan tinggi.
6. Reservoir
Digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari
bendungan.
7. Stilling basin
Memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.
8. Katup (kelep, valves)
Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat
menahan tekanan yang lebih tinggi (pipa air, pipa pesat dan
terowongan tekan). Merupakan alat untuk membuka,
mengatur dan menutup aliran air dengan cara memutar,
menggerakkan kea rah melintang atau memenjang di
dalam saluran airnya.
9. Drainage gallery
Digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan.

Tipe Bendungan
Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
Berdasarkan ukuran :
a.Bendungan besar (large dams)
Menurut ICOLD (International Commission On Large
Dam) definisi dari bendungan adalah :
1. Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur
dari bagian terbawah pondasi sampai ke puncak
bendungan.
2. Bendungan yang tingginya antara 10m dan 15m
dapat pula disebut dengan bendungan besar asal
memenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai
berikut :

Panjang puncak bendungan tidak kurang dari


500m.
Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang
dari 1 juta m.
Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak
kurang dari 2000 m/detik.
Bendungan menghadapi kesulitan-kesulitan
khusus pada pondasinya (had specially difficult
foundation problems).
Bendungan di desain tidak seperti biasanya
(unusual design).
b.Bendungan kecil (small dams, weir, bendung)
Semua bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai
bendungan besar di sebut bendungan kecil.

Berdasarkan tujuan pembangunannya


1.Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu
tujuan saja.
2.Bendungan serbaguna (multipurpose dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa
tujuan.
3.Berdasarkan penggunaannya
a. Bendungan untuk membuat waduk (storage dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk membentuk
waduk guna menyimpan air pada waktu kelebihan agar
dapat dipakai pada waktu diperlukan.
b. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams)
Adalah bendungan yang dibangun agar permukaan
airnya lebih tinggi sehingga dapat mengalir masuk
kedalam saluran air atau terowongan air.

c. Bendungan untuk memperlamabat jalannya air


(detension dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk
memperlamabat aliran air sehingga dapat mencegah
terjadinya banjir besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi
2, yaitu :
a) Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam
saluran air bagian hilir.
b) Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di
daerah sekitarnya.

Berdasarkan konstruksinya
A. Bendungan urugan (fill dams, embankment dams)
Menurut ICOLD definisinya adalah bendungan
yang dibangun dari hasil penggalian bahan
(material) tanpa tambahan bahan lain yang bersifat
campuran secara kimia, jadi betul-betul bahan
pembentuk bendungan asli. Bendungan ini masih
dapat dibagi menjadi :

1. Bendungan urugan serbasama (homogeneous


dams), adalah bendungan urugan yang lapisannya
sama.
2. Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams,
rockfill dams),adalah bendungan urugan yang
terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan kedap
air (water tight layer), lapisan batu (rock zones,
shell), lapisan batu teratur (rip-rap) dan lapisan
pengering (filter zones).
3. Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air
di muka (impermeable face rockfill dams, dekced
rockfill dams), adalah bendungan urugan batu
berlapis-lapis yang lapisan kedap airnya diletakkan
di sebelah hulu bendungan. Lapisan kedap air
yang biasa digunakan adalah aspal dan beton
bertulang.

B. Bendungan beton (concrete dams)


Adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton
baik dengan tulangan maupun tidak. Ini masih dapat
dibagi lagi menjadi :

Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity


dams), adalah bendungan beton yang didesain untuk menahan
beban dan gaya yang bekerja padanya hanya dengan berat
sendiri saja.
Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress
dams), adalah bendungan beton yang mempunyai penyangga
untuk menyalurkan gaya-gaya yang bekerja padanya. Banyak
dipakai apabila sungainya sangat lebar sedangkan keadaan
geologiya baik.
Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur
atau concerete arch dams), adalah bendungan beton yang
didesain untuk menyalurkan gaya-gaya yang bekerja padaya
lewat abutmen kiri dan abutmen kanan bendungan.
Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams,
mixed type concerete dams),adalah merupakan kombinasi
anatara lebih dari satu tipe bendungan.

C. Bendungan lainnya
Biasanya hanya untuk bendungan kecil misalnya :
bendungan kayu (timber dams), bendungan besi (steel
dams), bendungan pasangan bata (brick dams),
bendungan pasangan batu (masonry dams).
Berdasarkan fungsinya
a. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam,
dike), adalah bendungan yang pertama-tama dibangun di
sungai pada waktu debit air rendah agar lokasi rencana
bendungan pengelak menjadi kering yang memungkinkan
pembangunannya secara teknis.
b. Bendungan pengelak (cofferdam), adalah bendungan yang
dibangun sesudah selesainya bendungan pengelak
pendahuluan sehingga lokasi rencana bendungan utama
menjadi kering yang memungkinkan pembangunannya
secara teknis.

c. Bendungan utama (main dam), adalah bendungan yang


dibangun untuk memenuhi satu atau lebih tujuan tertentu.
d. Bendungan sisi ( high level dam ), adalah bendungan
yang terletak di sebelah sisi kiri dan sisi kanan bendungan
utama yang tinggi puncaknya juga sama. Ini dipakai untuk
membuat proyek seoptimal-optimalnya, artinya dengan
menambah tinggi pada bendungan utama diperoleh hasil
yang sebesar-besarnya biarpun harus menaikkan sebelah
sisi kiri dan atau sisi kanan.
e. Bendungan di tempat rendah (saddle dam), adalah
bendungan yang terletak di tepi waduk yang jauh dari
bendungan utama yang dibangun untuk mencegah
keluarnya air dari waduk sehingga air waduk tidak
mengalir ke daerah sekitarnya.

f. Tanggul ( dyke, levee), adalah bendungan yang terletak


di sebelah sisi kiri dan atau kanan bendungan utama
dan di tempat yang jauh dari bendungan utama yang
tinngi maksimalnya hanya 5 m dengan panjang
puncaknya maksimal 5 kali tingginya.
g. Bendungan limbah industri (industrial waste
dam),adalah bendungan yang terdiri atas timbunan
secara bertahap untuk menahan limbah yang berasal
dari industri.
h. Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing
dam), adalah bendungan yang terdiri atas timbunan
secara bertahap untuk menahan hasil galian
pertambangan dan bahan pembuatnya pun berasal dari
hasil galian pertambangan juga.

Berdasarkan jalannya air


a.Bendungan untuk dilewati air (overflow dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk untuk dilewati air
misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).
b.Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)
Adalah bendungan yang sama sekali tidak boleh di lewati air.
Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari
beton, pasangan batu atau pasangan bata.
Berdasarkan ICOLD
a.Bendungan urugan tanah (earthfill dams)
b.Bendungan urugan batu (rockfill dams), adalah bendungan
urugan yang kekuatan konstruksinya didasarkan pada urugan
batu dan sebagai lapisan kedap air memakai tanah liat, tanah
liat bercapur pasir/kerikil, lapisan aspal, beton bertulang atau
geotextile.

c. Bendungan beton berdasar berat sendiri


d. Bendungan beton dengan penyangga
e. Bendungan beton berbentuk lengkung
f. Bendungan beton berbentuk lebih dari satu lengkung
(multiple arch dams), adalah bendungan beton yang
bentuk lengkungnya lebih dari satu dan diperkuat dengan
kolom beton bertulang.
Fungsi Bendungan
Maka dapat disimpulkan, secara umum fungsi dari
bendungan adalah berdasarkan peranannya:
1. Sebagai Pembangkit: Listrik tenaga air adalah sumber
utama listrik di dunia. banyak negara memiliki sungai
dengan aliran air yang memadai, yang dapat dibendung.

Gravity Dams
Gravity Dams use their triangular shape and the
sheer weight of their rock and concrete structure
to hold back the water in the reservoir.

From: http://www.dur.ac.uk/~des0www4/cal/dams/conc/gappu.htm

Gravity Dams
Gravity dams are the most common type of
large dam in the world because they are
easy and cheap to build. They can also
be built across long distances over
relatively flat terrain. This makes them
very applicable in non-mountainous
regions. The largest gravity dam in the
world is the Aswan Dam in Egypt. (24)

Arch Dams
Arch Dams utilize the strength of an arch to
displace the load of water behind it onto the rock
walls that it is built into.

From: http://www.photo.net/photo/pcd2882/hoover-dam-aerial-91

From: http://www.pbs.org/wgbh/buildingbig/dam/arch_forces.html

Arch Dams
Arch dams can only be built where the walls of a
canyon are of unquestionable stability. They must
also be impervious to seepage around the dam,
as this could be a source of dam falure in the
future. (24)
Because of these factors, Arch dams can only be
built in very limited locations.
Arch dams use less materials than gravity dams,
but are more expensive to construct due to the
extensive amount of expertise required to build
one. (25)

Buttress Dams
Buttress Dams use multiple reinforced columns
to support a dam that has a relatively thin
structure. Because of this, these dams often use
half as much concrete as gravity dams

From: http://www.dur.ac.uk/~des0www4/cal/dams/conc/buttress.htm

Composite Dams
Composite dams are combinations of one or
more dam types. Most often a large section
of a dam will be either an embankment or
gravity dam, with the section responsible for
power generation being a buttress or arch.

The Bloemhof Dam on the Orange River of South Africa


is an excellent example of a gravity/buttress dam.

Buttress Dam
Gravity Dam

From: http://www.dwaf.gov.za/orange/images/web176l.jpg

2. Sebagai Listrik : untuk keperluan pembangkit listrik


3. Untuk Menstabilkan aliran air / irigasi : Bendungan sering
digunakan untuk mengontrol dan menstabilkan aliran air,
untuk pertanian tujuan dan irigasi. Mereka dapat
membantu menstabilkan atau mengembalikan
tingkat/ketinggian air danau dan laut pedalaman. Mereka
menyimpan air untuk minum dan kebutuhan manusia
secara langsung
4. Untuk Pencegahan banjir : Bendungan diciptakan untuk
pengendalian banjir
5. Untuk Reklamasi : Bendungan (sering disebut tanggultanggul atau tanggul) digunakan untuk mencegah
masuknya air ke suatu daerah yang seharusnya dapat
tenggelam, sehingga para reklamasi untuk digunakan oleh
manusia
6. Untuk kegiatan rekreasi: Bendungan yang digunakan
untuk tujuan hiburan

Proses perencanaan
Waduk.
Keputusan untuk membangun waduk
pada suatu daerah pada prinsipnya
memerlukan observasi teliti, dan
akan memakan waktu dan biaya yang
tidak sedikit.
Ada tahapan-tahapan yang harus
dilakukan untuk menentukan apakah
usulan proyek tersebut layak secara
teknis, ekonomi dan sosial.

Tujuan
dari
pada
dibangunnya
bendungan / waduk adalah

suatu

untuk memanfaatkan dan melestarikan


sumberdaya air dengan cara menyimpan air
di saat kelebihan dan mengeluarkannya
pada saat dibutuhkan.

Berdasarkan fungsinya reservoir dapat


dirancang sebagai reservoir/waduk eka
guna atau serba guna.

Waduk untuk memenuhi berbagai macam


kebutuhan antara lain pemenuhan irigasi,
air baku, flushing (konservasi air), dan PLTA.

Tahapan Proyek

planning (rencana), didalamnya berisi tentang garis


besar rencana proyek, Konsultan Perencana
/ Konsultan masterplan 2 dimensi
feasibility study (studi kelayakan), Konsultan
Planning /FS
Pre Design (pra desain), Konsultan desain
Design (desain), Konsultan desain 3 dimensi
procurement ( pengadaan equipment), terdiri dari :
mesin/alat, tenaga ahli, material ; semen , besi
beton pemasok
Construction (pelaksanaan fisik),
Start up/Trial run/Commissionng (uji coba),
Hand Over I II ( antara I dan II ada masa
pemeliharaan +/-180 hari )
Operasi dan pemeliharaan

Survey
Topografi,
Hidrologi,
Morfologi
Geologi,
Tanah,
Ekologi

Sungai,

TAHAPAN PERENCANAAN WADUK


MASTER PLAN

IDEA

PLANNING

BASIC
DESIGN

PRELIMINARY
DESIGN

DESIGN
DEVELOPMENT

DATA
PROCURE
MENT

FEASIBILITY STUDY

DEMOLITION

CONSTRUCTION

OPERATIONAL

HAND-OVER
I dan II

STUDI KELAYAKAN
Kelayakan Teknik
a) Pemilihan Lokasi
b) Kekuatan Konstruksi
c) Hidrologi
d) Sedimentasi

Kelayakan ekonomi
Kelayakan sosial
Kelayakan lingkungan

DENAH LOKASI

N
W

DAS Cipanas-Pangkalan
(982 km2)

Cipanas
Ujungjaya

Keterangan :
Waduk Eksisting

Paseh
Cipeles

Waduk Cimulya
Waduk Rencana
Sungai Utama

Jatigede

DAS Pantura - Ciayu


(1820 km2)
Benda

Pasir Kuda
Sedong
Seuseupan
Cihirup
Cilutung

Batas DAS :
Ciayu
Cimanuk
Cipanas-Pangkalan
Cisanggarung
Laut :

DAS Cimanuk
(3584 km2)

Balekambang

Cipasang

Masigit

Darma
Ciniru

daratan
laut dalam

Garut

laut dangkal
Cikajang
Situbener

Maneunteung
Cihowe
Peucang

Gunungkarung
Cimulya
Ciwaru

Cibatu

DAS Cisanggarung
(1325 km2)

Cileuweung

Malahayu

Lokasi Waduk Cimulya


MAIN DAM

Lokasi Bendungan :
Di Sungai Cisrigading
Dusun Cimulya,
Desa
Padamulya,
Kec.
Lebakwangi, Kab.

KARAKTERISTIK WADUK
Karakteristik fisik waduk merupakan bagian-bagian pokok
dari waduk yaitu volume hidup, volume mati, tinggi muka air
maksimum, tinggi muka air minimum, tinggi mercu bangunan
pelimpah berdasarkan debit rencana.
Muka air pada kondisi debit rencana

Mercu bangunan
pelimpah
Volume hidup
m.a minimum

Tampungan lembah

Dasar sungai sebelum


pembendungan

Volume mati

Gambar 4. Zonasi Waduk

Saluran
pengambilan

Informasi penting dari karakteristik fisik waduk

adalah mengenai hubungan antara elevasi,


volume tampungan dan luas permukaan
genangan. Informasi tersebut bisa kita
dapatkan berdasarkan peta topografi dengan
garis kontur yang cukup teliti. Elevasi yang
digunakan didasarkan pada referensi muka air
laut rerata atau referensi lokal yang telah
ditentukan. Sebagai contoh misalkan pada
perencanaan waduk di suatu daerah setelah
dilakukan pengukuran didapatkan hasil sesuai
tabel berikut,
Dari tabel tersebut, dapat kita gambarkan
grafik hubungan antara elevasi, luas genangan
permukaan air dan volume tampungan seperti
pada gambar berikut (Grafik Hubungan antara
Elevasi, Luas Permukaan Air dan Volume
Tampungan) pada halaman berikut.

Luas Genangan

Kapasitas Tampungan

KURVA LENGKUNG KAPASITAS

NO.

RENCANA GENANGAN
titik ke

(m)

LUAS AREA
km2

VOLUME
m3

m3

per segmen

kumulatif

+ 116

99.50

+ 117

1,371.43

7,353.4

7,353.4

+ 118

1,898.43

16,348.0

23,701.4

+ 119

5,069.94

34,841.9

58,543.3

+ 120

7,431.52

62,507.3

121,050.6

+ 121

10,889.52

91,605.2

212,655.8

+ 122

16,276.29

135,829.1

348,484.9

+ 123

25,369.48

208,228.9

556,713.8

+ 124

34,903.32

301,364.0

858,077.8

10

+ 125

44,604.00

397,536.6

1255,614.4

11

10

+ 126

54,902.44

497,532.2

1753,146.6

12

11

+ 127

75,660.83

652,816.4

2405,963.0

13

12

+ 128

93,632.00

846,464.2

3252,427.2

14

13

+ 129

111,591.92

1026,119.6

4278,546.8

15

14

+ 130

131,031.40

1213,116.6

5491,663.4

16

15

+ 131

149,475.65

1402,535.3

6894,198.7

17

16

+ 132

170,666.36

1600,710.1

8494,908.8

18

17

+ 133

184,418.79

1775,425.8

10,270,334.6

19

18

+ 134

204,711.20

1945,650.0

12,215,984.6

20

19

+ 135

225,692.90

2152,020.5

14,368,005.1

PENENTUAN KAPASITAS WADUK


Menurut Thomas A. Mc Mahon dalam bukunya
Reservoir Capacity and Yield, penentuan
kapasitas waduk dapat dikelompokkan sebagai
berikut ini.
Metode Periode Kritik
Metode Moran, dkk
Metode Pembangkitan Data Stokastik.
Perbedaan pada kelompok-kelompok tersebut
tidak jelas, sehingga masih mungkin untuk
mengklasifikasikannya dengan cara yang
berbeda tergantung dari tujuannya.

KONSEP METODE PERIODE


KRITIK
Periode Kritik ditakrifkan sebagai periode yang dimulai saat kondisi
waduk penuh sampai kondisi waduk kosong tanpa terjadi limpasan
selama periode tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan
pada diagram berikut ini.
Reservoir
Volume

CP

1950

1951

Kondisi
Penuh

CP

1952

1953

Waktu ( Tahun )

Gambar Konsep Periode Kritik ( CP ) oleh Mc.Mahon.

Kondisi
Kosong

PERIODE KRITIK
Metode Rippl
Kurva massa residu
Metode DINCER
Gould Gama
Simulasi

METODA RIPPL
Langkah
waduk :

prosedur

penentuan

kapasitas

Buat kurva massa debit kumulatif berdasarkan


data, dapat berupa data historis ataupun data
bangkitan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
gambar berikut ini. Pada metode ini perlu
diperhatikan besarnya skala, karena pengukuran
kapasitas dengan mengukur secara grafis.
Gambarkan garis laju pengambilan waduk, yang
merupakan tangen dari besarnya kebutuhan air
dengan periode satu tahun.
Buat garis sejajar dengan laju pengambilan dan
digeser ke garis grafik, garis akan memotong di
titik A, E dan G

Kapasitas waduk didapat dengan


mengukur jarak dari garis laju
pengambilan dengan grafik yaitu C1
dan C2 dan jarak maksimum adalah
C2. Inilah kapasitas waduk yang
dibutuhkan. Waduk ini akan penuh di A,
berkurang sampai di B, kemudian
penuh lagi di D. Antara D dan E waduk
akan tetap penuh dan semua aliran
yang masuk akan dibuang ke hilir.
Sampai di titik F waduk akan kosong
dan penuh lagi di G. Pada metode ini
evaporasi tidak diperhitungkan

Metoda Kurva Massa Residu


Kurangi nilai inflow data dengan nilai rata-ratanya
(jika digunakan data bulanan dikurangi dengan ratarata bulanan, dan jika data tahunan dikurangi dengan
rata-rata tahunannya). Hasil hitungan tersebut yang
disebut sebagai nilai residu.
Hitung residu dari draft pengambilan, dengan
mengurangi draft pengambilan dengan rata-ratanya.
Jika diketahui rata-rata draft pengambilan 106.1
x106m3 dan draft pengambilan = 75%nya
(=75%x106.1=79.57579.6 x106m3), maka nilai
residunya =-25.6 x106m3 . Buat grafik kumulatif nilai
residu seperti pada gambar 7 dan plot garis laju
pengambilan residu ke grafik tersebut yang
menyinggung puncak-puncak grafik.
Ukurlah jarak antara garis laju pengambilan residu
dengan grafik kurva massanya.
Asumsi dan batasan metoda ini sama dengan pada
metoda Kurva Massa Rippl, keduanya membutuhkan
ketelitian dalam membuat skala, sehingga hasilnya
lebih akurat.

Grafik Kurva Massa Residu

Metoda Dincer
Metoda ini dikemukakan oleh Prof.Dincer dari Middle
East Tecnical University, Ankara. Selain dengan
asumsi yang sama pada periode kritik, metode ini
juga mengasumsikan bahwa,
debit tahunan berdistribusi normal,
debit tahunan bersifat independen,
dratt tetap,
evaporasi diabaikan.

zp
C
2
T
cv
x 4(1 D)

CP

zp

4(1 D)

cv

dengan :
CP = panjang(lama) periode kritik (thn)
cv = koevisien variasi tahunan
C = kapasitas maksimum yang
dibutuhkan
T = kapasitas maksimum yang
dibutuhkan dibagi dengan debit
tahunan rerata dalam satuan
volume.

rk

1 n k
1 n k n k
xi xik
x
x

2 i ik
n k i 1
n k i 1 i 1

1 n k 2
1
xi

2
n k
n k i 1

1
2

2
1
1 n k
2
xi
xik

2
n k
i 1
n k i 1
nk

nk

dengan :
rk = koefisien korelasi serial tahunan,
k = selang, dalam hal ini k = 1
x = debit
n = panjang data.

i 1

ik

1
2

Contoh Tabel Hitungan Kapasitas Waduk dengan


Metoda DINCER

Kemungkinan kegagalan ditentukan 5% dari tabel


distribusi normal kita dapatkan besarnya Zp = 1.65
Draft pengambilan 75%
Sehingga C=[(1404.3)(1.65)2] / [4(1-0.75)2]
*0.582167=2225.756 * 106m3
Karena sifat aliran tidak independen maka perlu
koreksi dengan serial korelasinya yang sudah
diperoleh sebesar 0.095, kemudian dicari dari tabel
Reservoir Capasity correction factor didapat harga
1.13, jadi besarnya kapasitas waduk menjadi,
C = 2225.756*1.13*106m3 = 2515.104 *106m3
Panjang periode kritiknya = CP = (1.65)2/[4(1-0.75)]
*0.58217 = 3.69 tahun

Metoda Simulasi
Persamaan kontinyuitas penampungan (McMahon,1978 ) :
Z t +1 = Zt + Qt Dt Et Lt
batasan 0 Zt C
dengan
t
= interval waktu yang digunakan, umumnya satu bulan,
Z t +1
= tampungan pada akhir interval waktu t,
Zt
= tampungan waduk pada awal interval waktu t+1
Qt
= aliran masuk selama interval waktu t,
Dt
= kebutuhan elama interval waktu t,
Et
= evaporasi selama interval waktu t,
Lt
= kehilangan air akibat kebocoran/rembesan selama

interval waktu t.
C
= kapasitas manfaat/aktif waduk.
Jika umur waduk diperhitungkan maka tampungan aktif harus
dikurangi dengan perkiraan volume sedimennya

Tingkat Keandalan Waduk :

R 100 x100 %
N

R
n
N

= keandalan kapasitas waduk dlm %,


= banyaknya waduk kosong dlm
satuan t,
= panjang rangkaian data dlm satuan t

Persamaan-persamaan di atas di aplikasikan


dengan anggapan keadaan awal waduk dianggap
penuh.

Ketersediaan Air
Ketersediaan air adalah jumlah air (debit) yg
diperkirakan terus menerus ada di suatu lokasi (bendung
atau bangunan air lainnya)di sungai dg jumlah tertentu
dan dalam jangka waktu (periode) tertentu.(direktorat
irigasi,1980)
Untuk memanfaatkan air, perlu diketahui informasi
ketersediaan air andalan ( debit andalan).
Untuk irigasi digunakan debit anadalan 80%, untuk air
baku 90%
Analisis data debit sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
data, jika data debit cukup panjang maka bisa dilakukan
analisis frekuensi

Penurunan data debit berdasar data hujan


Data Hujan (p)

Data Debit (Q)

Hubungan Q p
Pada tahun yg sama

Q=f(p)

Bangkitan Debit Q

Tabel Data Hujan tengah bulanan

Persamaan Regresi

TABEL HASIL PERHITUNGAN HUJAN - ALIRAN

Grafik Debit Terukur dan Debit Hasil Perhitungan

Tabel Debit 2 mingguan

Debit 2 mingguan Hasil Perhitungan

Debit Andalan berdasarkan Debit Tahunan

Debit Andalan berdasarkan


Debit 2 mingguan minggu pertama

Debit andalan berdasar debit 2 mingguan

K EBUTUHAN AIR IRIGASI


Dipengaruhi oleh : klimatologi, kondisi
tanah, koefisien tanaman, pola tanam,
pasokan air yg diberikan, luas daerah
irigasi, efisiensi irigasi, penggunaan
kembali air drainasi unt irigasi, sistem
golongan, jadwal tanam, dll
Dihitung dengan persamaan :

KAI

Etc IR WLR P Re x A
IE

KAI
Etc
IR

WLR

P
Re
IE
A

: kebthan air irigasi (l/detik)


: kebthan air konsumtif (mm/hari)
: kebthan air irgs unt penyiapan
lahan dtngkt perswhn (mm/hr)
: kebthan air unt mengganti lap
air (mm/hr)
: perkolasi (mm/hr)
: hujan efektif (mm/hr)
: efisiensi irigs (%)
: luas areal irgs ( ha )

Kebutuhan air konsumtif (Etc)


Etc = Eto x kc
dengan,
Etc
Eto
Kc

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan

ek

IR M k
e 1
IR
M

= kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan,


= kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat
evaporasi dan perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan,
= Eo + p ; Eo = 1.1 x ETo dan p = perkolasi,
k
= M x (T/S) ; T = jangka waktu penyiapan lahan dan
S
= kebutuhan air untuk penjenuhan ditambah dengan lapisan air 50
mm.

Kebutuhan air untuk pengganti lapisan air (RW)


Pada perhitungan ini pengganti lapisan air ditetapkan
berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi, yaitu sama
dengan 50 mm/bulan selama 2 bulan.
Perkolasi (p)
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya perkolasi
antara lain :
teksture tanah, jika teksturenya halus maka nilai perkolasi rendah
sebaliknya kalau teksturenya kasar maka angka perkolasi tinggi,
permeabilitas tanah, tebal lapisan tanah bagian atas, semakin tipis
semakin rendah angka perkolasinya,
letak permukaan air tanah, semakin tinggi letak permukaan air
tanah makin rendah angka perkolasi,

Untuk menentukan besarnya perkolasi satu-satunya cara


adalah dengan pengukuran di lapangan. Jika tidak ada
data pengukuran maka angka perkolasi ditentukan
berdasarkan ketentuan yang ada pada Standar
Perencanaan Irigasi yaitu sebesar 1-3 mm/hari.

Hujan Efektif (Re)


Curah hujan efektif adalah curah hujan andalan yg jatuh
di suatu daerah yg digunakan tanaman untuk
pertumbuhan. CH tsb merup hujan wilayah yg harus
diperkirakan dari titik pengamatan (mm)
Sosrodarsono S, 1980. Penentuannya berdasarkan
persamaan berikut :

dengan :

1
Re 0,7 x
(R 80 )
15

Re = curah hujan efektif (mm)


R80 = ch yg kemungkinan tidak terpanuhi sebesar 20% (mm),
didapat dari urutan data dg rumus Harza :

dengan :
m
n

n
m 1
5

= ranking dari urutan terkecil


= jumlah tahun pengamatan

Efisiensi Irigasi (EI)


Merupakan faktor penentu utama dari unjuk kerja suatu sisten
jaringan irigasi, yg terdiri atas efisiensi pengaliran yg terjadi di
jaringan utama dan jaringan sekunder (dari bang pembagi sampai
petak sawah)
Luas areal Irigasi
Adalah luas sawah yg akan diairi, yg dapat diperoleh dari Dinas
Pengairan berupa peta dan luasan daerah irigasi.
KEBUTUHAN AIR NON IRIGASI
Kebutuhan air domestik (rumah tangga)
dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan kebutuhan air
perkapita, yg kriteria penentuannya dikeluarkan oleh Puslitbang
Pengairan Dep PU.

Kriteria Kebutuhan Air Domestik


Jumlah
Penduduk

Domestik
(l/kapita/har
i)

Non
Domestik
(l/kapita/ha
ri)

Kehilangan
Air
(l/kapita/har
i)

>1.000.000

150

60

50

500.000
1.000.000

135

40

45

100.000
500.000

120

30

40

20.000 100.000

105

20

30

< 20.000

82,5

10

24

Sumber Puslitbang Pengairan Dep PU

Kebutuhan Air untuk


Kebutuhan Air untuk
Kebutuhan Air untuk
Kebutuhan Air untuk
Kebutuhan Air untuk

Perkantoran
Rumah Sakit
Pendidikan
Peribadatan
Hotel

: 25 l/pegawai/hr
: 250 l/tempat tidur/hr
: 25l/siswa/hr
: 50l/hr/m2
: 200l/tempat tidur/hr

Kebutuhan Air untuk

Pemeliharaan
Sungai/Penggelontoran

q(f)
Q f 365 hari x
x P(n)
1000
Qf = jml kebuthnair unt pemeliharaan
sungai ( m3/thn)
q(f)= kebuthnair unt pemeliharaan sungai
(l/kapita/hr)
P(n) =jumlah penduduk kota (orang)

Kebutuhan Air untuk Pemeliharaan Sungai


Proyeksi Tahun

Kebutuhan air

1990 2000

330 l/kapita/hr

2000 2015

360 l/kapita/hr

2015 - 2020

300 l/kapita/hr

Kebutuhan Air untuk Peternakan


Dihitung berdasarkan persamaaan

365
Qt
q (c/b/h) xPc/b/h q s/g xP s/g q Pi xP Pi q P0 xP P0
1000
Qt
q(c/b/h)
q(s/g)
q(Pi)
q(Po)

: kebutuhan air unt ternak (m3/thn)


: kebutuhan air unt sapi/kerbau/kuda(l/kepala/hr)
: kebutuhan air unt kambing/domba(l/kepala/hr)
: kebutuhan air unt babi(l/kepala/hr)
: kebutuhan air unt unggas(l/kepala/hr)

P(c/b/h)
P(s/g)
P(Pi)
P(Po)

: Jumlah sapi/kerbau/kuda (ekor)


: Jumlah kambing/domba (ekor)
: Jumlah babi (ekor)
: Jumlah unggas (ekor)

Kebutuhan Air untuk Ternak


Jenis Ternak

Kebutuhan Air
(liter/kepala/hari)

Sapi/kerbau/kuda
Kambing/Domba
Babi
Unggas

40
5
6
0,6

Kebutuhan Air untuk Industri

kebutuhan air untuk industry, ada 2 cara


menghitung :
0,4 l/detik/ha, jika diketahui luas lahan,
10% dari konsumsi air domestik

Kebutuhan air lain-lain, mengatasi kebakaran(45%),


taman(3%), penghijauan(28%), serta
kehilangan /kebocoran air(14%)

DATA DEBIT SUATU DAS