Anda di halaman 1dari 14

Mumalah

Ambar Mayashuri (05)


Andri Maulana
(06)
Muhammad Anggawangsha P.P ( 17 )
Pardamean (20)
Sarah Maulina
(25)
Siti Safira Nur
(26)

XI-6

Pengertian Mumalah
Mumalah dalam kamus Bahasa Indonesia artinya halhal yang termasuk urusan kemasyarakatan (pergaulan,
perdata, dsb).
Sementara dalam fiqh Islam berarti tukar menukar
barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara
yang ditempuhnya.

Dalam melakukan transaksi ekonomi, seperti jual-beli,


sewa-menyewa, utang-piutang, dan pinjam-meminjam,
Islam melarang beberapa hal di antaranya seperti berikut.
1. Tidak boleh mempergunakan cara-cara yang batil.
2. Tidak boleh melakukan kegiatan riba.
3. Tidak boleh dengan cara-cara lim (aniaya).
4. Tidak boleh mempermainkan takaran, timbangan,
kualitas, dan kehalalan.
5. Tidak boleh dengan cara-cara spekulasi/berjudi.Tidak
boleh melakukan transaksi jual-beli barang haram.

Macam-Macam Mumalah
JUAL BELI
Jual-beli menurut syariat agama ialah kesepakatan tukarmenukar benda untuk memiliki benda tersebut selamanya.
Melakukan jual-beli dibenarkan, sesuai dengan firman Allah Swt.
berikut ini:

Artinya:... dan Allah telah menghalalkan jual beli dan


mengharamkan riba...
(Q.S. al-Baqarah/2: 275).

A. Syarat-Syarat Jual-Beli
1) Penjual dan pembelinya haruslah:
a) ballig,
b) berakal sehat,
c) atas kehendak sendiri.
2) Uang dan barangnya haruslah:
a) halal dan suci.
b) bermanfaat.
c) Keadaan barang dapat diserahterimakan. Tidak sah menjual
barang yang tidak dapat diserahterimakan.
d) Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli.
e) Milik sendiri.
3) Ijab Qobul
Seperti pernyataan penjual dan pembeli.

B. Khiyr
1. Pengertian Khiyr
Khiyr adalah bebas memutuskan antara
meneruskan jual-beli atau membatalkannya.
Islam memperbolehkan melakukan khiyr
karena jual-beli haruslah berdasarkan suka
sama suka, tanpa ada unsur paksaan sedikit
pun. Penjual berhak mempertahankan harga
barang dagangannya, sebaliknya pembeli
berhak menawar atas dasar kualitas barang
yang diyakininya.

2. Macam-Macam Khiyr
a) Khiyr Majelis, adalah selama penjual dan pembeli
masih
berada
di
tempat
berlangsungnya
transaksi/tawar-menawar,
keduanya
berhak
memutuskan meneruskan atau membatalkan jual-beli.
b) Khiyr Syarat, adalah khiyar yang dijadikan syarat
dalam jual-beli.
c) Khiyr Aibi (cacat), adalah pembeli boleh
mengembalikan barang yang dibelinya jika terdapat
cacat yang dapat mengurangi kualitas atau nilai
barang tersebut, namun hendaknya dilakukan sesegera
mungkin.

C. Rib
1) Pengertian Rib
Rib adalah bunga uang atau nilai lebih atas
penukaran barang. Rib, apa pun bentuknya, dalam
syariat Islam hukumnya haram. Diterangkan dalam
hadis yang diriwayatkan bahwa, Rasulullah mengutuk
orang yang mengambil rib, orang yang mewakilkan,
orang
yang
mencatat,
dan
orang
yang
menyaksikannya. (HR. Muslim).

2) Macam-Macam Rib
a) Rib Fadli,
adalah pertukaran barang sejenis yang tidak
sama timbangannya.
b) Rib Qordi, adalah pinjam meminjam dengan syarat
harus memberi kelebihan saat mengembalikannya.
c) Rib Ydi, adalah akad jual-beli barang sejenis dan
sama timbangannya, namun penjual dan pembeli
berpisah sebelum melakukan serah terima.
d) Rib Nasiah, adalah akad jual-beli dengan penyerahan
barang beberapa waktu kemudian.

Utang-piutang
1. Pengertian Utang-piutang
Utang-piutang adalah menyerahkan harta dan benda
kepada seseorang dengan catatan akan
dikembalikan pada waktu kemudian.
2. Rukun Utang-piutang
1) yang berpiutang dan yang berutang
2) ada harta atau barang
3) Lafadz kesepakatan.

Apabila orang membayar utangnya dengan memberikan


kelebihan atas kemauannya sendiri tanpa perjanjian
sebelumnya, kelebihan tersebut halal bagi yang
berpiutang, dan merupakan suatu kebaikan bagi yang
berutang.
Rasulullah saw. bersabda, Orang yang paling baik di
antara kamu ialah orang yang dapat membayar utangnya
dengan yang lebih baik. (HR. Ahmad dan Tirmidi).
Bila orang yang berpiutang meminta tambahan
pengembalian dari orang yang melunasi utang dan telah
disepakati bersama sebelumnya, hukumnya tidak boleh.
Rasulullah saw. bersabda Tiap-tiap piutang yang
mengambil manfaat maka ia semacam dari beberapa
macam rib. (HR. Baihaqi)

Sewa-menyewa
a. Pengertian Sewa-menyewa
Sewa-menyewa dalam fiqih Islam disebut ijrah, artinya
imbalan yang harus diterima oleh seseorang atas jasa
yang diberikannya. Jasa di sini berupa penyediaan tenaga
dan pikiran, tempat tinggal, atau hewan.

b. Syarat dan Rukun Sewa-menyewa


1) Yang menyewakan dan yang menyewa haruslah telah ballig dan
berakal sehat.
2) Sewa-menyewa dilangsungkan atas kemauan masing-masing,
bukan karena dipaksa.
3) Barang tersebut menjadi hak sepenuhnya orang yang
menyewakan, atau walinya.
4) Ditentukan barangnya serta keadaan dan sifat-sifatnya.
5) Manfaat yang akan diambil dari barang tersebut harus diketahui
secara jelas oleh kedua belah pihak.
6) Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus disebutkan
dengan jelas.
7) Harga sewa dan cara pembayarannya juga harus ditentukan
dengan jelas serta disepakati bersama.