Anda di halaman 1dari 37

Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan

meningkatnya jumlah orang yang menghisap rokok, dan


pesatnya kemajuan industri.
Menurut survei kesehatan rumah tangga (SKRT) bahwa
65% laki-laki lebih beresiko terkena emfisema daripada
wanita yang hanya berkisar 15%. Seorang perokok berat
lebih rentan terkena emfisema 10-15 kali daripada orang
yang bukan perokok.
Emfisema adalah penyakit paru kronik yang ditandai
dengan pembesaran ruang udara yang berada disebelah
distal dari bronkiolus, dengan kerusakan dinding interalveolus.

Definisi
Emfisema paru adalah keadaan pembesaran paru yang
disebabkan oleh menggembungnya alveoli secara
berlebihan yang disertai atau tanpa disertai robeknya
dinding alveoli tergantung dengan kerusakan alveoli. Udara
pernapasan akan terdapat di dalam rongga jaringan
intersisial atau tetap berada didalam rongga alveoli saja.
Proses dapat berjalan secara akut maupun kronik.

Anatomi

Sitem pernafasan dapat dibagi ke dalam sitem pernafasan


bagian atas dan pernafasan bagian bawah.
1. Pernafasan bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung,
sinus paranasal, dan faring.
2. Pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus dan alveolus paru

Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses,


yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan
dari atmosfer ke dalam paru, sedangkan ekspirasi adalah
pergerakan dari dalam paru ke atmosfer. Agar proses
ventilasi dapat berjalan lancar dibutuhkan fungsi yang baik
pada otot pernafasan dan elastisitas jaringan paru.

Etiologi
1. Rokok
2. Polusi
3. Infeksi
4. Genetik
5. Obstruksi jalan napas

Patogenesis
Terdapat 4 perubahan patologik yang timbul pada psien
emfisema paru :
1. Hilangnya elastisitas paru-paru
2. Hiperinflasi paru-paru
3. Terbentuknya bullae
4. Kolapsnya jalan napas kecil dan udara terperangkap

Mekanisme katup penghentian


1. pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat
dari obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau
bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus
menjadi lebih sulit.
2. elastisitas paru yang berkurang penyempitan saluran
nafas

1. Emfisema Centrilobular (Centriaciner Emfisema)


Pelebaran dan kerusakan terjadi pada bagian bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, dan daerah sekitar asinus

2. Distal acinar emfisema


Emfisema paru yang terbatas pada ujung distal alveolus di
sepanjang septum interlobularis dan di bawah pleura
membentuk bula

3. Emfisema Panlobular (Panaciner Emfisema)


suatu proses non selektif yang disebabkan oleh kerusakan
semua bagian paru distal sampai bronkhiolus terminalis

4. Irregular Emfisema
kerusakan pada parenkim paru tanpa menimbulkan kerusakan
pada asinus

Menurut lokasi timbunan udara :


1.Emfisema alveolaris
Emfisema alveolaris adalah jenis emfisema yang timbunan
udaranya masih tertimbun di dalam alveoli.
2.Emfisema interstitialis
Emfisema interstitialis adalah keadaan emfisema di mana
dinding alveoli sudah robek lalu udara yang terjebak tadi lepas
ke ruang interstisial pulmo yang ada di antara alveolus.

Menurut sifat
1.Emfisema kompensatorik Terjadi di bagian paru yang masih
berfungsi, karena ada bagian paru lainyang tidak atau kurang
berfungsi,
misalnya
karena
pneumonia,
atelektasis, pneumothoraks.
2.Emfisema obstruktif
Terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus
yang tidak menyeluruh

Sesak napas : volum paru-paru lebih besar dbandingkan


orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya
dikeluarkan dari paru-paru terperangkap didalamnya
Batuk kronis
Kehilangan nafsu makan sehingga berat badan menrun
Kelelahan
Menghasilkan dahak kuning atau hijau, bibir dan kuku
mungkin biru atau abu-abu menunjukkan oksigen yang
rendah dalam tubuh
Volume paru-paru lebih besar
Dada seperti tong (barel chest)

Hiperinflasi dada
Difragma datar dan rendah dengan pergerakan yang
terbatas saat inspirasi dan ekspirasi
Peningkatan diameter AP dada dengan perluasan pada
rongga retrosternal (barrel chest)
Penampakan bayangan jantung yang tipis, panjang dan
sempit lebih disebabkan oleh inflasi berlebihan dan
diafragma rendah

Perubahan vaskular
Paru secara umum dipengaruhi oleh distribusi
vaskularisasi pulmonal yang secara abnormal tidak rata,
pembuluh darah menjadi lebih tipis, disertai hilangnya
gradasi halus normal dari pembuluh darah yang berasal
dari hilus ke perifer

Emfisema Lobaris
Biasanya terjadi pada bayi baru lahir dengan kelainan tulang
rawan, bronkus, mukosa bronchial yang tebal, sumbatan
mukus.
Gambaran radiologinya berupa bayangan radiolusen pada
bagian paru yang bersangkutan dengan pendorongan
mediastinum kearah kontralateral

Hiperlusen idiopatik unilateral


Emfisema yang unilateral dengan hipoplasia a.pulmonalis dan
gambaran bronkiektasis.

Secara radiologi, paru yang terkena lebih radiolusen tanpa


penambahan ukuran paru seperti umumnya emfisema
lainnya

Emfisema hipertrofik kronik


Terjadi sebagai akibat komplikasi penyakit paru seperti asma
bronchial yang parah, bronkiektasis, peradangan paru berat,
tb.
Gambaran radiologi menunjukkan peningkatan aerasi dan
penambahan ukuran toraks yang biasanya hanya terjadi
pada satu sisi.

Emfisema bulla
Emfisema vesikuler setempat dengan ukuran antara 1-2 cm
atau lebih besar.
Gambaran radiologi, berupa suatu kantong radiolusen di
perifer lapangan paru, terutama bagian apeks paru dan
bagian basal paru.

Emfisema kompensasi
Keadaan ini merupakan usaha tubuh secara fisiologik
menggantikan jaringan paru yang tidak berfungsi.

Emfisema senilis
Merupakan akibat proses degeneratif pada kolumna
vertebralis yang mengalami kifosis di mana ukuran
Anterior-posterior torak bertambah sedangkan tinggi toraks
secara vertikal tidak bertambah.
Secara radiologi, tampak toraks yang lebih radiolusen,
corakan bronkovaskular yang jarang dan diafragma normal.

Emfisema panasiner
kerusakan jaringan paru-paru yang mengubah pola
vaskuler paru, mempengaruhi ventilasi, mengurangi
perfusi paru, dan menimbulkan bendungan udara.
Gambaran radiologi sedikit bayangan vaskular perifer,
khususnya di basal. Diafragma letak rendah,
gambaran jantung yang mengecil. Tanda-tanda
hiperinflasi

Emfisema sentriasiner
kerusakan ruang udara seluruh asinus dan biasanya termasuk
bagian bawah
Gambaran radiologisnya sama dengan gambaran untuk
kondisi primer dan terdapat ruang-ruang kecil seperti
cerobong asap.

Emfisema paraseptal
Kerusakan alveoli paru pad alobus bagian bawah yang
mengakibatkan isolasi dari blebs sepanjang perifer paru.

Ringan
corakan paru meningkat didaerah basal.
Sedang
corakan paru meningkat dibagian basal disertai emfisema,
kadang disertai bronkiektasis di paracardial kanan dan kiri
Berat
ditemukan gambaran radiologi emfisema, bronkiektasis dan
disertai cor pulmonale sebagai komplikasi

Emfisema paru adalah keadaan pembesaran paru yang


disebabkan oleh menggembungnya alveoli secara
berlebihan yang disertai atau tanpa disertai robeknya
dinding alveoli tergantung dengan kerusakan alveoli.
Emfisema ditandai dengan pembesaran permanen rongga
udara yang terletak distal dari bronkiolus terminal disertai
destruksi dinding rongga tersebut
Gambaran foto thorax umum emfisema paru adalah bentuk
thorax kifosis. Dengan aerasi yang bertambah pada seluruh
paru atau lobaris atau segmental, akan menghasilkan
bayangan lebih radiolusen sehingga corakan paru tampak
jelas selain gambaran fibrosis dan vaskulaernya paru
relative jarang.