Anda di halaman 1dari 27

HUKUM

PERIKATAN
PERDATA BARAT
Tim Pengajar Hukum Perdata Barat
Fakultas Hukum Universitas
Indonesia
2006

Istilah
Common
Law

Civil Law
(Indonesia)

Contract
Agreement
Agree
Pact
Covenant
Treaty

Kontrak
Sewa
Perjanjian
Persetujuan
Perikatan

Pengertian

Prof. Subekti

Perikatan hubungan hukum antara 2


pihak/lebih, dimana satu pihak berhak
menuntut, sementara pihak lain berkewajiban
memenuhi tuntutan
Perjanjian suatu peristiwa dimana seorang
berjanji pada orang lain atau 2 orang saling
berjanji untuk melakukan suatu prestasi

Perjanjian Kontrak Perikatan ??


3

Menurut Ps. 1313 KUHPerdata


Suatu perbuatan dimana satu orang atau
lebih mengikatkan dirinya terhadap suatu
orang atau lebih lainnya

Dalam praktek tidak dibedakan istilah


kontrak atau perjanjian atau perikatan.
Dalam teori dibedakan istilah perjanjian
atau perikatan

Sistematika Buku III


KUHPerdata Sumber perikatan

Buku III

Prestasi
Syarat sahnya perikatan
Bagian Umum (1233-1456)
Wanprestasi
Keadaan memaksa
Resiko s.d hapusnya
perikatan
Lex specialis derogat lex generalis

Bagian Khusus

Asas keb.
berkontrak

Nominat

Inominat

15 Perj.
Sumber:
Peraturan Per UU
Kebiasaan

1319
Sistem Terbuka
5

Pengaturan Hukum
Perikatan

Buku ke III
Bab I s.d Bab IV tentang Perikatan Pada
Umumnya
Bab V s.d Bab VII tentang Perjanjian
Khusus
Lihat pasal 1319 KUHPerdata
Ketentuan Bagian Umum berlaku juga pada
perjanjian-perjanjian yang diatur dalam
KUHD
6

Perjanjian
Dalam perjanjian setidak-tidaknya
melibatkan 2 pihak:
Yaitu pihak yang mengajukan penawaran
dan pihak yang menerima penawaran
tersebut
Dalam KUHPerdata disebutkan bahwa
kedua belah pihak itu adalah pihak yang
berkewajiban untuk melakukan prestasi
(debitur) dan pihak yang berhak menuntut
terlaksananya prestasi tersebut (kreditur)
7

Sumber Perikatan
Kongret

Pacta Sunt Servanda


Peristiwa hukum
Perjanjian (1313)

PERIKATAN
UU1233
saja
Ps.
UU 1354, 1359
Halal
Krn Prb Man.
PMH (1365)
8

3 Macam Prestasi (Ps. 1234 KUHPerdata)


1. Memberikan sesuatu (to Geven)
2. Berbuat sesuatu (to Doen)
3. Tidak berbuat sesuatu (Niet Doen)
Macam Perjanjian
Macam-macam perjanjian dapat dilihat dari
KUHPerdata maupun doktrin hukum
9

Menurut
Doktrin
Dilihat dari segi prestasi

Timbal Balik saling memenuhi kewajiban utamanya


Timbal Balik Tidak Sempurna saling memenuhi tetapi
kewajiban tp tidak seimbang. Misal perjanjian pemberian
kuasa (ps. 1792-1808)
Perjanjian Sepihak hanya 1 pihak yang mempunyai
kewajiban. Misal perjanjian hibah (ps. 1666)
Dilihat dari segi pembebanan
Perjanjian Tanpa Beban perjanjian hibah (pemberi hibah
tidak menarik manfaat bagi dirinya sendiri)
Perjanjian Atas Beban (perjanjian yang mewajibkan masingmasing pihak melakukan prestasi)
Dilihat dari segi kesepakatan
Perjanjian Konsesual lahir pada saat tercapainya kata
sepakat diantara para pihak
Perjanjian Riel lahir disamping kata sepakat juga diiikuti
dengan penyerahan barang

10

Menurut KUHPerdata
A.
B.

C.
D.
E.

F.
G.

Perikatan untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak


berbuat sesuatu
Bersyarat jika digantungkan pada suatu peristiwa tertentu yang
akan datang dan masih belum terjadi. Ada 2 macam:
1.
Syarat tangguh
2.
Syarat batal
Ketetapan waktu
Alternatif (manasuka)
Tanggung menanggung Ps. 18 KUHD firma, dikatakan tiap
persero bertanggung jawab secara tanggung menanggung untuk
perikatan firma
Dapat dibagi/tidak dapat dibagi prestasi dalam hal terdapat
beberapa orang debitur/kreditur
Ancaman hukuman diwajibkan pada debitur untuk menjamin
pelaksanaan perikatannya, melakukan sesuatu perbuatan, jika
perikatan tidak terpenuhi.
Ancaman hukum mengandung 2 maksud:
1.
Untuk mendorong debitur melaksanakan kewajibannya
2.
Membebaskan kreditur dari pembuktian tentang
jumlah/besarnya kerugian yang diderita.

11

Perikatan alam (Natuurlijke Verbintenis) secara tegas


tidak diatur dalam KUHPerdata
Satu-satunya pasal yang menyebutkan adalah Ps. 1359
ayat (2) Pembayaran yang tidak diwajibkan tidak boleh
diminta kembali dengan perkataan lain yang tidak
diwajibkan tetap menjadi hak kreditur
Perikatan alam adalah perikatan yang berada ditengahtengah diantara perikatan moral dan perikatan hukum
perikatan yang tidak sempurna, tidak dapat dituntut
dimuka hakim, hutang ada, tp hak menuntut pembayaran
tidak ada tergantung pada kemauan debitur, jika hutang
dibayar menjadi perikatan hukum biasa, hutang pun
hapus karena pembayaran
Yang termasuk perikatan alam
Ps. 1788 KUHPerdata
Pembayaran bunga pinjaman yang tidak diperjanjikan
Sisa hutang pailit, setelah diadakan perjanjian
perdamaian
12

Asas-asas penting dalam hukum


perikatan

Sistem terbuka dan asas konsensualisme - Ps. 1338 (1)

Sistem terbuka x sistem tertutup berkaitan dengan


aanvullend recht (optinal law) atau hukum pelengkap
Konsensualisme lahir pada saat tercapai kata sepakat
o

Pengecualiannya:

Perjanjian formal formalitas tertentu. Misalnya perjanjian hibah akta


notaris
Perjanjian riil

Asas kebebasan berkontrak kebebasan untuk


menentukan isi dan bentuk perjanjian
Asas kekuatan mengikat asas yang menyatakan
bahwa para pihak terkait untuk melaksanakan isi
perjanjian termasuk terikat pada kebiasaan & kepatutan
13

Asas kepribadian asas yang menyatakan bahwa


perjanjian berlaku bagi pihak yang mengadakan
perjanjian itu sendiri (Ps. 1315 jo 1340).
Pengecualiannya ps. 1317
Asas itikad baik ps. 1338 (3) perjanjian harus
dilakukan dengan itikad baik. Itikad baik harus
diartikan objektif maksudnya perjanjian
didasarkan pada keadilan, kepatutan, dan
kesusilaan. Itikad baik dalam buku II KUHPerdata
kejujuran subjektif
Pacta Sunt Servanda
Ps. 1338 ayat (1)
Asas Pacta Sunt Servanda berkaitan dengan akibat
perjanjian adanya asas kepastian hukum
Pada asas ini tersimpul adanya larangan bagi para
hakim untuk mencampuri isi dari perjanjian
14

Syarat-syarat sahnya
perjanjian
Kesepakatan (Consensus)
Subjektif

Kecakapan (Capacity)
Ps. 1320 KUHPerdata
Hal tertentu (Certanty of Terms)
Objektif

Sebab yang halal (Legality)

15

Kesepakatan (Consensus)
Kekhilafan

Bebas

Inti atau pokok perjanjian (objek/prestasi)


thd suatu konsep
Ketidaksesuaian kontrak dgn negosiasi

Paksaan

Psychis (vis compulsiva) relatif


Bukan paksaan fisik

Penipuan

Suatu rangkaian kebohongan yg diatur


perlu dipertimbangkan:
Taraf pendidikan
Kecakapan org yang ditipu

16

Kecakapan (Capacity)

Orang

Ps. 1330 KUHPerdata


Orang belum dewasa
Dibawah pengampuan
Orang perempuan

Subjek Hukum

Badan Hukum

17

Hal Tertentu (Certainty of Terms)


Ps. 1333 KUHPerdata

Pokok

Prestasi

Objek Perjanjian

Ps. 1234 KUHPerdata


1. Memberikan sesuatu
2. Berbuat sesuatu
3. Tidak berbuat sesuatu

18

Sebab yang halal (legality)

Yang dimaksud dengan Sebab adalah isi


perjanjian itu sendiri, yang
menggambarkan tujuan yang akan dicapai
oleh para pihak (Ps. 1377 KUHPerdata)
Isi dari perjanjian itu harus memuat suatu
kausa yang diperbolehkan atau legal
(geoorloofde oorzaak) yaitu:
1.
2.
3.
4.

Undang-undang
Ketertiban umum (openbare orde/public policy )
Kesusilaan (zenden/morality)
PATIHA (Kepatutan, Ketelitian, dan Kehati-hatian)
19

Pelaksanaan Perjanjian

Asas itikad baik (Ps. 1338 (3)) dalam


pelaksanaan prestasi harus bersifat objektif
mengacu pada keadilan, kepatuhan, dan kesusilaan
Harus memuat elemen dari perjanjian sesuai
dengan Ps. 1339 dan 1347
o
o
o
o

Isi perjanjian itu sendiri


Kepatutan
Kebiasaan
UU

Dalam praktek di peradilan, urutannya menjadi


o
o
o
o

Isi perjanjian
UU
Kebiasaan
Kepatutan

20

Penafsiran
o
o

Penafsiran maksudnya untuk mengetahui maksud para


pihak yang membuat perjanjian
UU memberikan pedoman:

Ps. 1342 Penafsiran UU


Ps. 1347 kebiasaan
Ps. 1348 tentang kedudukan janji
Ps. 1349 penafsiran jika ada keraguan
Ps. 1350 kata perjanjian bersifat umum
Ps. 1351 tentang pengurangan & pembatasan kekuatan perjanjian

Eksekusi riel
o
o

Harfiah pelaksanaan pemenuhan kewajiban debitur


Yuridis kreditur dapat mewujudkan sendiri prestasi yang
dijanjikan dengan biaya debitur berdasarkan kuasa yang
diberikan hakim, apabila debitur tidak melaksanakan
prestasi
Ps. 1234 hanya mengatur mengenai eksekusi riel berupa

Berbuat sesuatu
Tidak berbuat sesuatu

21

Tidak terlaksananya perjanjian


Terdapat dua alasan tidak terlaksananya suatu perjanjian, yaitu:
1.
Wanprestasi
2.
Overmacht atau keadaan memaksa
1. Wanprestasi

Pengertian debitur tidak memenuhi apa yang diperjanjikan atau


lalai

Bentuknya
1.
2.
3.
4.

Tidak melaksanakan perjanjian


Tidak sempurna melaksanakan
Terlambat melaksanakan
Melakukan hal yang tidak boleh

Ps. 1238 KUHPerdata debitur dinyatakan lalai dengan surat


perintah/akta sejenis yang menyatakan lalai atau demi perikatannya
Hukuman (akibat) bagi debitur lalai
1.
2.
3.
4.

Ganti rugi
Pembatalan perjanjian/pelaksanaan perjanjian
Peralihan resiko
Membayar biaya perkara

22

Hukuman terhadap wanprestasi


Ad 1. ganti rugi

Segala pengeluaran yang nyatanyata sudah dikeluarkan


Biaya

Pembatasan ganti rugi


1. Ps. 1247
2. Ps. 1248

Ganti rugi:
1. Bersifat material
2. Bersifat immaterial

Ganti Rugi

Rugi
Kerusakan barang-barang
kreditur akibat kelalaian
debitur

Bunga
Kerugian yang berupa
Kehilangan keuntungan
23

Ad. 2 Pembatalan Perjanjian


Tujuannya membawa kedua belah pihak kemabli pada keadaan
sebelum perjanjian
Pasal 1266 KUHPerdata perikatan bersyarat syarat batal, selalu
dianggap ada dicantumkan dalam perjanjian yang timbal balik,
manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban tidak batal
demi hukum tapi dapat dimintakan pembatalan pada hakim. Yang
membatalkan perjanjian bukan kelalaian tetapi putusan hakim
Ad. 3 Peralihan Resiko
Resiko kewajiban untuk memikul kerugian jika terjadi suatu
peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak yang menimpa objek
perjanjian
Pasal 1237 resiko dalam perjanjian pemberian barang
Sejak lahirnya perjanjian resiko di tanggung oleh orang yang
berhak menagih pembayaran
Pasal 1460 resiko dalam jual beli berdasarkan jenis barangnya.
Ps. 1461 s.d 1464
Pasal 1545 resiko dalam perjanjian tukar menukar
Ad. 4 Pembayaran Ongkos Perkara
Pasal 18 (1) HIR
Debitur lalai/kalah, diwajibkan membayar biaya perkara
24

2. Keadaan Memaksa (overmacht)

Overmacht/force majeur
Tiga unsur overmacht adalah
1.
2.
3.

Tidak memenuhi prestasi


Ada sebab yang terletak diluar kesalahan debitur
Faktor penyebab itu tidak dapat diduga sebelumnya dan tidak
dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur

Dua ajaran tentang overmacht:


1.

Ajaran yang objektif (de objektive overmachtsleer) atau absolut

2.

Ajaran yang subjektif (de subjective overmachtsleer) atau relatif

Dalam keadaan memaksa


Unsur impossibilitas
Dalam keadaan memaksa
Unsur diffikultas

Bentuk keadaan memaksa


1.
2.

Bentuk umum karena iklim, kehilangan, dan pencurian


Bentuk khusus undang-undang, peraturan pemerintah, dan
pemogokan
25

Hapusnya perikatan
Dalam praktek hapusnya perikatan:
Jangka waktunya berakhir
Dilaksanakan objek perjanjian
Kesepakatan dua belah pihak
Pemutusan secara sepihak
Adanya putusan pengadilan
Pasal 1381 KUHPerdata
Pembayaran
Penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau
penitipan barang (konsinyasi)
Pembaharuan hutang (novasi)
Perjumpaan hutang (kompensasi)
Percampuran hutang
Pembebasan hutangnya
Musnahnya barang yang terhutang
Batal dan pembatalan
Berlakunya syarat batal
Lewatnya waktu (daluarsa)

26

Kesimpulan

Hapusnya perikatan dapat terjadi karena beberapa sebab yang


secara garis besar dapat dibedakan menjadi:
1. Karena pemenuhan perikatan itu sendiri, yaitu pembayaran,
penawaran pembayaran tunai disertai penyimpanan atau
penitipan, pembaharuan hutang
2. Karena terjadi suatu peristiwa perdata yang menghapuskan
kewajiban kedua belah pihak dalam perikatan, yaitu terjadi
perjumpaan hutang, dan percampuran hutang
3. Karena terjadi suatu perbuatan hukum yang menghapuskan
kewajiban debitur dalam perikatan yaitu pembebasan hutang
oleh kreditur
4. Karena musnahnya objek dalam perikatan, dalam hal ini
dikaitkan dengan suatu kebendaan yang harus diserahkan (jadi
yang terkait dengan perikatan untuk meyerahkan sesuatu)
5. Karena tidak terpenuhi syarat lahirnya suatu perikatan
6. Karena terpenuhinya syarat batal dalam suatu perikatan
bersyarat
7. Karena lewatnya waktu (daluarsa)
27

Anda mungkin juga menyukai