Anda di halaman 1dari 42

Otopsi Forensik dalam Menegakkan Diagnosa

Postmortem pada Kasus Berpotensi Sengketa

Lilik Handayani
Ika Purba Penguji: Dr.dr. Hadi, M. Si. Med
Dosen
Retno
Suminar
Residen
Pembimbing: Dr. Erni Handayani MHKes
ANGGOTA:
Raga Manduaru
Tarasandi Dian
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
DAN STUDI MEDIKOLEGAL
2015

PENDAHULUAN
Kematian
tidak wajar

Berpotensi

Tuntutan hukum atas


pelayanan kesehatan

Kematian
wajar

FORENSI
K

OTOPSI
Otopsi
Forensi
k

Diagnosis
postmortem
untuk
kepentingan
peradilan

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
AUTOPSI

AUTO

OPSIS

SEJARAH AUTOPSI

Sekitar akhir tahun 1200,

Fakultas Hukum Universitas


Bologan
otopsi
untuk
memecahkan
masalahmasalah hukum
Tahun 1500, Autopsi secara

umum diterima oleh Gereja


Katolik,
sehingga
pemeriksaan
terhadap
anatomi
tubuh
manusia
dapat
dilakukan
secara
sistemik

JENIS AUTOPSI

ANATOM
I

FORENSI
K
KLINIK

CARA AUTOPSI
Pemeriksaan luar
Pemeriksaan dalam

1. Insisi ( pengirisan )
a. Irisan I
b. Irisan Y

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
Pemeriksaan
Pemeriksaan
Pemeriksaan

mikrobiologi
toksikologi
serologi (HIV, dan DNA)
biokimia

Sengketa Medik
Sengketa (KBBI) sesuatu yang

menyebabkan perbedaan pendapat,


pertengkaran perbantahan atau dapat
diartikan sebagai pertikaian atau perselisihan.
Sengketa medik pertentangan antara

pasien dengan dokter dan/atau rumah sakit.

Malpraktik
mal yang berarti salah
praktik yang berarti pelaksanaan atau

tindakan
pelaksanaan atau tindakan yang salah
Adanya tindakan yang salah dalam rangka

pelaksanaan suatu profesi (professional


misconduct)

Ada 4 elemen yang harus ditetapkan untuk


membuktikan bahwa malpraktik atau kelalaian
telah terjadi :
1. Duty atau kewajiban
2. Dereliction of that duty (penyimpangan
kewajiban)
3. Damage
4. Direct causal relationship

Dalam UU no 36 tahun 2009 pasal 58


ayat(1) dan (2) dinyatakan sebagai
berikut :
a. Pasal 58 ayat (1) Setiap orang berhak menuntut
ganti rugi terhadap seseorang, tenaga
kesehatan dan/atau penyelenggara kesehatan
yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan
atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.
b. Pasal 58 ayat (2) Tuntutan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak
berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan
tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan
kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

Informed Consent
informed informasi atau keterangan
consent persetujuan atau memberi izin

suatu persetujuan yang diberikan setelah


mendapat informasi
Menurut Permenkes No. 290 Th. 2008:
informed consent didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan medik
yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

Dasar Hukum Informed Consent :


1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun
1992 tentang Kesehatan.
2. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI).
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
290/Men.Kes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran.
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1419/Men.Kes/Per/X/2005 tentang Penyelanggaraan
Praktik Kedokteran.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang
Tenaga Kesehatan.
6. Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88.

Yang harus tercantum dalam


Informed consent (Pasal 45 Undang
undang no. 29 tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran)

diagnosis dan tata cara tindakan medis


tujuan tindakan medis yang dilakukan
alternatif tindakan lain dan risikonya
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

Bentuk Persetujuan Informed


Consent
1. Implied Consent (dianggap diberikan)
2. Expressed Consent (dinyatakan)

Pemberi dan Penerima Informed


Consent
Pemberi informasi dan penerima persetujuan

merupakan tanggung jawab dokter pemberi


perawatan atau pelaku pemeriksaan/ tindakan
untuk memastikan bahwa persetujuan tersebut
diperoleh secara benar dan layak.

Persetujuan diberikan oleh individu yang

kompeten

PEMBAHASAN

Sabtu tanggal 10 April 2010


Di puskesmas
ketuban sudah
pecah berarti air
ketuban sudah
keluar.

Pasien Ny. SM 26 tahun G2P1 A0 , H.


40 41 minggu, dalam persalinan kala
pertama, Janin tunggal hidup letak
kepala,

09.00 WITA s/d pukul 18.00 WITA :


dr. DEWA AYU SASIARY PRAWANI
melakukan"USG (Ultrasonografi)" dan
sebagian tindakan medis tidak
dimasukkan ke dalam rekam medis
18.30 WITA:
tidak
ada
kemajuan
persalinan
dan
dipasang infus

Sabtu tanggal 10 April 2010


Pada waktu kurang
lebih pukul 20.55
WITA

Ruangan Operasi Rumah


Sakit Umum Prof. Dr. R. D.
Kandouw Malalayang Kota
Manado

operasi CITO
SECSIO SESARIA
terhadap SISKA
MAKATEY

Sabtu tanggal 10 April 2010


Tidak pernah disampaikan
kepada
pihak
keluarga
korban
tentang
kemungkinan-kemungkinan
terburuk termasuk kematian

tidak dilakukan
pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan
jantung, foto rontgen
dada dan tekanan darah
160/70 mmHg

pada waktu 20.10 WITA: dr. HERMANUS J.


LALENOH, Sp. An menyetujui untuk
dilaksanakan pembedahan dengan anestesi
resiko tinggi,

Sabtu tanggal 10 April 2010


Selama
operasi sectio
sesaria

nadi 160 (seratus enam puluh) x per menit


saturasi oksigen hanya berkisar 85 % (delapan
puluh lima persen) sampai dengan 87 %
(delapan puluh tujuh persen),

Sabtu tanggal 10 April 2010


nadi pasien
180 (seratus
delapan
puluh) x per
menit

Sesudah operatif

PROF.
NAJOAN
NAN
WARAOUW ,SP.OG
mengatakan bahwa denyut nadi 180 (seratus
delapan puluh) x per menit bukan Ventrikel
Tachy Kardi (denyut jantung sangat cepat)
tetapi Fibrilasi (kelainan irama jantung).

PROF. NAJOAN NAN WARAOUW ,SP.OG


mengatakan bahwa kondisi pasien (korban
SISKA MAKATEY) jelek dan pasti akan
meninggal.

Pukul 22.20 WITA, pasien


dinyatakan
meninggal
dunia
oleh
bagian
penyakit dalam.

Otopsi
Forensik

SISKA MAKATEY meninggal dunia berdasarkan Surat


Keterangan dari Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010, tanggal 26 April
2010 dan ditandatangani oleh dr. JOHANNIS F. MALLO, SH.
SpF. DFM.

dr. JOHANNIS F. MALLO, SH. SpF. DFM


No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010
Korban telah diawetkan dengan larutan formalin, melalui

nadi besar paha kanan


Lama kematian si korban tidak dapat ditentukan, oleh

karena proses perubahan pada tubuh korban setelah


kematian (Thanatologi) sebagai dasar penilaian, terhambat
dengan adanya pengawetan jenazah. Sesuai dengan
besarnya rahim dapat menyatakan korban meninggal dalam
hari pertama setelah melahirkan

dr. JOHANNIS F. MALLO, SH. SpF. DFM


No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010
Udara yang ditemukan pada bilik kanan

jantung korban, masuk melalui pembuluh


darah balik yang terbuka pada saat korban
masih hidup. Pembuluh darah balik yang
terbuka pada korban terjadi pada
pemberian cairan obat-obatan atau infus,
dan dapat terjadi akibat komplikasi dari
persalinan itu sendiri.

dr. JOHANNIS F. MALLO, SH. SpF. DFM


No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010
Sebab kematian si korban adalah akibat

masuknya udara ke dalam bilik kanan jantung


yang menghambat darah masuk ke paru-paru
sehingga terjadi kegagalan fungsi paru dan
selanjutnya mengakibatkan kegagalan fungsi
jantung (VER terlampir dalam berkas perkara).

dr. JOHANNIS F. MALLO, SH. SpF.


DFM
No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010
Infus dapat menyebabkan emboli udara tetapi

kecil kemungkinan dan hal tersebut dapat


terjadi karena efek venturi
efek venturi terjadi yaitu korban meninggal
dunia pukul 22.20 WITA
infus 20 tetes = 100 cc/ menit,

dr. JOHANNIS F. MALLO, SH. SpF. DFM


No. 61/VER/IKF/FK/K/VI/2010
Operasi dilakukan pukul 20.55 WITA
Anak lahir pukul 21.00 WITA
Dalam hal ini udara sudah masuk terlebih

dulu kemudian dilaksanakan operasi


Maka 30 menit sebelum pelaksanaan operasi

sudah terdapat 35 cc udara.

Tes Emboli Paru


1. Buat sayatan I
2. Potong rawan iga mulai dari iga ke-3 kiri dan
3.
4.
5.
6.

kanan, pisahkan rawan iga dan tulang dada


Setelah kandung jantung tampak, insisi I
sepanjang kira-kira 5-7 cm
Masukkan air ke dalam kandung jantung
Dengan pisau ventrikel kanan ditusuk,
kemudian pisau diputar 90
Bila keluar gelembung udara
emboli
vena

Kelemahan
Para Terdakwa hanya memiliki sertifikat

kompetensi
Para Terdakwa tidak mempunyai Surat Ijin
Praktik (SIP) kedokteran
Tidak terdapat pelimpahan/ persetujuan untuk
melakukan suatu tindakan kedokteran secara
tertulis dari dokter spesialis yang memiliki
Surat Ijin Praktik (SIP) kedokteran/
Pemalsuan tanda tangan Informed consent

Informed consent
Di lain pihak, hal yang memberatkan dr. Ayu

dkk. adalah memalsukan tanda tangan pasien


pada lembar persetujuan atau informed
consent.

Hal ini melanggar aturan hukum


KUH Pidana Pasal 351

Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan


pasien atau keluarga terdekatnya, dapat
digolongkan sebagai tindakan melakukan
penganiayaan

Undang-Undang Praktek kedokteran maupun

PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 pasal 11


Ayat 1: Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan
perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan
melakukan tindakan juga harus memberikan
penjelasan
Ayat 2: Perluasan tindakan kedokteran yang tidak
terdapat indikasi sebelumnya, hanya dapat
dilakukan untuk dapat menyelamatkan jiwa pasien.

UU no 29 th 2004 Pasal 45

Tindakan sectio cesarea yang dilakukan

adalah tindakan gawat darurrat yang


sebetulnya tidak membutuhkan informed
consent. Tindakan sectio cesarea pada kasus
dr. Ayu menjadi tindakan emergensi karena
terdapat gawat janin dan partus
terhambat/lama (partus kasep) yang dapat
membahayakan nyawa ibu dan bayinya jika
tidak segera dilakukan.

Sesuai dengan Permenkes

No.290/Menkes/PER/III/2008 pasal 4 ayat (1)


Dalam keadaan gawat darurat untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan/atau
mencegah kecacatan tidak diperlukan
persetujuan tindakan kedokteran.

Kesimpulan
Otopsi

forensik merupakan cara untuk


menegakkan diagnosis postmortem dalam
peradilan. Hal ini berguna untuk membuktikan
sebab kematian pasien yang sebelumnya
belum sempat terdiagnosis dan menjadi suatu
kasus yang bersengketa

Otopsi forensik sangat diperlukan pada kasus

yang berpotensi terjadi munculnya tuntutan


dari keluarga, seperti kasus dr. Ayu di atas.
Dari otopsi forensik pada kasus tersebut,
terbukti bahwa penyebab kematiannya adalah
emboli udara yang ditemukan pada bilik
kanan.

Kepustakaan
1. Idries, A.M., Pedoman Praktis Ilmu Kedokteran Forensik bagi Praktisi Hukum. Cetakan

pertama. Jakarta: Sagung Seto; 2009


2. Idries, A.M., Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta: Binarupa Aksara;
1997
3. Dahlan, S., Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan VI. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro: 2008
4. Prameng LB. et.al. Petunjuk Teknik Otopsi. Cetakan IV. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro: 2012
5. Hamdani, A.M., Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi kedua. Cetakan pertama, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama: 1992
6. Collins, K.A., Hutchins, G.M., An Introduction To Autopsy Technique, USA : College of
American Pathologist : 2005)
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan Atau Jaringan Tubuh Manusia
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan)
9. Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. putusan.mahkamahagung.go.id.
Putusan: Nomor 365 K / Pid / 2012
10. Muth, C, M.D. Erik, S. Shank, M.D. (2000). Gas Embolism. The New England Journal of
Medicine. 342: 476-482. [Online]. Tersedia:
www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJM200002173420706

Terima kasih