Anda di halaman 1dari 115

KULIAH

GASTROENTEROLOGI

SUKENDRO SENDJAJA

Kuliah Mahasiswa S1 FK UWK


23 Oktober 2012

Anatomi
Usus besar dimulai dari ileo-caecal junction
sampai anus.
Terbagi atas

Sekum
Kolon asenden
Kolon transversum
Kolon desenden
Sigmoid
Rektum
Anus

Panjang rata-rata usus besar 135-150 cm


Diameter terbesar sekum ( 8,5 cm )
Diameter terkecil sigmoid ( 2,5 cm )

Tanda Kolon
Tenia yang merupakan lapisan otot
longitudinal
Haustra ( sakulasi )
Apendiks epiploika.

Fisiologi
Fungsi Usus Besar
1.
2.
3.
4.

Menyerap air, vitamin, mineral


Ekskresi mukus
Menyimpan feses
Mendorong feses

Pemeriksaan dan Diagnosis


Anamnesis
Pola defeksi
Frekuensi
Konsistensi
Kaliber
Hematokesia
Tenesmus
Konstipasi

Pemeriksaan dan Diagnosis


Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin
Test darah tersamar

Kolon albumin
Carcino embryonik antigen ( CEA )

Pemeriksaan dan Diagnosis


Pemeriksaan Radiologik
Foto polos abdomen
Foto kontras barium
Foto barium kontras ganda

Pemeriksaan dan Diagnosis


Pemeriksaan endoskopi
Proktoskopi
Deteksi kelainan 8 10 cm dari anus

Rektosigmoidoskopi
Deteksi kelainan 20 25 cm dari anus

Kolonoskopi
Dapat mencapai seluruh kolon

Pemeriksaan dan Diagnosis


Manfaat Kolonoskopi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Diagnostik
Biopsi untuk kofirmasi
Ekstirpasi polip
Mengelola perdarahan
Follow up kelainan kolon
Deteksi dini kanker atau skrening proses lain
Dilatasi anastomose
Mengambil benda asing

Pemeriksaan dan Diagnosis


Pemeriksaan Lain ( bila diperlukan )

Intra Venous Pyelography ( IVP )


Ultrasonography ( USG )
Computerized Tomography Scanning ( CTScan )
Magnetic Resonance Imaging ( MRI )

Tujuan
Menilai infiltrasi dan metastase tumor
Menilai resektabilitas tumor

Divertikel Kolon

Definisi
Protrusi dinding kolon
Berbentuk kantong
dengan leher sempit
Besarnya beberapa
milimeter sampai dua
sentimeter

Divertikel sejati ( true diverticle )

Kantong terdiri dari semua / seluruh lapisan dinding kolon


Divertikel palsu ( false diverticle )
Kantong hanya terdiri dari lapisan mukosa dan submukosa

Patogenesis
Sering ditemukan dikolon, terutama sigmoid
Divertikel sigmoid disebut divertikel pulsi
Penyebab
Tekanan intra luminal yang tinggi
Defek dinding kolon pada tempat keluarnya
arteri ke appendiks epiploika
Tekanan intra lumen tergantung kepadatan
feses

Gambaran Klinik
80 % tanpa gejala
Keluhan :

Nyeri
Obstipasi
Diare
Gangguan motilitas usus

Gejala jelas bila ada komplikasi


Pemeriksaan foto barium dapat membantu
diagnosa
Pemeriksaan endoskopi untuk diagnosa

Divertikulitis
Radang akut dari divertikel
Disebabkan retensi feses
Gejala klinik :

Nyeri lokal
Serangan akut
Konstipasi
Diare

Pemeriksaan foto barium dan endoskopi


dilakukan setelah proses akut reda

Komplikasi Divertikel
Kolon

Divertikulitis
Peridivertikulitis
Abses
Perforasi
Peritonitis
Fistula entero-kolo -vesikal
Perdarahan
Obstruksi karena fibrosis pasca radang

Terapi
1. Tanpa keluhan tidak perlu terapi
2. Fase akut

Puasa
Cairan parenteral
Pemasangan pipa lambung
Antibiotika sistemik
Analgetika

3. Fase tenang
Reseksi kolon
Reseksi sigmoid metode Hartmann

Terapi
4. Terapi bedah diperlukan bila timbul komplikasi :

Perforasi
Perdarahan hebat
Fistula
Obstruksi

Inflammatory Bowel
Diseases

Inflammatory Bowel Diseases


Dua penyakit yang sering dijumpai :
Penyakit Crohn
Kolitis ulserativa
Kedua penyakit ini banyak dijumpai dinegara Eropa
dan Amerika. Saat ini insiden penyakit ini menunjuk
peningkatan di Indonesia

Penyakit Crohn

Penyakit Crohn
(Regional Enteritis)

Penyakit radang
granulomatik
gastrointestinal
Bersifat kronik
progresif
Terutama orang muda

Etiologi
Belum jelas.
Pendapat akhir merupakan kelainan genetik dengan
faktor eksternal sebagai antigen
Terjadi reaksi inflamasi menyebabkan kerusakan
mukosa sampai seluruh tebal dinding usus disertai
penebalan mesenterium.
Mengenai ileum distal (75%) usus besar dan
gastrointestinal yang lain.
Staduium lanjut mukosa berbenjol karena jaringan
granulasi diselingi mukosa yang normanl (cobble
stone appearance)
Dinding usus menebal dengan lumen yang
menyempit.

Gejala
Diare (90%), jarang disertai darah. Perdarahan vang
terjadi bila mengenai usus besar.
Nyeri dengan kolik yang berulang (eksaserbasi akut)
Malnutrisi, anemia, penurunan berat badan.
Kelainan anorektal seperti fisura, fistula dan abses
perirektal.
Masa abdomen kanan bawah.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
Tidak spesifik.
Radiologik :
Penebalan dinding usus (Entero clysis), striktur ,
cobble stone.
Endoskopi :
Aphtae dengan tukak longitudinal.

Indikasi Operasi
Obstruksi
Perforasi
Fistula

Terapi
Steroid :
Prednison 0,25 0,75 mg/Hari ,
Prednisolon.
Sulfasalazine : 1 g/15kg/Hari.

Immunosuppresive :
Azothioprine,
Mercaptopurine
Cyclosporine.

Elementary Diet :
Pada serangan akut.

Surveilan
Kolonoskopi tiap 1 2 tahun
Kecurigaan bila timbul displasia epitel
Angka kekambuhan tinggi, terutama pada
usia muda

Kolitis Ulseratif

Kolitis Ulseratif
Penyakit radang granulomatik terutama
usus besar
Penyakit genetik dengan manifestasi
berbeda
Mengenai usia muda 15-30 tahun dan
usia tua 60 sampai 80 tahun
Mengenai seluruh kolon (pan kolitis),
terutama rektum
Radang menjalar secara horisontal
pada submukosa dan membentuk
tukak.

Gejala Klinis

Gejala utama perdarahan (80%) disertai


Diare (50%) dapat disertai pus
Nyeri, kolik
Dapat mengalami perforasi
peritonitis

Pemeriksaan Penunjang
Radiologik :
Hilangnya haustra (Stiff pipe)
Gambaran pseudo polyp
Sigmoidoskopi
Mukosa rektum granulasi dan mudah berdarah.

Terapi
Sulfasalazin : 2 8 g/hari/p.o.
Serangan hebat :
Hydrocortisone 100-300 mg/hari
Prednisolon 20-80 mg/hari

Diet tinggi serat


Prebiotik bakteri asam laktat

Indikasi Bedah
Fase akut atau perforasi
Kasus kronis dan resisten terhadap steriod
Tindakan bedah yang dilakukan proktokolektomi
dengan ileo-anal anastomosis
Perlu surveilan karena resiko keganasan bila terjadi
displasia epitel

Differential Diagnosis antara


Kolitis Ulceratif dengan Penyakit Crohn
Pemerikasaan

Penyakit Crohn

Kolitis Ulseratif

Bloody Stool

Rare

Common

Abdominal Pain

Common

Rare

Involvement Of Rectum

Rare (20%)

Always

Perianal Lesion

Common

Rare

Fistulae

Common

Rare

Toxic Dilatation

Rare

Rare

Recurrent After Curative Surgery

Common

No

Aphtha

Common

No

Longitudinal Involvement

Common

No

Continuous Involvement

Rare

Regular

Involvement Of Terminal Ileum

Common (80%)

No

Epithelial Cell Granulomas

Present (40%)

No

Endoscopy:

Polip

Polip
Merupakan neoplasma jinak yang berasal
dari epitel mukosa
Terbanyak dikolon dan rektum
Berupa bentukan bertangkai maupun tidak
bertangkai (sesile)
Ada yang berpotensi ganas

Gejala Klinik

Sering tanpa gejala


Perdarahan dan anemia
Perubahan pola defikasi
Komplikasi obstruksi

Diagnosis
Colok dubur
Foto barium kontras ganda
Endoskopi
Proktoskopi
Sigmoidoskopi
Kolonoskopi

Polip Juvenilis

Insiden pada anak usia sekitar 5 tahun


Ditemukan pada seluruh bagian kolon
Biasanya dapat regresi spontan
Gejala klinik
Perdarahan spontan
Kadang disertai lendir

Selalu bertangkai, sering menonjol keluar


Terapi tidak perlu agresif

Makroskopis
Polipoid
Skirus
Ulseratif

Polip Adenomatosa

Insiden didapatkan pada usia > 20 tahun


Insiden meningkat dengan meningkatnya usia
Letak 70 % pada sigmoid dan rektum
Sifat premaligna
Harus dilakukan operasi

Poliposis Kolon
(Familial Poliposis)

Herediter
Polip majemuk
Tersebar pada seluruh kolon
Potensial ganas ( 60 % kasus )
Insiden pria = wanita
Diagnosa ditegakkan
berdasarkan
Riwayat polip pada keluarga
Foto barium
Endoskopi

Pencegahan :
Pemeriksaan berkala pada
keluarga yang beresiko

Poliposis Kolon
Sindroma Gardner
Heriditer
Polip majemuk
Osteoma mandibula, calvaria
Tumor jaringan lunak
Potensial maligna

Karsinoma Kolon dan Rektum

Epidemiologi
Keganasan peringkat ke-3 di USA
Di Indonesia (BKKI)

Karsinoma kolon peringkat ke-7

Karsinoma rektum peringkat ke-10

Karsinoma kolo rektal peringkat ke-6


Insiden pria sama dengan wanita
Insiden cenderung pada usia lebih muda

Mikroskopis
1. Adeno Karsinoma

Diferensiasi baik
Diferensiasi sedang
Diferensiasi jelek

2. Leiomiosarkoma
3. Limfoma maligma

Etiologi
Belum diketahui pasti
Faktor prediposisi
Polip adenomatosa
Poliposis
Radang kolon kronis

Faktor diet
Kaya lemak
Rendah serat

Faktor genetik

Diet Lemak

Lemak

Kolesterol
Asam Empedu

Sterol (pada kolon)

Bakteri
Anaerob

Sintesa
Hepar

Asam Empedu
Sekunder

Karsinogenik

Distribusi
Terbanyak pada rektum
Kecenderungan
Karsinoma rektum
Karsinoma kolon asenden

Diagnosis
ANAMNESA

Perubahan pola defikasi


Frekuensi
Konsistensi tinja
Konstipasi
Kaliber
Berak lendir dan hematokesia
Tenesmus
Nyeri perut
kolik
menetap

Diagnosis
PEMERIKSAAN FISIK

Anemia
Massa dirongga abdomen
Tanda obstruksi
Darah dan lendir pada colok dubur
Penurunan berat badan

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Test darah tersamar
Test kolon albumin
Carcino embryonic antigen (CEA)

Diagnosis
Pemeriksaan Penunjang
Foto Kolon
Barium enema dan kontras ganda

Ultra Sonogafi
Identifikasi metastase
Menilai reseklabilitas

Intra Venous Pyelography (IVP)


Menilai infiltrasi ke sistem urinari

Thoraks Foto
Metastase paru

Pemeriksaan Penunjang
Endoskopi
Proktoskopi
Deteksi kelainan 8-10 cm dari anus
Polip rekti
Hemorhoid
Karsinoma rektum

Sigmoidoskopi
Mencapai 20 25 cm dari anus
Diagnostik
Kauterisasi
Kolonoskopi
Dapat mencapai sekum

Karsinoma Kolon Kanan

Nyeri tumpul
Teraba massa pada 1/3 kasus
Anemia
Sering diare
Sifat tumor
Fungating
Besar ulserasi rapuh

Karsinoma Kolon Kiri


Keluhan yang sering konstipasi
Kadang dapat juga diare
Keluhan kaliber feses megecil
Keluhan obstruksi
Sifat tumor
Tumbuh anuler dan
konstrikting sehingga
menyebabkan obstruksi

Karsinoma Rektum
Berak darah dan lendir
Tenesmus
Sering didiagnosa sebagai
hemorhoid
Sifat tumor
Ulseratif
Vegetatif
Infiltratif
Diagnosa
Colok dubur
Proktoskopi
Sigmodoskopi

Stadium
DUKES (1932) menciptakan stadium patologi berdasar:
Kedalaman invasi dinding kolon
Adanya metastase kelenjar
Stadium menurut DUKES populer karena :
Mudah dilakukan
Mudah diingat
Mudah dimengerti
Praktis

Stadium Menurut Dukes


(Modifikasi)

Dukes A :
Mukosa dan muskularis mukosa
Kelenjar negatip

Dukes B :
Seluruh dinding kolon
Kelenjar negatip

Dukes C1 :
Seluruh dinding kolon
Kelenjar sekitar kolon positip

Dukes C2 :
Kelenjar pangkal pembuluh darah positip

Dukes D :
Metastase ke organ yang berdekatan
Metastase jauh (hepar, paru)

Stage Grouping (TNM)


(IUCC International Union Against Cancer)

Stage 0

Tis

N0

M0

Stage I

T1

N0

M0

T2

N0

M0

T3

N0

M0

T4

N0

M0

Any T

N1

M0

Any T

N2, N3

M0

Any T

Any N

M1

Stage II
Stage III
Stage IV

Dukes
A
B
C
D

Penyebaran
1.
2.
3.

4.

5.

Penyebaran langsung ke organ sekitar tumor


Hematogen : sistem porta hepar
sistemik paru
Limfogen:
kelenjar para kolon
kelenjar meso kolon
kelenjar para aorta
Trans peritoneum
rongga peritoneum disebut abdominal karsino
matosis
Intra lumen
Jarang terjadi pada mukosa yang utuh

Pembedahan
Kolon Kanan :
Hemikolektomi kanan
Ileo - Transverostomi

Kolon Kiri :
Hemikolektomi kiri Kolo
-Sigmoidostomi

Kolon Transversum :
Kolotransvesectomi Kolo
Kolostomi

Kolon Sigmoid :
Reseksi Anterior Kolo Rektostomi

Rektum Letak Tinggi


Reseksi Anterior Kolo Rektostomi

Rektum Letak Rendah


Reseksi Abdomino Perineal
Dengan Permanen Kolostomi
(Operasi Miles)

Pembedahan Paliatif
Reseksi tumor dan anastomosis
By pass (pintas usus)
Kolostomi diversi
Tindakan operasi paliatif bertujuan mengatasi
keluhan tetapi tidak merubah jalannya penyakit

Pengobatan Penunjang
(Adjuvant)
1.

Radiasi
Pra bedah
Pasca bedah
Kombinasi ( sandwich )

2.

Kemoterapi
Obat tunggal : 5 fluorouracil
Obat kombinasi
:
5 fluorouracil
Levamizol
Calcium leucovorin
Irinotecan
Kombinasi : Kemo - Radiasi

3.

Prognosa
Tergantung pada
1.
2.
3.
4.

Stadium penyakit
Diferensiasi patologi
Komplikasi yang ditimbulkan
Penyakit sekunder yang menyertai

Ketahanan Hidup 5 Tahun


Dukes

5 YSR

97-100%

80%

C1

60%

C2

35%

<5%

Deteksi Dini
Dilakukan dengan skrining pada golongan resiko tinggi
1. Penderita dengan familial adenomatous polip
- skrining dimulai pada usia pubertas
2. Penderita dengan hereditary non poliposis
colorectal cancer (HNPCC)
- skrining dimulai pada usia 21 tahun
3. Penderita dengan penyakit infeksi usus (ulcerative
colitis)
- skrining 7-8 tahun setelah diagnosa
4. Ada riwayat keluarga yang menderita kanker atau
kondisi pre maligna yang lain
- skrining dimulai pada usia 30 tahun

Follow Up

Kekambuhan sering pada 2 tahun pertama


Perlu follow up
1.
2.
3.
4.
5.

Ba inloop tiap 3 bulan


Kolonoskopi tiap tahun
Thoraks foto
Darah lengkap dan fungsi hati tiap 6 bulan
CEA -> 2 tahun pertama tiap 2 bulan dan 2 tahun berikut
tiap 4 bulan
CEA
kekambuhan imaging
kondisi lain

Penyakit preMaligna
pada Kolon dan Rektum
1.
2.
3.
4.
5.

Adenoma diameter diatas 1 cm kemungkinan


maligna
Familial adenomatous poliposis
Non poliposis hereditary colon cancer (HNPCC)
Inflamatory bowel diseases
Irradiation proctocolitis

Hemoroid

Hemoroid
Pelebaran vena pleksus hemoroidalis
Hemoroid Interna
Pelebaran pleksus v. hemoroidalis
superior
Diliputi mukosa
Posisi kanan depan, kanan belakang dan
kiri lateral (jam 3 7 11)
Drenase ke vena hemoroidalis superior
selanjutnya ke vena porta
Hemoroid Eksterna
Pelebaran pleksus vena hemoroidalis
inferior
Dibawah garis muko kutan
Diliputi epitel anus
Drenase kevena sistemik selanjutnya ke
vena cava

Etiologi
Simptomatik
Tekanan perut meningkat vena melebar,berkelokkelok menonjol
Faktor Penyebab :
Mengejan
Konstipasi
Kehamilan
Obesitas

Gejala

Perdarahan saat defikasi


Darah merah segar, tidak bercampur feses
Anemia
Prolap saat defikasi
Iritasi perianal pruritus ani
Nyeri timbul bila terjadi :
Trombus
Edema
Radang

Pemeriksaan
Hemoroid Interna
Tampak saat prolap
Anus diregang dan penderita mengejan
Anoskop dilakukan bila tidak prolap
Untuk menetukan letak
Ukuran
Derajad

Hemoroid Eksterna
Tampak pada inspeksi
Proktosigmoidoskopi
Untuk menyingkirkan proses keradangan dan keganasan

Derajat Hemoroid
Derajat I

Perdarahan per anus


Prolap ()
Mikroskopis pelebaran pleksus

Derajat II

Prolap Bisa reduksi spontan

Derajat III :
Prolap Perlu reduksi manual

Derajat IV :
Prolap dan tidak dapat direduksi

Diagnosa Banding
1. Perdarahan
- karsinoma kolo rektal
- divertikel
- polip
- kolitis ulserosa
2. Benjolan yang keluar
- prolap rektum
3. Tumor anorektal
- kondiloma
- fissura anus

Komplikasi
1.
2.
3.
4.

Perdarahan
Prolap yang tidak dapat direduksi
Tombosis infark mukosa
Septik emboli abses hepar

Terapi
Tujuan terapi bukan
menghilangkan pleksus
hemoroidalis tetapi menghilangkan
keluhan

Terapi
1. Konservatif

Derajat I dan II
Diet tinggi serat
Supositoria dan salep anus

Bila prolap

Efek anestetik
Astringen
Reposisi
Kompres lokal
Rendam duduk cairan hangat

Atasi penyakit radang kolon yang mendasari

Terapi
2. Skleroterapi
- Fenol oli 5%
- Submukosa untuk menimbulkan radang
steril
- Komplikasi :
- infeksi
- prostatitis
- hipersensitivitas
- Dikombinasikan dengan nasehat diet kaya serat

Terapi
3. LIGASI GELANG KARET
- Tehnik Barron
- Iskaemia nekrosis fibrosis
- Interval 2 4 minggu
- Nyeri
- Sering perdarahan pada hari ke 7 - 10

Terapi
4. Hemoroidektomi
Indikasi :
-

Derajat III dan IV


Perdarahan berulang dan anemia
Derajat IV dengan trombosis
Terapi biasa gagal

Terapi
5. Bedah Beku
- Memakai gas CO2 atau N2O
- Nekrosis mukosa sulit dikontrol
- Penyembuhan lambat
6. Lain-lain
Dilatasi (LORD)
Infra red koagulasi (IRC)
Diatermi

Hemoroid Eksterna
Manifes bila terjadi trombosis
Klinis

Nyeri
Kulit tegang
Benjolan kebiruan
Terjadi pada tekanan perut yang tiba-tiba meningkat

Terapi
Analgetika
Rendam air hangat
Eksisi trombus

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Kriteria Diagnosis (Rome II) :
Keluhan berupa rasa tidak nyaman atau nyeri di abdomen yang telah
berlangsung selama 12 minggu (tidak perlu berurutan) dan telah
berlangsung dalam 12 bulan terakhir dan tidak bisa dijelaskan oleh adanya
abnormalitas secara struktur maupun biokimiawi, disertai dengan adanya
2 dari 3 hal berikut :
1. Nyeri hilang dengan defekasi; dan/atau
2. Awal kejadian dihubungkan dengan perubahan frekwensi defekasi;

dan/atau
3. Awal kejadian dihubungkan dengan adanya perubahan bentuk feses.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Gejala lain yang mendukung diagnosa IBS :
Ketidaknormalan frekwensi defekasi.
Kelainan bentuk feces.
Ketidaknormalan proses defekasi (harus dengan mengejan,

inkontinensia defekasi, atau rasa defekasi tidak tuntas).


Adanya mukus/lendir.
Kembung atau merasakan distensi abdomen.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Subgrup IBS :
IBS predominan nyeri
Nyeri di fosa iliaka, tidak dapat dengan tegas menunjukkan lokasi

sakitnya.
Nyeri dirasakan lebih dari 6 bulan.
Nyeri hilang setelah defekasi.
Nyeri meningkat jika stress dan selama menstruasi.
Nyeri dirasakan persisten jika kambuh terasa lebih sakit.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


IBS predominan diare
Diare pada

pagi hari sering dengan urgensi.

Biasanya disertai

rasa sakit dan hilang setelah defekasi.

IBS predominan konstipasi


Terutama wanita.
Defekasi tidak lampias.
Biasanya feses disertai lendir tanpa darah.

IBS alternating pattern


Pola

defekasi yang berubah-ubah: diare dan konstipasi.

Sering

feses keras di pagi hari diikuti dengan beberapa kali defekasi dan feses menjadi cair pada

sore hari

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Daftar Pertanyaan untuk Diagnosis IBS :
Apakah nyeri yang dirasakan hanya pada satu tempat atau

berpindah-pindah? (Pada IBS berpindah-pindah).


Seberapa sering merasakan nyeri? (Pada IBS tidak tentu).
Berapa lama nyeri dirasakan? (Pada IBS sebentar).
Bagaimana keadaan nyeri jika pasien buang air besar atau

flatus? (Pada IBS akan lebih nyaman).

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Gejala alarm lebih menjurus ke penyakit organik :
Onset umur lebih besar dari 55 tahun.
Riwayat keluhan pertama kali kurang dari 6 bulan,
Perjalanan penyakitnya progresif atau sangat berat.
Gejala-gejala timbul pada malam hari.
Perdarahan per anus.
Anoreksia.
Berat badan turun.
Riwayat keluarga menderita kanker.
Pemeriksaan fisik ditemukan kelainan misal adanya distensi abdomen, anemia atau demam.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Diagnosis Banding :

Kanker kolorektal.

Divertikulitis.

Inflammatory Bowel Disease (IBD).

Obstruksi mekanik pada usus halus atau kolon.

Infeksi usus.

Iskemia usus.

Maldigesti dan malabsorbsi.

Endometriosis pada pasien yang mengalami nyeri saat menstruasi.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)


Pengobatan :

Diet

Modifikasi diet terutama peningkatan konsumsi serat dan air disertai olahraga rutin pada IBS
dengan konstipasi, sedangkan pada IBS dengan diare, konsumsi serat dikurangi.

Psikoterapi

Pasien dengan IBS biasanya mempunyai rasa cemas yang tinggi atas penyakitnya.

Obat-obatan

Antispasmodik: mebeverine, hiosin N butilbromida.


Tegaserod.
Anti diare: loperamide.

PANCREATITIS

Fungsi eksokrin pankreas:


- mengekskresi 1500 cc cairan pankreas / hari
(air, ion, protein)
- mensekresi ensim (amilase, lipase, deoksiribonuklease,
ribonuklease)dihasilkan oleh sel aciner
- mensekresi proensim atau zimogen (tripsinogen,
kemotripsinogen, proelastase, prokarboksipeptidase,
fosfolipase A2)
- sekresi cairan pankreas dikontrol oleh hormon secretin
dan cholecystokinin (CCK)
Fungsi endokrin pankreas:
- mensekresi insulin dari sel beta langhan

hati
lambung
Kd empedu
Usus 12 jr
pankreas
Usus bsr

Pankreatitis Akut
Definisi:
suatu sindroma klinik hasil dari proses
inflamasi akut dan autodigesif yang bersifat
obstruktif dari jaringan pankreas dan peri
pankreas
Kematian pada pankreatitis akut dalam waktu 12 hari biasanya disebabkan oleh nekrosis
pankreas, hemorragic, atau sepsis
Subklasifikasi: ringan, berat (necrotizing)
Peradangan pankreas ditandai:
muntah, nyeri perut akut, kenaikan ensim
pankreas (darah dan urine) (lipase/amilase)

Kausa
1.
2.
3.

4.

5.

6.

Alkohol
Peny tr biliaris
Trauma (abdomen,
post-operatif, postERCP, post electrikshock)
Infeksi (viral,
bakterial, parasit
Metabolik (lipid, Ca,
uremia, posttransplan ginjal,
depositFe, DM
kehamilan, malnutrisi
Heriditer (familial,
cyctic fibrosis)

7. Racun (bisa, anorganik,


organik)
8. obat-obatan
(imunosupresif, diuretik,
antimikroba, steroid,
miscellaneous)
9. Vasculer (vaskulitis,
shock, emboli, infark
mesenterik/miokardial
10. Mekanik (pancreas
divisum + obstruksi,
stenosis ampula vateri,
ca duodenum, ca
pankreas,
choledochocele
11. idiopatik

Patogenesis

Pro-inflammatory:
IL-1
IL-6
TNF
PAF (platelet act.fact)
MIP1-a
Substance p

Anti-inflammatory:
C5a
IL-10
IL-11

Mediator inflamasi pada pankreatitis akut

Gejala klinis
1.

2.
3.
4.
5.

6.
7.

Nyeri epigastrik
menjalar ke pinggangpunggung
Mual-muntah dan ileus
Demam
Shock
amilase/lipase 10-20
normal
Koagulopati (DIC)
Komplikasi
pleuropulmonar

8. Kuning
9. Hipokalsemia
10. Asidosis metabolik
11. Hiperkalemia /
hipokalemia
12. Hiperlipidemia
13. Hiperglikemia
14. Pancreatic
phlegmon, abses,
pseudokista atau
asites

Ransons criteria
Kriteria saat pasien didiagnosis atau dipondokan
- Umur > 55 tahun
- AL > 16.000 /L
- Glukosa > 200 mg/dL
- LDH > 350 IU/L
- AST > 250 IU/L
Kriteria perkembangan penyakit selama 24 jam pertama
- Hematokrit turun > 10%
- BUN meningkat > 5 mg/dL
- Ca < 8 mg/dL
- Arterial PO2 < 60 mmHg
- defisit basa > 4 meg/L
- perkiraan fluid sequestrasi > 6 L
Korelasi angka mortalitas dg jumlah kriteria
Jumlah kriteria
mortalitas
0-2
3-4
5-6
7-8

angka
1%
16%
40%
100%

Pankreatitis akut hemorragic

Pankreatitis akut

Pankreatitis akut
Pemeriksaan: USG, CT scan, MRI
Penatalaksanaan:
- Konservatif
- analgetik kuat
- puasa
- nutrisi parenteral total
- hisap cairan lambung
- antibiotik bila pasien panas tinggi > 3
hari
atau terbukti ada kolelitiasis

Pankreatitis akut
Yang sering dilakukan pasien dengan pankreatitis
(70% inflamasi) di rawat inap adalah:
- puasa dalam waktu 7 10 hr
- tube feeding enteral dan TPN kontra indikasi
Seharusnya secepatnya nutrisi diberikan sebelum
7 hari utk menghindari malnutrisi
puasa hanya 48 72 jam
Oleh karena nyeri timbul bila kadar lipase > 3x
Durasi nyeri dapat memanjang >11 hr

Pankreatitis akut
Kapan oral feeding di berikan ?
1. Nyeri hilang
2. Nafsu makan mulai muncul
3. Lipase < 3 x normal
4. Peristaltik usus normal
.

Diet enteral dimulai -dengan diet cair untuk 24 jam


pertama, kemudian ditingkatkan sesuai yg dpt
ditoleransi
pilihan diet : rendah lemak.

Pankreatitis akut
- Operasi
apabila terjadi pemberatan dg konservatif tidak
berhasil, dapat dilakukan pembedahan:
- ekplorasi dan drainase
- dekompresi sal empedu
- drainase pseudokiste

Pankreatitis Kronik
Definisi:
Inflamasi kronik pada parenkim hingga
terjadi kerusakan yang progresif pada
acini, stenosis dan dilatasi ductus, serta
fibrosis kelenjar eksokrin
Subklasifikasi:
. Lithogenik
. Obstructive
. Inflammatory
. fibrosis

Patogenesis pankreatitis kronik


1. Big duct mechanism
-Refluks biliari-pancreas
-Sfingt er oddi obstruksi atau
hipersensitif
- permeabilitas ductus
2. small duct mechanism
- viskositas atau hipersekresi
protein
- lactoferin
-lithostatin
3. Aciner cell mechanism
Metabolik toksik, radikal bebes,
hiperstimulasi lekosit,
hiperaktivitas
lisosomal kolinergik, abnormal
metab protein, stellate cellinduced
fibrosis, necrosis-fibrosis squensis

Pankreatitis kronik

Pankreatitis akut dapat berlanjut menjadi


pankreatitis kronis:
Pada pankreatitis akut terjadi necrosis sel
aciner dan lemak serta infiltrasi sel-sel
inflamasi
Kemudian pankreatitis sembuh dan menjadi
jaringan fibrosis
Akhirnya sel-sel aciner mengalami atrofi,
terbentuk endapan protein, batu, striktur
ductus serta ectasia.

Pankreatitis kronik

GEJALA KLINIK

DIAGNOSIS
1.

.
.
.
.
.
.
.

Nyeri abdominal
Nausea
Vomitus
Weight loss
Malabsorbtion
Hyperglicemia
jaundice

2.

3.
4.
5.

6.

Ro Plain abdomen
(Kalsifikasi pankreas)
USG Abdomen
(kalsifikasi, atrofi,
pelebaran ductus)
CT-scan abdomen
MRI
Endoskopi
ultrasonografi
ERCP

Pankreatitis kronik

Tes fungsi pankreas


Laboratorium:
glukosa, amilase N, lipase N, tripsin
Fecal elastase, fecal fat
2. Indirek tes: (insufisiensi eksokrin)
Untuk pancreatitis berat
3. Direk tes: ( stimulasi hormonal)
1.

Diferensial diagnosa
- Abdominal pain
- Ca pancreas

Terapi pankreatitis kronik


Steatorrhe :
- tx ensim lipase saat 4 jam prandial dan post prandial
- Diet: sedang lemak (30%), tinggi protein (24%),
rendah karbohidrat (40%). Kurangi long-chain
triglyceride, perbanyak medium-chain triglyceride
2. DM
- OAD atau insulin
3. Nyeri abdomen
..
Tx medik: analgetik kuat hingga narkotika
..
Tx blok pada plexsus celiac (inj obat anastesi atau
alkohol intra pancreas)
..
Operasi
1.

Komplikasi pankreatitis kronik


1. Episode pankreatitis akut berulang
2. Pankreatitis pseudocyst
perdarahan, infected, obstruksi
3. Pancreatic Fistula
4. Perdarahan gastrointestinal
5. Carsinoma pankreas

Terimakasih
semoga bermanfaat