Anda di halaman 1dari 16

SYPHILIS: USING MODERN APPROACHES

TO UNDERSTAND AN OLD DISEASE


Emily L. Ho and Sheila A. Lukehart
Department of Neurology, Department of Medicine, and Department of
Global Health,
University of Washington School of Medicine, Seattle, Washington,
USA.

JOURNAL READING
I11111041 ELOK NUR FARIDA ANGGRAINI

SIFILIS PRIMER

Treponema pallidum subsp. Pallidum biasanya


ditularkan secara seksual melalui mikroabrasi pada
membran mukosa atau kulit dan secara cepat
memasuki aliran darah untuk menyebar ke jaringan lain
Treponema pallidum menempel pada sel epitel dan
komponen matriks ekstrasel pada kulit dan mukosa.
Protein Treponema pallidum yang memediasi
penempelan:

TP0155 dan TP0483, terikat pada matriks fibronektin,


TP0136, juga terikat pada fibronektin,
TP0751, terikat pada laminin. Protein ini dapat
mendegradasi laminin dan fibrinogen menggunakan
domain zinc-dependent protease sehingga dapat menyebar
ke jaringan lain dan aliran darah

SIFILIS PRIMER

T. pallidum bereplikasi pada lokasi inokulasi awal,


membelah setiap 30-33 jam, menyebabkan respons
inflamasi lokal dan tanpa rasa sakit sekitar 3-6
minggu setelah infeksi awal. Proliferasi diikuti oleh
respons sel imun, termasuk sel T CD4 + dan CD8+, sel
plasma, dan makrofag, yang menghasilkan sitokin IL-2
dan IFN-
Nekrosis jaringan dan ulkus terjadi akibat vaskulitis
pembuluh darah kecil dan keterlibatan sel imun
menyebabkan limfadenopati regional. Dalam 3-8
minggu, terjadi penyembuhan dan hilangnya T.
pallidum pada area lokal. Akan tetapi T. pallidum telah
menyebar secara sistemik pada berbagai jaringan dan
organ, membentuk tahap sifilis sekunder.

SIFILIS SEKUNDER

Pada sifilis sekunder, endoflagella T. pallidum


memungkinkan untuk melewati tight
junctions diantara sel endotel memasuki
ruang perivaskular, dimana treponema dan
sel imun berakumulasi dalam jumlah besar.
Berdasarkan mikroskop elektron, T. pallidum
dapat secara transcytosis menyebar
melewati endotel, menginduksi
pembentukan MMP-1, yang mendegradasi
kolagen menyebabkan penyebaran sistemik.

GEJALA SIFILIS

Biasanya dalam 3 bulan pascainfeksi, gejala


sifilis sekunder mulai terlihat.

Gejala paling sering: ruam maculopapular yang


luas.
Gejala tambahan termasuk malaise, penurunan
BB, nyeri otot, limfadenopati general, alopesia,
meningitis, inflamasi okular, patch mukosa
(inflamasi lokal pada jaringan mukosa di rongga
mulut dan genital, hepatitis, dan dismotilitas
gaster, menunjukkan invasi T. pallidum dan
infiltrasi sel imun pada jaringan ini.

DIAGNOSIS SIFILIS

Pemeriksaan antibodi untuk screening dan


diagnosis sifilis.

Antibodi non-treponemal yang melawan


phospholipids, dideteksi dengan rapid plasma reagin
(RPR) test, Venereal Disease Research Laboratory
(VDRL) test, dan toluidine red unheated serum test
(TRUST)
Antibodi treponemal yang melawan T. pallidum
dideteksi dengan immunofluoresensi pada fluorescent
treponemal antibody-absorbed (FTA-ABS) test atau
dengan agglutinasi T. pallidum hemagglutination
(TPHA) atau T. pallidum particle agglutination (TP-PA)
test

NEUROSIFILIS

Secara klasik dikenal sebagai sifilis tersier.


Penegakan diagnosis dengan manifestasi klinis dan
abnormalitas cairan serebrospinal (CSS) seperti
peningkatan sel darah putih, peningkatan protein CSS,
ataupun CSS yang reaktif dengan VDRL. Banyak penderita
yang asimptomatik padahal terjadi abnormalitas CSS.
Pasien yang asimptomatik mampu mengontrol infeksi T.
pallidum, akan tetapi faktor yang mendasari perkembangan
infeksi pada pasien yang simptomatik belum diketahui.
Neurosifilis simptomatik dan asimptomatik biasanya
ditandai dengan titer serum RPR1:32 atau lebih besar, atau
pada pasien HIV ketika hitung sel T CD4 + darah perifer
adalah 350/l atau lebih sedikit.
Marker diagnostic untuk neurosifilis B cell chemokine
CXCL13

NEUROSIFILIS

Pada sifilis tersier yang laten, walaupun


terdapat respons imun lokal berupa
hilangnya T. pallidum dari lesi primer
dan sekunder, treponema terdapat pada
banyak jaringan tanpa menyebabkan
gejala klinis.
Tahap ini dapat terjadi penularan infeksi
selama kehamilan, akan tetapi transmisi
secara seksual jarang terjadi.

Mekanisme T. pallidum Tahap Laten

Menurut penelitian, T. pallidum bisa menghindari


respon imun dengan variasi antigen pada protein
permukaan bakteri, hal ini sesuai dengan resistensi
fagositosis pada treponema yang lolos dari clearance
lesi primer.
Pada beberapa pasien ,dapat terjadi reaktivasi dari
infeksi kronis laten menjadi sifilis tersier dalam waktu
tahun-dekade dan dapat mengenai banyak organ.
Penelitian di Oslo pada era pre-antibiotik, sekitar 1/3
pasien dengan sifilis laten berkembang menjadi sifilis
tersier. Pada era antibiotik, sifilis tersier jarang
ditemui.

HIV dan SIFILIS

Tahun 2002, CDC melaporkan 25% kasus sifilis


primer dan sekunder terjadi pada pasien HIV.
Insidensi sifilis pada pasien HIV meningkat 77
kali lipat daripada populasi umum.
Jumlah kasus sifilis tahap awal terus meningkat
di seluruh area geografis, terutama pada men
who have sex with men (MSM), dan pria
maupun wanita African American. Peningkatan
insidensi dapat terjadi akibat risiko kebiasaan,
serta faktor imunologis dan bakteriologis.

HIV dan SIFILIS

Masih belum jelas apakah koinfeksi dengan HIV


memperparah manifestasi klinis sifilis tahap
awal ataupun neurosifilis.
Abnormalitas klinis dan CSS pada neurosifilis
lebih umum terjadi pada pasien HIV dengan
hitung sel T CD4+ kurang dari atau sama
dengan 350 cells/ml. Pasien HIV dengan
neurosifilis mempunyai konsentrasi RNA HIV
yang lebih tinggi pada CSS, menunjukkan
mungkin terdapat hubungan antara sifilis dan
HIV pada SSP.

TATALAKSANA SIFILIS

Penicillin parenteral telah digunakan selama 50


tahun untuk perbaikan klinis dan pencegahan
transmisi seksual.

Benzathine penicillin G (BPG) digunakan untuk terapi


standar sifilis, dan aqueous penicillin untuk
neurosifilis.

Antibiotik golongan macrolides dan tetracycline


merupakan alternatif untuk pasien tidak hamil
yang alergi penisilin dengan efisiensi terapi yang
sama dengan BPG. Akan tetapi tahun 1977
dilaporkan T. pallidum yang resisten terhadap
golongan ini.

VAKSIN SIFILIS

Dalam tahap penelitian pada kelinci,


menghasilkan proteksi yang parsial.

KESIMPULAN

Sifilis adalah salah satu penyakit infeksi


menular seksual, dimana walaupun
tersedia pengobatan efektif, insidensinya
terus meningkat di banyak tempat di dunia.
Pengetahuan mengenai patogenesis sifilis
dan kemampuan respons imun
berkembang pesat pada dekade terakhir
ini, yang diharapkan dapat mengarah pada
perkembangan vaksin sifilis yang berhasil.

TERIMAKASIH