Anda di halaman 1dari 35

KARSINOMA

LARING

Definisi

Anatomi Laring

Fisiologi
Laring mempunyai 3 (tiga) fungsi dasar yaitu fonasi,
respirasi dan proteksi
Selain itu terdapat fungsi lain dari laring, yaitu:
1. Fungsi sirkulasi
2. Fungsi menelan
3. Fungsi batuk
4. Fungsi eksperktorasi

Histopatologi
Histologi laring normal Mukosa laring dibentuk oleh epitel
berlapis silindris semu bersilia kecuali pada daerah pita
suara yang terdiri dari epitel berlapis gepeng tak
bertanduk. Diantara sel-sel bersilia terdapat sel goblet.
Membrana basalis bersifat elastis, makin menebal di daerah
pita suara.

Mukosa laring dihubungkan dengan jaringan dibawahnya


olehjaringan ikat longgar sebagai lapisan submukosa.
Kartilago kornikulata, kuneiforme dan epiglotis merupakan
kartilago hialin. Plika vokalis sendiri tidak mengandung
kelenjar. Mukosa laring berwarna merah muda sedangkan
pita suara berwarna keputihan

Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 98% dari semua


tumor ganas laring, dengan derajat difrensiasi yang
berbeda-beda, yaitu berdiferensiasi baik, sedang dan
berdiferensiasi buruk. Jenis lain yang jarang kita jumpai
adalah
1. Karsinoma verukosa
2. Adenokarsinoma
3. Kondrosarkoma.

Epidemiologi
Kebanyakan (70 90 %) karsinoma laring ditemukan pada
pria usia lanjut. Tipe glotik merupakan 60 65 %,
supraglotik 30 35 %, dan infraglotik hanya 5 %. Merokok
merupakan penyebab utama.

Etiologi
1.
2.
3.
4.
5.

Asap rokok dan alcohol


Karsinogen lingkungan
Infeksi laring kronis
Human papilloma virus (HPV)
Genetik

Klasifikasi Tumor Ganas Laring


( AJCC dan UICC 1988 ):
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu ( gerakan
masih baik ).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan
glotis masih bisa bergerak ( tidak terfiksir ).
T3 : tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke
daerah ke krikod bagian belakang, dinding medial dari sinus
piriformis, dan kearah rongga preepiglotis.

T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi


orofaring jaringan lunak pada leher atau sudah merusak
tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi
gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat
pada kommisura anterior atau posterior.

T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis,


pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir
( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan
tiroid atau sudah keluar dari laring.

Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat
bergerak atau sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau
perluasan ke luar laring atau dua duanya.

Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )


Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran
diameter 3 cm homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan
ukuran diameter 3-6 cm.

N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3


cm tapi tidak lebih dari 6 cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak
lebih dari 6 cm. 10

N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak


lebih dari 6 cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.

Metastasis jauh ( M )
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.

Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0 atau T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1

Manifestasi klinis
1. Serak
Gejala utama Ca laring, merupakan gejala dini tumor pita
suara. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi
laring.Kualitas nada sangat dipengaruhi oleh besar celah
glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara,
kecepatan getaran dan ketegangan pita suara.Pada tumor
ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik
disebabkan oleh ketidak teraturan pita suara, oklusi atau
penyempitan celah glotik, terserangnya otot-otot vokalis,
sendi dan ligament krikoaritenoid dan kadang-kadang
menyerang saraf.

2. Suara bergumam (hot potato voice): fiksasi dan nyeri


menimbulkan suara bergumam.
3. Dispnea dan stridor: Gejala yang disebabkan sumbatan
jalan nafas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala
ini disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh massa tumor,
penumpukan kotoran atau secret maupun oleh fiksasi pita
suara. Pada tumor supraglotik dan transglotik terdapat
kedua gejala tersebut.Sumbatan yang terjadi perlahan-lahan
dapat dikompensasi. Pada umunya dispnea dan stridor
adalah tanda prognosis yang kurang baik.

4. Nyeri tenggorok: keluhan ini dapat bervariasi dari rasa


goresan sampai rasa nyeri yang tajam.
5. Disfagia: Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah,
supraglotik, hipofaring dan sinus piriformis. Keluhan ini
merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas
postkrikoid.Rasa nyeri ketika menelan (odinofagia):
menandakan adanya tumor ganas lanjut yang mengenai
struktur ekstra laring.

6. Batuk dan hemoptisis: Batuk jarang ditemukan pada


tumor ganas glotik, biasanya timbul dengan tertekanya
hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam laring.
Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan tumor
supraglotik.
7. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan
oleh komplikasi supurasi tumor yang menyerang kartilago
tiroid dan perikondrium.

Diagnosis
Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau
yang diderita sudah cukup lama, tidak bersifat hilang timbul meskipun sudah diobati dan bertendens makin lama
menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang
perokok berat yang juga kadang kadang adalah seorang
yang juga banyak memakai suara berlebihan dan salah
( vocal abuse ), peminum alkohol atau seorang yang sering
atau pernah terpapar sinar radioaktif, misalnya pernah
diradiasi didaerah lain.

Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya


tanda yang khas dari luar, terutama pada stadium dini /
permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke kelenjar
limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya
krepitasi tulang rawan tulang rawan laring.

Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan


dengan cara tak langsung maupun langsung dengan
menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi tumor,
penyebaran tumor yang terlihat ( field of cancerisation ),
dan kemudian melakukan biopsi.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
penunjang
yang
diperlukan
selain
pemeriksaan laboratorium darah, juga pemeriksaan
radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan
paru , ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis
diparu. Foto jaringan lunak ( soft tissue ) leher dari lateral
kadang kadang dapat menilai besarnya dan letak tumor,
bila tumornya cukup besar. Apabila memungkinkan, CT scan
laring dapat memperlihatkan keadaan tumor dan laring
lebih seksama, misalnya penjalaran tumor pada tulang
rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastase
kelenjar getah bening leher.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologianatomik dari bahan biopsi laring, dan biosi jarum-halus
pada pembesaran kelenjar limf dileher. Dari hasil patologi
anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.

Radiologi konvensional
Radiografi jaringan lunak leher merupakan studi survey
yang baik.Udara digunakan sebagai agen kontras alami
untuk memvisualisasikan lumenlaring dan trakea.Ketebalan
jaringan retropharyngeal dapat dinilai.Epiglottis dan lipatan
aryepiglottic dapat divisualisasikan.Namun, radiografi tidak
memiliki peran dalam manajemen kanker laring saat ini.

Lateral radiograph of the neckshowing the different structur


of the larynx: a, vallecula; b, hyoid bone; c, epiglottis;
d, preepiglotticspace; e, ventricle (air-space between
false and true cords); f, arytenoid

Computed Tomography CT Scan

normal

Squamous cell carcinoma of the right side of the glottis

MRI
abnormal
normal

Penatalaksanaan
Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring
yaitu pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun
kombinasi, tergantung pada stadium penyakit dan keadaan
umum pasien.
1. Pembedahan
Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari:
a. Laringektomi
b. Disesksi leher radikal

2. Radioterapi
Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1
dan T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%).
Keuntungan dengan cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara
masih dapat dipertahankan. Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad
perhari sampai dosis total 6000 7000 rad.
3. Kemoterapi
Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun
paliatif. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80120 mg/m2 dan 5 FU
8001000 mg/m2

Prognosis
Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi
tumor dan kecakapan tenaga ahli.Secara umum dikatakan
five years survival pada karsinoma laring stadium I 90
98% stadium II 75 85%, stadium III 60 70% dan stadium
IV 40 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional
akan menurunkan 5 year survival rate sebesar 50%.

Terima Kasih