Anda di halaman 1dari 26

KARAKTERISTIK USIA DAN JENIS KELAMIN

PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKEMAS


KECAMATAN CIPAYUNG TAHUN 2015
Pembimbing : dr Jerry Lohy, MKM

Disusun Oleh :
Lilik Handayani

0961050096

Mikha Tiar Ida Hutabarat

1061050077

Brayen Pangeran Yoshua S

1061050094

Hana Ayunda Dewayanti

1061050131

Lidya Dewi Rahayuningsih

1161050166

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 27 JULI 03 OKTOBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, terdapat 6,1 juta kasus Tuberkulosis
Paru. Dari jumlah kasus tersebut, 5,7 juta adalah orang-orang yang baru didiagnosis dan 0,4
juta lainnya sudah dalam pengobatan

Pada tahun 2008 prevalensi tuberkulosis paru di Indonesia mencapai 253 per 100.000
penduduk. Setelah hampir 10 tahun menduduki peringkat ke-3 dunia untuk jumlah penderita
Tuberkolosis, pada tahun 2011 Indonesia turun ke peringkat 5

Menurut Menteri Kesehatan, tahun 2011 jumlah penderita TB di Indonesia mencapai sekitar
189 per 100.000 penduduk (Tempo, 2011). Tiga per empat dari kasus TBC ini terdiri dari usia
produktif (15 - 49 tahun), separuhnya tidak terdiagnosis dan baru sebagian yang tercakup
dalam program penanggulangan TBC sesuai dengan rekomendasi WHO

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana gambaran karakteristik usia dan


jenis kelamin dengan angka kejadian TBC Paru
di Puskesmas Kecamatan Cipayung, Jakarta
Timur?

TUJUAN
TUJUAN UMUM :
Untuk mengetahui gambaran karakteristik usia dan jenis kelamin dengan
angka kejadian TBC Paru di Puskesmas Kecamatan Cipayung

TUJUAN KHUSUS :
Untuk mengetahui tingkat kejadian TBC paru di Puskesmas
Kecamatan Cipayung
Untuk mengetahui faktor risiko TBC di Puskesmas Kecamatan Cipayung

TINJAUAN PUSTAKA

TUBERKULOSIS PARU

Mycobacterium tuberculosis

Sifat pertumbuhan kuman secara aerob obligat dan suhu optimum


untuk pertumbuhannya adalah 370C

M. tuberculosis di transmisikan dari orang ke orang melalui batuk dan


bersin (droplet transmision)

Target penurunan angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam RPJMN Tahun
2010 - 2014

TUBERKULOSIS PRIMER
Kuman TB
(saluran nafas)

Sarang
pneumonik

Limfangitis
Lokal

Limfadenitis
Regional

Sembuh Total

Kompleks
Primer

Dengan
Sedikit Bekas

Menyebar

PENYEBARAN KUMAN
TUBERKULOSIS

PENEGAKAN DIAGNOSIS

Anamnesa

Gejala : Batuk Produktif > 3 minggu, hemoptisis, nyeri dada

Gejala Sistemik : Demam, keringat malam, menggigil, kelemahan, hilangnya nafsu


makan, dan penurunan berat badan

Pemeriksaan Fisik

Tes Tuberkulin Mantoux

Foto Thorax

Pemeriksaan Laboratorium

Bakteriologi & Histologi

KATEGORI
TUBERKULOSA

TUBERKULOSIS
KATEGORI I

Pasien baru TB BTA (+)


Pasien baru TB BTA (-),
Foto thorax (+)

TUBERKULOSIS
KATEGORI II

Pasien lama TB,


pengobatan tidak adekuat
Penyakit lama kambuh

TERAPI OAT

KATEGORI II

KATEGORI I

FASE INTENSIF
( 2 BULAN PERTAMA)

INH
Rifampisin
Pirazinamid
Etambuthol

FASE LANJUTAN
( 4 BULAN BERIKUTNYA )

2 BULAN PERTAMA

FASE LANJUTAN
( 5 BULAN BERIKUTNYA )

INH
Rifampisin

INH
Rifampisin
Pirazinamid
Etambuthol
Streptomisin

INH
Rifampisin
Etambuthol

METODOLOGI
PENELITIAN

RANCANGAN
PENELITIAN

LOKASI PENELITIAN

POPULASI DAN
SAMPEL

PENGUMPULAN
DATA

Metode penelitian deskriptif, dengan


pendekatan Cross Sectional

Puskesmas Kecamatan Cipayung

Seluruh pasien yang diduga menderita


tuberkulosis paru yang berobat di Puskesmas
Kecamatan Cipayung
Pasien yang menderita tuberkulosis paru di
Puskesmas Kecamatan Cipayung

DATA SEKUNDER
( REKAM MEDIK)

RENCANA PENGOLAHAN DAN ANALISIS


DATA

RENCANA PENGOLAHAN

Editing

Memeriksa data rekam medik

Memeriksa tulisan yang kurang jelas

Mencari adanya kesalahan pengisian

Coding

Tabulating

SPSS

ANALISIS DATA

Analisis Univariat Secara deskriptif Distribusi Frekuensi

HASIL PENELITIAN &


PEMBAHASAN

Distribusi usia penderita Tuberkulosis Paru di Puskesmas


Kecamatan Cipayung Tahun 2015

USIA

Pria

Wanita

JUMLAH

PRESENTASE (%)

0 12 tahun

48

23

71

27,3%

13 21 tahun

21

18

39

15,1%

22 50 tahun

60

50

110

42,3%

>50 tahun

23

17

40

15,3%

TOTAL

152

108

260

100%

Tabel Distribusi Jenis Kelamin Penderita Tuberkulosis Paru


di Puskesmas Kecamatan Cipayung Tahun 2014- Maret 2015

JENIS KELAMIN

JUMLAH

PRESENTASE (%)

Perempuan

108

41,5

Laki-laki

152

58,5

TOTAL

260

100

KESIMPULAN

Jumlah pasien rawat jalan penderita tubeerkulosis


Paru di Puskesmas Kecamatan Cipayung sebagian besar
berumur 22-50 tahun

Didapatkan bahwa kejadian tuberkulosis lebih banyak


terjadi pada laki-laki dengan usia produktif yaitu usia
22-50 tahun

Kejadian penyakit tuberkulosis Paru pada pasien rawat


jalan penderita di Puskesmas Kecamatan Cipayung dari
tahun 2014-2015 tergolong cukup tinggi yaitu sebesar
260 responden

Tidak ada hubungan antara usia dan kejadian tuberkulosis paru pada
pasien rawat jalan di Puskesmas Kecamatan Cipayung, karena setiap
kelompok usia dapat terkena penyakit Tuberkulosis Paru

Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian tuberkulosis paru


pada pasien rawat jalan di Puskesmas Kecamatan Cipayung

DAFTAR PUSTAKA

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Riset Kesehatan Dasar. 2013.


(http://labmandat.litbang.depkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/Laporan_riskesdas_2013_110 314.pdf)

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Riset Kesehatan Dasar 2007.


(http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/materi_pertemuan/launch_riskesdas/Riskesdas%20Launching%20Kabadan.pdf)

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, edisi revisi. Jakarta: Binarupa Aksara. 1994. Page: 192.

Di akses melalui website (http://tbindonesia.or.id/pdf/Lembar_Fakta_TB.pdf). Lembar Fakta Tuberkulosis di Indonesia.

Price A Sylvia, Wilson M Lorraine. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit volume II, edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005. Page: 853.

Di akses melalui website (http://www.tbindonesia.or.id/2012/09/12/profil-tb-2011/)

Amin Muhammad, Algasaf Hood, et al. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Airlangga University Press. Page: 16 35.

Prof. Dr. Elin Yulinah et al. ISO Farmakoterapi. Jakarta: Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI). 2008. Page: 919 920.

Huriawati Hartanto, Manalu SF, et al. Kamus Kedokteran Dorland, edisi 29. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2002.

Di akses melalui website (http://www.tabloid-nakita.com/read/1002/mengukur-usia-mental) Kompas Gramedia. Majalah kesehatan: Mengukur Usia Mental anak.

Di akses melalui website (Http://Jurnalkesmas.Ui.Ac.Id/Index.P hp/Kesmas/Article/View/132/133) Versitaria, U, H., Kusnoputranto, H. 2011. Tuberkulosis Paru Di
Palembang, Sumatra Selatan. Vol.5 No.5, April 2011.

Di akses melalui website (http://blog.unhas.ac.id/in dex.php/JMKMI/article/viewFile/1042 /914) Nurhana., Amiruddin, R., Abdulla Tahir. 2007. Faktor-faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Masyarakat Di Propinsi Sulawesi Selatan 2007. Jurnal MKMI, Vol. 6 No.4, Oktober 2010, hal 204- 209.

Di akses melalui website (http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2015/05/JURNAL-ELISA-S.-KORUA.pdf) Elisa Korua, Nova, Paul Kawatu. Hubungan Antara
Umur, Jenis Kelamin, dan Kepadatan Hunian dengan Kejadian TB Paru pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Noongan. Jurnal Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sam Ratulangi.Mei 2015.

Di akses melalui website (http://bpk.litbang.depkes.go.id/index. php/jek/article/view/1598/pdf) Manalu, H. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian
TB Paru dan Upaya Penanggulangannya, Jurnal Ekologi dan Status Kesehatan.Vol. 9 No 4, Desember 2010.

Noor, N Nasri. 2008. Dasar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Di akses melalui website (http://apps.who.int/iris/bitstream/1066 5/137094/1/9789241564809_eng.pdf?ua=1) World Health Organization. 2014. Global
tuberculosis report 2014.