Anda di halaman 1dari 22

Kista

Higroma

Vania Levina
11.2015.066

Definisi
Higroma

kistik merupakan
benjolan yang berisi cairan yang
jernih atau keruh seperti cairan
lympe yang diakibatkan oleh blok
atau hambatan pada system
limpatik.
System limpatik merupakan
jaringan pembuluh yang
menyuplai cairan ke dalam
pembuluh darah sebagai
transport asam-asam lemak dan

Epidemiologi
Belum

banyak data yang


menjelaskan, akan tetapi hygroma
kistik dapat terjadi antara 1,7:10000
atau sekitar 0,83 % kehamilan
mempunyai risiko terjadi anomaly.
Higroma kistik ini dapat terjadi kirakira 1 % pada janin mulai umur
kehamilan 9 minggu sampai 16
minggu.Kejadian pada bayi sekitar
50 % - 65 % dan pada anak usia 2
tahun sekitar 80 % - 90 %.

Etiologi
Faktor

lingkungan :
- Infeksi virus maternal seperti Parvovirus
- Maternal substance abuse, seperti
konsumsi alkohol selama kehamilan.
Faktor

genetik :
- Sebagian besar diagnosis prenatal dari
higroma berhubungan dengan sindrom
Turner, yaitu abnormalitas kromosom
sex pada wanita dimana
hanya terdapat satu kromosom X.

Patofisiologi
Saluran

limfe terbentuk pada usia


kehamilan minggu keenam. Dari
saluran ini, akan terbentuk sakus
yang akan menyediakan drainase
ke sistem vena.
Kegagalan drainase ke sistem vena
dilatasi saluran limfe, dan apabila
berukuran besar
higroma

Gambaran Klinik
Benjolan

di leher yang telah lama


atau sejak lahir tanpa nyeri atau
keluhan lain. Benjolan ini berbentuk
kistik, berbenjol-benjol dan lunak.
Permukaannya halus, lepas dari kulit
dan sedikit melekat pada jaringan
dasar. Kebanyakan terletak
di regio trigonum
posterior koli.

Sebagai

tanda khas, pada


pemeriksaan transiluminasi
positif tampak terang sebagai
jaringan diafan (tembus cahaya).

Benjolan

ini jarang menimbulkan gejala


akut, tetapi suatu saat dapat cepat
membesar karena radang dan menimbulkan
gejala :
- gangguan pernafasan akibat pendesakan
saluran nafas seperti trakea, orofaring
maupun laring.
- bila terjadi perluasan ke arah mulut dapat
timbul gangguan menelan
- perluasan ke aksila dapat menyebabkan
penekanan pleksus brakialis dengan
berbagai gejala neurologik

Diagnosis
Pada

80% kasus, lokasi higroma


berada pada regio cervico-facial.
Oleh karena itu, higroma harus
selalu menjadi pertimbangan
pertama dalam diagnosis banding
setiap lesi kistik yang memiliki onset
pada waktu lahir. Lebih dari 60%
higroma memiliki onset saat lahir,
dan sekitar 90% ditemukan sebelum
usia dua tahun.

Diagnosis

prenatal higroma dapat


dilakukan menggunakan USG.
Karakteristik gambaran USG pada
antenatal adalah tampak massa
kistik yang multiseptum dan
berdinding tipis

Pemeriksaan radiologi
Rontgen

Radiografi atau foto polos rontgen tidak


membantu dalam mendiagnosa higroma.
Massa higroma terdiri dari jaringan lunak
sehingga tidak memberikan gambaran
dengan kontras yang baik pada foto polos
rontgen. Tampilan higroma pada foto polos
hanya sebagai soft tissue mass dengan
densitas sama dengan jaringan lunak
sekitar leher.
Foto polos rontgen bermanfaat bila higroma
meluas atau berlokasi pada rongga tubuh.

USG Transvaginal
Untuk diagnosis prenatal Gambaran USG
potongan
Gambaran USG potongan
transversal oblik
longitudinal oblik yang
diperoleh melalui kepala
dari fetal skull
dan dada janin. Tanda
yang
panah merah
menunjukkan higroma.
menunjukkan
Kantong normal di
higroma
sekelilingnya merupakan
posterior
cairan amnion.

Bersama

MRI, gambaran CT scan


lebih baik digunakan untuk
melihat batas massa dan ada
atau tidaknya perluasan kearah
mediastinum

D
i
a
g
n
o
s
a
B
a
n
d
i
n
g

Kista

brankial
Pada anamnesis diketahui bahwa
kista merupakan benjolan sejak lahir.
Fistel terletak didepan
sternokleidomastoid dan
mengeluarkan cairan. Fistel yang
buntu akan membengkak merah,
atau lekukan kecil yang dapat
ditemukan unilateral dan bilateral

Penatalaksanaan
Eksisi

Eksisi total merupakan pilihan utama. Pembedahan ini


dimaksudkan untuk mengambil keseluruhan massa
kista.
Akan tetapi, bila tumor besar dan telah menyusup ke
organ penting, seperti trakea, esofagus, atau pembuluh
darah, ekstirpasi total sulit dikerjakan.
Oleh karena itu, penanganannya cukup dengan
pengambilan sebanyak-banyaknya kista, namun
mungkin perlu dilakukan beberapa kali tindakan
operasi.
Kemudian pascabedah dilakukan infiltrasi bleomisin
subkutan untuk mencegah kekambuhan. Hal ini
merupakan cara penanganan yang paling baik dan
aman. Pada akhir pembedahan, pemasangan penyalir
isap sangat dianjurkan

Aspirasi

Aspirasi higroma bisa dilakukan


sebagaipenanganan sementara
untuk mengurangi ukuran dari
kista sehingga dapat mengurangi
efek tekanan terhadap saluran
pernafasan dan pencernaan

Skleroterapi

Modalitas primer untuk higroma telah


dicoba dengan teknik skleroterapi
menggunakan bleomisin intralesi.
Banyak kasus menunjukkan respon
yang baik terhadap terapi ini.
Agen lain yang digunakan adalah
OK432, yang memberikan hasil yang
lebih memuaskan dengan komplikasi
yang lebih minimal daripada bleomisin.

Komplikasi
1. Infeksi pada Lesi
Sumber infeksi dari higroma ini biasanya
merupakan sekunder dari fokus infeksi
di traktus respiratorius, meskipun bisa
juga bersifat infeksi primer. Selama
proses infeksi, ukuran kista membesar
dan menjadi hangat, merah, dan nyeri.
Infeksi bisa melibatkan seluruh kista
atau sebagian kista. Selama infeksi aktif,
transiluminasi bisa tidak terlihat lagi dan
kadang-kadang bisa menjadi abses

2. Perdarahan
Pada perdarahan, kista menjadi keras
dan tegang. Ruptur spontan pada
higroma leher yang besar pernah
dilaporkan sehingga memerlukan
intervensi bedah segera.
3. Gangguan Pernafasan dan Disfagia
Gangguan ini disebabkan oleh
penekanan oleh massa kista pada
saluran pernafasan dan pencernaan

Prognosis
Prognosis

higroma tergantung
pada ukuran kista dan
komplikasi- komplikasi yang
terjadi. Sebagian kista dapat
mereda secara spontan. Akan
tetapi, tetap ada kemungkinan
terjadi rekurensi, tergantung atas
perluasan kista higroma dan
apakah dinding kista dapat
diangkat sempurna