Anda di halaman 1dari 32

ASMA DAN PPOK

Pembimbing : dr. Noer Saelan T, Sp.KJ


dr. Iswahyuni

Evelyn Patricia (406148144)


Gilbert Christianto (406148141)

ASMA

Definisi
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran
pernafasan yang menyebabkan terjadinya
hipereaktivitas bronkus sehingga terjadi trias asma
yaitu : 1) edema mukosa, 2) bronkokontriksi, 3)
peningkatan sekresi, yang ketiganya mengakibatkan
gejala episodik seperti sesak nafas, batuk dan mengi
biasanya di malam hari akibat obstruksi saluran nafas
yang luas, bervariasi dan bersifat reversible dengan
atau tanpa pengobatan.

Epidemiologi
Di Indonesia, berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) tahun 2013
didapatkan hasil prevalensi
nasional untuk penyakit asma
pada semua umur adalah 4,5
%.

Menurut WHO (World Health


Organization) tahun 2011, 235
juta orang di seluruh dunia
menderita asma dengan angka
kematian lebih dari 8% di
negara-negara berkembang
yang sebenarnya dapat dicegah

Faktor Pencetus
Diduga, ada beberapa faktor pencetus yaitu faktor
Ekstrinsik, terdiri dari reaksi antigen antibodi dan
alergen (debu, serbuk serbuk, bulu bulu
binatang) dan faktor Intrinstk, yang meliputi :
(1). Infeksi berupa Influenza virus, pnemonia,
mycoplasma,
(2). Fisik (cuaca dingin, perubahan temperatur),
(3). Iritan : Kimia, polusi udara (CO, asap rokok,
parfum/ minyak wangi),
(4). Emosional termasuk rasa takut, cemas dan
tegang dan aktivitas yang berlebihan juga dapat
menjadi faktor

Klasifikasi
Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa
serangan dan asma saat serangan (akut) :
1. Asma saat tanpa serangan
Pada orang dewasa, asma saat tanpa atau diluar
serangan, terdiri dari:
1) Intermitten;
2) Persisten ringan;
3) Persisten sedang; dan
4) Persisten berat

Derajat Asma
intermitten

Gejala
Bulanan
Gejala <1x/minggu, tanpa
gejala di luar serangan
Serangan singkat

Gejala Malam
2 kali sebulan

Faal Paru
APE 80%
VEP1 80% nilai
prediksi APE 80%
nilai terbaik
Variabilitas APE <20%

Persisten ringan

Mingguan
>2 kali sebulan
Gejala >1x/minggu, tetapi
<1x/hari
Serangan dapat menggangu
aktivitas dan tidur

APE >80%
VEP1 80% nilai
prediksi APE 80%
nilai terbaik
Variabilitas APE 20-30%

Persisten sedang

Harian
Gejala setiap hari
Serangan menggangu
aktivitas dan tidur
Bronkodilator setiap hari

>2 kali sebulan

APE 60-80%
-VEP1 60-80% nilai
prediksi APE 6080% nilai terbaik
-Variabilitas APE >30%

Kontinyu
Gejala terus menerus
Sering kambuh
aktivitas fisik terbatas

Sering

APE 60%
VEP1 60% nilai
prediksi APE 60%
nilai terbaik
Variabilitas APE >30%

Persisten berat

2. Asma saat serangan


Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan
obat yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai
berdasarkan berat-ringannya serangan. Global Initiative for
Asthma (GINA) membuat pembagian derajat serangan asma
berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji fungsi paru, dan
pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan menentukan terapi
yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi asma
serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan
berat. Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan
serangan asma (aspek akut). Sebagai contoh: seorang pasien
asma persisten berat dapat mengalami serangan ringan saja,
tetapi ada kemungkinan pada pasien yang tergolong episodik
jarang mengalami serangan asma berat, bahkan serangan
ancaman henti napas yang dapat menyebabkan kematian.

Ringan

Sedang

Berat

Aktivitas

Dapat berjalan
Dapat berbaring

Jalan terbatas
Lebih suka duduk

Sukar berjalan
Duduk membungkuk
ke depan

Bicara

Beberapa kalimat

Kalimat terbatas

Kata demi kata

Mungkin terganggu

Biasanya terganggu

Biasanya terganggu

Meningkat

Meningkat

Sering >30 kali/menit

Umumnya tidak ada

Kadang kala ada

ada

Lemah sampai sedang

Keras

Keras

<100

100-120

>120

Tidak ada (<10mmHg)

Mungkin ada (1025mmHg)

Sering ada (>25


mmHg)

>80%

60-80%

<60%

<45mmHg
>95%

<45mmHg
91-95%

<45mmHg
<90%

Kesadaran
Frekuensi
napas
Retraksi otototot bantu
napas
Mengi
Frekuensi nadi
Pulsus
paradoksus
APE sesudah
bronkodilator
(% prediksi)
PaCO2
SaCO2

Patogenesis
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas dan
disebabkan oleh hiperreaktivitas saluran napas yang
melibatkan beberapa sel inflamasi terutama sel mast,
eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel
yang menyebabkan pelepasan mediator seperti histamin
dan leukotrien yang dapat mengaktivasi target saluran
napas sehingga terjadi bronkokonstriksi, kebocoran
mikrovaskular, edema dan hipersekresi mukus.

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang
Anamnesis
Anamnesis meliputi adanya gejala yang episodik, gejala berupa
batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang
berkaitan dengan cuaca. Faktor faktor yang mempengaruhi
asma, riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien asma tergantung dari derajat
obstruksi saluran napas. Tekanan darah biasanya meningkat,
frekuensi pernapasan dan denyut nadi juga meningkat, ekspirasi
memanjang diserta ronki kering, mengi

Pemeriksaan Laboratorium
Darah (terutama eosinofil, Ig E), sputum (eosinofil, spiral
Cursshman, kristal Charcot Leyden).
Pemeriksaan penunjang lain:
Skin prick test
Pemeriksaan faal paru (Spirometer, Peak flow meter)

Rontgen Thoraks
Analisa gas darah

Penatalaksanaan
Tujuan
utama
penatalaksanaan
asma
adalah
meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar
penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari
Pengobatan non-medikamentosa
Menghindari faktor pencetus
Pengendali emosi
Pemakaian oksigen

Pengobatan medikamentosa
Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu
obat pereda (reliever) dan obat pengendali (controller).
Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau
gejala asma jika sedang timbul. Bila serangan sudah
teratasi dan sudah tidak ada lagi gejala maka obat ini tidak
lagi digunakan atau diberikan bila perlu
Kelompok kedua adalah obat pengendali yang disebut
juga obat pencegah, atau obat profilaksis. Obat ini
digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma, yaitu
inflamasi kronik saluran nafas.

Obat obat Pereda (Reliever)


Bronkodilator
Short-acting 2 agonist dan 2 agonist selective
Methyl xanthine

Anticholinergics
Kortikosteroid

Obat obat Pengontrol

Inhalasi glukokortikosteroid
Leukotriene Receptor Antagonist (LTRA)
Long acting 2 Agonist (LABA)
Teofilin lepas lambat

Serangan

Pengobatan

Tempat Pengobatan

RINGAN
Aktivitas normal
Berbicara satu kalimat dalam satu nafas
Nadi < 100x/menit
APE > 80%

Terbaik :
Inhalasi agonis -2
Alternatif :
Kombinasi oral agins -2 dan teofilin

Di rumah
Di praktek dokter/klinik/puskesmas

SEDANG
Jalan jarak jauh timbulkan gejala
Bicara beberapa kata dalam satu kali nafas
Nadi 100-120 x/ menit
APE 60-80 %

Terbaik:
Nebulisasi agonis -2 tiap 4 jam
Alternatif :
Agonis -2 subkutan
Aminofilin IV
Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK
Oksigen bila mungkin
Kortikosteroid sistemik

UGD/RS
Klinik
Praktek dokter
Puskesmas

BERAT
Sesak saat istirahat
Berbicara kata perkata dalam satu nafas
Nadi >120 x/menit
APE <60 % atau 100 l/detik

Terbaik :
Nebulisasi agonis -2 tiap 4 jam
Alternnatif :
Agonis -2 SK/IV
Adrenalin 1/1000 0,3 ml SK
Aminofilin bolus dilanjutkan drip
Oksigen
Kortikosteroid IV

UGD/RS
Klinik

MENGANCAM JIWA
Kesadaran berubah/menurun
Gelisah
Sianosis
Gagal nafas

Seperti serangan akut berat


Pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanis

UGD/RS
ICU

Diagnosis banding

Bronkitis kronik
Emfisema paru
Gagal jantung kiri akut
Emboli paru
Penyakit lain yang jarang (stenosis trakea,
karsinoma bronkus, poliartritis nodusa)

Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Status Asmatikus
Pneumothoraks
Pneumodiastinum dan emfisema subkutis
Atelektasis
Aspergilosis bronkopulmoner alergik
Gagal napas
Bronkitis

PPOK

Definisi
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) adalah
suatu penyumbatan menetap pada saluran
pernafasan yang disebabkan oleh emfisema atau
bronkitis kronis. PPOK ditandai oleh hambatan
aliran udara di saluran nafas yang bersifat
progresif non-reversibel atau reversibel parsial.
PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema
atau gabungan keduanya.

Definisi
Bronkitis kronik (diagnosis klinis)
Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak
minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun
berturut turut, tidak disebabkan penyakit lainnya

Emfisema (diagnosis patologis)


Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga
udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.
Pada prakteknya cukup banyak penderita bronkitis kronik juga
memperlihatkan tanda-tanda emfisema, termasuk penderita asma
persisten berat dengan obstruksi jalan napas yang tidak reversibel
penuh, dan memenuhi kriteria PPOK. (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia)

Faktor resiko

Genetik
Merokok
Debu dan Bahan Kimia Okupasi
Polusi Udara
Stress Oksidatif
Infeksi
Status Sosioekonomi
Nutrisi
Asma

PATOGENESIS
Inhalasi Bahan
Berbahaya

Inflamasi
Mekanisme
Perlindungan

Mekanisme
Perbaikan
Kerusakan
Jaringan Paru

Penyempitan
Saluran Nafas
dan Fibrosis

Destruksi
Parenkim

Hipersekre
si Mukus

Klasifikasi
DERAJAT

KLINIS

FAAL PARU

Derajat 0 :

Gejala kronik (batuk, dahak) Spirometri normal

beresiko

Terpajan faktor resiko

Derajat I :

Dengan atau tanpa gejala VEP1/KVP < 75%

PPOK Ringan

klinik (

Derajat II A:

Dengan atau tanpa gejala VEP1/KVP < 75%

PPOK Sedang

klinik

Derajat II B:

Dengan atau tanpa gejala VEP1/KVP < 75%

PPOK Sedang

klinik

Derajat III:

Gagal

PPOK Berat

jantung kanan

VEP1 80% prediksi


50 % VEP1 80% prediksi
30 % VEP1 50% prediksi
napas

atau

gagal VEP1/KVP < 75%


VEP1 30% prediksi

DIAGNOSIS
PPOK Faktor resiko

Sesak nafas
Batuk kronik disertai dahak
Keterbatasan aktifiti

Usia
Riwayat pajanan : asap rokok, polusi
udara, polusi tempat kerja

Pemeriksaan fisik *

Pemeriksaan foto
torak

Curiga PPOK
**

Fasiliti spirometri (-)

Fasiliti spirometri (+)

Normal

PPOK secara
klinis

Infiltrat, massa, dll

Beresiko PPOK
derajat 0

30% < VEP1 < 70 % prediksi


VEP1 / KVP < 80 %

PPOK
Derajat I/II/III/IV

Bukan
PPOK

Tatalaksana PPOK stabil

EDUKASI

Berhenti
merokok
Pengetahuan
dasar PPOK
Obat-obatan
Pencegahan
perburukan
penyakit
Menghindari
pencetus
Penyesuaian
aktifitas

FARMAKOLOGI

NON FARMAKOLOGI

REGULER
Bronkodilator
- Anti kolinergik
- 2 Agonis
- Xantin
- Kombinasi SABA +
Antikolinergik
- Kombinasi LABA +
Kortikosteroid
- Antioksidan
Dipertimbangkan
mukolitik

Rehabilitasi
Terapi oksigen
Nutrisi
Ventilasi
mekanik
Intervensi bedah

Diagnosis Banding

Asma
SOPT (Sindroma Obstruksi Pasca
Tuberculososis) adalah penyakit obstruksi
saluran napas yang ditemukan pada penderita
pascatu berculosis dengan lesi paru yang
minimal.
Pneumotoraks
Gagal jantung kronik
Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas
lain misal : bronkiektasis, destroyed lung.

DAFTAR PUSTAKA
1. Direktorat Jenderal PPM & PLP, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Departemen Kesehatan
RI ;2009; 5-11.
2. OByrne P, Bateman ED, Bousquet J, Clark T, Paggario P, Ohta K, dkk.
Global Initiative For Asthma. Medical Communications Resources, Inc ;
2006.
3. GINA (Global Initiative for Asthma); Pocket Guide for Asthma
Management and Prevension. www. Ginaasthma.org.2010.
4. Suyono. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: FKUI
5. Konsensus PDPI. 2011. Asma Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Jakarta:PDPI
6. Supriyatno B, S Makmuri M. Serangan Asma Akut. dalam: Rahajoe NN,
Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. edisi
pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI ; 2008. h.120-32.
7. PPOK. ETHICAL DIGEST, Semijurnal Farmasi dan Kedokteran no 37
Maret 2007
8. Konsensus PDPI. 2011. PPOK. Pedoman Praktis Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta:PDPI