Anda di halaman 1dari 20

PEMANFAATAN KITOSAN SEBAGAI ANTI BAKTERI DAN PENGHAMBAT

PEMBENTUKAN HISTAMIN MENGGUNAKAN PELARUT EKSTRAK JERUK NIPIS


(Citrus aurantifolia) PADA IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis)

Arthur Paul Marnix Souisa


2010 78 028

LATAR BELAKANG

HASIL LAUT MELIMPAH

IKAN

IKAN CAKALANG

KITOSAN

BAHAN ANTI
BAKTERI

Proses Pembentukan Histamin


IKAN CAKALANG

HISTIDIN

Decarboxylase

HISTAMIN

PENELITIAN SEBELUMNYA
Penggerak utama pengembangan aplikasi-aplikasi baru kitosan adalah peranannya sebagai polimer kationik yang
secara ekonomis dapat diproses secara alami dari kitin yang melimpah, tetapi tidak beracun, dapat didaur ulang
dan ramah lingkungan (Rege dan Lawrence, 1999)

Bastaman (1989),
kitosan tidak larut dalam
air, alkali, alkohol, dan
aseton, akan tetapi
dapat larut dalam
pelarut asam seperti
asam sitrat, asam
askorbat, asam format,
dan asam asetat

Salah satu alternatif pengganti


formalin sebagai bahan pengawet
makanan adalah penggunaan
kitosan yang lebih aman dan tidak
berefek negatif terhadap kesehatan
tubuh. Kitosan dapat berfungsi
sebagai bahan pengawet karena
mempunyai sifat anti bakteri (Zheng
dan Zhu, 2002)

Kitosan juga memiliki


potensi yang diterapkan
untuk kemasan
makanan, terutama
dalam edible film dan
coating (Casariego,
dkk., 2008)

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, yang
menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh penggunaan kitosan dengan pelarut ekstrak
jeruk nipis terhadap total bakteri dan kandungan histamin yang
dihasilkan?
2. Berapa konsentrasi optimum larutan kitosan yang digunakan
sebagai anti bakteri dan penghambat pembentukan histamin?

TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui efektivitas penggunaan kitosan dengan pelarut
ekstrak jeruk nipis dengan cara menghitung total bakteri dan
kandungan histamin yang dihasilkan.
2. Menentukan konsentrasi optimum larutan kitosan yang
digunakan sebagai anti bakteri dan penghambat pembentukan
histamin.

MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah
memberikan informasi ilmiah mengenai
efektivitas penggunaan kitosan dengan
pelarut ekstrak jeruk nipis sebagai anti
bakteri dan penghambat pembentukan
histamin pada ikan cakalang.

METODE PENELITIAN
WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan dilakukan selama enam
bulan dan akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia
Analitik Jurusan Kimia dan Laboratorium
Mikrobiologi Jurusan Biologi, FMIPA Universitas
Pattimura Ambon. Sampel ikan cakalang diperoleh
di pasar tradisional kota Ambon.

ALAT DAN BAHAN


ALAT :
1.
Alat-alat gelas
2.
Neraca analitik
3.
Blender
4.
Cawan petri
5.
Inkubator
6.
Autoclave
7.
Jarum ose
8.
Vorteks
9.
Digital Colonicounter
10. Pemanas listrik
11. Refrigerator
12. Sentrifuge
13. Stopwatch
14. Spektrofotometer UV-Vis

BAHAN :
1. Ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis)
2. Kitosan
3. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia)
4. Natrium klorida
5. Natrium fosfat monohidrat
6. n-butanol
7. Asam sulfanilat
8. Asam klorida
9. Natrium nitrit
10. Natrium sulfat anhidrat
11. PCA (Plate Count Agar)
12. Butterfields phosphate buffered
13. Akuades
14. Kertas saring Whatman no. 42

PROSEDUR KERJA
Persiapan Sampel Ikan Cakalang Mentah
Ikan
Cakalang

di cuci bersih,
di ambil bagian dorsal dan diiris tipis-tipis, kemudian
dihomogenkan
di timbang 100 gram,

Sampel

Di bagi atas beberapa bagian untuk tahapan selanjutnya

Pembuatan Larutan Kitosan Dengan Larutan Ekstrak Jeruk Nipis


KITOSAN

dilarutkan sebanyak 10 g dalam 100 ml larutan ekstrak


jeruk nipis konsentrasi 20%(V/V)

LARUTAN KITOSAN

diencerkan dengan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, dan


2,5% (b/v)

Perendaman Ikan Cakalang Menggunakan Larutan Kitosan


Sampel
dimasukkan sebanyak 5 g ke dalam Erlenmeyer
ditambahkan larutan kitosan yang telah di buat dan di
rendam selama 10 menit.

HASIL
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali
dilakukan perlakuan yang sama untuk setiap
konsentrasi larutan kitosan yang digunakan.

Pengujian Total Plate Count/TPC (BSN, 1991)


A. Sterilisasi Alat-Alat Gelas
Alat-alat

dibungkus dengan kertas koran hingga tertutup dengan


rapi
dimasukkan dalam autoclave
dipanaskan pada suhu 120 oC selama 10-15 menit

Alat-alat
steril

dibiarkan sampai suhunya dingin dan disimpan dalam tempat


yang aman dalam keadaan terbungkus

B. Pengujian Jumlah Bakteri


Sampel
ditimbang sebanyak 15 g dan dimasukkan ke dalam wadah blender steril
ditambahkan 125 mL larutan Butterfields phospate buffered dan diblender selama
1 - 2 menit

Suspensi
diambil 1 mL dan dimasukkan ke dalam 9 mL larutan Butterfields phospate buffered
untuk mendapatkan pengenceran 10-2
diambil 1 mL sampel dari pengenceran 10-2 dengan menggunakan pipet steril dan
dimasukkan ke dalam 9 mL larutan Butterfields phospate buffered untuk mendapatkan
pengenceran 10-3. Dengan cara yang sama dilakukan pengenceran selanjutnya sesuai
keperluan penelitian
setelah itu dari masing-masing pengenceran diambil sebanyak 1 mL dan dimasukkan ke
dalam cawan petri steril
dilakukan triplo untuk setiap pengenceran
ditambahkan 12 15 mL PCA (Plate Count Agar) dan digoyangkan sampai permukaan
media agar merata
didiamkan beberapa saat hingga dingin dan mengeras
semua cawan petri disusun terbalik dan dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 37 C
selama variasi masa simpan

Hasil

Selanjutnya dilakukan perhitungan total bakteri


Sebagai kontrol perhitungan dilakukan juga terhadap sampel ikan Cakalang tanpa perendaman dengan
larutan kitosan

Pembuatan Pereaksi p-fenildiazonium sulfonat


Asam
sulfanilat

dicampurkan Sebanyak 1,5 mL dengan konsentrasi 0,9 % (b/v) dalam HCL pekat dan 1,5
mL NaNO2 5% (b/v)
didinginkan dengan direndam dalam air es selama 5 menit.

Larutan NaNO2

ditambahkan sebanyak 6 mL dan didiamkan selama 5 menit

Hasil

disimpan dalam rendamen es selama 15 menit.

didiamkan selama 12 jam untuk dapat digunakan

Ekstraksi histamin
Sampel
dihomogenkan dengan 20 mL larutan NaCl 0,85% (b/v) selama 2
menit menggunakan blender
dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge 75 mL dan disentrifuge
pada 5300 rpm selama 1 jam

Supernata
n
dibuat menjadi 25 mL dengan larutan NaCl 0,85%

Ekstrak

EKSTRAK

Filtra
t

Diambil 1 mL dan dimasukkan pada tabung reaksi


Diencerkan menjadi 2 mL dengan larutan NaCl 0,85% dan
0,5 gram campuran garam (berisi 6,25 g Na2SO4 anhidrat
yang ditambahkan 1 g Na3PO4.H2O). Tabung dikocok.
Ditambahkan 2 mL n-butanol dan dikocok sekuat mungkin
selama 1 menit dan didiamkan selama 2 menit.
dikocok sedikit agar terjadi kerusakan pada sel protein.
Tabung kemudian dikocok beberapa menit dan disentrifuge
pada 3100 rpm untuk 10 menit.

ditambahkan
Dipindahkan ke dalam tabung
bersih dan kering

Diuapkan
hingga
benar-benar kering

Residu

Residu

Ekstraksi
Histamin

Dihancurkan di dalam
1mL akuades
Direaksikan
dengan
p-fenildiazonium
sulfonat

Analisis secara spektrofotometri


5 mL larutan Na2CO3
1,1% dalam tabung
reaksi
ditambahkan perlahan-lahan 2 mL pereaksi
p-fenildiazonium sulfat dan dicampur
ditambahkan 1 mL ekstrak histamin
diukur secepatnya setelah 5 menit pada
panjang gelombang 497,8 nm

Absorbansi
Dianalisis
menggunakan
analisis
regresi untuk memperoleh konsentrasi
histamin

Pembuatan larutan standar histamin


Histamin dihidroklorida (BM = 184
g/mol)
dilarutkan
akuades

dalam

100

mL

Histamin bebas 1000


ppm
Diencerkan

20 ppm

40 ppm

60 ppm

80 ppm

100
ppm

Pembuatan Kurva Standar


20 ppm

40 ppm

80 ppm

60 ppm

100
ppm

Diambil masing-masing 1 mL
Direaksikan dengan pereaksi pfenildiazonium sulfonat
diukur absorbansinya dengan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 497,8 nm

Absorbansi
dibuat
kurva
absorbansi
versus konsentrasi histamin.

SEKIAN
DAN

TERIMA KASIH

Beri Nilai