Anda di halaman 1dari 21

TEKS ANEKDOT

DISUSUN OLEH
:AbdullahHamsani
KELAS : X MIA 4

Page 1

MEMAHAMI DAN MENGINTERPRESTASIKAN TEKS


ANEKDOT

ANEKDOT adalah cerita singkat yang fiktif dan lucu tentang


pribadi seorang tokoh atau beberapa tokoh yang benarbenar ada.
A. Struktur Teks Anekdot
1. Tokoh
Anekdot menggunakan manusia sebagai tokoh.
2. Alur
Anekdot umumya menggunakan alur maju dan cepat selesai.
3. Latar
Anekdot menggunakan latar tempat, waktu, dan suasana
yang
faktual atau sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
Page 2

Lanjutan
B. Kaidah anekdot
1. Fiktif
Anekdot termasuk kedalam dngeng . Enggolongan ini berdasarkan
pada
cerita anekdot yang bersifat fiktif.
2. Lucu
Kelucuan merupakan tujuan anekdot walaupun terkadang kurang
tercapai.
3. Pribadi Seorang Tokoh
Objek penceritaan anekdot berkaitan dengan pribadi seorang tokoh.
4. Mengandung Pesan
Tujuan anekdot tidak hanya membangkitkan tawa, tetapi lebih dari itu,
anekdot dapat berfungsi sebagai media untuk menyindir, mengkritik,
atau mengungkapkan kebenaran.

Page 3

Contoh Anekdot
(Pada saat pak dosen memberi kuliah Sosiologi Hukum,
bertanyalah ia pada mahasiswa yang bernama Elisa)
Dosen : "Saudari Elisa, coba utarakan seringkas mungkin kondisi
penegakan hukum di Negara kita tercinta
ini!" tanyanya
Elisa : "Bagaikan sarang laba-laba pak!!" jawabny tegas
Dosen : "Maksudnya?"
Elisa : "Kalau kelas nyamuk akan tertangkap dan tak dapat berkutik
pak, sedang kalau kelas kumbang,
wah, jebol pak!"
Dosen : "Kalau kelas gagak?"
Elisa : "Tak tahu pak!!"
Mahasiswa lainnya : Hahah

Page 4

Membandingkan dan Membuat Anekdot

MEMBANDINGKAN berarti mencari persamaan


dan perbedaan sesuatu. Dalam halini,
persamaan dan perbedaan antara teks anekdot
dengan teks lain.

Page 5

Kutipan Teks 1
Orang Gila NU
Dalam sebuah seminar, Gus Dur sempat menjelaskan pendapatnya
tentang fanatisme orang NU yang datang ke kediamannya.
''Ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediaman saya'' kata Gus Dur
''Tipe pertama, mereka yang datang ke kediaman saya dari jam ujuh
pagi hingga jam sembilan malam dan membicarakan NU. Itu orang yang
punya komitmen dan fanatik terhadap NU,'' katanya lagi.
''Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam masih mengetuk
pintu rumah saya untuk membicarakan NU. Itu namanya orang gila NU,''
tegas Gus Dur.
''Tipe orang NU yang ketiga, Gus?'' tanya hadirin
''Kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya
pada jam dua dini hari hingga jam enam pagi. Itu namanya orang NU
yang gila'' kata Gus Dur yang tentu saja disambut tawa peserta seminar

Page 6

Kutipan Teks
2
Pada Zaman dahulu, hiduplah seorang wanita dengan anak laki-lakinya, Malin
Kundang. Mereka hidup kesusahan karena ayah Malin Kundang meninggal dunia
saat dirinya masih bayi.
Suatu hari, Malin Kundang diajak berlayar oleh saudagar kaya karena telah
berhasil menolongnya dari perompak. Malin Kundang pun menyetujuinya. Ia
meninggalkan ibunya seorang diri.
Beberapa tahun kemudian, Malin Kundang menjadi kaya raya dan memiliki istri
yang cantik. Ketika ia berlayar, ia terdampar di suatu desa pinggir pantai. Penduduk
setempat mengenalinya. Dan kabar Malin Kundang ada di desa mereka pun
terdengar oleh ibunya. Ibunya berlari menghampiri Malin Kundang. Namun Malin tak
mengakuinya. Ia menghina wanita tua tersebut dan membuatnya sedih.
Karena sakit hati, wanita tersebut mengutuk Malin Kundang. Malin kKundang
hanya tertawa mendengarnya. Tak lama kemudian, petir menyambar kapalnya dan
ia terbuang ke pulau terpencil. Namun ia terlambat. Kini ia telah berubah menjadi
batu.

Page 7

Kutipan Teks 3
Ada pastor-pastor di sebuah negeri senang berburu binatang buas. Ketika itu,
selesai misa hari minggu, seorang pastor pergi ke hutan berburu binatang
buas. Ia melihat seekor harimau. Si pastor mengokang senapan dan
menembaknya. Ternyata, tembakannya meleset. Sang harimau balik mengejar
si pastor. Pastor segera mengambil langkah seribu. Tiba-tiba si pastor
berhadapan dengan jurang yang dalam. Si pastor berhenti, berlutut, dan
mengatupkan tangannya. Berdoa sebelum mati.
Selesai berdoa, si pastor terheran-heran karena ia masih hidup. Ia menoleh
ke kanan, dan dilihatnya harimau pun berlutut dan berdoa sambil mengatupkan
kedua kaki depannya. Si pastor bertanya pada harimau, Harimau, kamu kok
tidak menerkan saya, malah ikut berdoa seperti saya, mengapa?
Ya, saya sedang berdoa, berdoa sebelum makan! jawab harimau.

Page 8

Setelah membaca ketiga teks tersebut, dapat kita simpulkan bahwa teks 1
adalah teks anekdot, teks 2 adalah teks legenda, dan teks 3 adalah lelucon
Berikut ini adalah perbandingan atara ketiga teks

Page 9

Membuat Teks Anekdot


Langkah-langkah membuat anekdot
1. Menentukan Topik
Tentukanlah anekdot apa yang akan dibuat, misalnya
tentang tokoh agama, tokoh politik, dsb.
2. Mengumpulkan Bahan
Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti
pengalaman pribadi, majalah, televisi, dsb.
3. Menyusun Kerangka
Menyusun kerangka berarti memecahkan topik kedalam
beberapa sub topik.

Page 10

lanjutan

4. Mengembangkan Kerangka
Setelah kerangka atau urutan subtopik tersusun, langkah selanjutnya
adalah
mengembangkan kerangka tersebut menjadi anekdot yang lengkap.
5. Memberi Judul
Langkah berikutnya adalah memberi judul. Judul tersebut
menggambarkan
keseluruhan anekdot yang telah dikembangkan.

Page 11

Menganalisis dan Menyunting Teks


Anekdot

MENGANALISIS berarti menelaah atau menguraikan sesuatu


atas bagian-bagian serta hubungan antarbagian tersebut untuk
memperoleh pemahaman yang utuh. Pada teks anekdot,
menganalisis berarti menguraikan bagian-bagian struktur dan
kaidahnya.

Page 12

Contoh anekdot
Nasrudin Mencari Cincin
Pada suatu hari, Nasrudin berjalan-jalan. Ia sampai di depan rumah tingkat
yang tidak berpenghuni. Ia masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata di
dalamnya gelap. Ia iseng naik ke lantai dua. Nah, pada saat naik itulah
cincinnya jatuh. Karena gelap, cincin tersebut tidak ditemukan. Akhirnya
Nasrudin pun keluar dan melanjutkan pencarian cincin di luar rumah.
Melihat Nasrudin mencari sesuatu, temannya datang bertanya, ''sedang apa
kamu, Nasrudin?''
''Oh, aku sedang mencari cincin dari tadi belum ditemukan.''
''Memangnya jatuh di mana?''
''Jatuhnya sih di dalam.''
''Lo, jatuhnya di dalam, kok nyarinya di luar, bagaimana bisa ditemukan?''
''Habis, di dalam gelap saya tidak bisa melihat apa-apa.''

Page 13

Setelah melihat teks anekdot tersebut, kita dapat menganalisis struktur


dan kaidahnya.
a. Struktur
1. Tokoh : Pada teks tersebut terdapat tokoh Nasrudin dan temannya.
2. Alur : Terdapat 3 peristiwa
1. Nasrudin masuk ke rumah tak berpenghuni
2. Cincin Nasrudin hilang dan tak dapat melihat apa-apa
3. Nasrudin mencari cincin di luar rumah
3. Latar Waktu :
4. Latar Tempat : di rumah tak berpenghuni
5. Latar Suasana : lucu

Page 14

Menyunting Teks Anekdot

Menyunting atau mengedit adalah proses memperaiki sebuah


teks dengan memperhatikan unsurisi dan kebahasaannya.
Cara Menyunting Aspek Kebahasaan :
1. Keefektifan kalimat
Kepada para hadirin dipersilakan duduk. (tidak efektif)
Kepada hadirin saya persilakan duduk. (efektif)
2. Kepaduan Antarkalimat
3. Ketepatan Diksi
Itu bukan Santy, tetapi Sinta. (salah)
Itu bukan Santy, melainkan Sinta. (benar)
4. Ketapatan Ejaan
Page 15

Mengdentifikasi dan Mengabstraksi Teks


Anekdot

Identifikasi adalah identitas, ciri-ciri, bukti, atau tanda kenal


seseorang atau benda. Dengan demikian, mengidentifikasi
teks anekdot berarti proses menentukan identitas atau ciriciri tersebut.
Abstrak adalah ringkasan, ikhtisar, sinopsis, atau inti sebuat
teks/karangan. Mengabstraksi berarti meringkas,
mengikhtisar, menyipnosis, atau menentukan inti sebuah
teks.

Page 16

Mengevaluasi dan Mengonversi


Teks Anekdot
Evaluasi adalah penilaian. Evaluasi dimaksudkan untuk
mengetahui kualitas sebuah teks dari kelebihan dan kekurangannya.
Unsur yang perlu dievaluasi adalah unsur struktur dan kaidahnya.
Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat diajukan untuk
mengevaluasi teks anekdot.
A. Struktur
1. Apakah cerita tersebut singkat?
2. Apakah tokohnya benar-benar ada/dapat diidentifikasi?
3. Apakah alurnya terdapat perkenalan, isi, dan akhir yang
mengentak?
Apakah urutan peristiwanya sudah disajikan secara runtut?
4. Apakah Latarnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari?
Page 17

Lanjutan
B. Kaidah
1. Apakah struktur tersebut bersifat fiktif?
2. Apakah cerita tersebut mengandung kelucuan?
3. Apakah objek penceritaan pribadi seorang tokoh?
4. Apakah mengandung pesan yang dapat dijadikan
pelajaran?
c. Bahasa, topik, perulangan topik
1. Apakah bahasa yang digunakan mudah dipahami?
2. Apakah topik yang dipilih sesuai dengan konteks kehidupan
saat
ini?
3. Apakah topik tersebut sudah pernah ada sebelumya?
Page 18

Mengonversi Teks Anekdot

Teks tulis dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu prosa,


puisi, dan drama. Teks prosa disusun dalam bentuk paragraf atau
alinea, teks puisi dalam bentuk bait, dan teks drama dalam bentuk
dialog. Teks anekdot dapat disusun dalam bentuk prosa dan
drama. Dengan mengubah bentuk sebuah teks dari prosa ke
drama atau sebaliknya, berarti kita sudah mengonversi teks teks
tersebut.

Page 19

Contoh Mengonversi Anekdot

TEKS 1
Orang Pintar Pilih Tolsk Angin
Tiga hari menjelang kampanye pemilihan presiden, terjadi diskusi
antara Presiden Gus Dur dan wartawan yang mewawancarainya.
Wartawan : Menurut anda, parpol mana yang memiliki peluang
besar menang, Gus?
Gus Dur
:Wah, saya juga enggak ngerti karena sekarang dipilih
langsung oleh rakyat. Jadi, kita lihat saja nanti.
Wartawan : Oh, iya Gus, kenapa setiap kampanye, banyak parpolparpol itu senang sekali membodohi rakyat?
Gus Dur
: Ya, kalau rakyat pintar-pintar tidak mungkun memilih
parpol tesebut. Orang pintar kan pilih tolak angin.

Page 20

TEKS 2
Tiga hari menjelang kampanye pemilihan presiden, terjadi diskusi
antara Presiden Gus Dur dan wartawan. Menurut Anda, parpol mana
yang memiliki peluang besar menang, Gus? tanya wartawan.
Wah, saya juga enggak ngerti karena sekarang dipilih langsung oleh
rakyat. Jadi lihat saja nanti,jawab Gus Dur. Oh, iys Gus, kenapa
setiap kampanye banyak parpol yang membodohi rakyat?tanya
wartawan lagi
Ya, kalau rakyat pintar tidak mungkin memilih parpol-parpol itu.
Orang pintar kan pilih tolak anginjawab Gus Dur sambil mesem

Page 21