Anda di halaman 1dari 46

HEMOPNEUMOTHORAKS

DEXTRA

DOKTER MUDA
Ainivi F. Tangian, S.Ked 1401401232
SUPERVISOR PEMBIMBING
Dr. Adrian Tangkilisan, SpB (K) TKV
RESIDEN PEMBIMBING
dr. Edwin Christian

PENDAHULUAN
Hematotoraks adalah trauma berupa
perdarahan ke dalam rongga dada antara
paru dan dinding dada interna yang biasa
disebut dengan rongga pleura.
Hematotoraks dapat diklasifikasikan menurut
jumlah darah yang ada: kecil, sedang, atau
besar.
Hematotoraks dapat disebabkan oleh trauma
tumpul atau trauma tembus pada dada

EPIDEMIOLOGI
Insiden terjadinya hematotoraks di
dunia cukup tinggi, dimana cedera dada
menjadi peringkat ketiga di dunia
penyebab mortalitas setelah kanker dan
gangguan kardiovaskuler di dunia.
Insiden di Amerika Serikat, setiap tahun
sekitar 300.000 kasus hematotoraks
dilaporkan.

ANATOMI THORAKS
Kerangka toraks tersusun dari :
Costa (12 pasang tulang rusuk)
Sternum
vertebralis
Cavum toraks tersusun dari :
Paru-paru
Mediastinum
Pleura

Pleura :
Pleura parietalis adalah pleura yang
melapisi dinding toraks
Pleura viseralis yang meliputi paru-paru
termasuk permukaanya dalam fisura.

HEMATOTORAKS
Hematotoraks atau hematotoraks
adalah adanya darah atau akumulasi
darah yang masuk ke areal pleura
(antara pleura viseralis dan pleura
parietalis). Biasanya disebabkam oleh
trauma tumpul atau trauma tajam pada
dada, yang mengakibatkan robeknya
membran serosa pada dinding dada
bagian dalam atau selaput pembungkus
paru

Pembagian hematotoraks menjadi 3 golongan, yaitu:

Hematotoraks kecil, yaitu tampak sebagai bayangan


kurang dari 15% pada foto Rontgen, perkusi pekak sampai
iga IX. Perkiraan jumlah darah yang terakumulasi 300 ml.

Hematotoraks sedang, yaitu yang tampak sebagai


bayangan yang menutup 15-35% pada foto Rontgen,
perkusi pekak sampai iga VI, dengan perkiraan jumlah
akumulasi darah 800 ml.

Hematotoraks besar dengan tampak bayangan yang


mencapai >35% pada foto Rontgen, perkusi pekak sampai
iga IV atau cranial. Jumlah perkiraan darah dapat mencapai
>800 ml

Klasifikasi hemotoraks
a. Kecil b. Sedang c. Besar

ETIOLOGI
Penyebab paling umum dari hematotoraks
adalah trauma, seperti:
Trauma penetrasi, seperti luka tembus
paru, jantung, pembuluh darah besar,
atau dinding dada
Trauma tumpul dada kadang dapat
mengakibatkan robeknya pembuluh
darah internal.

PATOFISIOLOGI

MANIFESTASIKLINIS
Secara umum gejala klinis dari hematotoraks ditandai
dengan:
nyeri dada
gangguan proses inspirasi
perubahan kedalaman pernafasan
sesak nafas mendadak dan terjadi serangan dispneu
dari ringan hingga berat
adanya perdarahan nyata yang masif
sianosis
hipoksia
takikardi
hipotensi

Respon tubuh dengan adanya hematotoraks


dimanifestasikan dalam 2 cara mayor, yaitu:

Respon hemodinamik sangat bergantung pada


jumlah perdarahan yang terjadi. Tanda syok seperti
takikardi, takipneu, dan nadi yang lemah dapat muncul
pada pasien yang kehilangan sampai 30% atau lebih
volume darah

Respon respiratori, dimana akumulasi darah pada


pleura dapat mengganggu pergerakan nafas. Pada
kasus trauma, dapat terjadi gangguan ventilasi dan
oksigenasi, khususnya jika terdapat trauma dinding
dada. Akumulasi darah dalam jumlah besar dapat
menyebabkan dispneu.

DIAGNOSIS
Anamnesa
Didapatkan penderita hemothoraks mengeluh nyeri
dada dan sesak napas. Juga bisa didapatkan
keterangan bahwa penderita sebelumnya mengalami
kecelakaan pada dada

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi biasanya tidak tampak kelainan, mungkin
didapatkan gerakan napas tertinggal atau adanya
pucat karena perdarahan. Pada perkusi didapatkan
pekak dengan batas tidak jelas, sedangkan pada
auskultasi didapatkan bunyi napas menurun atau
bahkan menghilang

Pemeriksaan

Penunjang
Foto Rontgen atau Chest X-Ray, menunjukkan
adanya akumulasi cairan pada area rongga
pleura di sisi yang terkena, ditandai dengan
gambaran hipodens dan adanya
penyimpangan struktur mediastinal yang
disebut mediastinum shift (jantung). Chest XRay digunakan sebagai penegak diagnosis
yang lebih sensitif.

CT Scan biasanya diindikasikan untuk


mengetahui evaluasi dan jumlah clotting
(bekuan darah).

USG : USG yang digunakan adalah jenis FAST dan


diindikasikan untuk pasien yang tidak stabil
dengan hemothoraks minimal.

Blood Gas Analysis dilakukan tergantung derajat


fungsi paru yang dipengaruhi dan gangguan
mekanik pernafasan, dimana saturasi oksigen
umumnya menurun dengan kadar PaCO 2 dapat
normal atau menurun.

Pemeriksaan cek darah lengkap umumnya pada


hematotoraks menunjukkan kadar hemoglobin
dan hematokrit menurun.

DIAGNOSA BANDING
KONDISI
Tension pneumothorax

PENILAIAN
Deviasi Tracheal
Distensi vena leher
Hipersonor
Bising nafas (-)

Massive hemothorax

Deviasi Tracheal
Vena leher kolaps
Perkusi : dullness
Bising nafas (-)

Cardiac tamponade

Distensi vena leher


Bunyi jantung jauh dan lemah
EKG abnormal

PENATALAKSANAAN
HEMOTORAKS
KECIL
Observasi

HEMOTORAKS
SEDANG
aspirasi
dengan
dilakukan
pungsi

melakukan
gerakan aktif
seperti
fisioterapi, dan penderita
tidak
diberikan
memerlukan
transfusi.
tindakan
khusus.

HEMOTORAKS
BESAR
diberikan
penyalir sekat
air di ruang
antariga
transfusi.

RESUSITASSI CAIRAN
infus cairan kristaloid
secara cepat

WSD

pemberian transfusi
darah secepatnya.

Pemasangan chest tube (WSD)


pada hematotoraks akan
mengeluarkan darah dari rongga
pleura, sehingga mengurangi
resiko terbentuknya bekuan
darah di dalam rongga pleura,
dan dapat dipakai dalam
memonitor kehilangan darah
selanjutnya.

Bersamaan dengan
pemberian resusitasi
cairan juga dipasang
chest tube atau WSD
(Water Sealed Drainage

WSD (Water Sealed Drainage)


adalah suatu sistem drainase
yang menggunakan air.

Fungsi WSD adalah untuk


mempertahankan tekanan
negatif intrapleural.

PEMASANGAN WSD

WSD (WATER SEALED DRAINAGE)


TUJUAN

INDIKASI

KONTRAINDIKA
SI

Mengalirkan/ drainage
udara atau cairan dari
rongga pleura untuk
mempertahankan tekanan
negatif rongga tersebut

Hematotoraks

Infeksi pada
tempat
pemasangan

Mengembalikan keadaan
normal rongga pleura
memiliki tekanan negatif
dan hanya terisi sedikit
cairan pleura/lubrikan.
Mengembangkan kembali
paru yang kolaps
Mencegah refluks drainage
kembali ke dalam rongga
dada.

Efusi pleura
Pneumotoraks

Gangguan
pembekuan
Sebagai
darah yang
profilaksis pada
tidak
pasien trauma
terkontrol.
dada yang
akan dirujuk

TORAKOTOMI
Torakotomi merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi
rongga dada ketika hemothoraks massif atau terjadi perdarahan
persisten.
Torakotomi dilakukan bila dalam keadaan:
Jika pada awal hematotoraks darah yang keluar mencapai 1500ml
(hematotoraks masif), sehingga membutuhkan torakotomi segera
Pada beberapa penderita darah yang keluar < 1500ml, tetapi
perdarahan tetap berlangsung
Bila didapatkan kehilangan darah terus menerus sebanyak
200ml/jam dalam waktu 2-4 jam
Luka tembus toraks di daerah anterior, medial dari garis putting
susu atau luka di daerah posterior, medial dari skapula
dipertimbangkan dilakukan torakotomi oleh karena kemungkinan
melukai pembuluh darah besar, struktur hilus, atau jantung yang
potensial menjadi tamponade jantung.

LAPORAN KASUS

LAPORAN KASUS
Identitas

Pasien
Nama
: Tn. LM
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur
: 36 tahun
Pekerjaan
: Petani
Agama
: Protestan
Alamat
: Desa Waisan, Minahasa Utara
MRS
: 12 Juni 2016, Jam 18.07 WITA
Keluhan Utama: Sesak disertai luka dan nyeri
akibat ditikam di dada kiri

PRIIMARY SURVEY
A
B

: Clear
: 36x/m + O2 4 L/menit
Thorax :
I : Gerakan nafas kiri tertinggal di banding kiri
Regio Hemithorax posterior dextra ICS VII line axilaris posterior,
luka uk + 1x0,5 cm, tepi rata, perdarahan aktif (-), sucking wound
(-)
Pal : SF ka < ki
Perk: Kiri apex: sonor Kiri basal : sonor
Kanan apex: sonor Kanan basal : redup
Aus : Suara Nafas ka<ki
Ass : Heumopneumothorax Dextra ec vulnus ictum
Tx : Pro pemasangan WSD
Reass : :
A : Clear
B : Simetris, pernafasan 24x/m
C : 88 x/m , reguler, isi cukup , akral hangat

SECONDARY SURVEY
Sesak nafas disertai luka & nyeri di dada kanan, dialami
penderita + 6 1/2 jam SRMS
Awalnya penderita sedang berbicara dengan temannya tibatiba orang tidak dikenal menusuk penderita dari arah
belakang . Jenis senjata yang digunakan pisau, panjang
pisau + 30cm dengan lebar + 1 cm
Penderita kemudian di bawa ke RSUD Walanda Maramis dan
di rujuk ke RSUP Prof R.D Kandou dengan infus terpasang.

A:M : IVFD RL , tramadol


P:L : + 8 jam SMRS SMRS
E : desa wasiar

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital : Tensi 114/70 mmHg
Nadi 92x/menit
Respirasi 24x/menit
Suhu 36,60C
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 165 cm
IMT : 22

PEMERIKSAAN FISIK
Kulit : tidak ditemukan kelainan
Kepala: bentuk normochepal
Mata : tidak ada udem palpebra, konjungtiva anemis +/+,
sklera ikterik -/-, pupil isokor (3mm/3mm), refleks cahaya +/
+
Mulut : nyeri tekan mandibula (-), krepitasi (-),
Telinga : simetris, sekret (-), darah (-), jejas (-)
Hidung : bentuk simetris, nafas cuping hidung (-), sekret (-),
darah (-)
Mulut : Gusi berdarah (-), lidah kotor (-), jejas (-), gigi lepas
(-)
Leher : Inspeksi: deviasi trakea (-), luka memar (-), luka
penetrasi (-), luka terbuka (-), distensi vena jugularis(-),
pembesaran KGB (-)
Palpasi: Nyeri (-), trakea di tengah

PEMERIKSAAN FISIK
Thoraks

Regio Hemithorax posterior dextra ICS VII


line axilaris posterior, luka uk + 1x0.5 cm,
tepi rata, perdarahan aktif (-), sucking
wound (-)
I : Gerakan nafas kiri tertinggal di banding
kanan
Pal : SF ka < ki
Perk: Kiri apex: sonor
Kiri basal : sonor
Kanan apex: sonor Kanan basal : redup
Aus : Suara Nafas ka<ki

Abdomen

Inspeksi:

distensi (-), luka memar (-), luka


penetrasi (-), luka robek (-)
Palpasi: supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-),
defans muskular (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi: timpani, shifting dullness (-)
Auskultasi: bising usus (+) normal
Ektremitas

sup dan inf : t.a.k

PEMERIKSAAN PENUNJANG

X-Foto Thorax Ap/Tegak

Kesan: hematopneumothorax Dextra

Pemeriksaan

laboratorium 12/06/16

Hasil

Nilai Rujukan

Leukosit

11.200 /mm3

4.000 10.000/mm3

Eritrosit

4,77 x 106/mm3

4.25 5.40/mm3

Hemoglobin

16 g/dL

12.0 16.0 g/dL

Hematokrit

45,7 %

37.0 47.0 %

Trombosit

224 x 103/mm3

150.000 450.000/mm3

MCH

33,5pg

27-35 pg

MCHC

35,0 g/dL

30-40 g/Dl

MCV

95,8 fl

80-100 fl

SGOT

23 U/L

< 33U/L

SGPT

17 U/L

< 43 U/L

Ureum Darah

18 mg/dL

10 40 mg/dL

GDS

95 mg?dL

70-125 mg?dL

Creatinin Darah

1,8 mg/dL

0,5 1,5 mg/dL

Chlorida darah

105 mEq/L

98,0 109,0 mEq/dL

Kalium darah

4 mEq/L

3,50-5,30 mEq/dL

Natrium darah

140 mEq/L

135 - 153 mEq/dL

DIAGNOSI KERJA

Hematopneumothoraks dextra

PEATALAKSANAAN

O2 6 L/menit

IVFD RL 20gtt/m
Ceftriaxon 2x1 gr IV
Ketorolac 3x1 amp IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Tetagam one shot FM
Pro Pemasangan WSD

LAPORAN OPERASI PEMASANGAN


WSD (WATER SEALED DRAINAGE)

Jam mulai
: 22.00 WITA
Jam selesai : 23:10
Lama pembedahan : 1 jam
Uraian Pembedahan :
Penderita dalam posisi setengah duduk
A dan antisepsis lapangan operasi
Dilakukan anestesi infiltrasi pada lapangan operasi
Incisi diatas costae VI pada anterior dari linea midaxillaris sinistra,
diperdalam hingga pleura parietalis
Pleura ditembus pada ICS V dengan klem tumpul bengkok
Dilakukan pemasangan chest tube ke arah cranioposterior, tube
dihubungkan dengan botol WSD
Produksi: bubble (+), undulasi (+), darah + 200 cc
Luka ditutup dengan jahitan air tight dan simpul hidup
Luka tikam dicuci dan dijahit
Operasi selesai

Jumlah perdarahan : 200 ml


Penatalaksanaan post operasi:
Ceftriaxon 2x1 gr IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Ketorolac 3x1 amp IV
X-Foto thorax AP/tegak
(Foto kontrol)

X-FOTO THORAKS POST OPERASI


Kesan

: dalam batas normal

FOLLOW UP
13 Juni 2016
S : Sesak (-), nyeri post op (+)
O

: Thorax :
I : Simetris, luka terawat
Pal : SF kiri = kanan
Per: Sonor kiri = kanan
Aus : SN vesikuler kiri = kanan
Regio Hemithoraks Dextra : Terpassang WSD produksi (+)
200cc,
serohemoragic, undulasi (+), bubble (-)
A

: Hemopneumothoraks dextra terpassang WSD

: Rawat luka dan WSD


Ceftriaxon 2x1 gr IV
Metroniazole 3x1 IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Ketorolac 3x1 amp IV

14 Juni 2016
S : Sesak (-), nyeri post op (+)
O

: Thorax :
I : Simetris, luka terawat
Pal : SF kiri = kanan
Per: Sonor kiri = kanan
Aus : SN vesikuler kiri = kanan
Regio Hemithoraks Dextra : Terpassang WSD produksi (+)
200cc, serohemoragic, undulasi (+), bubble (-)
A

: Hemopneumothoraks dextra terpassang WSD

: Rawat luka dan WSD


Ceftriaxon 2x1 gr IV
Metroniazole 3x1 IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Ketorolac 3x1 amp IV

15 Juni 2016
S : Sesak (-), nyeri post op (+)
O

: Thorax :
I : Simetris, luka terawat
Pal : SF kiri = kanan
Per: Sonor kiri = kanan
Aus : SN vesikuler kiri = kanan
Regio Hemithoraks Dextra : Terpassang WSD produksi
(+) 100cc/24jam, serohemoragic, undulasi (+), bubble
(-)

: Hemopneumothoraks dextra terpassang WSD

: Rawat luka dan WSD


Ceftriaxon 2x1 gr IV
Metroniazole 3x1 IV
Ranitidin 2x1 amp IV

16 Juni 2016
S : Sesak (-)
O

: Thorax :
I : Simetris, luka terawat
Pal : SF kiri = kanan
Per: Sonor kiri = kanan
Aus : SN vesikuler kiri = kanan
Regio Hemithoraks Dextra : Terpassang WSD produksi (+)
100cc, serohemoragic, undulasi (+), bubble (-)

: Hemopneumothoraks dextra terpassang WSD

: Rawat luka dan WSD


Ceftriaxon 2x1 gr IV
Metroniazole 3x1 IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Ketorolac 3x1 amp IV

17 Juni 2016
S : Sesak (-)
O

: Thorax :
I : Simetris, luka terawat
Pal : SF kiri = kanan
Per: Sonor kiri = kanan
Aus : SN vesikuler kiri = kanan
Regio Hemithoraks Dextra : Terpassang WSD produksi (+)
80cc, serohemoragic, undulasi (+), bubble (-)

: Hemopneumothoraks dextra terpassang WSD

: Rawat luka dan WSD


Ceftriaxon 2x1 gr IV
Metroniazole 3x1 IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Ketorolac 3x1 amp IV

PEMBAHASAN

PEMBAHASAN
TEORI

KASUS

Gejala subyektif pada kasus


hemotoraks meliputi:
Nyeri dada
Sesak nafas
Riwayaat trauma pada dada

Berdasarkan anamnesis :
Nyeri dada kanan (+)
Sesak nafas (+)
Riwayat trauma tajam pada
dada (+)

Pemeriksaan fisik :
Inspeksi adanya gerakan
napas tertinggal atau adanya
pucat karena perdarahan
Pada perkusi didapatkan pekak
dengan batas tidak jelas,
auskultasi didapatkan bunyi
napas menurun atau bahkan
menghilang.

Pemeriksaan fisik :
Inspeksi adanya gerakan
napas dada kanan tertinggal,
Pada perkusi didapatkan pekak
auskultasi didapatkan bunyi
napas menurun pada paru
kanan
Tanda-tanda syok (-)

sianosis, anemia,
hipksemia,ansietas, tanda-tanda
syok seperti hipotensi, nadi cepat

TEORI
KASUS
Pada foto rontgen
Pemeriksaan penunjang :
Foto Rontgen atau Chest
terdapat
X-Ray, menunjukkan
hemopneumotoraks
adanya akumulasi cairan
dextra menandakan ada
pada area rongga pleura
cairan pada paru kanan
di sisi yang terkena,
Pemeriksaan darah
ditandai dengan
gambaran hipodens dan
lengkap pasien ini
adanya penyimpangan
leukosit meningkat dan
struktur mediastinal yang
Hb dalam batas normal
disebut mediastinum shift
karena penderita segera
(jantung).
dibawah ke RS untuk
penanganan lebih lanjut
Pemeriksaan cek darah
sehingga tdk terjadi
lengkap umumnya pada
perdarahan yang
hematotoraks
banyak.

KESIMPULAN
Seorang pasien laki-laki berusia 36 tahun datang dengan keluhan
sesak nafas disertai luka & nyeri di dada kanan, dialami penderita +
6 1/2 jam SRMS. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, diagnosis kasus ini mengarah pada
hemopneumotoraks sinistra. Penyebab terjadinya hemotoraks pada
kasus ini adalah trauma tajam pada dada kanan akibat ditikam
dengan pisau dengan panjang 30cm.
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didaptkan sesak nafas dan
nyeri pada punggung yang memberat saat menarik nafas. Pada
pemeriksaan fisik didapati jejas pada dada kanan, perkusi redup,
pergerakan dinding dada yang tertinggal, asuskultasi didapati suara
nafas menjauh pada sebalah kanan. Serta pemeriksaan penunjang
foto thoraks diperoleh gambaran hemopneumotoraks dextra. Pada
pemeriksaan darah lengkap didapati leukosit meningkat. Penanganan
hemotoraks pada pasien ini adalah dengan memasang WSD.

THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai