Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

APPENDICITIS PERFORASI
Pembimbing : dr. Khainir Akbar, Sp. A
Oleh : Thomas Sentanu

ANATOMI
Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti
tonsil, payer patch yang membentuk produk
immunoglobulin.
Appendiks adalah suatu struktur kecil, berbentuk
seperti tabung yang berkait menempel pada bagian
awal dari sekum. Pangkalnya terletak pada
posteromedial caecum.

DEFINISI

Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena


tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces),
hiperplasia jaringan limfoid, dan cacing usus.
Obstruksi lumen merupakan penyebab utama
appendisitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat
terjadi karena parasit seperti Entamoeba hystolitic,
Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis.

ETIOLOGI
Beberapa faktor penyebab :
1. Faktor sumbatan (obstruksi)
fekallith, cacing, tumor, hiperplasia jar. Limfe.
2. Faktor bakteri
Fekalith yg terinfeksi memperparah keadaan. Yg
menyebabkan perforasi : anaerob 96%, aerob <10%.
3. Kecenderungan familiar
Terdapatnya malformasi herediter dimana appendix
lebih panjang, vaskularisasi jelek, juga dihubungkan
dengan kebiasaan makan.
4. Faktor ras dan diet

PATOFISIOLOGI

GEJALA KLINIS

Nyeri abdominal
Mual-muntah biasanya pada fase awal
Kurang nafsu makan
Obstipasi dan diare
Demam, bila sudah komplikasi (suhu berkisar 37.538.5)

PEMERIKSAAN FISIK

Demam biasanya ringan (37.5-38.5), bila suhu lebih


tinggi , mungkin sudah terjadi perforasi.
Inspeksi : kadang sudah terlihat penderita berjalan
sambil membungkuk memegang perut, tampak
kesakitan, penonjolan perut kanan bawah bisa terlihat
pada abses appendikular.
Palpasi : dengan palpasi di daerah Mc Burney
didapatkan tanda peritonitis lokal seperti :

Nyeri

tekan di Mc burney point


Nyeri lepas (blumberg sign)
Defans muscular

Nyeri rangsangan tidak langsung :


Nyeri

tekan kanan bawah pada tekanan kiri (rovsing)


Nyeri tekan kanan bawah bila penderita bergerak seperti
bernafas, batuk, mengedan, dsb (Dunphy sign)

Auskultasi : BU sering normal. Peristaltik dapat


hilang karena ileus paralitik pada peritonitis akibat
appendicitis perforasi.
Psoas sign
Obturator sign

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan lab
Darah

: didapati leukositosis, peningkatan LED


Urin : membantu menyingkirkan DD

Abdominal X-ray untuk melihat adanya fecalith


sebagai penyebab appendicitis.
USG : bila hasil pem. Fisik meragukan terutama pada
wanita, juga bila dicurigai adanya abses.
Barium enema
CT-scan
laparoscopi

ALVARADO SCORING SYSTEM

Keterangan Alavarado score :9


Dinyatakan

appendicitis akut bila > 7 point


Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa observasion of
Hematogram:
1 4 dipertimbangkan appendicitis akut
5 6 possible appendicitis tidak perlu operasi
7 9 appendicitis akut perlu pembedahan

Penanganan berdasarkan skor Alvarado :


1

4 : observasi
5 6 : antibiotik
7 10 : operasi dini

PENATALAKSANAAN

Penatalaksaan paling sering untuk appendicitis


adalah appendektomi.
Penelitian kecil pada anak dengan appendisitis
sederhana tanpa komplikasi dengan terapi nonoperatif dilaporkan angka kesembuhan >90%.
Appendisitis sederhana : nyeri dirasakan <48 jam,
hasil USG atau CT-scan menunjukkan non perforasi,
diameter appendix <1.1 cm tanpa plegmon, abses,
fecalith.
Minimal pemberian antibiotik selama 24 jam secara
intravena (piperacillin-tazobactam atau ciprofloxaxinmetronidazole) diikuti amoxicillin-clavulanate atau
ciprofloxacin dengan metronidazole untuk
menyelesaikan total 10 hari pengobatan antibiotik.

ANTIBIOTIK
Penggunaan AB dapat menurunkan insidensi infeksi
luka post operatif dan intraperitoneal abses pada
appendisitis perforasi.
Regimen AB yg digunakan harus ditujukan pada
bakteri tipikal flora yg terdpt di appendiks (organisme
anaerobic dan gram negatif).
Untuk simpel appendisitis non perforasi dpt
digunakan AB broad spectrum pre-operatif agent
(cefoxitin) atau setaranya sudah cukup efektif.

Pada
appendisitis
perforasi
atau
ganggren,
penggunaan regimen kombinasi seperti Zosyn
(piperacillin/tazobactam), ticarcillin/clavulanate, atau
ceftriaxone/metronidazole.
Triple antibiotic regiment (ampicillin, gentamicin, dan
clindamycin atau metronidazole) masih efektif, tapi
penggunaannya
menambah
biaya
dan
harus
diperhatikan komplikasi ototoxicity.
Penggunakan antibiotik diteruskan 3-5 hari postoperatif. Antibiotik oral sama efektifnya dengan
antibiotik intravena, pasien dapat menggunakan
antibiotik oral ketika bowel function kembali normal.
Peralihan ke antibiotik oral secara signifikan
mempengaruhi lama rawatan dan biaya selama
rawatan appendisitis perforasi.

DIAGNOSA BANDING

Gastroenteritis
Limfadenitis mesentrica
Ileitis akut
DHF
Peradangan pelvis
ISK
Batu ginjal atau batu ureter
Kehamilan ektopik

KOMPLIKASI
Yg sering ditemukan adalah perforasi.
Tanda-tanda perforasi :

Nyeri

lokal berganti menjadi nyeri menyeluruh


Suhu naik tinggi sekali
Nadi semakin cepat
Defans muscular
BU menurun
Distensi abd

PROGNOSIS

Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan


tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat
kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi.
Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak
diangkat.

STATUS PASIEN
Status Pasien

Identitas pasien
Nama

: Nouval Aldino Nugraha

Umur

: 7 tahun

Jenis

Kelamin : Laki-laki

Alamat

: Asrama YONIS PUR 1

Pendidikan

: Sekolah dasar

Agama
Tanggal

: Islam
masuk

: 1 Juni 2016

ANAMNESIS

Keluhan utama : nyeri pada perut kanan bawah

Telaah : nyeri perut dirasakan sejak 4 hari sebelum


masuk rumah sakit, nyeri pertama kali dirasakan di
daerah perut kanan bawah. Os lalu dibawa oleh
orang tua nya untuk mengurut perutnya sekitar 3
hari sebelum masuk ke rumah sakit. Setelah di urut,
nyeri makin bertambah, meluas ke seluruh bagian
perut. BAB (+), BAK (+), muntah (-), demam (+).

Riwayat penyakit terdahulu : -

Riwayat kehamilan ibu

: Ibu pasien rutin

memeriksakan kehamilannya di dokter sejak awal


kehamilannya, Trimester 1 (1x/bulan), Trimester
2 (2x/bulan), Trimester 3 seminggu sekali. Saat
hamil ibu tidak memiliki penyakit berat, tensi
normal, dan ada sedikit bengkak pada kaki.

Riwayat kelahiran : Pasien lahir di RS Tk II Putri


Hijau, lahir normal, ditolong oleh dokter, usia
kehamilan 37 minggu, BBL 3250 gr, langsung
menangis spontan.

Riwayat makanan :
0-4

bulan : ASI eksklusif diberikan 9-10x/hari

5-12

bulan : ASI diberikan setiap 3 jam sekali +

bubur susu mangkok kecil (2-3x/hari)


13-24

bulan : ASI masih diberikan 3x/hari,

ditambah bubur nasi (kadang-kadang nasi


lembek), 1 piring kecil + sayur bening + telur /
tempe / tahu, makan 2-3x/hari.
25

bulan - sekarang : nasi 1 piring + sayur +

telur /tempe /tahu, makan 3x /hari.

Riwayat tumbuh kembang


Pertumbuhan

BBS : 20 kg
TBS : 120 cm

Perkembangan

Psikomotor

Motorik kasar
Tengkurap (3 bulan)
Duduk (5 bulan)
Berdiri (10 bulan)
Jalan (12 bulan)
Lari (1,5 tahun)
Motorik halus
Melihat (1bulan)
Coret-coret (1tahun)
Menulis huruf (4tahun)
Membaca/menulis (6tahun)
Bicara
Berceloteh (2-3bulan)
Berbicara 1-2 kata (14 bulan)
Bicara (2 tahun)
Sosial
tepuk tangan (6bulan)
pakai sendal sendiri (3 tahun)
bermain sendiri (6 tahun)

Riwayat penyakit keluarga

: Ayah OS pernah

menderita appendicitis dan sudah dilakukan


appendectomy

Riwayat pemakaian obat : Paracetamol

Riwayat alergi obat : -

Riwayat imunisasi : Imunisasi lengkap

KEADAAN UMUM

Kesan keadaan sakit : OS tampak sakit berat

Kesadaran : Compos mentis

Vital sign
TD

: 100/70 mmHg

Pols

: 104 x/menit

RR

: 24 x/menit

: 37,7oC

Status gizi : BB 20 kg, TB 120 cm


BB menurut TB =

(Gizi kurang)

PEMERIKSAAN FISIK
Kulit : vitiligo (-), cafe au lait spot (-),
hiperpigmentasi (-), Sianosis (-), Ikterus (-),
purpura (-), eritema (-), vesikel (-), papul (-),
pustul (-), turgor kulit baik.
Rambut : warna hitam, tebal, tidak mudah
dicabut
KGB : tidak ada pembesaran KGB

Kepala : Normochepalic

Ubun-ubun : tertutup

Wajah : simetris, tidak ada pembengkakan

Mata : visus 6/6, sklera ikterik (-), konjungtiva anemis (-),


Pupil isokor, bulat, 3 mm, lensa jernih, strabismus (-),
refleks cahaya (+/+)

Telinga : DBN

Hidung : DBN, deviasi septum (-), nafas cuping hidung (-)

Mulut : bibir sianosis (-), simetris kiri dan kanan, trismus (-)

Faring : T1-T1 (normal)

Leher : pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-), massa (-),


tiroid tidak membesar

Paru (thorax)
Inspeksi

: bentuk dada simetris, retraksi dada (-)


Palpasi: stem fremitus kiri dan kanan sama, krepitasi
(-)
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler, rhonki (-), wheezing
(-), stridor (-)

Jantung

Inspeksi

: iktrus kordis (+) di ICS IV-V linea midclavicularis kiri


Palpasi : teraba iktus cordia di ICS IV-V linea midclavikualris kiri
Perkusi : Auskultasi : bunyi jantung S1 = S2 reguler tunggal,
tidak ada suara tambahan (gallop, murmur)

Abdomen
Inspeksi

: tidak tampak pembesaran abdomen,

distensi (+)
Auskultasi
Palpasi

: bising usus (+)

: defans muscular (+), teraba keras, nyeri

sentuh (+), hepatosplenomegali sulit dinilai


Perkusi

timpani

Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan

Ektremitas : CRT <2 detik, akral teraba hangat,


sianosis (-)

DIAGNOSA BANDING

Susp. Peritonitis ec. Appendicitis perforasi

Gastroenteritis

Acute gastritis

ISK

Kolesistitis

Kolelithiasis

Diagnosa kerja
Peritonitis

ec. Appendicitis perforasi

Terapi sementara
IVFD

asering 30 ggt/i micro


Inj. Novalgin 150 mg
Puasa, pasang NGT

Pemeriksaan penunjang
Foto

abdomen 2 posisi (supine dan erect)


Cek DL, Ct/Bt, Ur/Cr
Foto thorax
USG appendix

Anjuran

Konsul

dokter bedah anak


Anjuran dokter bedah anak, dilakukan
appendectomy laparotomy cito.

HASIL PEMERIKSAAN LAB

Hematologi

Coagulation

Renal Function

FOTO THORAX

Jantung bentuk dan ukuran normal

Sinus costofrenicus kanan dan kiri lancip

Tidak tampak infiltrat di kedua lapangan paru

Kesan :

Cor dan pulmo dalam batas normal

FOTO ABDOMEN 2 POSISI

Distribusi udara usus tidak mencapai distal.

Tampak dilatasi dan penebalan dinding usus.

Tampak air-fluid lever bertingkat-tingkat.

Tidak tampak udara bebas ekstralumen.

Tidak tampak bayangan batu radioopak di proyeksi traktus urinarius.


Tulang-tulang intak.
Kesimpulan : sesuai ileus obstruksif

USG APPENDIX
Dilakukan pemeriksaan USG abdomen kanan
bawah, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tampak

lesi hipoekoik lamellar Doughnut sign

ukuran calliber +/- 0.7 cm dengan kesuraman di


abdomen kanan bawah. Tampak cairan bebas
minimal.
Tidak

tampak batu ginjal kanan, hidronefrosis atau

batu buli.
Kesan

Sesuai gambaran acute appendicitis

FOLLOW UP PASIEN

THANK YOU