Anda di halaman 1dari 5

UNIT STROKE

RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang

Latar Belakang
Permasalahan Kesehatan Otak dan Saraf

3 hal utama dalam permasalahan kesehatan otak dan saraf, yaitu: 1) Penyakit
otak dan saraf dapat menimbulkan kesakitan, angka kecacatan dan angka
kematian yang tinggi; 2) Peningkatan usia harapan hidup (UHH) berdampak pada
proses penuaan organ tubuh termasuk otak dan jaringan saraf; dan 3)
Peningkatan masalah kesehatan otak lainnya, seperti infeksi saraf akibat HIVAIDS, trauma kepala, tumor otak, kelainan bawaan, dan lain-lain.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan
telah terjadi peningkatan prevalensi stroke di Indonesia dari 8,3 per mil (tahun
2007) menjadi 12,1 per mil (tahun 2013). Prevalensi penyakit Stroke tertinggi di
Sulawesi Utara (10,8per mil), Yogyakarta (10,3 per mil), Bangka Belitung (9,7 per
mil) dan DKI Jakarta (9,7 per mil).

Ke depan, prevalensi penderita Stroke dipresiksi akan meningkat menjadi 25-30


per mil. Di samping itu, sebagian dari pasien yang mengalami Stroke akan
berakhir dengan kecacatan. Berdasarkan beberapa penelitian didapatkan tingkat
kecacatan Stroke mencapai 65%.

Stroke memerlukan tindakan kedaruratan medik


yang cepat, tepat.
Stroke mempunyai permasalahan yang
kompleks sehingga penanganannya
membutuhkan kerjasama tim terpadu.
Oleh karenanya saat ini mulai dikembangkan
unit rawat inap yang diperuntukkan khusus
untuk pasien stroke yang disebut dengan unit
stroke guna menurunkan angka kematian
stroke, menurunkan derajat kecacatan, serta
memperpendek lama perawatan di Rumah sakit

Unit stroke terdiri dari multidisiplin profesi.


Tim inti terdiri dari dokter spesialis saraf
sebagai ketua tim , perawat , keterapian
fisik ( fisioterapis, okupasional terapis, dan
terapis wicara ) , ahli gizi dan pekerja sosial.
Sedangkan tim konsultan terdiri dari disiplin
ilmu penyakit dalam, bedah saraf,
rehabilitasi medik, penyakit jiwa dan lainlain.

Kasus stroke di RSCM sekitar 1.000 per tahun. Penanganan di RSCM mampu
menekan angka kematian akibat stroke dari 40% menjadi 25%, bahkan di
Unit
Pelayanan Khusus Stroke Soepardjo Roestam yang merupakan unit swadana
bisa
ditekan menjadi 13% (Siswono, 2003). Unit Stroke RSUP Dr Kariadi yang
sejak
berdiri pada 7 juni 2000 19 juli 2001, unit ini telah menangani 658
penderita stroke
(Unit Stroke RSUP dr. Kariadi, 2001). Dari sejumlah klien post stroke, 10%
klien
dapat kembali bekerja tanpa kelemahan, 40% penyandang cacat ringan dan
50%
penyandang cacat berat. Untuk itu klien post stroke membutuhkan program
rehabilitasi.