Anda di halaman 1dari 104

STABILITAS OBAT

2 SKS

STABILITAS OBAT

Deskripsi Mata Kuliah

Membahas mengenai

kinetika reaksi suatu obat, meliputi ruang lingkup

faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi,


berbagai macam jenis reaksi

komposit,
katalis enzim

stabilitas berbagai bentuk sediaan:

kimia kinetik dan stabilitas obat,

cairan,
sistem dispersi
zat padat,

uji stabilitas pada tahap pengembangan formula dan uji


stabilitas sediaan menurut ketentuan yang berlaku secara
nasional maupun internasional.

STABILITAS OBAT

Tujuan Umum / Standar


Kompetensi

Memahami peranan kinetika reaksi


terhadap penguraian suatu obat.
Memahami faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kecepatan reaksi.
Memahami dan dapat menentukan uji
stabilitas serta usia guna dari suatu
sediaan farmasi

STABILITAS OBAT

Buku referensi

Cara Pembuatan Obat yang Baik


(CPOB), BPOM, 2001
Cartensen, J. T., Drug Stability
Principle and Practice, Marcel Dekker
Inc., 2004
Connors, K. A., Gordon L. A., and
Valentino J.S, Chemical Stability of
Pharmaceuticals, 2nd ed., Wiley
Interscience, 2008
Dan buku lain
STABILITAS OBAT

Pendahuluan

Ruang lingkup kimia kinetika

Kinetika reaksi
Orde kinetika

Pengertian stabilitas sediaan


farmasi (secara farmasetika)

Degradasi obat penurunan kadar


Kadaluwarsa shelf life (90% kadar)
Penting untuk diketahui
STABILITAS OBAT

Dekomposisi obat

Hidrolisis
Dekomposisi karena air
Harus diperhatikan dalam
sediaan cair
Modifikasi struktur

STABILITAS OBAT

Contoh gugus yang


mungkin terhidrolisis

STABILITAS OBAT

Contoh lain

STABILITAS OBAT

Dekomposisi obat

Oksidasi
Karena lingkungan udara
auto oksidasi
Beri antioksidan

STABILITAS OBAT

Contoh gugus yang bisa


teroksidasi

STABILITAS OBAT

10

Dekomposisi obat

Isomerisasi /Rasemisasi terbentuk isomer


inaktif / rasemat

Foto kimia / fotolisis karena pengaruh


cahaya

Perubahan struktur senyawa pada konfigurasi


struktur 3 dimensinya
Perubahan pada posisi-posisi atom dalam struktru
bangun senyawa

Degradasi oleh cahaya


Diperkuat dengan adanya dekomposisi lain seperti
oksidasi dan hidrolisis

Polimerisasi senyawa dengan BM tinggi


STABILITAS OBAT

11

Degradasi secara fisika

Polimorfi
Penguapan
Aging
Adsorpsi
Instabilitas fisik dalam sistem
heterogen

STABILITAS OBAT

12

Polimorfi

Perubahan struktur kristal


Bisa menyebabkan perubahan sifat
fisika

Merubah titik leleh


Merubah kelarutan
dll

STABILITAS OBAT

13

Penguapan

Beberapa senyawa mudah


menguap
Dianggap sebagai instabilitas
kadar bisa berkurang
Penanganan khusus untuk
menjaga penguapan

STABILITAS OBAT

14

Aging

PENGARUH WAKTU TERHADAP


STABILITAS SENYAWA
DIPENGARUHI FAKTOR LAIN

STABILITAS OBAT

15

Adsorpsi

Interaksi antar senyawa


Biasanya antara sediaan obat
dengan wadahnya
Bisa menimbulkan senyawa baru
yang toksis

Contoh karet penutup dengan sirup


obat
Wadah salep plastik dengan isinya
STABILITAS OBAT

16

Laju Reaksi dan Kinetika Kimia


Laju reaksi menggambarkan
seberapa cepat reaktan terpakai dan
produk terbentuk
Kinetika Kimia mempelajari laju
reaksi kimia dan mekanisme (tahapan)
reaksinya
STABILITAS OBAT

17

Laju Reaksi dan Kinetika Kimia


Definisi Matematis
Perubahan kuantitas reaktan atau produk selang
waktu tertentu
Kuantitasnya dapat berupa : massa, volume,
konsentrasi, tekanan, dll
kuantitas akhir kuantitas awal
Laju
=
waktu akhir waktu awal

[ ]
t

p
or

STABILITAS OBAT

18

Laju Reaksi
Untuk mempelajari kinetika reaksi:
Identifikasi reaktan dan produk
Tuliskan reaksi kimianya
Hitung konsentrasi salah satu reaktan atau
produk selama interval waktu tertentu
Catatan:
Harus punya prosedur untuk mengukur konsentrasi
salah satu spesies yang terlibat
Monitoring yang berkelanjutan harus dilakukan
sebisa mungkin
STABILITAS OBAT

19

Bagaimana Memonitornya ?

Pengurangan massa
Gas yang dilepaskan
Intensitas warna
Perubahan tekanan
Beberapa analisis kimia

STABILITAS OBAT

20

Contoh:
Reaksi Dekomposisi N2O5
Dinitrogen pentaoksida dapat
terdekomposisi menurut reaksi :
2N2O5(g)

2N2O4(g) + O2(g)

Reaksi ini dapat berlangsung dalam


suatu pelarut inert seperti CCl4
Ketika N2O5 terdekomposisi, N2O4 akan
tetap berada dalam pelarut dan O2
akan terbang sehingga dapat diukur
STABILITAS OBAT

21

Contoh
Kita dapat mengukur O2 selama reaksi
dekomposisi N2O5 berlangsung

Temperatur harus dijaga sampai


ketelitian 0,01oC
Larutan harus dikocok untuk
menghindari adanya O2 yang terlarut
jenuh
Diketahui bahwa pada awalnya reaksi
berlangsung cepat
kemudian
melambat22
STABILITAS
OBAT

Stirring bar
STABILITAS OBAT

23

Faktor yang Mempengaruhi


Laju Reaksi
Sifat alami reaktan
Misalnya
Bensin cair terbakar perlahan, tetapi
bensin gas terbakar eksplosif
Dua larutan yang tidak bercampur
(immiscible) bereaksi lambat pada
interface, tetapi ketika dikocok reaksi
bertambah cepat
Fosfor putih terbakar spontan dalam
udara, tetapi, fosfor merah stabil di udara
STABILITAS OBAT

24

Faktor yang Mempengaruhi


Laju Reaksi
Konsentrasi reaktan

Untuk reaksi 2HCl(aq) + Mg(s)


MgCl2(aq) + H2(g) meningkatkan
konentrasi HCl meningkatkan laju
reaksi yang dapat diamati dengan
pelepasan gas hidrogen

Kenapa?
STABILITAS OBAT

25

Faktor yang Mempengaruhi


Laju Reaksi
Temperatur
Tergantung dari perubahan entalpi reaksi,
Hrxn = +, membutuhkan kalor, sehingga
meningkatkan temperatur akan
meningkatkan laju.
Secara umum, peningkatan 10 K
menyebabkan kenaikan laju dua kali lipatnya.
Kenapa ??
Kehadiran Katalis
Menurunkan energi aktivasi reaksi
STABILITAS OBAT
26

Teori Laju Reaksi


Teori Tumbukan

Berdasarkan teori kinetik-molekuler


Reaktan harus bertumbukan agar dapat bereaksi
Mereka harus bertumbukan dengan energi yang
cukup dan orientasi yang tepat,sehingga dapat
memutuskan ikatan lama untuk membentuk katan
baru
Bila temperatur naik, maka energi kinetik rataratanya bertambah-laju reaksi juga bertambah
Bila konsentrasi dinaikkan, maka jumlah tumbukan
akan bertambah sehingga laju reaksi pun meningkat
STABILITAS OBAT

27

Teori Laju Reaksi


Teori Tumbukan
oksigen

tumbukan
Tumbukan

etuna

karbon dioxida

STABILITAS OBAT

air

28

Teori Laju Reaksi


Transition state

Ketika reaktan bertumbukan mereka akan


memebentuk kompleks teraktifkan
Kompelks teraktifkan tersebut berada pada
keadaan transisi.
Waktu hidup sekitar 10 100 fs
Kemudian akan membentuk produk atau
reaktan
Ketika produk terbentuk, sangatlah sulit untuk
kembali ke keadaan tansisi, untuk reaksi yang
eksotermal
STABILITAS OBAT

29

Profil Reaksi Reaction Profile

STABILITAS OBAT

30

Contoh
Profilof
Examples
Reaction Profile
Reaksi

STABILITAS OBAT

31

Contoh
Profilof
Examples
Reaction Profile
Reaksi
Energi aktivasi tinggi,
panas reaksi rendah

Energi aktivasi rendah,


panas reaksi tinggi
STABILITAS OBAT

32

Kembali ke
Reaksi dekomposisi N2O5
2N2O5(g)

2N2O4(g) + O2(g)

STABILITAS OBAT

33

Dekomposisi Reaksi N2O5

Hasil
ekperimen

Laju produksi
O2 berkurang

STABILITAS OBAT

34

Laju reaksi rata-rata


Kita dapat menghitung laju reaksi rata-rata
pembentukan oksigen selang waktu tertentu
Kecepatan rata-rata
pembentukan O2

laju

VO2
t

Satuan laju untuk reaksi ini


adalah mL O2 (STP) / s
Perhatikan bahwa laju reaksi
berkurang sejalan meningkatnya
waktu
STABILITAS OBAT

35

Plot Data

STABILITAS OBAT

36

Laju Instantaneous

Dari grafik terlihat


bahwa laju reaksi
berkurang selama
waktu reaksi
Laju Instantaneous
Laju pada waktu
tertentu
Dilihat dari slope
(tangensial)

Slope pada 4000 s


Slope pada 2400 s
Slope pada 1600 s

Laju pembentukan O2 semakin berkurang


STABILITAS OBAT

37

Laju Awal Reaksi (Initial Rate)

Laju
pembentukan
O2 pada waktu
nol (0 s) atau
pada saat
reaksi tepat
akan dimulai

STABILITAS OBAT

38

Laju vs Konsentrasi

Kita dapat mengembangkan


secara kuantitatif hubungan
antara konsentrasi dengan laju
reaksi
Dengan mencari tangensial dari
kurva [N2O5], kita dapat
mengukur laju reaksi
Sesuai dengan data dapat
diketahui bahwa laju raksi
berbanding lurus dengan
konstanta laju reaksi
Laju = k [N2O5]
Sehingga kita dapat menghitung
nilai k untuk tiap nilai laju reaksi
STABILITAS OBAT

39

Hukum Laju Reaksi


Untuk reaksi umum
aA + bB + .. eE + fF + gG.
Hukum laju reaksinya :
v = k [A]x[B]y
Dimana
v = laju reaksi
k = konstanta laju reaksi
x, y = orde reaksi terhadap A dan B
x+y = total orde reaksi
Orde reaksi tidak selalu sama dengan koefisien
reaksi

STABILITAS OBAT

40

Mencari Hukum Laju


Metode laju awal reaksi
Orde untuk tiap reaktan dapat dicari dengan
Merubah konsentrasi awalnya
Menjaga konsentrasi dan kondisi reaktan
lainnya tetap
Mengukur laju awalnya
Perubahan pada kecepatan digunakan untuk
mengukur orde tiap reaktan. Prosesnya
dilakukan secara berulang-ulang
STABILITAS OBAT

41

Contoh : N2O5
Diambil dari dekomposisi N2O5

Hukum laju :

v = k[N2O5]x

Tujuannya adalah mencari x


STABILITAS OBAT

42

Contoh N2O5
Eksp. 1
Eksp. 2
Kita bagi persamaan eksperimen 1 dengan
persamaan eksperimen 2

STABILITAS OBAT

43

Contoh yang lebih kompleks


Untuk reaksi di bawah diperoleh hasil :

STABILITAS OBAT

44

Contoh yang lebih kompleks


Untuk Order A

Untuk Order B

Gunakan Reaksi 1 dan 2

Gunakan Reaksi 1 dan 3

6,8 10 8 M / s 0,060 M

8
1,7 10 M / s 0,030 M x

4,9 10 8 M / s 0,010 M

8
1,7 10 M / s 0,020 M y

4,0 2 x
x2

2,9 2 y

y 3/ 2

Sehinga diperoleh

Untuk Order C

X = 2, y = 3/2 dan z = 0

Gunakan Reaksi 1 dan 2

1,7 10 8 M / s 0,100M

8
1,7 10 M / s 0,050 M z

Hukum Laju:

1 2z
z0

Total orde : 31/2

V = k [A]2[B]3/2
STABILITAS OBAT

45

Mencari Hukum Laju Reaksi


Metode Grafik
Dengan menggunakan integrated laws, dapat
diperoleh garis lurus dari plot data. Order reaksi
ditetntukan apabila data sesuai dengan plotnya

STABILITAS OBAT

46

Finding
Mencari Hukum
the Rate
LajuLaw
Reaksi

Dilihat dari plot ini maka dapat


disimpulkan bahwa reaksi
dekomposisi N2O5 merupakan
reaksi order 1 karena
menghasilkan garis lurus
STABILITAS OBAT

47

Reaksi Orde Pertama


Beberapa aplikasi dari reaksi order I

Menggabarkan berapa banyak obat yang


dilepas pada peredaran darah atau yang
digunakan tubuh
Sangat berguna di bidang geokimia
Peluruhan radioakif

Waktu Paruh (t1/2)


Waktu yang dibutuhkan untuk meluruhkan
dari kuantitas awal suatu reaktan
STABILITAS OBAT

48

Waktu Paruh
Dari data N2O5 dilihat bahwa
dibutuhkan waktu 1900 detik
untuk mereduksi jumlah awal
N2O5 menjadi setengahnya.
Butuh 1900 detik lagi untuk
mereduksi setengahnya kembali

STABILITAS OBAT

49

Waktu Paruh
Hubungan waktu paruh dengan konstanta laju reaksi

Waktu paruh dapat digunakan untuk


menghitung konsntanta laju reaksi orde
pertama
Contoh N2O5 dengan waktu paruh 1900 detik

STABILITAS OBAT

50

Pengaruh Temperatur
Laju reaksi sangat bergantung dengan temperatur
Berikut adalah konstanta
reaksi dekomposisi N2O5
pada berbagai temperatur

STABILITAS OBAT

51

Waktu Paruh Reaksi Orde 2

STABILITAS OBAT

52

Pengaruh Temperatur

Persamaan yang menyatakan hubungan


ini adalah persamaan Arrhenius

STABILITAS OBAT

53

Pengaruh
Temperatur

Bentuk lain persamaan Arrhenius:

Jika ln k diplot terhadap 1/T maka akan didapat garis


lurus dengan nilai tangen Ea/R

Energi Aktivasi
Energi yang dibutuhkan oleh suatu molekul untuk
dapat bereksi
STABILITAS OBAT

54

Hasil dari perhitungan data N2O5

STABILITAS OBAT

55

Temperatur dan Ea
Bila temperatur meningkat, fraksi molekul
yang memiliki energi kinetik pun
meningkat sehingga meningkatkan energi
aktivasinya

STABILITAS OBAT

56

Mekanisme Reaksi

Suatu reaksi dapat berlangsung


hanya dengan satu tahap
Contoh:
Na+(aq) + OH-(aq) + H+(aq) + Cl(aq) H2O(l) + Na+(aq) + Cl-(aq)
Spectator ions
STABILITAS OBAT

57

Mekanisme Reaksi

Kebanyakan reaksi kimia berjalan dengan


beberapa tahap yang berurutan
Setiap tahapan memiliki laju yang bersesuaian
Laju keseluruhan ditentukan oleh tahapan yang
berlangsung paling lambat (rate-determining
step) Mengapa?
Prinsip:
Jika konsentrasi suatu reaktan muncul dalam persamaan
laju reaksi, maka reaktan tersebut atau sesuatu yang
merupakan hasil penurunan reaktan tersebut terlibat
dalam tahapan yang lambat. Jika tidak muncul dalam
persamaan laju reaksi, maka baik reaktan maupun
turunannya tidak terlibat dalam tahapan yang lambat.
STABILITAS OBAT

58

Kembali ke
Reaksi dekomposisi N2O5
2N2O5(g)

2N2O4(g) + O2(g)

Reaksi ini bukan reaksi orde 2 walaupun


ini merupakan reaksi bimolecular

tumbukan
Dua molekul gas
dalam tumbukan
STABILITAS OBAT

59

v = k [N2O5]
Persamaan ini menunjukkan bahwa
tahapan yang paling lambat melibatkan
satu molekul N2O5 yang terdekomposisi
lambat

cepat
+

lambat
Tahapan pertama merupakan uni
molecular dengan tiap molekul
pecah. Mereka tidak bertumbukan
terlebih dahulu

STABILITAS OBAT

cepat

60

Tahap I

Tahap II
Tahap III

e
n
e
r
g
i

Ea1

Ea2

Ea3

Koordinat reaksi
STABILITAS OBAT

61

Contoh, lagi.
O

Reaksi yang dikatalisis asam


antara propanon dengan iodin
CH3COCH3(aq) + I2(aq)

H+(aq)

fast

+
H3C C CH3 + H

+
OH

slow

fast
H3C C CH2 + I 2

H3C C CH2I + I

STABILITAS OBAT

OH

+ H+

+
OH

OH

+
OH

H3C C CH3

H3C C CH2

H3C C CH3

CH3COCH2I(aq) + HI(aq)

r = k[CH3COCH3]1[H+]1[I2]o

+
OH

fast

H3C C CH2I + I O
H3C C CH2I + HI

62

Contoh, lagi.
Reaksi antara metanol dan asam
HCl
CH3OH(aq) + HCl(aq)
CH3Cl(aq) + H2O(aq)

H3C OH + H

r = k[CH3OH][HCl]

H C O H

Bila eksperimen dilakukan dengan


sangat teliti:

r = k[CH3OH][H+][Cl-]

H
H C Cl + O H
H

Penambahan [H ] dari sumber asam


kuat yang lain dan menambahkan
[Cl-] dari NaCl kecepatan reaksi jug
bertambah, jadi
+

+ H
H3C O
H

Cl

STABILITAS OBAT

63

Katalis

Katalis meningatkan koefisien reaksi


dengan menyediakan jalur reaksi alternatif
(atau mekanisme) dengan energi aktivasi
yang lebih rendah
Katalis tidak mengubah kesetimbangan
hanya mempercepat terjadinya
kesetimbangan
Contoh:
Produksi NH3 menggunakan katalis Pt
Catalytic converter pada knalpot
STABILITAS OBAT

64

Aksi Katalis

STABILITAS OBAT

65

Katalis

Homogen : satu fasa


Heterogen : reaktan dan katalis berada
pada
fasa yang berbeda

Contoh : pada produksi amonia


N2 + 3H2
2NH3 (katalis Pt)
Tahapan penentu laju adalah pemutusan ikatan H-

STABILITAS OBAT

66

STABILITAS OBAT
DALAM SEDIAAN

FAKTOR YANG BERPENGARUH


UPAYA PENINGKATAN STABILITAS
CARA PENYIMPANAN
UJI STABILITAS SEDIAAN

STABILITAS OBAT

67

FAKTOR YANG
BERPENGARUH

SIFAT ZAT AKTIF


INTERAKSI DENGAN ZAT LAIN
LINGKUNGAN
FORMULASI
CARA PEMBUATAN
PENYIMPANAN
STABILITAS OBAT

68

SIFAT ZAT AKTIF

SIFAT KIMIA FISIKA

BENTUK PARTIKEL
UKURAN PARTIKEL
GUGUS-GUGUS FUNGSIONAL YANG
ADA
STRUKTUR BANGUN MOLEKUL

STABILITAS OBAT

69

INTERAKSI DENGAN ZAT LAIN

ZAT AKTIF DENGAN ZAT AKTIF LAIN

REAKSI LANGSUNG TANPA


PENGARUH
PENGARUH FAKTOR LUAR

ZAT AKTIF DENGAN EKSIPIEN

DENGAN BAHAN PEMBAWA UTAMA


DENGAN BAHAN TAMBAHAN
STABILITAS OBAT

70

FAKTOR LINGKUNGAN

UDARA

CAHAYA

OKSIDASI
HIDROLISA
OKSIDASI

PELARUT

JENIS PELARUT
KEASAMAN
STABILITAS OBAT

71

FAKTOR YANG
BERPENGARUH:
FORMULASI

KOMPOSISI SEDIAAN
BENTUK SEDIAAN
ZAT AKTIF LAIN DAN EKSIPIEN
WADAH

STABILITAS OBAT

72

PEMBUATAN

BENTUK SEDIAAN
TAHAPAN PEMBUATAN
PENGARUH MEKANIK MESIN
PENGARUH LINGKUNGAN SELAMA
PROSES PEMBUATAN
PENYIMPANAN SEMENTARA
PRODUK ANTARA
STABILITAS OBAT

73

FAKTOR YANG
BERPENGARUH:
PENYIMPANAN

BENTUK SEDIAAN
WADAH YANG DIGUNAKAN

KEMASAN PRIMER
KEMASAN SEKUNDER
TEKNIK PENYIMPANAN

STABILITAS OBAT

74

STABILITAS SEDIAAN
PADAT

SEDIAAN PADAT DIANGGAP PALING


STABIL
BENTUK SERBUK PALING TIDAK
STABIL
FAKTOR YANG PALING
BERPENGARUH: UKURAN PARTIKEL
DAN PROSES PEMBUATAN
STABILITAS OBAT

75

STABILITAS SEDIAAN
PADAT

SEDIAAN PADAT DIANGGAP PALING


STABIL, karena:

Kandungan air yang rendah, <5%


bakteri tidak tumbuh, hidrolisa tidak
terjadi, oksidasi lambat
Bentuk kompak, ruang antar partikel
kecil oksidasi rendah

STABILITAS OBAT

76

STABILITAS SEDIAAN
PADAT

Di antara sediaan padat, bentuk serbuk


paling tidak stabil, karena luas
permukaan relatif paling besar, ruang
antar partikel besar
Oksidasi, hidrolisa, dan reaksi-reaksi
akibat faktor eksternal lain sangat
mungkin terjadi
Jika higroskopis kenaikan kadar air
mikroba tumbuh
STABILITAS OBAT

77

FAKTOR YANG
BERPENGARUH PADA
SEDIAAN
PADAT

LINGKUNGAN:

Udara, cahaya, uap air


pH

BENTUK DAN UKURAN PARTIKEL


SERBUK ATAU BUKAN
KEMASAN YANG DIGUNAKAN

STABILITAS OBAT

78

UPAYA PENINGKATAN
STABILITAS SEDIAAN
PADAT

PENYUSUNAN KOMPOSISI
PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN
PEMILIHAN EKSIPIEN
CARA PEMBUATAN YANG TEPAT
WADAH DAN PENYIMPANAN

STABILITAS OBAT

79

PENYUSUNAN KOMPOSISI

Pilih bahan yang tidak higroskopis


Pilih bahan paling inert
Tambah dengan bahan pelindung
bahan aktif dari pengaruh
lingkungan
Pertimbangkan bahan yang dapat
menaikkan stabilitas
STABILITAS OBAT

80

PEMILIHAN BENTUK
SEDIAAN

BENTUK PADAT KOMPAK LEBIH


STABIL DIBANDING BENTUK PADAT
SERBUK
TABLET EFERVESCEN RELATIF
KURANG STABIL
PARTIKEL BERPORI LEBIH TIDAK
STABIL: SERBUK/GRANUL
EFERVESCEN KURANG STABIL
DIBANDING SERBUK BIASA
STABILITAS OBAT

81

PROSES PEMBUATAN

PEMBUATAN SEDIAAN DENGAN


PROSES PANJANG MENYEBABKAN
GANGGUAN STABILITAS
SISTEM TERTUTUP LEBIH DAPAT
MENJAGA STABILITAS
MENGHINDARI KONTAK UDARA
DAN AIR SEJAUH MUNGKIN SELAMA
PROSES PILIHAN TERBAIK
STABILITAS OBAT

82

WADAH DAN
PENYIMPANAN

WADAH YANG KEDAP UDARA DAN


KEDAP CAHAYA MERUPAKAN
PILIHAN UNTUK MENJAGA
STABILITAS
PENYIMPANAN SELALU DI TEMPAT
YANG BEBAS DARI PENGARUH
LINGKUNGAN, SEKALIPUN
WADAHNYA SUDAH BAIK
STABILITAS OBAT

83

STABILITAS SEDIAAN
SEMIPADAT

RELATIF TIDAK STABIL


DIBANDINGKAN SEDIAAN PADAT
STABILITAS TERGANTUNG BASIS
DAN SIFAT KIMIA ZAT AKTIFNYA
KOMPOSISI DAN PEMBUATAN
SEDIAAN PERLU MENJADI PERHATIAN
WADAH / KEMASAN HARUS TEPAT
STABILITAS OBAT

84

FAKTOR BERPENGARUH
PADA SEDIAAN SEMIPADAT

SIFAT KIMIA FISIKA ZAT AKTIF DAN


BASIS YANG DIGUNAKAN
SISTEM DISPERSI ZAT AKTIF
PEMBAWA
BAHAN PENDISPERSI ZAT AKTIF
BAHAN TAMBAHAN LAIN
KEMASAN
PENYIMPANAN
STABILITAS OBAT

85

SIFAT KIMIA FISIKA ZAT AKTIF


DAN BASIS YANG DIGUNAKAN

SIFAT FISIKA

BENTUK PARTIKEL
UKURAN PARTIKEL

SIFAT KIMIA

GUGUS-GUGUS FUNGSIONAL YANG


ADA
STRUKTUR BANGUN MOLEKUL
STABILITAS OBAT

86

SISTEM DISPERSI ZAT AKTIF


PEMBAWA

DISPERSI MOLEKULAR LEBIH


TIDAK STABIL
DISPERSI KOLOIDAL : EMULSI DAN
SUSPENSI STABILITAS LEBIH BAIK
EMULSI/MIKROEMULSI TIPE: A/M
ATAU M/A
SUSPENSI : PADAT LEBIH STABIL
STABILITAS OBAT

87

BAHAN PENDISPERSI ZAT


AKTIF

DALAM EMULSI MAUPUN SUSPENSI


SELALU ADA PENDISPERS, HARUS
MENJAMIN STABILITAS KIMIA
MEMPENGARUHI UKURAN PARTIKEL
KESTABILAN FISIK DAN KIMIA
MELINDUNGI PARTIKEL BAHAN AKTIF
MENAIKKAN STABILITAS ZAT AKTIF
BISA MERUBAH KELARUTAN BISA
MENGGANGGU STABILITAS
INERT?
STABILITAS OBAT

88

BAHAN TAMBAHAN LAIN

SANGAT BERPENGARUH TERHADAP ZAT


AKTIF
INERT ? PASTIKAN DEGRADASI LAMBAT
SEBAIKNYA MEMBANTU MEMPERLAMBAT
DEGRADASI ZAT AKTIF
HARUS DIKETAHUI STABILITASNYA BAIK
DALAM KONDISI TUNGGAL MAUPUN
CAMPURAN DENGAN BAHAN LAIN DAN
ZAT AKTIF
STABILITAS OBAT

89

KEMASAN

PERHATIKAN KANDUNGAN ZAT


AKTIF DAN ZAT TAMBAHAN
PERHATIKAN BAHAN WADAH HARUS
SEUAI
BENTUK KEMASAN YANG COCOK
KEKEDAPAN KEMASAN BAIK
TERHADAP CAHAYA MAUPUN UDARA
STABILITAS OBAT

90

PENYIMPANAN

PERHATIKAN BENTUK SEDIAAN


BAHAN WADAH YANG SESUAI
SIMPAN DENGAN JAMINAN TIDAK
TERDEGRADASI ATAU LAMBAT
TERDEGRADASI
PERHATIKAN MASING-MASING
KOMPONEN
STABILITAS OBAT

91

STABILITAS SEDIAAN CAIR

SEDIAAN CAIR: LARUTAN, SUSPENSI DAN


EMULSI
LARUTAN DALAM AIR DIANGGAP PALING
TIDAK STABIL SUSPENSI DAN EMULSI
SEBAGAI ALTERNATIF
DIPERLUKAN UPAYA MAKSIMAL UNTUK
MENAIKKAN STABILITAS DIBUAT DAN
DISISMPAN DALAM BENTUK KERING
SEBELUM DIPAKAI
STABILITAS OBAT

92

FAKTOR BERPENGARUH
PADA SEDIAAN CAIR

SIFAT KIMIA FISIKA ZAT AKTIF


LARUTAN JENIS PELARUT
LINGKUNGAN DAN KEASAMAN (pH)
SUSPENSI/EMULSI JENIS PEMBAWA,
BAHAN PENDISPERS, DAN PENGENTAL
BAHAN TAMBAHAN LAIN
KEMASAN DAN PENYIMPANAN
STABILITAS OBAT

93

UPAYA PENINGKATAN
STABILITAS

DICARI BENTUK SEDIAAN


ALTERNATIF
DITAMBAHKAN BAHAN PENGAWET ANTIOKSIDAN
DIBUAT DALAM BENTUK KERING
SEBELUM DIGUNAKAN
KEMASAN DAN PENYIMPANAN YANG
TEPAT
STABILITAS OBAT

94

BAHAN PENGAWET DAN


ANTIOKSIDAN

Pengawet (preservatif) BAHAN TAMBAHAN


YANG MAMPU MENJAGA PERTUMBUHAN
MIKROBA DALAM SEDIAAN NON STERIL
SELAMA ATAU SETELAH PRODUKSI, ATAU
UNTUK SEDIAAN MULTI DOSIS SELAMA
PENYIMPANAN
Antioksidan menjaga stabilitas dengan
cara menunda atau memperlambat
terjadinya oksidasi
STABILITAS OBAT

95

PRESERVATIF

PRESERVATIF/PENGAWET:
DIPAKAI BILA ADA KEMUNGKINAN
KONTAMINASI DAN PERTUMBUHAN
BAKTERI SELAMA PEMAKAIAN DAN
PENYIMPANAN OLEH PASIEN
MENJAGA STABILITAS SEDIAAN OBAT
KARENA PENGARUH PERTUMBUHAN
MIKROBA

STABILITAS OBAT

96

PRESERVATIF
PRESERVATIF ANTIMIKROBA MENURUT USP
BENZALKONIUM KLORIDA, ASAM BENZOAT,
BENZIL ALKOHOL, BUTIL PARABEN,
CETYLPIRIDIUM KLORIDA, KLORBUTANOL, KLOR
KRESOL, KRESOL, ASAM DEHIDROASETAT, ETIL
PARABEN, METIL PARABEN, FENOL, FENILETIL
ALKOHOL, FENILMERKURI, KALIUM BENZOAT,
KALIUM SORBAT, NATRIUM BENZOAT, NATRIUM
PROPIONAT, ASAM SORBAT, DAN TIMOL

STABILITAS OBAT

97

PRESERVATIF
PRESERVATIF SEDIAAN ORAL:

ETANOL, EFEKTIF PADA KADAR 15 17,5


% TERGANTUNG KADAR AIR DAN pH

PROPLEN GLIKOL, EFEKTIF PADA KADAR


10% b/v

GLISERIN, EFEKTIF KADAR >50%

BENZIL ALKOHOL, EFEKTIF KADAR 12%

ASAM ORGANIK

ESTER PARABEN
STABILITAS OBAT

98

PRESERVATIF
PRESERVATIF TOPIKAL:
ALKOHOL DAN GLIKOL
ASAM ORGANIK
ESTER PARABEN
DERIVAT ETIL MERKURI
GARAM DARI BASA AMONUM
KUARTENER
STABILITAS OBAT

99

PRESERVATIF
PRESERVATIF OPTHALMIK

PRODUK OPTALMIK HARUS STERIL, UNTUK


MULTIDOSE HARUS DIBERI PENGAWET YANG
COCOK
BEBERAPA PNGAWET OPTALMIK A.L:
BENZALKONIUM KLORID, BENZETONIUM KLORID,
CETYLPIRIDIUM KLORIDA, KLORHEKSIDIN,
KLOROBUTANOL, DI-Na-EDTA, METILPARABEN,
FENILETIL ALKOHOL, FENILMERKURI ASETAT,
FENILMERKURI NITRAT, PROPIL PARABEN, NaBENZOAT, Na-PROPIONAT, ASAM SORBAT DAN
THIMEROSAL
STABILITAS OBAT

100

ANTIOKSIDAN

ANTIOKSIDAN ADALAH ZAT YANG DITAMBAHKAN


UNTUK
MENGHINDARI
DEGRADASI
AKIBAT
OKSIDASI

PERTIMBANGAN:

DEGRADASI ZAT AKTIF


RUSAK BENTUK SEDIAAN
TARGET DELIVERY SYSTEM
PACKAGING
KONDISI PENYIMPANAN
WAKTU PERIODE ANTARA PEMBUATAN PEMAKAIAN
STABILITAS OBAT

101

ANTIOKSIDAN

MEKANISME ANTIOKSIDAN KOMPLEKS


AUTO OKSIDASI 3 TAHAP:

Inisiasi:
insiator R* + H*
Propagasi:
R* + O2 RO2* (peroksi radikal)
Terminasi:
RO2* + RO2* produk stabil
RO2* + R* produk stabil
R* + R* produk stabil

MEKANISME PENCEGAHAN DALAM SEDIAAN:

Chelating senyawa kompleks mengikat logam berat


Penambahan senyawa lebih mudah teroksidasi,
senyawa terminator, reduktor

STABILITAS OBAT

102

ANTIOKSIDAN

ANTIOKSIDAN SEDIAAN CAIR AQUEOUS:

ASAM ASKORBAT / VITAMIN C


NATRIUM BISULFIT DAN METABISULFIT
NATRIUM TIOSULFAT
NATRIUM FAORMALDEHID SULFOKSILAT

ANTIOKSIDAN CAIR-MINYAK

ASKORBIL PALMITAT
BUTILAT HDROKSI TOLUEN (BHT), DAN BUTILAT
HIDROKSIANISOL (BHA)
PROPIL GALAT
ALFA-TOKOFEROL

STABILITAS OBAT

103

ANTIOKSIDAN

CHELATING AGENT:

ASAM EDTA
DI-Na-EDTA
ASAM SITRAT
ASAM TATRAT

STABILITAS OBAT

104